SURAT IBRAHIM AYAT 24 25 26. Hari ini entah kenapa penulis memperhatikan pohon lebih lama dari biasanya, karena tanpa sengaja melihat pohon yang tumbuh di atas dinding rumah. Kebetulan lagi minta tukang memperbaiki atap rumah yang agak bocor siang ini.
Bukan pohon yang istimewa. Bukan yang tinggi menjulang atau yang berbunga indah. Cuma pohon biasa di pinggir jalan. Daunnya ada yang hijau, ada yang sudah menguning. Batangnya juga tidak lurus-lurus amat.
Dan penulis kepikiran satu hal sederhana, kok dia bisa tumbuh di situ terus, ya? Setiap hari kena panas. Kadang hujan deras, kadang angin kencang. Dia tidak pindah, tidak protes, tidak terlihat sibuk, tapi tetap hidup.
Bahkan di lahan yang sebetulnya bukan habitatnya, yang seharusnya tumbuh di atas tanah yang subur dan memiliki banyak nutrisi untuk menunjang kehidupannya. Penulis jadi merasa, mungkin selama ini tidak pernah mengindahkan hal ini, bukan sesuatu yang perlu diperhatikan.
Surat Ibrahim Ayat 24 25 26
Tapi siang ini jadi teringat satu ayat yang pernah dibaca pada tulisan yang mengkaji Surat Ibrahim ayat 24 25 26 yang mungkin sudah sering sekali kita dengar, tapi jujur saja, jarang benar-benar direnungkan.
اَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصۡلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرۡعُهَا فِى السَّمَآءِۙ ٢٤
تُؤۡتِىۡۤ اُكُلَهَا كُلَّ حِيۡنٍۢ بِاِذۡنِ رَبِّهَاؕ وَيَضۡرِبُ اللّٰهُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَذَكَّرُوۡنَ ٢٥
وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيۡثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيۡثَةٍ ۨاجۡتُثَّتۡ مِنۡ فَوۡقِ الۡاَرۡضِ مَا لَهَا مِنۡ قَرَارٍ ٢٦
Artinya: “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” (QS. Ibrahim : 24-26)
Dalam Surat Ibrahim ayat 24 25 26 di atas, Allah mengibaratkan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat, cabangnya menjulang ke langit. Kenapa pohon? Kenapa bukan gunung? Atau emas? Atau bangunan megah?
Penulis pribadi tidak tahu jawaban pastinya. Tapi makin dipikir, pohon itu masuk akal, karena pohon itu hidup, dan hidup itu tidak harus selalu rapi.
Kalau kita melihat pohon, yang terlihat biasanya cuma batang, daun, atau buah. Itu pun kalau sedang musimnya. Tapi bagian yang paling menentukan justru tidak kelihatan sama sekali, akar. Akar itu kotor, gelap, terpendam.
Tidak ada yang memuji akar, tidak ada yang memfoto akar, tapi tanpa akar, pohon cuma kayu yang tinggal menunggu tumbang. Penulis jadi langsung kepikiran diri sendiri.
Berapa banyak hal dalam hidup yang dijalani selama ini yang ingin cepat kelihatan hasilnya, tapi malas menguatkan yang tidak kelihatan? Iman, prinsip, nilai hidup?
Hal-hal yang tidak bisa dipamerkan di mana-mana. Kadang kita iri pada orang yang “cepat tumbuh”, cepat berhasil, cepat dikenal. Tapi kita tidak tahu seberapa dalam akar mereka. Atau jangan-jangan, akarnya memang belum dalam, dan kita cuma belum melihat angin besarnya datang.
Allah pada ayat 26 telah menggambarkan kalimat yang sia-sia bagaikan pohon yang akarnya rapuh dan berbuah pahit. Hanya menimbulkan kerugian diri sendiri dan orang lain.
Pohon yang akarnya dangkal bisa tumbuh cepat, tapi sekali badai datang, selesai. Dan anehnya, ini sering terjadi juga pada manusia. Ada satu peribahasa Barat yang pernah penulis baca.
