KISAH ANJING ASHABUL KAHFI. Setiap Jumat, banyak dari kita membaca Surah Al-Kahfi. Sebagian karena sudah jadi kebiasaan. Sebagian karena ingin menjaga sunnah. Sebagian lagi mungkin membaca tanpa banyak bertanya, sekadar menggugurkan rutinitas.
Padahal, di dalam surah ini ada detail kecil yang sering terlewat. Detail yang kalau direnungkan pelan-pelan, justru menampar hati, tentang seekor anjing.
Di tengah kisah para pemuda beriman yang mempertahankan keyakinannya, Allah justru menyebut satu makhluk yang tidak biasa disebut dalam kisah-kisah besar: seekor anjing. Bukan nabi, bukan malaikat, bukan manusia shaleh, tapi anjing.
وَتَحْسَبُهُمْ اَيْقَاظًا وَّهُمْ رُقُوْدٌ ۖوَّنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِيْنِ وَذَاتَ الشِّمَالِ ۖوَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيْدِۗ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَّلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا ١٨
Artinya: “Engkau mengira mereka terjaga, padahal mereka tidur. Kami membolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedangkan anjing mereka membentangkan kedua kaki depannya di muka pintu gua. Seandainya menyaksikan mereka, tentu engkau akan berpaling melarikan (diri) dari mereka dan pasti akan dipenuhi rasa takut terhadap mereka.” (QS. Al-Kahfi : 18)
Kisah anjing Ashabul Kahfi yang Allah sampaikan dalam Al Quran Surat Al-Kahfi ayat 18 di atas menyimpan banyak pembelajaran yang sering luput dari perhatian kita. Di balik cerita para pemuda beriman yang mempertahankan keyakinannya, ada pesan-pesan halus tentang kesetiaan, pilihan hidup, dan makna kebersamaan yang dihadirkan melalui sosok seekor anjing.
Kisah ini bukan hanya mengajak kita mengagumi keteguhan iman, tetapi juga mendorong kita merenung: mengapa Allah memilih menyebut detail ini dalam Al-Qur’an, dan apa pelajaran yang ingin disampaikan kepada manusia lintas zaman.
Dan pertanyaan berikutnya yang muncul dengan sendirinya adalah, kenapa harus anjing? Apakah tidak ada mahluk lain yang bisa dijadikan pembelajaran selain anjing? Yuk simak terus artikel ini untuk mendapatkan jawabannya.
Seekor Anjing Ashabul Kahfi di Ambang Gua
Ashabul Kahfi adalah para pemuda yang memilih pergi, meninggalkan kenyamanan hidup demi iman. Mereka bersembunyi di sebuah gua, menjauh dari penguasa zalim yang memaksa mereka mengingkari keyakinan.
Di pintu gua itu, Al-Qur’an menyebutkan satu pemandangan sederhana, seekor anjing yang menjulurkan kedua kaki depannya, seolah berjaga. Ia tidak masuk ke dalam gua, ia juga tidak pergi. Ia memilih berada di batas gua, menunggu, diam, setia.
Sesungguhnya Allah tidak perlu menyebut anjing itu. Tapi Allah memilih untuk menyebutnya, dan setiap pilihan Allah selalu memiliki makna.
Mengapa Anjing?
Dalam banyak budaya, termasuk dalam sebagian cara pandang manusia, anjing sering dianggap rendah, bahkan kerap dijauhi. Justru karena itulah kisah ini terasa kuat.
Seolah Allah ingin berkata, kemuliaan tidak selalu ditentukan oleh siapa kita, tapi oleh siapa yang kita ikuti. Anjing Ashabul Kahfi tidak dikenal karena ibadahnya.
Ia tidak shalat, tidak berdoa, tidak berpuasa. Tapi ia memilih berada di dekat orang-orang beriman. Dan pilihan itulah yang mengangkat namanya, diabadikan sampai akhir zaman. Kadang, kedekatan lebih bermakna daripada banyaknya amal.
Tentang Kesetiaan yang Tidak Banyak Bicara
Kesetiaan sering terdengar indah di kata-kata, tapi berat dalam praktik. Mudah setia saat keadaan baik. Sulit setia saat masa depan tidak jelas.
Anjing itu tidak tahu apa yang akan terjadi. Ia tidak tahu para pemuda itu akan tertidur ratusan tahun. Ia tidak tahu apakah ia akan selamat atau tidak. Ia hanya tahu satu hal, ia memilih tetap tinggal. Dan ia tidak pergi.
