QUALITY TIME KELUARGA. Sabtu sore itu saya duduk di sofa, persis di sebelah anak saya yang sedang asyik bermain Lego. Kalau dilihat sekilas, saya sedang menemani anak. Saya ada di rumah, duduk berdekatan, bahkan jaraknya tidak lebih dari satu meter.
Tapi kalau mau jujur, sebenarnya saya tidak benar-benar sedang bersamanya. Pikiran saya masih tertinggal di grup kerja yang sejak tadi mengirim beberapa pesan. Sesekali tangan saya mengambil HP, membuka notifikasi, membaca chat, lalu meletakkannya lagi. Beberapa menit kemudian, tangan itu kembali mengambilnya.
Sementara di sebelah saya, anak saya beberapa kali memanggil,
“Yah, lihat ini!”
“Iya, bagus.”
Jawaban otomatis. Masalahnya, saya tidak benar-benar melihat. Beberapa saat kemudian dia memanggil lagi.
“Yah, lihat…”
“Iya, bagus.”
Kali ini pun sama, sampai akhirnya dia berhenti. Bukan karena sudah selesai bermain. Bukan pula karena sudah puas menunjukkan hasil karyanya kepada saya. Dia berhenti karena mungkin sudah menyadari bahwa ayahnya memang ada di sana, tetapi tidak benar-benar hadir.
Dan entah kenapa, justru diamnya itu yang membuat saya merasa tidak nyaman. Saya menoleh. Anak saya kembali sibuk dengan legonya. Tangannya tetap menyusun balok-balok kecil itu, tetapi tidak lagi mencari perhatian saya.
Saat itulah saya seperti mendapat teguran sederhana:
Ternyata duduk di sebelah anak belum tentu berarti kita sedang bersama anak.
Tubuh bisa berada di ruangan yang sama, sementara pikiran dan hati entah sedang pergi ke mana. Dari situ saya mulai memikirkan kembali apa sebenarnya arti quality time keluarga.
Jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk menghitung berapa lama waktu yang kita habiskan bersama anak, tetapi lupa bertanya apakah selama waktu itu kita benar-benar hadir.
Apa Arti Quality Time Keluarga?
Secara sederhana, quality time keluarga adalah waktu yang digunakan untuk membangun kedekatan, komunikasi, perhatian, dan hubungan emosional antara anggota keluarga.
Tetapi menurut saya, definisi itu masih belum cukup karena quality time bukan hanya soal berada di tempat yang sama. Dua orang bisa duduk berdampingan selama tiga jam tanpa benar-benar terhubung. Sebaliknya, percakapan sepuluh menit sebelum tidur bisa menjadi momen yang sangat berarti bagi seorang anak.
Jadi, waktu berkualitas bersama anak bukan semata-mata persoalan durasi, yang lebih penting adalah kualitas perhatian selama momen tersebut. Ayah yang hanya memiliki waktu 15 menit tetapi benar-benar mendengarkan cerita anak bisa jadi lebih “hadir” daripada ayah yang berada di rumah sepanjang hari tetapi pikirannya terus tertuju pada pekerjaan dan layar HP.
Inilah mengapa kita perlu membedakan antara kehadiran fisik dan kehadiran emosional. Kehadiran fisik berarti tubuh kita ada, sementara kehadiran emosional berarti perhatian, pikiran, dan hati kita juga ikut berada di sana. Dan anak-anak ternyata cukup peka untuk merasakan perbedaannya.
Quality Time Bukan Berarti Harus Punya Banyak Waktu
Bagi ayah yang bekerja, persoalan ini sering terasa dilematis. Pagi berangkat ketika anak belum selesai bersiap. Siang bekerja, sore masih ada perjalanan pulang, malam sampai rumah sudah lelah.
Akhirnya muncul perasaan bersalah: “Saya jarang punya waktu untuk anak.” Padahal, mungkin persoalannya tidak selalu sesederhana itu. Seperti yang pernah saya renungkan dalam tulisan sebelumnya tentang ayah yang sibuk bekerja, keterlibatan ayah tidak selalu diukur dari berapa jam ia berada di rumah.
