Macam Macam Puasa Sunnah Dalam Islam Beserta Dalil dan Keutamaanya

macam-macam-puasa-sunnah

gambar : wikipedia.org

MACAM MACAM PUASA SUNNAH. Sahabat Quran yang dimuliakan Allah SWT, bulan Ramadhan yang penuh keberkahan dan rahmat Allah baru saja kita lalui. Sedih sekali rasanya meninggalkan bulan istimewa tersebut. Tanpa terasa satu bulan berlalu dengan begitu cepatnya. Semoga seluruh amalan kita dibulan suci Ramadhan kemarin dapat diterima Allah SWT dan mendapatkan pahala yang terbaik di sisi-Nya, Aamiin Ya Rabbal Alaamiin.

Walaupun kerinduan terhadap bulan Ramadhan tahun depan begitu besar, akan tetapi penulispun merasakan bahwa tantangan dalam menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan juga tidak kalah besarnya. Terutama di hari-hari pertama bulan Ramadhan. Rasa haus dan lapar yang penulis rasakan pada awal puasa Ramadhan2 Ramadhan tahun ke-2 H ternyata berpengaruh juga kepada aktifitas keseharian kita. Hal ini mungkin juga dialami oleh sahabat-sahabat semua. Yang terbiasa memiliki banyak aktifitas, mungkin menjadi berkurang karena menyesuaikan diri dengan situasi puasa ini. Biasanya setelah lewat beberapa hari barulah tubuh kita bisa menyesuaikan diri dan terbiasa dengan perubahan pola makan dan minum tersebut.

Hal yang sama pun penulis alami ketika memasuki bulan Syawal. Kondisi tubuh yang sudah terbiasa berpuasa, menjadi berasa tidak karuan ketika kembali kepada pola normal. Butuh waktu beberapa hari lagi untuk bisa membuat tubuh menjadi nyaman kembali.

Jika kita melihat sejarah jauh ke belakang, tepatnya pada masa Rasulullah dan para sahabat, maka kita akan melihat sebuah fenomena yang luar biasa. Berbagai pencapaian terbesar dan strategis yang diperoleh kaum muslimin terjadi pada bulan Ramadhan. Di saat seluruh umat Islam sedang menjalankan ibadah puasa. Kemenangan pasukan Islam pada Perang Badar, yaitu perang fisik terberat yang pernah terjadi dalam sejarah Islam yang terjadi pada 2 Ramadhan tahun ke-2 H. Peristiwa Pembebasan Kota Mekkah (Fathul Mekkah) yang sangat fenomenal karena kekuatan dan kemegahan pasukan Islam pada saat itu, yang terjadi pada tahun ke 8 H tepatnya 10 Ramadhan 8 H. Dan masih banyak lagi peristiwa penting dalam sejarah Islam yang terjadi pada bulan Ramadhan. Peristiwa-peristiwa sejarah itu menunjukkan kepada kita bahwa ibadah puasa Ramadhan bukanlah penghalang untuk beraktifitas fisik dan memberikan prestasi terbaik dari diri kita.

Sungguh Islam merupakan tuntunan terbaik bagi manusia. Mengapa ? Karena Islam senantiasa memberikan solusi atas setiap permasalan yang dialami umatnya. Salah satu anjuran Islam melalui contoh yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan diikuti oleh para sahabatnya adalah menjalankan ibadah puasa sunnah. Dengan menjalani puasa sunnah secara rutin dan konsisten, maka ketika tiba waktunya menjalani ibadah puasa wajib di bulan Ramadhan, maka secara alamiah tubuh kita sudah menyesuaikan diri. Maka hasilnya adalah, ibadah puasa bulan Ramadhan yang kita jalani, tidak lagi menjadi sebuah kendala atau beban. Bahkan menjadi sebuah ritual ibadah dan momen yang sangat ditunggu-tunggu dan dirindukan, seperti layaknya seorang kekasih merindukan pujaan hatinya. Tak heran bila banyak torehan prestasi dan kegemilangan yang diraih oleh umat Islam pada masa itu, yaitu masa generasi terbaik dalam sejarah Islam.

