Hikmah Kisah Sukses Belajar Gratis Bahasa Jerman Dari Goethe Institut Bandung

goethe-institut-bandung-martadinata

sumber : wikipedia

BEASISWA PENUH GOETHE INSTITUT BANDUNG. Alhamdulillahirabbil’alamin, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam yang tiada pernah putus senantiasa memberikan kenikmatan dan limpahan karunia-Nya pada setiap hamba-hamba-Nya yang tidak pernah berhenti berharap dan memohon kepada-Nya. Tiada terkira besarnya rasa syukur penulis kepada Sang Maha Kuasa karena di awal bulan April ini mendapatkan berita gembira dari si sulung, yang akhirnya bisa tembus mendapatkan beasiswa penuh untuk belajar bahasa Jerman dari Goethe Institut Bandung melalui program Sekolah Mitra atau lebih dikenal dengan PASCH (Partner Schule), selama lebih kurang 1 bulan secara langsung di negeri asalnya, tepatnya di kota Schwabisch Hall, Jerman. Sebuah kota tua bersejarah, yang terletak di negara bagian/distrik Baden-Wurttemberg, barat daya Jerman.

Bukan kisah sukses ini sesungguhnya yang ingin penulis bagikan, karena penulis sadar bahwa prestasi yang diraih si sulung, hanyalah sebuah prestasi kecil yang barangkali tak sebanding dengan prestasi putra-putri Indonesia lainnya. Akan tetapi hikmah dibalik proses panjang yang dijalani dan dihadapi oleh si sulung inilah yang penulis rasakan dan amati, penuh dengan pelajaran dan inspirasi. Bagaimana arti dari sebuah ikhtiar tanpa henti disertai dengan doa serta keyakinan akan keadilan-Nya, akan membuahkan sebuah akhir yang penuh dengan hikmah. Insya Allah akan sangat bermanfaat bagi pembaca sekalian, khususnya penulis sendiri serta keluarga.

KEGAGALAN BUKANLAH AKHIR SEGALANYA

Tahun ajaran 2015 merupakan awal perjalanan dari perjuangan Bila, demikian biasanya Kami memanggil putri sulung Kami, dalam mendapatkan beasiswa full untuk belajar bahasa Jerman dari Goethe Institut Bandung dengan program PASCH atau Sekolah Mitra. Setelah 3 tahun mondok dan belajar pada sebuah SMPIT Boarding School di daerah Subang, Bila berharap untuk dapat melanjutkan sekolahnya pada salah satu SMA Negeri favorit di kota Bandung. Qadarullah, sehari sebelum ujian UN SMP berlangsung, penyakit sinus bawaannya kambuh setelah sekian lama tidak pernah muncul. Bisa jadi faktor kelelahan dan sedikit tekanan stress yang diterimanya, saat mempersiapkan ujian UN SMP, mengakibatkan turunnya kondisi kesehatan serta menjadi pemicu kambuhnya penyakit sinus tersebut. Tanpa bisa dihindari konsentrasi saat menjalani UN pun tidak bisa berjalan seratus persen, dan berdampak pada hasil akhirnya. Nilai UN yang dihasilkan tidak mencukupi nilai minimum untuk masuk pada pilihan SMA favorit yang diidamkan.

Syukur Alhamdulillah pada saat-saat terakhir, Bila bisa mendapatkan alternatif SMA Swasta yang sesuai dengan minatnya dan sesuai dengan kemampuan keluarga dan orangtuanya untuk membiayainya. Salah satu SMAIT di pusat kota Bandung akhirnya menjadi pilihan alternatif yang paling pas dan sesuai dengan kondisi pada saat itu. Tanpa disangka dan diduga, ternyata cukup banyak alternatif kegiatan prestasi, selain kegiatan utama belajar mengajar, yang bisa menjadi pilihan putri sulung kami ini, untuk mengaktualisasikan diri sesuai dengan minat serta bakatnya.

