PENTINGNYA MEMANFAATKAN WAKTU DALAM ISLAM. Pagi itu tidak ada yang istimewa. Penulis hanya ke dapur, seperti biasa. Niatnya sederhana, ambil buah untuk sarapan. Tidak ada kepikiran apa-apa, hanya mengikuti rutinitas sehari-hari saja setipa pagi.
Tapi entah kenapa, pandangan saya tiba-tiba terhenti di segepok pisang yang tersisa di meja. Empat buah, dua masih lumayan, dua lainnya terlihat sudah mulai menghitam di beberapa bagian. Kulitnya mulai keriput, teksturnya menjadi lembek, belum busuk, tapi jelas sudah lewat dari kondisi terbaiknya.
Penulis ingat betul, 1 sisir pisang itu baru dibeli 2 hari lalu bersama istri ketika sedang berjalan pagi di komplek perumahan tempat kami tinggal. Masih bagus, kuningnya masih segar, terlihat sudah pas matangnya, tidak ada tanda-tanda seperti pagi ini.
Sesampainya di rumah penulis hanya sempat mengambil 1 potong untuk dicicipi, dan sisanya sempat terpikir, “Ah, besok saja dimakannya.” Ternyata, besoknya dan 2 hari setelahnya Penulis harus melakukan aktifitas yang cukup menyita waktu, sehingga terlupakan untuk memakan kembali sisa pisang telah dibeli tadi.
Dan pagi ini Penulis berdiri agak lama di depan meja dapur. Tidak sedang sedih, tapi juga tidak sepenuhnya biasa, ada rasa seperti, tertampar pelan.
Tiga hari yang lalu, 1 sisir pisang itu masih sangat menarik untuk dicicipi, karena memang sedang pas matangnya. Saat dinikmati 1 potong buah pisangnya juga penulis merasakan nikmat kesegaran dari buah pisang tersebut.
Ternyata hari ini, kematangan pisangnya sudah lewat, terlalu matang, bahkan menjelang busuk. Kejadian ini membuat penulis terpaku, dan itulah pagi yang memberikan peringatan bahwa waktu tidak bisa dihentikan, tidak semua hal menunggu waktu kita siap.
Waktu, merupakan mahluk Allah yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Simak terus, ibrah dan pelajaran penting memanfaatkan waktu dalam Islam yang akan di bahas di bawah ini.
Segala Sesuatu Punya Waktu Terbaiknya
Pisang tidak menunggu kita siap untuk memakannya, waktu juga tidak pernah bisa menunggu, termasuk juga kesempatan. Kalau dipikir-pikir lagi, pisang ini buah yang unik.
Pisang termasuk buah klimaterik, yang tetap berjalan proses pematangannya, meski telah dipetik. Tetap berubah, Kita tidak bisa menahannya di titik “paling enak” terlalu lama.
Jika Kita mau merenung sejenak, bermuhasabah dari kejadian pisang yang mulai terlalu matang alias mulai membusuk di pagi ini, maka kita akan tersadarkan. Sering kita merasa masih memiliki waktu, masih bisa nanti, masih bisa berharap pada esok hari.
Masih bisa kalau sudah siap, tapi sering kali, kita baru sadar setelah segala sesuatu berubah, setelah rasanya tidak lagi sama. Dari dapur di pagi ini, pikiran penulis melayang kemana-mana.
Pada hal-hal yang lebih besar, pada usia, kesehatan, kesempatan berbuat baik. Berapa banyak hal yang kita tunda hanya karena merasa “belum saatnya”, “belum sekarang”?
Menunda adalah Kebiasaan yang Merugikan
Perbuatan menunda-nunda adalah sebuah kebiasaan yang merugikan. Menunda-nunda ibadah karena merasa masih muda, dan berpikir untuk melakukannya nanti saja, jika sudah menjelang tua.
Menunda berubah karena merasa masih sanggup, menunda berbuat baik karena berpikir kesempatan akan selalu ada di esok hari. Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu kapan kondisi terbaik itu lewat.
Masa Muda Juga Punya Batas Waktu
Pelan-pelan, refleksi itu semakin dalam. Kalau pisang saja punya masa terbaik yang singkat, bagaimana dengan manusia?
Masa muda, kesehatan, semangat, tenaga, kejernihan pikiran, semuanya juga punya jangka waktu. Tidak langsung hilang, tapi perlahan berkurang. Tanpa pengumuman. Tanpa tanda yang mencolok.
Kita sering merasa baik-baik saja, sampai suatu hari menyadari bahwa tubuh sudah tidak sekuat dulu. Ingatan tidak setajam dulu. Energi tidak segarang dulu.
Dan sering kali, penyesalan datang belakangan.
“Harusnya dulu lebih rajin.”
“Harusnya dulu lebih sungguh-sungguh.”
“Harusnya dulu tidak menunda.”
Bulan Rajab Juga Tidak Selamanya Ada
Pikiran saya kemudian sampai pada satu hal yang lebih spiritual, bulan Rajab. Bulan yang termasuk bulan haram, bulan yang dimuliakan, bulan yang sering disebut sebagai waktu untuk mempersiapkan diri sebelum Ramadan. Tapi seperti semua bulan lainnya, Rajab juga tidak tinggal selamanya.