Lalu bagaimana dengan kita saat ini ? Tidak ada cara lain selain mencontoh sunnah-sunnah Rasulullah Muhammad SAW. Termasuk juga membiasakan diri melakukan ibadah puasa sunnah, diluar bulan Ramadhan. Hal ini kita lakukan selain untuk mendapatkan keutamaan dan pahala tersendiri di sisi Allah SWT, juga melatih tubuh kita menjadi terbiasa dengan kondisi berpuasa. Hingga ketika saat bulan Ramadhan yang penuh keberkahan dan rahmat Allah itu tiba, kita tidak lagi bersibuk ria menahan lapar dan dahaga, dan cenderung akan menjadikan kita nonproduktif. Akan tetapi kita akan mampu untuk fokus bersibuk ria, memperbanyak amal ibadah dan aktifitas positif lainnya. Mumpung Allah SWT sedang memberikan “bonus” pahala berlimpah di bulan itu, sehingga kita dapat memperbanyak tabungan pundi-pundi pahala kita.

Untuk itu pada tulisan kali ini, penulis coba rangkum macam-macam puasa sunnah yang bisa kita jalani selama menanti datangnya bulan Ramadhan. Tidak ketinggalan dalil dan keutamaan dari masing-masing ibadah puasa sunnah tersebut penulis sertakan juga sebagai pelengkapnya.

MACAM MACAM PUASA SUNNAH DALAM ISLAM

Ibadah puasa termasuk amalan yang sangat utama, sebagaimana Rasulullah SAW menyampaikan dalam hadistnya,

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi” (HR. Muslim no. 1151).

Puasa sunnah mampu menutupi kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang kita lakukan pada amalan-amalan yang wajib.  Dengan puasa sunnah insya Allah dapat meninggikan derajat seseorang dan meraih kecintaan Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah, dalam hadist qudsi berikut ini,

“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya” (HR. Bukhari no. 2506).

macam-puasa-sunnah-orang-shalat

gambar : wikipedia.com

Macam Macam Puasa Sunnah Dalam Islam Yang Bisa Kita Amalkan :

1. PUASA ENAM HARI DI BULAN SYAWAL

Rasullullah SAW bersabda, yang artinya :

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164)

Puasa enam hari di bulan syawal bisa dilakukan secara berurutan maupun secara terpisah. Menurut fatwa Ibni Utsaimin pada kitab “Ad-Da’wah“, 1:52–53 menyebutkan bahwa, “Dibolehkan menjalankan puasa sunnah secara berurutan atau terpisah-pisah. Akan tetapi, dengan mengerjakan secara berurutan, lebih utama karena hal itu mencerminkan sikap bersegera saat melaksanakan perintah kebaikan, serta tidak menunda-nunda amalan yang bila ditunda akan menyebabkan tidak jadi beramal.”

2. PUASA SEMBILAN HARI PADA AWAL BULAN DZULHIJJAH

Sepuluh hari pertama dalam bulan Dzulhijjah, merupakan hari-hari dimana umat muslim sangat dianjurkan untuk memperbanyak amalan dan ibadah seperti memperbanyak shalat sunnah, doa, dzikir, istighfar, membaca dan tadabur Al-quran, sedekah, puasa sunnah dan amalan sholih lainnya. Tanggal 1-9 Dzulhijjah disunnahkan untuk berpuasa dan memperbanyak amalan lainnya, lalu pada 10 Dzulhijjah diharamkan untuk berpuasa karena pada hari tersebut merupakan Hari Raya Idul Adha (Hari Nahr).

Dari Ibnu ‘Abbas, Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya :

“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968. Shahih).

Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi Muhammad SAW mengatakan, yang artinya :

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya …” (HR. Abu Daud no. 2437. Shahih).