Salah satu sebab yang membuat putri Kami, Bila, sangat tertarik adalah prestasi dari program ekstra kurikuler Bahasa Jermannya. Mengapa ? Karena ternyata SMAIT yang dipilihnya, merupakan salah satu institusi pendidikan yang telah bekerjasama dengan Goethe Institut Bandung dalam program PASCH (Sekolah Mitra). Yaitu sebuah program kerja sama antara Goethe Institut dengan sekolah-sekolah di seluruh Indonesia, dan bertujuan untuk memperkenalkan, memahami kebudayaan luar khususnya Jerman, serta kaitannya dengan dunia pendidikan. Walhasil, melalui kegiatan itu siswa berpeluang melanjutkan studi di Jerman.

Setiap tahunnya, sekolah ini mampu untuk melahirkan peserta didik, yang memiliki kompetensi untuk mendapatkan beasiswa full untuk belajar Bahasa Jerman dan mendapatkan sertifikasi langsung di negara asalnya. Kerjasama SMAIT tersebut dengan Goethe Institut Bandung dalam program PASCH ini, sudah berjalan cukup lama, sehingga sudah memiliki pola pelatihan yang mapan untuk dapat melahirkan para “kampiun” peraih beasiswa penuh ini.

Sebuah tantangan sekaligus daya tarik yang sangat menggiurkan tentunya bagi putri sulung Kami yang sangat haus akan prestasi ini. Tidak urung tantangan dan kesempatan ini, seketika memercikkan sebuah tekad dalam dirinya untuk menjadi salah satu siswa terpilih dalam program tersebut. “Yah doain Bila ya, supaya bisa tembus program itu !”, demikian ucapnya beberapa waktu setelah proses pendaftaran sekolah selesai. Tentu saja Kami sebagai orang tua dengan semangat dan antusias, meridhoi dan mendoakan cita-cita baik yang diinginkan oleh putri kami tersebut. Sekaligus tentu saja diiringi dengan segunung harapan akan terwujudnya keinginan dan cita-cita tersebut untuk putri sulung kami ini kelak.

IKHTIAR TANPA HENTI

Waktu berjalan tanpa terasa, tekad dan keinginan saja ternyata tidaklah cukup. Perjalanan kegiatan belajar Bila dalam kegiatan ektra kurikuler intensif Bahasa Jermannya ternyata benar-benar di luar dugaan. Hampir satu setengah tahun berlalu telah dihabiskan waktunya untuk mengikuti kegiatan intensif tersebut. Hampir setiap hari waktunya dipergunakan, tanpa pernah ketinggalan mengikuti kegiatan diluar pelajaran sekolah tersebut. Hampir setiap hari !!! Termasuk hari Sabtu dan Minggu, bahkan waktu libur pun kadang tidak lepas dari kegiatan intensif tersebut. Masya Allah, sebuah proses panjang dan tidak kenal lelah harus dilalui putri sulung kami untuk mendapatkan apa yang diinginkan dan dicita-citakannya.

Beruntung sekali bahwa program intensif tersebut dibimbing oleh seorang guru yang sangat kompeten dan berdedikasi tinggi. Sosok guru pembimbing bahasa Jerman pada sekolah itu sekaligus juga merupakan guru pelajaran bahasa Jerman yang sudah sangat senior dan dihormati di SMAIT tersebut. Sudah banyak lulusan yang berprestasi dalam jalur pendidikan Bahasa Jerman, khususnya terkait dengan program intensif Goethe Institut Bandung itu dihasilkan dari tangan dingin beliau. Kemampuan dan dedikasi dalam mendidik dan membimbing anak muridnya tidak bisa dipungkiri menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan mereka.

Ketegasan dan kedisiplinan dalam mendidik, kompetensi yang mumpuni serta pengalaman dan dedikasi beliau tidak perlu diragukan lagi. Tanpa kehadiran guru pembimbing yang satu ini, kemungkinan besar prestasi murid-murid kelas intensif Bahasa Jerman pada SMAIT tersebut, tidak akan secemerlang seperti yang sudah berjalan selama ini. Begitulah sekilas cerita yang sering terlontar dari mulut si sulung, jika sedang menceritakan sosok salah seorang guru favoritnya ini.