Dalam hitungan hari, ia akan pergi. Digantikan oleh bulan berikutnya. Dan entah, apakah kita akan bertemu Rajab lagi di tahun depan atau tidak.
Dan itu datang tanpa pengumuman, tanpa pemberitahuan, bahkan tanpa kita sadari terjadi dan berlalu begitu saja. Saat tulisan ini penulis posting, Bulan Rajab tinggal menghitung hari, Ia datang, lalu pergi.
Berapa banyak Rajab-Rajab lain yang sudah kita lewati begitu saja? Padahal Allah sudah memberi kita waktu-waktu khusus, sebagaimana disampaikan dalam Al Quran :
إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِى كِتَٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ ۚ وَقَٰتِلُوا۟ ٱلْمُشْرِكِينَ كَآفَّةً كَمَا يُقَٰتِلُونَكُمْ كَآفَّةً ۚ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلْمُتَّقِينَ
Artinya :“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan yang dimuliakan.” (QS. At-Taubah: 36)
Bulan Rajab adalah salah satunya, waktu yang Allah sediakan khusus untuk setiap hamba-Nya untuk melakukan pemanasan, persiapan menjelang datangnya bulan penuh berkah, penuh ampunan, bulan yang mulia, Bulan Ramadhan.
Tapi sering kali kita memperlakukannya seperti hari biasa. Sama seperti pisang itu, masih bagus, belum sempat, nanti aja menikmatinya. Ternyata, nanti itu tidak selalu ada.
Kesempatan Tidak Selalu Datang Dua Kali
Pelajaran dari pisang itu sederhana, tapi menampar dengan halus. Kesempatan sering datang diam-diam, lalu pergi tanpa pamit.
Pisang itu sempat enak.
Waktu itu sempat lapang.
Hati itu sempat lembut.
Kita sering mengira kesempatan itu akan menunggu. Padahal, tidak.
Hari ini bisa jadi waktu terbaik untuk berbuat baik, memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, atau sekadar menata ulang niat. Besok, kondisi bisa berubah, hati bisa mengeras, rasa malas bisa lebih kuat, kesibukan bisa makin padat.
Seperti pisang yang kemarin masih sempurna, lalu hari ini sudah lewat masa terbaiknya. Kita punya pilihan, tapi Kita lebih sering hanya memilih untuk menunda.
Menyesal Itu Datangnya Selalu Belakangan
Penyesalan hampir selalu datang setelah sesuatu berlalu. Jarang ada orang yang menyesal karena terlalu cepat berbuat baik. Yang sering terjadi justru sebaliknya: menyesal karena menunda.
Yang membuat penyesalan itu terasa berat bukan karena kita tidak tahu. Tapi karena kita sebenarnya punya kesempatan.
Menyesal karena waktu habis, padahal sebelumnya waktu itu ada.
Menyesal karena kesempatan berlalu, padahal sebelumnya kesempatan itu ada.
Menyesal karena terlalu yakin bahwa hari esok pasti ada, padahal, tidak ada jaminan.
Memanfaatkan Waktu Dalam Islam
Penulis tetap makan dua pisang yang masih bisa dimakan pagi itu. Rasanya tetap manis, tapi tidak sebaik kemarin. Dan entah kenapa, rasanya juga tidak sama di dalam dada.
Ada syukur, tapi juga ada pelajaran. Tulisan ini sebenarnya bukan tentang pisang, pisang hanya pengingat. Tapi tentang waktu yang berjalan, tentang kesempatan yang tidak selalu kembali.
Memanfaatkan waktu dalam Islam merupakan fondasi yang sangat penting. Sebagaimana Allah ingatkan dalam Al Quran,
وَالْعَصْرِۙ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Artinya: “Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-‘Asr : 1-3)
Bukan berarti kita harus sempurna. Bukan berarti harus langsung berubah drastis. Tapi setidaknya, ada kesadaran bahwa hari ini berharga.
Hal ini pernah disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadits tentang memanfaatkan waktu dalam Islam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari,
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Artinya: “Dua nikmat yang banyak sekali manusia melupakannya, yakni keadaan sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Kalau hari ini masih sehat, manfaatkan.
Kalau hari ini masih punya waktu luang, gunakan.
Kalau hari ini masih diberi kesempatan berbuat baik, jangan ditunda.
Bulan Rajab, seperti pisang itu, punya masa terbaiknya. Dan masa itu tidak panjang, karena bisa jadi, hari ini adalah “kemarin” yang suatu saat kita sesali.
Semoga dengan memahami konteks memanfaatkan waktu dalam Islam dari bahasan di atas kita tidak mengalami penyesalan yang sama dalam hal-hal yang lebih besar: waktu, usia, dan kesempatan beribadah.
Manfaatkan selagi ada.
Sebelum berubah.
Sebelum lewat.
Sebelum hanya tinggal cerita.
Kalau tulisan ini terasa dekat, silakan dibagikan. Siapa tahu, ada orang lain yang juga sedang menunda, dan butuh diingatkan, dengan cara yang sederhana, seperti pisang di dapur pagi ini.
Semoga tulisan singkat tentang Pentingnya Memanfaatkan Waktu Dalam Islam bisa bermanfaat untuk diri penulis pribadi dan umumnya sahabat pembaca setia Pondok Islami.
Barakallahu fiikkum.