Hari ke-9 bulan Dzulhijjah merupakan hari Arofah.  Pada hari Arofah, umat muslim yang sedang melaksanakan ibadah haji diwajibkan melakukan wukuf yang merupakan puncak ibadah haji. Sementara umat Islam yang tidak sedang menjalankan ibadah haji disunnahkan melakukan puasa Arofah,  dengan keutamaan seperti hadist Rasulullah SAW berikut ini yang artinya : 

“Rasulullah ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau menjawab, “Puasa itu menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun berikutnya” (HR. Muslim)

Dari Ibnu Umar ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak ada amal yang lebih dicintai-Nya daripada yang dilakukan pada 10 hari itu. Oleh karena itu, perbanyaklah tasbih, tahlil dan takbir pada hari-hari tersebut.” (HR Ahmad) 

Amalan yang paling utama di bulan Dzulhijjah tentunya Ibadah Haji dan Umrah namun bila tidak memungkinkan untuk pergi melaksanakannya maka kita bisa berkurban serta menjalankan amalan yang lainnya yaitu puasa sunnah dari tanggal 1-9 Dzulhijjah, Takbir dan Dzikir, Taubat Nashuha, banyak beramal shalih dan bersyukur.

Semoga Allah akan mengampuni segala dosa-dosa kita semua dan meridhoinya, Aamiin.

3. PUASA ‘AROFAH

Puasa ‘Arofah dikerjakan pada hari kesembilan di bulan Dzulhijjah bagi yang tidak melaksanakan ibadah haji. Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Tiada amal yang soleh yang dilakukan pada hari-hari lain yang lebih disukai daripada hari-hari ini (sepuluh hari pertama dalam bulan Dzulhijjah).” (Hadist Riwayat al-Bukhari).

Lalu bagaimana dengan umat islam yang sedang beribadah haji di tanah suci ? Simak hadist Rasulullah SAW berikut ini :

“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa ‘Arofah? Beliau menjawab, ”Puasa ‘Arofah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu” (HR. Muslim no. 1162).

Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata, yang artinya :

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berpuasa ketika di Arofah. Ketika itu beliau disuguhkan minuman susu, beliau pun meminumnya.” (HR. Tirmidzi no. 750. Hasan shahih).

Keutamaan puasa ‘Arofah sebagaimana hadist Rasulullah SAW berikut yang artinya :

“Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau menjawab, “Puasa itu menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun berikutnya.” (HR. Muslim)

Dalam hadist lain yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arofah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” (HR. Muslim)

dan hadist yang diriwayatkan oleh Tarmidzi berikut ini :

“Sebaik-baiknya doa adalah doa pada hari Arofah. Dan sebaik-baik yang diucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadiir (Tidak ada Ilah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. MilikNyalah segala kerajaan dan segala pujian, Allah Maha Menguasai segala sesuatu).” (HR. Tirmidzi, hasan)

4. PUASA SENIN KAMIS

Dari macam-macam puasa sunnah yang dicontohkan Rasulullah, maka Salah satu ibadah puasa sunnah yang paling sering dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah puasa pada setiap hari senin dan kamis, atau puasa senin kamis. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Hurrairah r.a. :

“Bahwasanya Rasulullah SAW adalah orang yang paling banyak berpuasa pada hari Senin dan Kamis.” Dan ketika Rasulullah ditanya tentang alasannya, Beliau bersabda “Sesungguhnya segala amal perbuatan dipersembahkan pada hari Senin dan Kamis, maka Allah akan mengampuni dosa setiap orang muslim atau setiap orang mukmin, kecuali dua orang yang bermusuhan.” Maka Allah pun berfirman “Tangguhkan keduanya.” (HR. Ahmad)

Mengapa Puasa Sunnah senin kamis sangat dianjurkan oleh Baginda Rasul ? Pada hadist yang disampaikan Abu Hurrairah,, Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda, yang artinya:

“Segala amal perbuatan manusia pada hari Senin dan Kamis akan diperiksa oleh malaikat, karena itu aku senang ketika amal perbuatanku diperiksa aku dalam kondisi berpuasa.” (HR. Tirmidzi)

Dalam sebuah hadist lain, Rasulullah SAW juga menyampaikan yang artinya:

“Hari itu adalah hari di mana aku dilahirkan, dan di mana aku dijadikan Rasul dan diturunkannya padaku wahyu”. (H.R. Muslim)