Alhamdulillah, sosok idola baru bagi putri Kami telah hadir dalam diri pembimbing bahasa Jermannya ini. Atas izin dan skenario-Nya, beliau hadir mengisi perjalanan hidup putri Kami. Seorang guru yang bisa menjadi contoh dan teladan serta panutan bagi anak didiknya, di tengah kelangkaan sosok pendidik saat ini. Dedikasi tanpa pamrih, atas sebuah profesi yang sarat dengan pengabdian, setidaknya masih bisa penulis saksikan dari sosok beliau. Satu kebanggaan dan bayaran tuntas atas semua jerih payah seorang pendidik, adalah semata keberhasilan dan kesuksesan dunia, serta akhlak yang baik dari para anak didiknya. Tak heran profesi guru dan pendidik seringkali kita anugerahkan dengan gelar pahlawan tanpa tanda jasa.

Perjalanan panjang penuh perjuangan itu mau tidak mau menjadi seleksi alam terhadap kesungguhan, kegigihan, dan ketahanan diri dalam mewujudkan cita-cita yang mau diraih. Dari ratusan murid peserta tahap awal kegiatan intensif bahasa Jerman tersebut, akhirnya yang tersisa tinggal beberapa belas murid saja. Puluhan peserta berhenti di tengah jalan, dengan berbagai sebab dan alasan. Alhamdulillah berkat semangat dan ketekunan serta dukungan dari keluarga, putri kami tetap berada dalam barisan peserta yang mampu terus bertahan.

Cobaan pertama dialami saat harus menghadapi testing kedua pada level propinsi Jawa Barat, untuk mendapatkan beasiswa sertifikasi Bahasa Jerman dalam kegiatan Olimpiade Bahasa Jerman dari Pemda Jabar. Setelah lolos seleksi tingkat kotamadya Bandung pada bulan September 2016, yaitu berhasil masuk peringkat 15 besar pada level kotamadya ini, putri kami kembali berkompetisi untuk mendapatkan 3 terbaik pada ajang propinsi Jawa Barat. Beberapa posisi terbaik dalam level propinsi inilah yang akan bisa mendapatkan beasiswa penuh dari pemda Jabar, untuk mendapatkan sertifikasi Bahasa Jerman dari Goethe Institut Bandung dan berkesempatan untuk mengikuti kegiatan belajar langsung di negara asalnya.

Sayang sekali dalam ajang testing ini, putri Kami tidak berhasil lolos karena berada pada peringkat 4, sementara yang terpilih adalah posisi 3 besar. Sebuah hasil yang cukup berat, bukan saja karena telah melalui proses perjuangan panjang dan melelahkan selama 1,5 tahun lebih, akan tetapi posisi ke-4 yang diraihnya, hanya berselisih sangat tipis sekali dari peringkat sebelumnya. Berarti, nyaris saja berhasil masuk dalam 3 besar. Sebuah hasil yang benar-benar mampu membuat siapapun, apalagi bagi seorang anak yang sedang tumbuh dalam masa remajanya, untuk mengalami pergolakan batin yang luar biasa. Kesedihan, kekecewaan, sekaligus mungkin amarah yang muncul sebagai akibat dari “kegagalan” tersebut, merupakan efek yang tidak dapat dihindari akan menghinggapi putri sulung Kami ini.