Yang lebih penting adalah apakah ada momen-momen kecil yang secara konsisten digunakan untuk terhubung dengan anak. Misalnya, lima belas menit ketika mengantar ke sekolah. Sepuluh menit saat makan malam, lima menit sebelum anak tidur.
Atau satu jam di akhir pekan yang benar-benar bebas dari HP dan pekerjaan. Bukan berarti waktu yang sedikit harus dijadikan pembenaran untuk terus sibuk. Bukan itu, justru karena waktu kita terbatas, kita perlu belajar menggunakan waktu yang ada dengan lebih sadar.
Jangan menunggu pekerjaan selesai seluruhnya untuk mulai hadir sebagai ayah. Sebab pekerjaan hampir selalu punya pekerjaan berikutnya. Dan anak-anak tidak selalu menunggu.
Mengapa Quality Time Ayah dan Anak Penting?
Hubungan ayah dan anak tidak terbentuk hanya karena tinggal di bawah atap yang sama. Anak perlu mengalami interaksi yang membuatnya merasa dilihat, didengar, diterima, dan dianggap penting.
Dari situlah bonding ayah dan anak perlahan tumbuh. Saat seorang anak bercerita dan ayahnya mendengarkan, anak belajar bahwa ceritanya penting. Ketika anak menunjukkan hasil gambarnya lalu ayah berhenti sejenak untuk melihat, anak belajar bahwa usahanya dihargai.
Begitu juga saat anak mengajak bermain lalu ayah menyempatkan diri ikut bermain, anak menangkap pesan yang mungkin jauh lebih kuat daripada sebuah nasihat panjang:
“Ayah senang menghabiskan waktu bersamaku.”
Pesan-pesan kecil semacam itu jika terus diulang akan membentuk pengalaman emosional yang panjang. Dan mungkin, inilah alasan quality time ayah dan anak tidak boleh dianggap sekadar aktivitas tambahan setelah semua pekerjaan selesai. Ia adalah bagian dari proses membangun hubungan.
Rasulullah Memberi Teladan tentang Kehadiran kepada Anak
Kalau berbicara tentang bagaimana membangun kedekatan dengan anak, ada teladan menarik dari kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama cucu-cucunya, Hasan dan Husain. Diriwayatkan dari Abdullah bin Syaddad, dari ayahnya, bahwa Rasulullah pernah keluar untuk melaksanakan shalat sambil menggendong salah seorang cucunya.
Ketika sujud, beliau memperlama sujudnya. Para sahabat yang menjadi makmum bahkan sempat bertanya-tanya. Mereka mengira telah terjadi sesuatu atau mungkin turun wahyu. Setelah selesai shalat, Rasulullah menjelaskan bahwa cucunya sedang menaiki punggung beliau ketika sujud. Beliau tidak ingin terburu-buru sampai cucunya merasa puas bermain.
Riwayat tersebut disebutkan dalam HR. An-Nasa’i dan Ahmad.
“Ya Rasulullah, Anda sujud lama sekali hingga kami mengira sesuatu telah terjadi atau turun wahyu.” Beliau menjawab, “Semua itu tidak terjadi, tetapi cucuku ini menunggangi aku, dan aku tidak ingin terburu-buru agar dia puas bermain.” (HR. An-Nasa’i dan Ahmad)
Saya membayangkan kejadian itu cukup lama. Di tengah ibadah yang begitu agung, Rasulullah tetap memberikan ruang bagi seorang anak kecil untuk menikmati dunianya.
Ada pelajaran penting di sana. Kedekatan dengan anak tidak selalu membutuhkan waktu khusus. Kita sering berpikir bahwa untuk membangun bonding dengan anak, harus menunggu waktu luang.
Padahal, kehidupan sehari-hari sebenarnya menyediakan begitu banyak kesempatan. Di meja makan, dalam perjalanan, saat bermain, ketika anak sedang bercerita, bahkan di sela-sela aktivitas yang sedang kita lakukan. Yang dibutuhkan sering kali bukan waktu yang panjang, tetapi kesediaan untuk benar-benar hadir pada momen tersebut.
