Hadist Keutamaan Belajar Alquran: Jalan Sepi Penuh Cahaya

Ada satu pesan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wassalam yang mungkin sudah sering kita dengar, tapi maknanya sering kali luput dari perhatian kita. Hadist keutamaan belajar Alquran berikut ini tentu sudah tidak asing di telinga kita,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Artinya : “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

hadist-keutamaan-belajar-alquran

Pesan ini sering kita anggap biasa, karena aktifitasnya seringkali tidak ramai, tidak mencolok, tidak juga terlihat “hebat” di mata orang lain. Saat kita mempelajari Alquran maka waktu kita akan lebih banyak duduk sendiri, membuka mushaf, membaca huruf demi huruf.

Menghadiri majelis ilmu dan mendapatkan curahan ilmu dari para guru-guru bisa bagian tak terpisahkan dari proses mempelajari Alquran ini. Akan tetapi waktu dan aktifitas akan lebih banyak dilakukan sendiri oleh para pembelajar Alquran.

Pelan, kadang terbata, terkadang berhenti karena ragu. Tidak ada yang bertepuk tangan.
Tidak ada yang memuji. Tapi justru di momen seperti itu… ada sesuatu yang sedang bekerja dalam diam.

Sesuatu yang tidak selalu terlihat oleh manusia. Tapi sangat diperhitungkan oleh Allah subhanahu wata’ala.

Yang Terlihat Sederhana, Ternyata Sangat Bernilai

Kita hidup di zaman yang serba terlihat. Apa yang dihargai… biasanya yang tampak.
Apa yang dianggap hebat… biasanya yang bisa ditunjukkan. Prestasi, pencapaian, pengakuan.

Sementara belajar AlQuran sering terasa seperti sesuatu yang hanya “biasa saja”. Padahal dari hadist keutamaan belajar Alquran di atas, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wassalam jelas sekali menyebutkan standar “terbaik” seorang manusia.

Ternyata bukan tentang seberapa tinggi kita di mata manusia. Tapi seberapa dekat kita dengan Al-Qur’an.

Bukan Soal Lancar, Tapi Soal Datang

Ada satu alasan yang sering membuat seseorang menjauh dari Al-Qur’an. Merasa belum siap. Belum lancar, takut salah, malu kalau bacaannya terbata, akhirnya menunda.

Besok saja, nanti kalau sudah lebih siap, nanti kalau sudah lebih tenang. Padahal, dalam Islam, yang dihargai bukan hanya hasil. Tapi langkah kecil untuk memulai amal sholeh.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasslam bersabda:

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ، وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ، لَهُ أَجْرَانِ

Artinya:“Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia dan taat. Dan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata serta merasa berat, maka baginya dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dua pahala, bukan karena sempurna, tapi karena tetap berusaha. Karena tetap membaca… meski belum lancar. Karena tetap mendekat… meski terasa berat.

Setiap Huruf Tidak Pernah Sia-Sia

Kadang kita merasa usaha kita kecil.

“Hanya baca sedikit.”
“Hanya satu halaman.”
“Masih sering salah.”

Tapi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wassalam mengingatkan sesuatu yang sering kita lupakan:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

Artinya:“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh…” (HR. Tirmidzi)

Satu huruf, bukan satu ayat, bukan satu halaman. Satu huruf… sepuluh kebaikan. Kalau kita benar-benar merenungkan ini, harusnya tidak ada lagi alasan untuk merasa “percuma”. Karena tidak ada satu pun huruf yang sia-sia.

Al-Qur’an Itu Mengangkat, Tanpa Kita Sadari

Dalam hidup, kita sering mengejar sesuatu yang bisa terlihat hasilnya. Karier, penghasilan, status, semua itu punya ukuran. Tapi ada satu hal yang sering bekerja tanpa kita sadari: Al-Qur’an.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wassalam bersabda:


إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهذَا الكِتَابِ أَقْوِامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Al-Qur’an ini, dan merendahkan kaum yang lain dengannya.” (HR. Muslim)

Mengangkat derajat, bukan hanya di akhirat, tapi juga dalam hidup kita. Pelan-pelan, tanpa harus diumumkan, tanpa harus terlihat oleh orang lain.

Bisa jadi ketenangan yang kita rasakan…
bisa jadi kemudahan yang kita alami…
bisa jadi itu semua datang dari hubungan kita dengan Al-Qur’an.