Segala puji bagi Allah karena atas kuasa-Nya mampu membolak-balikkan hati manusia. Alhamdulillah, doa Kami diijabah. Dukungan dan doa dari rekan-rekan putri kami beserta guru-guru pembimbingnya di sekolah, membuat putri kami bisa melewati masa “galau”-nya dan kembali bersemangat. Tantangan dan peluang berikutnya harus diperjuangkan kembali pada ajang beasiswa lainnya, juga dari Goethe Institut Bandung enam bulan kemudian.

schwabisch-hall-goethe-institut

sumber: wikipedia

Alhamdulillah peluang mendapatkan beasiswa kali berikutnya, berhasil dilalui dengan baik. Pada ajang tersebut, tepatnya pada bulan Maret 2017, Bila berhasil menduduki posisi 2 terbaik bersama dengan seorang rekan satu teamnya, yang berhasil menduduki peringkat pertama. Mereka berdua mendapatkan kesempatan untuk langsung mengikuti kegiatan musim panas di Jerman, tepatnya di Goethe Institut Schwabisch Hall, sebuah kota tua bersejarah di sebelah barat daya Jerman, sambil mengikuti ujian sertifikasi Bahasa Jerman yang diadakan Goethe Institut di sana.

Sebuah penantian yang menggembirakan sekaligus meninggalkan banyak pelajaran dan hikmah. Tidak kurang dari guru pembimbing bahasa Jermannya beserta guru-guru sekolah dan rekan-rekan Bila lainnya, turut bergembira dan merasa senang dengan hasil yang diperoleh Bila dan sahabatnya itu. Bukan saja berhasil mendapatkan peringkat 1 dan 2, tetapi nilai-nilai mereka berdua pun sangat tinggi dan terpaut jauh dibandingkan dengan peserta lainnya pada peringkat tiga dan seterusnya.

HIKMAH DIBALIK KISAH SUKSES MENDAPATKAN BEASISWA GOETHE INSTITUT BANDUNG

Happy Ending, tentu saja. Akan tetapi sebagai seorang muslim banyak sekali pelajaran dan hikmah yang bisa diambil dan jauh lebih berharga dibandingkan “sekedar” episode kisah sukses tersebut. Beberapa hikmah dan ibroh yang bisa kita ambil dari sepenggal kisah di atas, penulis coba sarikan di bawah ini, dari sudut pandang penulis sebagai seorang hamba Allah, Ayah sekaligus pendidik bagi putra-putri Kami.

Senantiasa Berprasangka Baik Kepada Takdir Allah SWT

Kejadian Bila saat harus menerima kondisi penyakit sinus yang sudah lama tidak dialaminya, muncul saat menjelang pelaksanaan Ujian Nasional SMP.  Hal ini tentu saja sangat mempengaruhinya saat menjalani ujian tersebut sehingga tidak bisa berjalan secara optimal. Akibatnya terlihat pada nilai hasil ujian yang kurang memuaskan, hingga tidak mampu memenuhi nilai minimum untuk masuk SMA favorit yang diidamkannya.

Secara alamiah, sebagai manusia biasa kita seringkali tergoda untuk menyalahkan situasi. Bahkan tidak jarang kita terjerumus pada kondisi menyalahkan Allah SWT atas peristiwa akhir yang tidak kita harapkan tersebut.  Ikhtiar dan doa sudah maksimal, tetapi mengapa hasilnya jauh dari harapan ? Kenapa Allah tega berbuat begitu pada saya ? Barangkali itulah pemikiran kita saat tidak bisa menerima takdir yang sudah Allah tetapkan pada kita.

Sungguh Allah SWT telah berfirman dalam Al Quran :

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.
(QS. Al Mu’min: 60)

Begitupula Rasulullah SAW menyampaikan dalam hadis Qudsi berikut ini :

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah Ta’ala berfirman : “Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil”. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari)

Apabila doa tidak kunjung terkabul maka yakinlah bahwa Allah SWT sedang memberikan dan mempersiapkan yang jauh lebih baik dari harapan kita akan doa tersebut, sebagaimana hadist Rasulullah berikut menjelaskan.

Dari Abu Sa’id, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: (1) Allah akan segera mengabulkan do’anya, (2) Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan (3) Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.” (HR. Ahmad 3: 18, sanad jayyid).