Rasulullah Tidak Hanya Mendidik, tetapi Juga Bermain
Ada sisi lain dari kehidupan Rasulullah yang juga menarik untuk direnungkan. Beliau tidak selalu berinteraksi dengan anak-anak dalam suasana serius. Ada ruang untuk bercanda, ada ruang untuk bermain, ada ruang untuk masuk ke dunia mereka.
Salah satu contohnya adalah kisah Abu Umair, adik Anas bin Malik. Abu Umair memiliki seekor burung kecil. Rasulullah mengetahui hal tersebut dan pernah menyapanya dengan pertanyaan bercanda mengenai burung peliharaannya.
“Wahai Abu Umair, apa yang telah dilakukan si burung kecil itu?” (HR. Tirmidzi, Bukhari, dan Muslim)
Pertanyaan itu sederhana, tidak ada ceramah, tidak ada nasihat panjang, tidak ada pelajaran yang harus dicatat. Tetapi Rasulullah menunjukkan ketertarikan terhadap sesuatu yang dianggap penting oleh seorang anak.
Bagi orang dewasa, burung kecil mungkin bukan sesuatu yang menarik. Bagi Abu Umair, burung itu adalah bagian dari dunianya. Dan Rasulullah bersedia masuk ke dunia tersebut. Ini juga bisa menjadi pelajaran bagi kita sebagai orang tua.
Sisi playful Rasulullah juga terlihat dalam rumah tangganya bersama Aisyah RA. Suatu ketika dalam perjalanan, Rasulullah mengajak Aisyah lomba lari. Saat itu tubuh Aisyah masih ringan, dan beliau kalah dalam lomba tersebut.
Beberapa waktu kemudian, dalam perjalanan lain, Rasulullah kembali mengajaknya lomba lari, dan kali ini beliau menang. Beliau berkata sambil bercanda,
“Ini balasan atas kekalahanku yang dulu.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah)
Kisah ini menunjukkan bahwa quality time dalam keluarga tidak melulu soal momen serius mendidik atau menasihati. Ada ruang untuk bermain, bercanda, bahkan berkompetisi kecil-kecilan yang menghadirkan tawa dan kehangatan.
Kalau anak sedang bercerita tentang game, mungkin kita tidak perlu langsung menghakimi. Begitu juga saat anak sedang menunjukkan permainan Lego, mungkin tidak perlu buru-buru mengatakan, “Sudah, simpan, nanti berantakan.”
Ataupun saat anak sedang bercerita dan berkeluh kesah tentang teman sekolahnya, mungkin kita tidak perlu langsung memberikan solusi. Kadang mereka hanya ingin kita masuk sebentar ke dunia mereka dan mau mendengarkan mereka.
Quality Time Tidak Harus Mahal
Ada satu kesalahpahaman lain yang cukup sering muncul ketika kita membicarakan quality time keluarga. Seolah-olah waktu berkualitas harus berbentuk liburan, harus pergi ke tempat wisata, atau makan di restoran sampai staycation dan tidak lupa harus dilengkapi dengan foto keluarga.
Padahal, kalau kita melihat contoh sederhana dari kehidupan Rasulullah, kedekatan tidak selalu dibangun melalui aktivitas yang mahal atau rumit. Menggendong cucu, bertanya tentang burung peliharaan, bermain, bercanda, mendengarkan cerita mereka, semuanya sederhana.
Karena yang membuat sebuah momen menjadi bermakna bukan harga aktivitasnya, melainkan hubungan yang terbangun di dalamnya. Maka, jangan merasa gagal menjadi ayah hanya karena belum bisa membawa anak berlibur setiap bulan.
Mungkin ada aktivitas yang jauh lebih sederhana tetapi justru lebih bermakna, seperti bermain Lego, bersepeda keliling kompleks, membeli jajanan di depan rumah. Membaca buku sebelum tidur, memasak telur bersama, menemani anak mengerjakan tugas. Atau hanya sekadar duduk di sampingnya, sambil mendengarkan cerita yang sebenarnya sudah pernah kita dengar berkali-kali.
