
Malam itu jarum jam hampir menunjuk pukul sepuluh. Jalanan menuju rumah masih dipenuhi kendaraan yang berkejaran dengan waktu. Sebagian orang mungkin baru pulang bekerja, sebagian lagi baru memulai aktivitas malamnya.
Saya mematikan mesin motor di halaman rumah, menarik napas panjang, lalu duduk di atas jok motor beberapa detik tanpa segera turun. Lelah, mungkin itu kata yang paling tepat menggambarkan keadaan saya malam itu. Kepala masih dipenuhi sisa-sisa rapat siang tadi. Ada beberapa pesan WhatsApp yang belum sempat dibalas. Besok pagi masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
Setelah melepas kunci motor, saya beranjak mendekati pintu rumah dan membukanya perlahan. Rumah sudah sunyi, lampu ruang tamu tinggal menyisakan cahaya temaram. Saya berjalan pelan menuju kamar anak-anak, yang terlihat sedikit terbuka. Dari celahnya, cahaya lampu tidur memancar lembut, menerangi wajah kecil yang sudah terlelap.
Saya berdiri cukup lama di ambang pintu. Entah kenapa, setiap kali melihat pemandangan seperti itu, selalu muncul perasaan yang sulit dijelaskan. Ada rasa syukur karena masih diberi kesempatan pulang ke rumah, tetapi bersamaan dengan itu, muncul pula rasa sesal yang pelan-pelan mengetuk hati.
Hari ini saya kembali terlambat, tidak sempat mendengar cerita tentang sekolahnya, tidak sempat membantu mengerjakan PR, bahkan tidak sempat bercanda saat makan malam dan menjelang tidur. Saya hanya sempat melihatnya… ketika ia sudah tertidur.
Kalau Anda juga pernah mengalami momen seperti ini, percayalah, Anda tidak sendirian. Banyak ayah yang bekerja memikul perasaan yang sama. Mereka berangkat sebelum anak bangun, lalu pulang ketika anak sudah tidur. Akhirnya muncul pertanyaan yang diam-diam mengganggu hati,
Terlibat Itu Bukan Soal Banyaknya Waktu
Ada satu kesalahan cara berpikir yang dulu cukup lama saya yakini. Saya mengira keterlibatan seorang ayah diukur dari banyaknya waktu yang ia habiskan bersama anak. Kalau waktu sedikit, berarti saya ayah yang kurang hadir.
Kalau sering lembur, berarti saya gagal. Semakin dipikirkan, perasaan bersalah itu justru semakin besar. Sampai akhirnya saya menyadari bahwa ada dua hal yang ternyata berbeda. Banyak waktu dan hadir dengan sungguh-sungguh.
Keduanya tidak selalu berjalan bersamaan. Saya pernah melihat seorang ayah yang hampir setiap hari berada di rumah. Namun, sebagian besar waktunya habis bersama ponsel. Anaknya bermain sendiri, mengobrol dengan ibunya. Sementara sang ayah sibuk menggulir layar media sosial.
Di sisi lain, saya juga mengenal seorang ayah yang pulang cukup malam karena pekerjaannya. Tetapi setiap pagi ia selalu menyempatkan diri untuk mengantar anaknya ke sekolah. Perjalanan mereka hanya sekitar lima belas menit, namun lima belas menit itu dipenuhi obrolan. Tentang pelajaran di sekolah, tentang teman-temannya, tentang cita-cita, tentang hal-hal sederhana yang mungkin terlihat sepele bagi orang dewasa.
Pada artikel sebelumnya sudah pernah dibahas soal perbedaan antara yang bertanggung jawab untuk mengajar anak mengaji dan yang mengajarnya. Yang bertanggung jawab tidak berarti harus mengajarkan secara langsung, akan tetapi harus memastikan bahwa anaknya bisa mempelajari Al-Qur’an, siapapun yang mengajarkannya.
Prinsip yang sama sebenarnya berlaku di sini juga. Keterlibatan seorang ayah tidak diukur dari berapa jam ia habiskan di rumah atau bersama dengan anak, tapi dari seberapa konsisten ia hadir, meski dalam potongan waktu yang kecil.
Walaupun ini bukan sebuah alasan untuk merasa nyaman dengan waktu yang minim. Tapi ini pengingat bahwa rasa bersalah karena “tidak banyak waktu” itu sering kali salah sasaran, yang sebenarnya perlu dievaluasi bukan durasinya, tapi konsistensi dan kualitas momen yang ada, sekecil apa pun itu.