Dari ‘Aisyah r.a , beliau mengatakan, yang artinya :

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menaruh pilihan berpuasa pada hari senin dan kamis.” (HR. An Nasai no. 2360 dan Ibnu Majah no. 1739. Shahih)

5. PUASA TASU’A (9 MUHARRAM) & ASYURA (10 MUHARRAM)

Puasa Tasu’a adalah puasa sunnah yang dikerjakan pada tanggal 9 Muharam. Puasa ini dilakukan untuk mengiringi puasa yang dilakukan pada keesokan harinya yaitu di tanggal 10 Muharram. Kenapa harus begitu? Karena dihari yang sama yaitu tanggal 10 Muharram orang-orang Yahudi juga melakukan puasa. Jadi melakukan puasa ditanggal 9 Muharram untuk mengiringi puasa keesokan harinya akan dapat membedakan dengan puasa yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ketika Rasulullah Sshallallahu ‘Alaihi Wa sallam sedang melaksanakan puasa Asyura, dan beliau memerintahkan para sahabat untuk melakukan puasa di hari itu juga, ada beberapa sahabat yang berkata yang artinya:

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya tanggal 10 Muharram itu, hari yang diagungkan orang Yahudi dan Nasrani.” Lalu Rasulullah menjawab yang artinya “Jika datang tahun depan, insyaaAllah kita akan puasa tanggal 9 (Muharram)”.”Ibnu Abbas melanjutkan, “Namun belum sampai menjumpai Muharam tahun depan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah wafat.” (HR. Muslim 1916).

Puasa ‘Asyura, adalah puasa sunnah yang pelaksanaanya adalah pada keesokan hari setelah melaksanakan ibadah puasa Tasu’a. Sangat dianjurkan untuk melakukan puasa dihari ke sembilan dan kesepuluh pada bulan Muharram secara berurutan, demikianlah yang dikatakan oleh Imam As-Syafii dan Imam Ahmad.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Seutama-utama puasa setelah Ramadlan ialah puasa di bulan Muharram, dan seutama-utama shalat sesudah shalat fardhu, ialah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163)

Dari Abu Qatadah Al Anshari Radhiallahu Anhu, ia berkata yang artinya:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari ‘Asyura`, beliau menjawab: “Ia akan menghapus dosa-dosa sepanjang tahun yang telah berlalu.” (HR. Muslim no. 1162)

Jadi puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal 10 Muharram merupakan puasa sunnah terbaik setelah puasa Ramadhan. Keutamaannya adalah menghapus semua dosa setahun yang lalu, yaitu lebih tepatnya dosa-dosa kecil. Sementara untuk dosa-dosa besar hanya dapat diampuni Allah SWT melalui pertaubatan dan rahmat dari-Nya semata. Wallahu’alam bishawab.

6. PUASA DAUD

Puasa sunnah berikutnya adalah puasa sunnah Nabi Daud. Yaitu puasa sunnah yang dilakukan selang sehari, antara berpuasa dan tidak berpuasa. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Amru radhialahu ‘anhu, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, yang artinya :

“Maka berpuasalah engkau sehari dan berbuka sehari, inilah (yang dinamakan) puasa Daud ‘alaihissalam dan ini adalah puasa yang paling afdhal. Lalu aku berkata, sesungguhnya aku mampu untuk puasa lebih dari itu, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Tidak ada puasa yang lebih afdhal dari itu. ” (HR. Bukhari No : 1840)

Rasulullah SAW juga bersabda pada hadist yang lain, yang artinya :

Puasa yang paling disukai oleh Allah adalah puasa Nabi Daud. Shalat yang paling disukai Allah adalah Shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur separuh malam, dan bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya. Beliau biasa berbuka sehari dan berpuasa sehari.” (HR. Bukhari Muslim).