Senantiasa berfikir positif merupakan sikap mental yang baik serta menguntungkan. Sebagaimana pengalaman putri Kami Bila di atas. Selalu berpikiran positif atas segala sesuatu yang menimpanya tidak pernah lepas Kami tanamkan dalam pola pikirnya. Alhamdulillah kejadian / kegagalan di awal tidak menjadikan Bila berputus asa atas takdirnya dan terus berikhtiar untuk dapat mengambil keuntungan serta peluang dari kejadian yang menurut pandangan manusia mungkin sangat merugikan / buruk. Didalam setiap kesulitan selalu hadir kemudahan/peluang, itulah motivasi yang senantiasa penulis tanamkan pada diri anak-anak dan diri penulis sendiri tentunya.

Kondisi tidak bisa masuk SMA favorit yang diidam-idamkan tidak menjadikan Bila frustasi atau patah semangat, tetapi tetap berpikiran positif, dan menjalani episode berikutnya untuk memilih sekolah swasta yang sesuai. Qadarullah mengarahkan Bila memilih salah satu SMAIT di kota Bandung sebagai tempat berlabuh selanjutnya. Ternyata disekolah ini Bila bisa menemukan peluang dan tantangan yang Insya Allah lebih baik daripada harapan awalnya bersekolah di salah satu SMA negeri favorit di kota Bandung. Apapun skenario terbaik menurut kita, tetap yang terindah adalah skenario Allah SWT sang maha pencipta.

“Apapun skenario terbaik menurut kita, tetap yang terindah adalah skenario Allah SWT sang maha pencipta”

 

Ikhtiar Terbaik Tanpa Pernah Menyerah Apalagi Berputus Asa 

Terus menerus berikhtiar tanpa pernah menyerah merupakan suatu sikap yang penting untuk dimiliki seseorang yang ingin mencapai kesuksesan.

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Alam Nasyroh : 6)

Banyak sekali orang yang mudah menyerah dan putus asa, bila mendapatkan kesulitan atau cobaan dari Allah SWT, hingga berakhir dengan kegagalan, padahal justru sesungguhnya keberhasilan itu tinggal selangkah lagi. Hanya butuh sedikit lagi usaha untuk berjuang lagi hingga bisa menggapai kesuksesan itu, hanya sedikit lagi saja.

Untuk kasus putri sulung kami di atas, seandainya ia menyerah saat harus menyingkirkan kesenangan sejenak dari aktifitas liburan pada hari sabtu, minggu bahkan hari libur atau tak sanggup bertahan karena harus mengikuti ektra kurikuler diluar jam pelajaran yang mengakibatkan jadwal pulang sekolahnya harus mundur 2 – 3 jam lebih lama dari rekan-rekan lainnya setiap Senin hingga Jumat. Barangkali Bila tidak akan bisa memperoleh beasiswa full Goethe Institut Bandung tersebut.

Begitupula saat harus menghadapi kegagalan test pertamanya di bulan September. Apabila semangat dan motivasinya melemah bahkan putus asa, maka kisah happy ending di atas bisa jadi tidak akan pernah ada.

Penulis teringat perumpamaan yang pernah penulis dengar dari seorang motivator sukses yang mengatakan bahwa, kesuksesan itu ibarat menjatuhkan pulpen dari atas. Pulpen itu pasti akan menyentuh tanah pada akhirnya, hanya saja waktu tempuh untuk menyentuh tanah itu tergantung seberapa tinggi posisi awal pulpen. Semakin tinggi posisi pulpen dari tanah, maka akan semakin lama pulpen itu sampai menyentuh tanah. Apabila ditengah jalan pulpen tersebut ditangkap, maka pulpen tersebut tidak akan pernah menyentuh lantai. Akan tetapi apabila tidak ada yang menangkapnya maka bisa dipastikan pulpen tersebut akan menyentuh tanah.