Anak Tidak Menghitung Jam, Mereka Mengingat Momen
Saya mulai berpikir, mungkin yang membuat seorang anak merasa dekat bukan semata-mata lamanya waktu, tapi bagaimana waktu itu digunakan. Kalau kita bertanya kepada orang dewasa tentang kenangan masa kecilnya, jarang sekali ada yang menjawab,
“Saya ingat ayah bersama saya selama 1.200 jam setiap tahun.”
Tidak ada, yang mereka ingat justru momen. Saat ayah mereka mengajari naik sepeda, menemani belajar, menunggu saat pentas sekolah hingga saat ayah hanya sekedar mengusap kepala sebelum tidur.
Kenangan bekerja dengan cara yang unik, ia tidak menghitung durasi, tapi menyimpan makna. Saya jadi teringat salah satu anak saya yang masih duduk di SD. Suatu hari ia tiba-tiba bercerita kepada kakak lelaki saya,
“Waktu itu Ayah yang ngajarin aku teriak-teriak saat naik motor pulang sekolah, biar rasa keselku hilang.”
Saya tersenyum, padahal waktu itu saya cuma ingin mengarinya untuk mengeluarkan rasa kesal di hatinya saat menghadapi temen sekolahnya yang menurutnya terlalu posesif. Peristiwa itu pun hanya berlangsung beberapa menit saja, tidak ada yang istimewa sebenarnya.
Tetapi ternyata bagi seorang anak, waktu yang hanya beberapa menit itu cukup untuk menjadi sebuah kenangan, yang mungkin tak akan pernah dilupakan seumur hidupnya. Sejak saat itu saya mulai sadar, barangkali yang dibutuhkan anak bukan ayah yang selalu ada sepanjang hari.
Tetapi seorang ayah yang benar-benar hadir ketika sedang bersama mereka, saat mereka sedang membutuhkan keberadaan seseorang yang dia percaya untuk menjadi pendengar. Untuk menjadi orang yang siap menampung semua keluh kesah mereka.
Momen Kecil yang Sering Terlewat Begitu Saja
Dulu saya sering berpikir bahwa quality time harus berupa liburan, waktu yang panjang. Harus pergi ke luar kota, harus menginap, harus menghabiskan banyak uang dan waktu.
Belakangan saya justru menemukan bahwa quality time ayah dan anak sering kali tersembunyi di dalam momen-momen kecil dari rutinitas yang setiap hari sudah kita jalani. Misalnya, perjalanan mengantarkan anak ke sekolah.
Sepuluh atau lima belas menit memang terasa singkat. Tetapi kalau dilakukan lima hari dalam seminggu, berarti ada lebih dari lima puluh kesempatan setiap bulan untuk membangun percakapan.
Pertanyaannya sederhana.
“Hari ini pelajaran apa yang paling seru?”
“Temanmu yang kemarin sakit sudah masuk?”
“Ada hal yang bikin kamu senang hari ini?”
Tidak perlu menjadi seorang psikolog, ataupun memberikan sebuah nasihat yang panjang. Cukup menjadi pendengar, mendengarkan apa yang mereka ingin ceritakan dan ungkapkan. Anak sering kali lebih membutuhkan telinga daripada solusi.
Saat weekend juga sering disia-siakan cuma buat istirahat total, padahal satu aktivitas sederhana yang konsisten dilakukan tiap minggu, seperti jalan pagi bareng, masak sesuatu bersama, atau sekadar main game sebentar bersama. Momen-momen kecil seperti ini biasanya lebih diingat anak dibanding liburan besar yang cuma terjadi setahun sekali.
Begitu juga ketika pulang kerja, walaupun sudah malam, saya mulai membiasakan diri untuk masuk ke kamar anak sebelum tidur. Kadang ia masih terjaga, kadang sudah tertidur, seperti malam ini.
Jika ia masih terbangun, saya duduk sebentar, kalau sudah tidur, saya cukup mengusap kepalanya, mengecup dahinya sambil mendoakan dalam hati. Kelihatannya sederhana, tapi saya percaya kasih sayang yang dilakukan berulang kali akan meninggalkan jejak yang dalam.
