Belajar Menjadi Ayah, Bertumbuh Bersama

BELAJAR MENJADI AYAH. Hari itu penulis membaca update di grup yang penulis ikuti, yaitu sebuah grup yang baru saja mengadakan pertemuan yang dihadiri oleh para Ayah. Mereka duduk di satu ruangan bersama, bukan ruang besar. Tidak mewah, tidak juga penuh atribut, tapi entah kenapa, gambaran suasananya menyiratkan rasa hangat.

forum-ayah-belajar-menjadi-ayah

(Sebuah catatan setelah pertemuan sederhana para Ayah)

Dari hasil ngobrol sore itu yang juga diupdate di grup, tersirat tidak ada tuntutan untuk terlihat paling paham, tidak ada kebutuhan untuk tampil paling kuat, tidak ada lomba siapa Ayah paling berhasil. Dan itu terasa melegakan.

Pertemuan pertama Forum Ayah Bandung (FAB) ini, di hari sore Ahad 11 Januari 2026 kemarin, menjadi awal tahun 2026 yang menginspirasi. Forum Ayah yang digagas oleh Ayah Rahmat Puryodo, tidak terasa seperti forum “resmi”.

Lebih mirip ruang singgah, tempat untuk orang-orang yang sama-sama sedang belajar, menjalani peran yang dianggap biasa saja, tapi sesungguhnya berat, menjadi seorang ayah.

Penulis baru sadar, menjadi seorang ayah sering kali dijalani sendirian. Kita dituntut kuat,
dituntut tahu segalanya, dituntut tahu arah, dituntut jadi penopang. Padahal banyak hal yang kita sendiri masih bingung. Masih belajar menjadi Ayah, masih jatuh bangun.

Di forum ini, melalui berbagai diskusi dan update hasil pertemuan membawa perasaan yang pelan-pelan mencair. Ada rasa bahwa ternyata penulis tidak sendiri. Bahwa kebingungan ini wajar, bahwa lelah ini manusiawi. Dan dari situ, belajar menjadi Ayah jadi terasa lebih jujur.

Di FAB, ada satu kata yang sering muncul: antusias.

Bukan antusias yang berisik.
Bukan antusias yang sok tahu.

Tapi antusias yang tenang, mau belajar meski usia tidak lagi muda. Mau membuka diri meski rutinitas sudah melelahkan. Mau menambah bekal, walau dunia rasanya semakin rumit.

Antusias di sini tidak berarti harus langsung berubah, tidak juga berarti harus sempurna. Cukup satu hal: mau bergerak, meski pelan.

Yakin Bertumbuh dalam Kebersamaan

Yang paling terasa bagi saya adalah semangat kebersamaan. Menjadi ayah ternyata tidak harus selalu ditanggung sendiri. Ada kekuatan besar ketika kita saling mendengar, tanpa menghakimi. Saling menguatkan, tanpa merasa lebih tinggi. Saling mengingatkan, tanpa nada menggurui.

Setiap ayah datang membawa cerita masing-masing.
Ada yang sedang berjuang dengan waktu.
Ada yang sedang diuji secara ekonomi.
Ada yang sedang belajar ulang berkomunikasi dengan pasangan dan anak.

Asyik Berproses, Tidak Terjebak Hasil

Tidak ada cerita yang paling berat, tidak ada yang paling benar. Semua sedang berproses. Salah satu pengingat yang cukup menampar saya adalah soal orientasi. Bahwa menjadi ayah bukan soal hasil cepat, bukan soal citra, bukan soal terlihat “ideal”.

FAB mengajak untuk asyik menjalani proses.

Ada hari ketika kita sabar.
Ada hari ketika kita gagal.
Ada masa penuh semangat.
Ada masa ingin diam dan menyerah.

Dan ternyata, semua itu sah. Nilai seorang ayah bukan diukur dari seberapa sering ia benar, tapi dari seberapa mau ia belajar lagi setelah salah, belajar menjadi Ayah.

Belajar Menjadi Ayah Yang Hadir Sebagai Teladan

Ada satu kata yang terus terngiang setelah pertemuan itu: hadir.

Hadir bukan cuma pulang ke rumah, hadir secara fisik, hadir dan ada di ruangan yang sama. Tapi juga hadir secara batin, hadir untuk mendengarkan, hadir untuk memberi contoh, bukan hanya perintah.

Islam sendiri tumbuh bukan karena teori panjang, tapi karena teladan yang hidup. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wassalam tidak hanya mengajarkan, tapi menunjukkan. Dalam rumah, dalam interaksi, dalam keseharian.

Para sahabat Nabi, terkenal memiliki pribadi-pribadi luar biasa karena di tengah mereka hadir teladan yang hidup dalam rumah, di pasar, di medan dakwah, dan dalam kepemimpinan.

Dari masyarakat yang dikenal jahiliyah, lahirlah peradaban besar karena adanya sosok panutan yang konsisten. Para sahabat berubah bukan karena banyaknya aturan, tapi karena melihat contoh nyata setiap hari.

Ayah sebagai Pusat Keteladanan Keluarga

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wassalam adalah teladan dalam banyak peran: sebagai ayah, pemimpin, pedagang, kepala negara, bahkan sebagai kawan dan lawan. Keteladanan beliau utuh dan nyata.

Pada lingkup yang lebih kecil bernama keluarga, ayah memegang peran serupa. Anak-anak mungkin lupa nasihat kita, tapi mereka ingat sikap kita. Mereka belajar dari cara kita bicara, dari cara kita marah, dari cara kita meminta maaf, dari cara kita memperlakukan ibu mereka.

Dan itu terasa berat… tapi juga bermakna.

Forum Ayah Bandung (FAB) tidak menawarkan solusi instan. Bukan pula tempat untuk menghakimi, tapi ruang untuk memperbaiki diri. Bukan panggung kesempurnaan, tapi ladang proses.

Tidak juga menjanjikan keluarga tanpa masalah. Tapi ia menawarkan sesuatu yang lebih jujur, ruang untuk bertumbuh. Ruang aman untuk mengakui kekurangan, ruang untuk belajar tanpa malu, ruang untuk berjalan bersama.

Satu perasaan sederhana yang muncul, lebih ringan. Bukan karena semua masalah selesai, tapi karena saya tahu, saya tidak berjalan sendirian.

Semoga ruang seperti ini terus hidup. Menjadi tempat aman bagi para ayah yang terus mau belajar menjadi Ayah, mau berbagi, dan saling menguatkan. Karena ketika ayah bertumbuh, keluarga ikut bertumbuh. Dan ketika keluarga kuat, masyarakat pun ikut menguat.

Bagi para Ayah dimanapun berada, yang kebetulan Allah takdirkan membaca tulisan ini, yuk bergabung bersama di grup WA Forum Ayah Bandung di bawah ini. Kita sama-sama belajar menjadi Ayah hebat bersama-sama.

>> Gabung Forum Ayah Bandung <<

forum-ayah-bandung

Semoga artikel ini bisa bermanfaat, khususnya bagi penulis pribadi dan umumnya untuk sahabat pembaca Pondok Islami, para Ayah hebat di manapun berada.

Barakallahu fiikum.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Saatnya foto-fotomu jadi ladang rezeki
This is default text for notification bar