Rumah yang Hidup Itu Bukan yang Paling Mewah

Coba bayangkan dua rumah, yang satu besar, nyaman, lengkap dengan segala fasilitas. Tapi sepi dari Al-Qur’an.

Yang satu lagi sederhana, tidak terlalu luas, tapi ada bacaan Al-Qur’an di dalamnya. Secara kasat mata, mungkin kita tahu mana yang terlihat lebih “berhasil”.

Tapi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wassalam memberikan gambaran yang berbeda:

مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ وَالْبَيْتِ الَّذِي لَا يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

Artinya:“Perumpamaan rumah yang di dalamnya disebut nama Allah dan yang tidak disebut nama Allah, seperti orang hidup dan orang mati.” (HR. Muslim)

Rumah yang hidup… bukan yang paling mewah, tapi yang di dalamnya ada Al-Qur’an. Ada ayat yang dibaca, ada nama Allah yang disebut.

Belajar Al-Qur’an Tidak Punya Batas Usia

Sering kali kita menganggap belajar Al-Qur’an itu bagian dari masa kecil, saat masih di TPA, saat masih belajar Iqra, mulai dari mengenal huruf Hijaiyah hingga membaca Al Quran dan kita anggap selesai. Padahal, semakin dewasa, justru kita semakin butuh.

Karena hidup tidak semakin mudah, masalah bertambah, tanggung jawab bertambah, pikiran semakin penuh. Dan di tengah semua itu, kita butuh sesuatu yang bisa menenangkan. Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tapi untuk menemani, untuk menguatkan.

Mengajarkan Al-Qur’an: Amal yang Terus Hidup

Ada lagi satu hadist keutamaan Al Quran yang sering tidak disadari, bahwa mengajarkan Al Quran sebagaimana hadist awal di atas, merupakan juga salah satu dari 3 amalan yang tidak akan terputus bahkan hingga kita sudah meninggal dunia.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wassalam menyampaikan:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya: “Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)

Mengajarkan Al Quran termasuk ilmu yang bermanfaat, Ia tidak berhenti. Apalagi jika sebagai orang tua kita sendirilah yang mengajarkan Alquran kepada anak, maka kelak pahalanya akan terus mengalir, dari satu orang ke orang lain, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Yang Sulit Bukan Belajarnya, Tapi Memulainya

Kalau jujur, yang sering jadi penghalang bukan kemampuan, tapi langkah pertama. Merasa terlalu jauh, merasa sudah terlambat, merasa tidak pantas. Padahal semua orang memulai dari titik yang sama: tidak bisa, tidak lancar, tidak tahu.

Tapi mereka yang sampai… adalah mereka yang tetap berjalan, meskipun pelan.

Ini Bukan Perlombaan

Dalam perjalanan belajar AlQuran, tidak ada perlombaan, tidak ada siapa yang paling cepat, tidak ada siapa yang paling dulu sampai. Setiap orang punya ritmenya masing-masing.

Ada yang cepat, ada yang pelan, ada yang cocok menggunakan metode mengaji ini atau itu tidaklah menjadi masalah. Karena yang dinilai bukan kecepatan, atau kecerdasan dalam mempelajarinya, tapi ketulusan dan kesungguhan semata karena Allah.

Jalan Sunyi yang Penuh Cahaya

Belajar AlQuran bukan jalan yang ramai, tidak selalu terlihat, tidak selalu dihargai manusia. Tapi justru di situlah letak keindahannya.

Ia adalah jalan sunyi,. tapi penuh cahaya. Setiap huruf yang dibaca… bernilai.
Setiap usaha yang dilakukan… dicatat. Setiap waktu yang diluangkan… tidak pernah sia-sia.

Dan mungkin hari ini belum terasa, belum terlihat, tapi pelan-pelan Al Quran itu akan bekerja dalam hidup kita. Menguatkan, menjaga, dan mengangkat derajat, tanpa kita sadari.

Jadi kalau hari ini kamu merasa belum lancar, tidak apa-apa. Kalau masih sering salah, tidak masalah. Kalau baru ingin mulai, itu sudah cukup. Tidak perlu menunggu sempurna, mulai saja dulu.

Karena bisa jadi, langkah kecil yang kamu ambil hari ini adalah awal dari sesuatu yang besar di sisi Allah subhanahu wata’ala.

Wallahualam bishawab.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Upgrade kecil ini bikin sholat terasa beda
This is default text for notification bar