Kisah Hachiko Membuat Kita Diam
Ada satu kisah lain tentang anjing yang sering membuat orang terdiam, Hachiko, dari Jepang. Setiap sore, Hachiko menunggu majikannya di Stasiun Shibuya, hari demi hari.
Hingga pada tahun 1925 majikannya tersebut wafat, Hachiko tidak mengetahui apa itu wafat. Setiap sore Hachiko masih pergi ke stasiun untuk menjemput majikannya. Padahal yang dia tunggu tidak pernah datang. Tapi sore keesokan harinya hachiko tetap menjemput lagi.
Hal itu terus berlangsung sampai Hachiko juga wafat tahun 1935. Ini bukan waktu sebentar, bukan sebulan atau dua bulan. Ini terjadi berulang terus selama sepuluh tahun! Seekor hewan bisa sabar dan setia seperti itu kepada majikannya.
Seekor anjing, hewan yang sering dianggap rendah, bisa bertahan selama itu dalam kesetiaanya. Di titik ini, biasanya hati manusia mulai bertanya pada dirinya sendiri. Mulai muncul keraguan atas apa yang selama ini diyakininya.
Cermin Bagi Kita yang Mengaku Beriman
Jika seekor anjing bisa setia pada manusia yang fana, lalu bagaimana dengan kita?Bukankah kita mengaku beriman kepada Allah? Bukankah kita percaya Allah Maha Mendengar? Bukankah kita yakin Allah Maha Menepati janji?
Tapi kenyataannya, kesetiaan kita sering bersyarat.
Kesetiaan yang Hanya Bertahan di Awal
Banyak orang pernah berada di fase ini, saat hidup terjepit, doa terasa khusyuk, tahajud terasa ringan, air mata mudah jatuh. Namun ketika jawaban belum datang, ketika apa yang kita pinta kepada-Nya belum juga menunjukkan tanda-tandanya, maka satu per satu mulai ditinggalkan.
Malam terlewat, doa dipersingkat, harapan mulai mengecil. Bukan karena tidak percaya,
tapi karena lelah menunggu. Dan tanpa sadar, kita berhenti setia.
Jangan Sampai Kita Kalah oleh Seekor Anjing
Kisah anjing Ashabul Kahfi bukan untuk merendahkan manusia, tapi untuk menyadarkan. Jika seekor hewan bisa setia tanpa tahu akhir cerita, bagaimana mungkin manusia menyerah pada Allah yang Maha Hidup, Maha Menepati janji?
Allah tidak pernah berjanji hidup ini mudah. Tapi Allah berjanji tidak menyia-nyiakan doa hamba-Nya. Masalahnya sering bukan pada janji Allah, tapi pada kesabaran kita menunggu datangnya pertolongan Allah.
Setia Itu Soal Bertahan
Kesetiaan bukan tentang cepat atau lambat, kesetiaan adalah tentang bertahan, meski tidak tahu kapan. Anjing Ashabul Kahfi bertahan, Hachiko bertahan. Dan kita, sebagai manusia, diberi akal, iman, dan janji Allah. Seharusnya kita lebih mampu bertahan.
Kisah anjing Ashabul Kahfi bukan kisah tentang hewan, ini kisah tentang pilihan. Tentang siapa yang kita ikuti, dan sejauh apa kita mau bertahan. Jangan sampai kita kalah setia dari seekor anjing.
Jangan sampai doa kita berhenti di tengah jalan. Jangan sampai keyakinan runtuh hanya karena jawaban belum datang. Karena tugas kita bukan menentukan kapan Allah menjawab. Tugas kita hanya satu, tetap mengetuk pintu-Nya dengan sabar dan setia, dan mungkin, di situlah letak kemuliaan yang selama ini kita cari.
Demikianlah artikel singkat tentang kisah anjing Ashabul Kahfi yang penuh hikmah sekaligus pengingat bagi kita. Kita adalah manusia, yang diciptakan-Nya sebagai mahluk sekaligus hamba-Nya yang paling mulia dari seluruh ciptaan-Nya yang lain.
Sudah seharusnya kita pun memiliki akhlak kemuliaan yang lebih dibandingkan dengan seluruh mahluk ciptaan-Nya yang lain. Semoga artikel di atas bisa menjadi pengingat sekaligus menambah pemahaman kita.
Wallahu’alam bishawab.