Bagaimana Cara Quality Time dengan Anak di Tengah Kesibukan?
Kalau waktu menjadi persoalan, mungkin kita tidak perlu langsung mengubah seluruh jadwal kehidupan. Mulailah dari momen yang sudah ada.
1. Manfaatkan perjalanan bersama
Ketika mengantar anak sekolah, jangan selalu biarkan perjalanan berlalu dalam diam. Tanyakan hal yang lebih spesifik.
“Gimana hari ini? Apakah kamu bersenang-senang?”
“Ada kejadian lucu apa di sekolah tadi?”
“Siapa teman yang paling banyak bikin kamu ketawa hari ini?”
Pertanyaan semacam ini biasanya lebih mudah membuka percakapan daripada pertanyaan generik seperti “Sekolah gimana?”
2. Buat ritual kecil sebelum tidur
Tidak perlu lama, lima menit pun cukup. Masuk ke kamar, tanyakan kabarnya, dengarkan kalau dia ingin bercerita. Usap kepalanya, bacakan doa, lalu temani hingga ia tertidur. Jika dilakukan terus-menerus, momen kecil seperti ini bisa menjadi ritual yang kelak justru paling dirindukan.
3. Matikan HP ketika sedang bersama anak
Ini mungkin terdengar paling sederhana sekaligus paling sulit, tetapi coba sesekali letakkan HP di tempat yang tidak terjangkau tangan. Bukan berarti kita harus selalu offline, tapi saat sudah menetapkan waktu untuk quality time ayah dan anak, berikan sinyal bahwa beberapa menit itu memang milik mereka.
4. Ikuti permainan yang disukai anak
Tidak harus selalu memainkan permainan yang kita sukai saja, tapi coba ikuti permainan yang disukai oleh anak. Kalau mereka menyukai permainan Lego, ikutlah bermain bersama-sama menyusun Lego.
Kalau anak suka bola, ikut bermain, kalau dia suka menggambar, minta dia mengajari kita menggambar, atau lakukan aktivitas menggambar bersama-sama. Sesekali biarkan anak menjadi “guru”. Ini menarik karena anak bukan hanya merasa ditemani, tetapi juga merasa dipercaya.
5. Buat satu aktivitas rutin setiap minggu
Tidak perlu mahal, berjalan kaki di pagi hari misalnya, atau bersepeda sore di akhir minggu. Pada hari Jumat malam, bisa makan bersama tanpa HP atau bermain bersama. Konsistensi jauh lebih penting daripada kemewahan aktifitas.
Saya Pernah Salah Memahami Arti “Menemani”
Kembali ke kejadian sore itu, setelah menyadari saya kehilangan momen dengan anak karena sibuk dengan HP, keesokan harinya saya mencoba melakukan hal yang lebih sederhana. Ketika dia kembali bermain Lego, saya meletakkan HP di kamar.
Kemudian saya duduk di dekatnya, dan kali ini saat dia berkata,
“Yah, lihat ini!”
Saya benar-benar melihat dan memberikan respon.
“Oh, ini bikin apa?”
Dia menjawab, lalu menjelaskan panjang lebar. Bagian ini untuk apa? Yang itu untuk apa dan mengapa bentuknya seperti itu? Atau bagaimana kalau nanti bangunannya roboh?
Saya jujur aja tidak sepenuhnya mengerti, bahkan kalau Lego itu saya lihat sendiri tanpa penjelasan, mungkin saya hanya akan melihat sekumpulan balok warna-warni. Tetapi kali ini saya mendengarkan.
Sesekali bertanya, sesekali tertawa, dan wajahnya terlihat jauh lebih bersemangat. Saat itu saya kembali mendapatkan pelajaran sederhana:
Anak ternyata tidak selalu meminta kita melakukan sesuatu untuk mereka. Kadang mereka hanya ingin kita melihat apa yang sedang mereka lakukan.
Mungkin bagi kita, Lego itu cuma Lego, tetapi bagi anak, itu adalah dunia kecil yang sedang ia bangun. Dan ketika kita bersedia melihatnya, kita sebenarnya sedang mengatakan:
“Yang kamu anggap penting, Ayah mau ikut melihat.”
