Kisah Menang Perang Bani Abbasiyah Karena Amalan Sunnah Bersiwak

perang-bani-abbasiyah

Sahabat pencinta Alquran, pada tulisan kali ini penulis ingin berbagi kisah tentang sebuah kejadian di masa lalu yang penulis dapatkan dari acara taushiyah pada salah satu radio Islam di kota Bandung. Kebetulan pada saat itu penulis sedang dalam perjalanan mengendarai mobil di suatu pagi. Kisah ini merupakan kejadian yang terjadi pada masa kekhalifahan Bani Abbasiyah, yaitu masa kepemimpinan Islam setelah Bani Umayyah yang berpusat di Baghdad (Iraq pada saat ini).

Kisah itu menjadi menarik karena memberikan hikmah pelajaran yang luarbiasa, bagi penulis khususnya. Betapa sebuah amalan sunnah sederhana akan berakibat luarbiasa, karena akan mendatangkan berkah dan ridho Allah SWT. Menjaga dan melestarikan amalan sunnah yang selalu dicontohkan oleh baginda Rasul Muhammad SAW merupakan sebuah kewajiban dan amanah yang harus kita emban dan praktekkan dalam kehidupan sehari-hari kita.

Penasaran kan ???

Beginilah kisahnya tentang salah satu episode peperangan Bani Abbasiyah

Pada masa kekhalifahan Bani Abbasiyah, dalam kurun waktu abad ke-8 Masehi atau abad pertama Hijriyah, pasukan muslim saat itu sedang memperluas dakwah dan wilayah kekuasaan hingga ke daerah Samarkand (ibu kota negara Uzbekistan sekarang). Mereka mulai menjangkau daerah tersebut setelah sebelumnya berhasil menguasai wilayah-wilayah disekitar Samarkand yang juga berbatasan dengan China.

Suatu ketika pasukan muslim mengalami kesulitan untuk dapat menembus benteng pertahanan musuh yang terdiri dari barisan tentara disepanjang pintu dan dinding kota. Benteng tentara tersebut sangat sulit ditembus dan dirobohkan hingga peperangan berlanjut beberapa waktu lamanya tanpa ada yang kalah atau menang.

Situasi ini tentu saja meresahkan panglima tentara Islam pada saat itu. Hingga suatu waktu panglima pasukan Islam dari Bani Abbasiyah itu melakukan penyidikan dengan mengumpulkan seluruh pasukannya di suatu kawasan kemudian bertanya, “Apakah ada di antara kalian yang pernah meninggalkan shalat fardhu? tak ada satupun yang berdiri mengakui kesalahannya. “Apakah ada di antara kalian yang pernah meninggalkan shalat rawatib? hening … dan kembali tidak ada satu pasukan pun yang berdiri. “Atau apakah ada di antara kalian yang pernah meninggalkan qiyamullail?” ternyata tidak juga! Tidak ada satu pun yang meninggalkan shalat sunnah terberat ini. Semua masih duduk pada posisinya, tidak ada seorangpun yang berdiri mengakui kesalahannya meninggalkan shalat-shalat tersebut karena memang tidak ada.

kayu-miswak-sejarah-perang-bani-abbasiyahLantas mengapa? Setelah berfikir dan bertanya pada diri sendiri, barulah mereka sadar bahwa sepanjang peperangan berlangsung sekian lama, sebagian besar dari pasukan kehilangan kayu siwak mereka hingga terlupakan untuk melaksanakan amalan sunnah bersiwak (menggosok gigi dengan siwak) ketika berwudhu dan sholat.

Mengetahui kealpaan tersebut, panglima pasukan Islam segera memerintahkan menebang pohon untuk membuat siwak. Semua pasukan menuruti perintah ini. Mereka berbondong-bondong mencari pohon yang kayunya bisa dipakai untuk bersiwak lalu menebangnya kemudian dibuatlah siwak. Setelah itu mereka semua bersiwak dengan kayu dari pohon yang sudah mereka tebang tadi.

Tidak lama kemudian, muazzin melantunkan adzan dan seluruh tentara siap sedia menunaikan sholat berjamaah. Setelah itu pasukan bersiap untuk menyerang kembali kota tersebut. Kota yang sebelumnya begitu sulit ditembus ternyata kali ini kosong melompong. Para tentara pasukan Bani Abbasiyah menjadi heran mendapati kota tersebut sudah tidak berpenghuni. Akhirnya dengan mudah kota bisa dikuasai para tentara pasukan Islam pada saat itu.