Isinya kira-kira begini:
If you don’t like where you are, move! You are not tree.
“Kalau kamu tidak suka tempatmu sekarang, pindahlah. Kamu bukan pohon.”
Pertama kali membacanya penulis pun cenderung setuju, dengan peribasa tersebut. Tapi setelah kejadian melihat pohon yang tumbuh di tengah dinding ini, rasanya jadi mulai ragu.
Karena semakin diperhatikan, pohon itu tidak benar-benar diam. Akar pohon bergerak,
mencari air, menembus tembok, semen, tanah keras dan kadang batu.
Cabangnya juga bergerak, mencari cahaya, kadang harus bengkok, kadang harus memutar arah. Pohon tidak pindah tempat, tapi ia terus menyesuaikan diri. Dan semua proses itu tidak kelihatan secara dramatis, pelan-pelan tapi pasti.
Seperti siang ini, penulis melihat pohon tumbuh di celah tembok, jujur saja, heran, sekaligus kagum. Tanahnya hampir tidak ada, airnya entah dari mana, tapi dia hidup.
Tidak subur, memang, tidak indah, juga, tapi hidup, dan ini yang bikin jadi merasa agak malu. Karena sering kali, penulis mengingat-ingat peristiwa-peristiwa dalam kehidupan selama ini, sering menyerah bukan karena keadaannya mustahil, tapi karena keadaannya tidak ideal.
Manusia pandai mencari alasan, kalau lingkungannya lebih mendukung, bisa berkembang. Kalau waktunya pas, bisa berubah, kalau keadaannya enak, bisa bertumbuh.
Pohon tidak menunggu itu semua, ia tumbuh dulu dengan apa yang ada. Semakin lama memikirkan pohon ini, semakin terasa bahwa dia seperti guru, yang diam-diam memberikan pelajaran dan hikmahnya.
Dia tidak ceramah, tidak menasihati, tidak menyuruh. Tapi kehadirannya sendiri sudah jadi pelajaran. Bahwa tumbuh itu sering kali pelan, bahwa kuat itu dimulai dari yang tersembunyi, bahwa memberi manfaat tidak harus menunggu sempurna.
Pohon dengan proses fotosintesis tetap memberi oksigen meski daunnya tidak lebat, tetap memberi teduh meski batangnya tidak gagah. Mungkin yang perlu kita ubah bukan tempatnya, tapi cara kita berdiri di tempat itu.
Jangan kalah sama masalah, karena tidak semua masalah selesai dengan pindah, kadang yang dibutuhkan hanyalah waktu untuk menguatkan akar. Dan mungkin, kalau hari ini hidup terasa diam, bukan berarti kita gagal bergerak. Bisa jadi kita sedang melakukan kerja paling penting, kerja yang tidak kelihatan siapa pun.
Menguatkan Sesuatu di Dalam
Pohon terlihat sederhana, tapi justru dari kesederhanaannya kita belajar banyak hal: tentang sabar, tentang konsistensi, tentang memberi tanpa banyak syarat.
Penulis tidak tahu apakah refleksi ini benar atau tidak, penulis pun tidak yakin apakah semua orang akan setuju. Tapi satu hal yang saya rasakan setelah memikirkan pohon hari ini, saya jadi sedikit lebih sabar pada diri sendiri.
Allah tidak memilih pohon sebagai perumpamaan tanpa alasan. Dalam diamnya, ada pelajaran tentang keteguhan hidup. Dan mungkin, saat hidup terasa berat atau tidak bergerak, kita tidak perlu langsung lari. Bisa jadi, kita sedang berada di fase menguatkan akar.
Kalau pohon saja tidak terburu-buru, mungkin saya juga tidak harus selalu merasa tertinggal. Untuk hari ini, mungkin cukup bertahan, cukup hidup, cukup menguatkan akar.
Besok, kita lihat lagi.
Demikianlah artikel singkat tentang Surat Ibrahim ayat 24 25 26 dan hikmah yang bisa kita pelajari dari sebuah pohon. Semoga bermanfaat.
Barakallahu fiikum.