Jangan Tunggu Anak Berhenti Memanggil
Ada satu bagian dari kejadian sore itu yang sampai sekarang masih terngiang. Anak saya berhenti memanggil. Saya tidak tahu apakah dia benar-benar sadar bahwa saya tidak memperhatikannya atau tidak.
Tetapi saya kemudian membayangkan sesuatu yang lebih jauh. Bagaimana kalau suatu hari nanti dia benar-benar berhenti memanggil? Bukan karena sudah tidak punya cerita, atau karena sudah tidak membutuhkan ayahnya, tapi karena sejak lama dia belajar bahwa ayahnya selalu sibuk.
Ini mungkin yang perlu kita waspadai, anak-anak tumbuh. Dunia mereka semakin luas dan teman-teman mereka bertambah. Teknologi semakin dekat, media sosial semakin menarik, dan jika kita tidak membangun hubungan yang cukup kuat sejak mereka kecil, jangan heran kalau suatu hari mereka lebih nyaman menceritakan isi hati kepada orang lain daripada kepada ayahnya sendiri.
Karena itu, kehadiran ayah bukan perkara kecil. Kehadiran bukan hanya tentang pulang ke rumah, bukan hanya tentang membayar uang sekolah, bukan pula hanya tentang menyediakan makanan. Semua itu penting.
Tetapi anak juga perlu merasakan bahwa ketika mereka ingin berbicara, ayah punya ruang untuk mendengarkan. Ketika mereka ingin bermain, ayah sesekali mau ikut bermain. Ketika mereka ingin menunjukkan sesuatu, ayah mau melihat.
Quality Time Keluarga Tidak Perlu Menunggu Waktu yang Sempurna
Mungkin kita memang tidak bisa menjadi ayah yang selalu punya banyak waktu. Sebagai ayah, kita memiliki pekerjaan. Ada tanggung jawab dan kewajiban mencari nafkah serta banyak hal-hal lain yang harus diselesaikan.
Tetapi kita masih bisa belajar menjadi ayah yang benar-benar hadir ketika kesempatan itu datang. Tidak harus selalu menunggu waktu liburan tiba, tidak juga harus menunggu pekerjaan selesai seluruhnya, termasuk menunggu hingga tiba waktu weekend panjang.
Mulailah dari lima menit yang tersedia hari ini. Duduk di sebelah anak, simpan HP, lihat matanya dan dengarkan ceritanya. Tertawalah jika memang cerita itu lucu, dan kalau ceritanya tidak menarik bagi kita, tidak apa-apa.
Kita tidak sedang mengikuti ceritanya karena ceritanya luar biasa, tapi kita sedang mendengarkan karena anak kita yang sedang bercerita. Itu bedanya.
Mungkin suatu hari nanti, Lego itu sudah tidak lagi menarik baginya. Mungkin dia tidak akan lagi memanggil,
“Yah, lihat ini!”
Mungkin saat itu dia sudah tumbuh besar dan punya dunianya sendiri, dan kita tidak bisa kembali ke Sabtu sore ini. Kita akan bisa lagi mengulang percakapan yang pernah dilewatkan. Tidak bisa mengulang waktu yang terbuang karena terlalu sibuk melihat layar.
Yang bisa kita lakukan adalah mulai hadir sekarang, karena pada akhirnya, quality time keluarga bukan tentang menciptakan momen yang terlihat istimewa. Kadang ia hanya berupa seorang ayah yang menaruh HP. Seorang anak yang menyusun Lego, sebuah sofa dan percakapan kecil yang tidak akan masuk berita mana pun.
Tetapi mungkin, bertahun-tahun kemudian, justru momen-momen seperti itulah yang paling dirindukan. Semoga Allah memampukan kita menjadi ayah yang tidak hanya hadir secara fisik di rumah, tetapi juga hadir dengan hati.
Sebab anak-anak kita mungkin tidak membutuhkan ayah yang selalu punya banyak waktu. Mereka hanya membutuhkan ayah yang hadir di saat tiba waktunya untuk bersama mereka.