Selanjutnya pasukan Islam berhasil pula menangkap salah satu dari pasukan musuh dan melakukan penyelidikan tentang kejadian aneh tersebut. Usut punya usut ternyata saat semua pasukan Islam sedang menebang pohon lalu bersiwak, ada pasukan mata-mata musuh yang mengintip mereka. Ketika itu, mata-mata tersebut menyelinap masuk ke kemah tentara Islam untuk mengintip dan mendapatkan berita tentang kegiatan tentara Islam yang saat itu sedang beramai-ramai menjalankan sunnah bersiwak sebelum melaksanakan sholat.

Pengintip tersebut melihat pasukan Islam sedang siap-siap menunaikan sholat dan tiba-tiba hatinya menjadi gemetar dan menggigil ketakutan. Kemudian mata-mata tersebut segera berlari kembali kepada pasukannya untuk membawa satu berita yang dahsyat. Berita apakah yang sangat ditakutkan tersebut ?

“Sesungguhnya musuh kita bukanlah sembarangan manusia. Aku lihat orang Islam sekarang ini sedang mengasah gigi-gigi mereka dengan kayu untuk memakan kita semua satu persatu. Bersiaplah kalian semua menjadi santapan mereka!” demikian sang mata-mata tersebut menyampaikan hasil pengamatannya terhadap aktifitas pasukan muslim Bani Abbasiyah. Berita itu tentu saja sangat mengejutkan dan menggetarkan nyali pasukan musuh yang saat itu sedang menguasai kota.

Mereka percaya dan mengira bahwa perbuatan bersiwak sunnah bersiwakyang sedang dilakukan oleh para tentara muslim adalah kegiatan mengasah sesuatu yaitu gigi para pasukan Islam tersebut untuk digunakan menghabisi musuhnya nanti. Mereka tidak mengenal Islam dan menganggap tentara Islam adalah sejenis orang yang suka memakan daging manusia. Akibatnya mereka segera mundur teratur dari medan perang dengan mengosongkan kota.

Sadarlah tentara Bani Abbasiyah akan keberkahan dari ketaatan mereka menjalankan sunnah Rasulullah SAW. Amalan sunnah yang terlihat sangat sederhana itu ternyata mampu memberikan kejayaan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Sesungguhnya kebaikan dan keberkahan Allah SWT itu akan mengiringi orang yang senantiasa menjalankan sunnah Nabi Muhammad SAW.

Penduduk kota itu, setelah kemudian memeluk Islam, menjadikan bersiwak sebagai satu amalan yang tidak ditinggalkan. Bila mengingat kejadian unik dan penuh dengan ibrah itu mereka berkata, “Kami diberikan karunia Islam berkat amalan sunnah bersiwak. Maka, hidupkanlah kami ya Allah dalam agama Islam dan dalam keadaan sentiasa melazimi sunnah.”

Kegagalan di awal pasukan muslim Bani Abbasiyah untuk merobohkan benteng disebabkan karena masalah yang sepele saja, namun berdampak sangat besar. Dengan tidak bersiwak saja kemenangan yang diharapkan, hampir saja tidak dapat terwujud. Apa jadinya jika mereka tidak mengerjakan ibadah mahdloh … ? atau mereka mengerjakan dosa besar lainnya … ? pasti Allah SWT, akan mendatangkan bencana dan kekalahan bahkan azab pada mereka.

Sungguh kisah yang penuh dengan pelajaran dan hikmah dari salah satu episode perang pada sejarah Bani Abbasiyah ini. Bagaimana kita seringkali meremehkan amalan-amalan sunnah yang dahulu dicontohkan oleh Rasulullah dan selalu dilazimkan oleh para sahabat dan para tabi’in dan tabi’ut serta orang-orang shaleh terdahulu sebelum kita. Maka benarlah perkataan salah seorang guru yang pernah penulis dapatkan bahwa, apabila umat muslim sudah terbiasa untuk merawat amalan sunnah maka hampir bisa dipastikan amalan-amalan wajibnya akan terpelihara dengan baik. Begitu pula apabila umat muslim menganggap remeh amalan-amalan sunnah maka besar kemungkinan amalan wajibnya pun akan terbengkalai pula. Wallahu’alam bishawab…

Semoga kita senantiasa selalu menjadi bagian dari orang-orang yang mampu menjaga amalan sunnah Rasulullah SAW seperti para sahabat dan umat-umat sholeh terdahulu. Aaamiin Ya Rabbal ‘alamiin…

Baca juga artikel tentang Sejarah dan Adab serta Sunnah Rasulullah Tentang Bersiwak

Sumber :
– Qasas as-Solihin, Syeikh Hamed Ahmad Tahir
– Kajian bersiwak Oleh Ibnu ‘Abidin As-Soronji
http://daimisteri(dot)blogspot(dot)com/2013/09/amalan-bersiwak-bersugi-menggerunkan.html

author
Author: 

    Leave a reply "Kisah Menang Perang Bani Abbasiyah Karena Amalan Sunnah Bersiwak"