Rasulullah Mengajarkan Nilai Konsistensi
Ada satu hadis yang selalu mengingatkan saya ketika mulai merasa belum mampu memberikan waktu yang banyak kepada keluarga.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wassalam bersabda,
أَحَبَُ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya : “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Memang hadist ini berbicara tentang ibadah, namun ada pelajaran yang sangat indah di dalamnya dan bisa ditarik dalam konteks mendidik anak. Allah mencintai sesuatu yang istiqamah, bukan sekadar yang besar, dan prinsip ini ternyata sangat relevan dalam kehidupan seorang ayah.
Lima menit mengobrol setiap hari, sepuluh menit membaca Al-Qur’an bersama setiap Magrib, mengantar ke sekolah seminggu beberapa kali hingga membacakan doa sebelum tidur. Semuanya terlihat kecil, tetapi kalau dilakukan bertahun-tahun secara istiqamah, dampaknya bisa sangat besar.
Sering kali kita terlalu sibuk menunggu waktu luang yang panjang, padahal yang dibutuhkan anak justru perhatian kecil yang tidak pernah putus. Hal ini juga sejalan dengan apa yang juga sudah pernah dibahas pada artikel di blog ini sebelumnya, tentang peran ayah dalam mendidik anak sebagai penanggung jawab.
Tanggung jawab itu tidak selalu berarti kehadiran fisik sepanjang waktu, tapi memastikan ada momen-momen bermakna yang terus terjaga, meski singkat.
Jangan Menunggu Waktu yang Sempurna
Kesalahan lain yang sering kita lakukan adalah menunggu waktu ideal. Nanti kalau pekerjaan sudah agak longgar, nanti kalau proyek sudah selesai. Nanti saja kalau sudah ambil cuti, nanti kalau akhir tahun.
Masalahnya, “nanti” itu selalu bergeser. Pekerjaan selesai, datang pekerjaan baru. Proyek selesai muncul target proyek berikutnya. Tanpa terasa, anak-anak pun terus bertambah besar.
Tanpa terasa, mereka tidak lagi meminta ditemani bermain, tidak lagi meminta digendong dan tidak lagi menunggu ayah membacakan cerita. Karena mereka sudah menemukan dunianya sendiri.
Saya pernah mendengar satu kalimat yang cukup mengusik hati.
“Suatu hari nanti, kita akan berharap bisa menggendong anak untuk terakhir kalinya, tetapi kita tidak pernah tahu kapan momen itu terjadi.”
Begitu juga dengan banyak kebiasaan kecil lainnya. Suatu hari nanti, mereka akan berhenti meminta diantar sekolah. Berhenti meminta ditemani tidur, berhenti menggandeng tangan kita ketika berjalan.
Semua itu akan berlalu pelan-pelan, dan sering kali kita baru menyadarinya setelah semuanya lewat. Karena itu, mungkin yang perlu kita lakukan bukan menunggu waktu yang sempurna, tapi memanfaatkan waktu yang sudah Allah berikan hari ini.
Yang Diingat Anak Bukan Kesibukan Ayahnya
Malam itu saya akhirnya masuk ke kamar, kemudian saya duduk di sisi tempat tidur. Anak saya masih tertidur pulas, dan perlahan saya usap rambutnya. Lalu mengecup dahinya sambil membacakan doa dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Ia mungkin tidak mendengarnya, mungkin juga tidak akan mengingatnya. Namun saya berharap, setiap doa yang dipanjatkan, setiap usapan kecil yang dilakukan dengan penuh kasih sayang, akan menjadi saksi bahwa ayahnya selalu berusaha pulang.
Bukan sekadar pulang ke rumah, tetapi pulang kepada keluarganya. Saya semakin percaya bahwa pada akhirnya anak-anak tidak akan mengingat berapa banyak rapat yang pernah kita hadiri.
Mereka tidak akan tahu berapa banyak target pekerjaan yang berhasil kita capai. Yang akan tinggal di ingatan mereka justru hal-hal sederhana. Ayah yang mendengarkan cerita mereka, ayah yang hadir saat mereka membutuhkan, ayah yang, sesibuk apa pun pekerjaannya, tetap menemukan cara untuk mengatakan,
“Ayah di sini.”
Semoga Allah memudahkan setiap ayah yang sedang berjuang mencari nafkah agar tetap mampu menjaga keterlibatan ayah dalam mendidik anak. Semoga Allah memberi keberkahan pada setiap menit yang kita luangkan untuk keluarga, menjadikan waktu yang sedikit terasa cukup, dan menjadikan setiap pertemuan bersama anak-anak sebagai amal yang kelak memberatkan timbangan kebaikan kita.
Aamiin allahumma aamiin.