Adapun keutamaan puasa sunnah Daud ini adalah sebagai berikut :

  • Terpelihara dari maksiat
  • Tumbuhnya akhlakul karimah / akhlak yang baik
  • Menerima pemberian Allah dengan lapang hati
  • Berfikir positif, kreatif dan inovatif
  • Menumbuhkan sifat Hilm (emosi dapat ditahan dengan baik)
  • Menentramkan jiwa
  • Bertambah wibawa
  • Mendatangkan rejeki yang tidak disangka-sangka
  • Menjadi hamba yang bersyukur
  • Suasana Rumah Tangganya senantiasa Harmonis

7. PUASA SYA’BAN

Puasa sunnah berikutnya yang juga dianjurkan oleh Rasulullah SAW adalah puasa pada bulan Sya’ban. Mengapa ? Karena bulan Sya’ban merupakan bulan persiapan menuju bulan Ramadhan, sehingga sangat dianjurkan untuk banyak melakukan puasa sunnah dan harinya pun bebas sesuai kemampuan. Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim berikut ini .

Dari Aisyah r.a. beliau mengatakan yang artinya :

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai kami katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156).

Begitupula hadist lain dari Usamah bin Zaid ra, dia berkata yang artinya :

“Saya berkata: “Ya Rasulullah, saya tidak pernah melihatmu berpuasa dalam suatu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti puasamu di bulan Sya’ban.” Maka beliau bersabda: ““Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. Nasa’i)

Dari hadist-hadist di atas kita tahu betapa pentingnya menjalankan puasa sunnah di bulan Sya’ban, sehingga Rasulullah pun banyak sekali melakukan puasa di bulan Sya’ban tersebut.  Hal ini dilakukan oleh Rasulullah karena puasa Sya’ban ibaratnya adalah ibadah rawatib (ibadah sunnah yang mengiringi ibadah wajib). Seperti shalat rawatib yang mengiringi shalat wajib sebelum dan sesudah shalat wajib dilakukan. Oleh karena puasa sya’ban dilakukan menjelang bulan Ramadhan maka puasa Sya’ban memiliki keutamaan untuk menyempurnakan puasa Ramadhan yang wajib sifatnya.

macam-macam-puasa-sunnah-pertengahan-bulan

gambar : pixabay.com

8. PUASA 3 HARI PADA PERTENGAHAN BULAN 

Puasa sunnah 3 hari pada pertengahan bulan atau biasa dikenal juga dengan sebutan puasa Ayyamul Bidh (hari putih) karena biasanya pada pertengahan bulan itu bulan sudah berbentuk lengkap (purnama) dengan sinarnya yang putih.   Puasa ini dilaksanakan pada pertengahan bulan,  tepatnya pada tanggal 13, 14, 15.  Rasulullah SAW bersabda dalam hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad, an-Nasai, dan at-Tirmidzi, yang artinya :

“Wahai Abu Dzarr, jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah.”

Hadist lain yang diriwayatkan bahwa Abu Hurrairah r.a mengatakan yang artinya :

“Kekasihku yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati yaitu berpuasa tiga hari setiap bulannya, mengerjakan shalat Dhuha, dan mengerjakan shalat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari no. 1178)

Sebagaimana keutamaan ibadah puasa lainnya,  maka puasa sunnah 3 hari pada pertengahan bulan ini dapat bermanfaat bagi umat untuk lebih mampu mengendalikan hawa nafsu,  kesehatan jasmani termasuk detoksifikasi tubuh serta sebagai wujud kepatuhan kepada Allah SWT dan kecintaan kepada Nabi dan sunnahnya.

 

Demikianlah macam-macam puasa sunnah yang bisa kita amalkan sebelum tibanya bulan Ramadhan dan sesudah bulan Ramadhan. Semoga dengan mengamalkan puasa sunnah tersebut di atas kita berharap kasih sayang Allah dan ampunan serta rahmat-Nya dapat kita raih  sebagai bekal kelak menghadap-Nya. Aamiin.

Wallahu’alam Bishawab.

 

sumber :
http://dalamislam.com ;http://rumaysho.com; http://muslim.or.id

author
Author: 

    Leave a reply "Macam Macam Puasa Sunnah Dalam Islam Beserta Dalil dan Keutamaanya"