Artinya, setiap orang akan sukses, hanya saja waktu menuju kesuksesan itu yang berbeda-beda pada setiap orang. Yang seringkali menjadi permasalahan (cobaan) adalah, kita tidak pernah mengetahui berapa lama kesuksesan itu akan kita raih. Ketidakpastian inilah yang acapkali membuat kita tidak sabar atau cenderung menjadi mudah putus asa dalam mengejar cita-cita yang kita impikan. Terlebih lagi apabila ditengah jalan menemui berbagai macam cobaan dan hambatan yang akan membuat semakin cepat keputus-asaan itu menghampiri kita.

Salah seorang pemimpin dunia yang sangat terkenal dari Inggris, Sir Winston Churchill mengatakan, “Success is going from one failure to another failure without losing enthusiasm”. Penulis sangat sependapat dengan apa yang disampaikan oleh Sir Churchill tersebut. Seorang Thomas Alfa Edison tidak akan mampu menghasilkan penemuan yang sangat berharga bagi dunia, yaitu lampu pijar, apabila patah semangat dan menghentikan percobaannya saat percobaan yang ke-999. Mengapa ? Karena pada satu percobaan berikutnya beliau berhasil menemukan lampu pijar pertama di dunia !

“Success is going from one failure to another failure without losing enthusiasm” (Winston Churchill)

 

Jadikan Doa Sebagai Senjata Orang Beriman

Doa merupakan inti ibadah. Allah SWT tidak membutuhkan doa kita, justru kita sebagai hamba-Nya yang butuh untuk berdoa sebagai bukti penghambaan kita kepada-Nya. Allah SWT tidak akan merugi akibat kita tidak berdoa kepada-Nya, justru kitalah yang akan rugi besar saat meninggalkan doa dalam keseharian kita, karena akan menjerumuskan kita pada sifat sombong sebagaimana Allah memperingatkan dalam surat Al Mukmin berikut ini :

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. Al-Mukmin : 60)

Kesombongan hanyalah milik Allah SWT semata. Orang yang tidak mau berdoa atau malas berdoa adalah termasuk kategori manusia yang sombong dan Allah sangat murka pada mereka. Nabi Muhammad SAW juga mengingatkan umatnya agar senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar terhindar dari murka Allah, sebagaiman sabdanya,

“Siapa saja yang tidak mau memohon (sesuatu) kepada Allah, maka Allah murka kepadanya.”
(HR. Tirmidzi)

Oleh karenanya doa itu merupakan senjata utama orang yang beriman. Setelah semua usaha dilakukan, maka saatnyalah kita memohon dan berdoa dengan penuh harap dan keyakinan akan terkabulnya doa kita kepada Allah serta diiringi bertawakkal kepada-Nya.

Para pembaca Pondok Islami yang dimuliakan Allah, demikianlah sekelumit hikmah yang penulis bisa bagikan dalam artikel kali ini. Tiada maksud apapun selain berharap agar tulisan ini bisa bermanfaat bagi para pembaca dan penulis sendiri khususnya. Karena penulis yakin bahwa pada setiap kejadian dalam kehidupan kita,  tersembunyi hikmah dan pelajaran yang baik untuk kita renungi dan bermuhasabah atasnya.

Sebagai penutup artikel Hikmah Kisah Sukses Belajar Gratis Bahasa Jerman Dari Goethe Institut Bandung ini, penulis ingin menyampaikan bahwa jangan pernah takut untuk memiliki cita-cita dan harapan yang tinggi. Yakinlah bahwa kesuksesan itu akan bisa kita raih asalkan kita mau mengikuti prosesnya dengan benar, yaitu Ikthiar tanpa henti, diiringi permohonan doa dan ibadah tanpa putus, tawakkal pada takdir Allah SWT serta huznuzhan (prasangka baik) selalu kepada takdir Allah SWT. Insya Allah apabila kita mengikuti siklus tersebut dengan baik, maka kesuksesan adalah sebuah keniscayaan. Aamiin.

Wallahu’alam Bishaawab.

Semoga bermanfaat.

author
Author: 

    Leave a reply "Hikmah Kisah Sukses Belajar Gratis Bahasa Jerman Dari Goethe Institut Bandung"