Bulan Rajab: Mulai Duluan Biar Gak Telat Panen di Ramadhan

Bulan Rajab itu sering datang tanpa disadari. Tahu-tahu sudah masuk, tahu-tahu lewat. Padahal, kalau mau jujur, bulan Rajab justru salah satu momen paling penting dalam periode satu tahun di kehidupan seorang muslim.

bulan-rajab

Bukan karena ada euforia besar, tapi justru karena Rajab adalah awal. Awal menata niat, awal memanaskan mesin ibadah, dan awal untuk “mulai duluan”. Kalau bicara soal kesuksesan, kita semua paham satu prinsip sederhana: yang mulai duluan, biasanya unggul duluan. Ini berlaku di dunia, dan ternyata juga berlaku dalam urusan ibadah.

Mulai Duluan Itu Bukan Soal Cepat, Tapi Soal Siap

Penulis sempat membaca sebuah tulisan dari seorang pengarang buku best seller yang menceritakan tentang kisah sederhana seorang pengusaha mainan di Jakarta. Ia membuka toko mainan sejak wilayah itu masih sepi.

Pelan-pelan, orang lain mengikuti. Hari ini kawasan itu jadi pusat mainan, toko berjejer di mana-mana. Tapi siapa yang tetap memimpin pasar? Orang yang memulai lebih dulu.

Hal yang sama terjadi pada seorang pedagang pakaian di Cirebon. Ketika orang lain baru melirik peluang, ia sudah lebih dulu buka usaha. Sekarang tempat itu jadi pasar sandang besar, tapi omset tertinggi tetap dipegang oleh yang memulai sejak awal.

Cerita ini sederhana, tapi relevan banget dengan bulan hakekat kehadiran bulan Rajab. Bulan Rajab itu ibarat masa awal membuka lapak. Belum ramai, belum hiruk-pikuk, belum banyak saingan. Tapi justru di situlah keuntungannya. Yang mulai di Rajab, akan lebih siap saat Ramadhan datang.

Bulan Rajab dalam Islam: Bukan Bulan Biasa

Dalam Islam, bulan Rajab termasuk salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah, artinya, Rajab bukan bulan sembarangan. Sejak dulu, para ulama memandang Rajab sebagai waktu yang tepat untuk bersiap, bukan sekadar lewat.

Keutamaan Bulan Rajab salah satunya sering disebutkan sebagai bulan menanam, Sya’ban bulan menyiram, dan Ramadhan bulan memanen. Kalau benihnya saja belum ditanam di Rajab, lalu apa yang mau dipanen di Ramadhan?

Rajab dan Logika Perniagaan Amal

Dalam tulisan yang ditulis penulis tadi di channel telegramnya, ia bercerita tentang seorang ulama pengajar hadits di Masjidil Haram, Syekh Abdul Hamid Al-Makki. Beliau menyampaikan nasihat yang sangat indah dalam kitab Kanzun Najah, yaitu Bulan Rajab digambarkan sebagai musim perdagangan.

Kurang lebih maknanya seperti ini:
Rajab adalah waktu bersungguh-sungguh. Ini musim berniaga dengan Allah. Ini waktu meramaikan amal. Yang ingin berdagang, lapaknya sudah dibuka. Yang sakit karena dosa, obatnya sudah disiapkan.

Bahasanya sederhana tapi kena. Amal diibaratkan dagangan. Waktu diibaratkan pasar. Dan Rajab adalah saat pintu pasar baru saja dibuka.

Kalau kita datang lebih awal, kita punya banyak pilihan. Kita bisa atur strategi. Kita bisa pilih kualitas. Tapi kalau datang belakangan, sering kali kita cuma kebagian sisa.

Kenapa Banyak Orang Gagal Konsisten di Ramadhan?

Coba jujur ke diri sendiri. Berapa kali kita masuk Ramadhan dengan semangat tinggi, tapi baru berjalan beberapa hari sudah ngos-ngosan?

Bukan karena kita malas, tapi karena kita kaget. Kaget harus bangun malam, kaget harus baca Al-Qur’an panjang, bahkan khataman. Kaget nahan emosi seharian, agar tidak membatalkan ibadah puasanya. Kaget karena jadwal ibadah yang mendadak padat.

Masalahnya bukan di Ramadhan, tapi karena kita masuk Ramadhan tanpa pemanasan. Dan di sinilah peran bulan Rajab sering diabaikan. Rajab itu bulan adaptasi, bukan langsung gas pol, tapi mulai nyetel ritme.

Bulan Rajab dan Pelajaran dari Para Pendahulu

Para ulama dan orang-orang shalih terdahulu memandang bulan Rajab sebagai momen serius. Mereka tidak menunggu Ramadhan untuk berubah, mereka justru mulai memperbaiki diri jauh sebelum itu.

Mereka paham satu hal, bahwa kualitas ibadah di Ramadhan sangat ditentukan oleh apa yang dilakukan di Rajab. Bukan tiba-tiba rajin, tapi bertahap. Bukan mendadak kuat, tapi dilatih. Rajab bukan tentang banyak-banyakan amalan spesifik, tapi tentang membangun kebiasaan.

Mulai dari yang Sederhana di Bulan Rajab

Banyak orang gagal memanfaatkan bulan Rajab karena merasa harus langsung melakukan hal besar. Padahal, Rajab justru cocok untuk langkah kecil tapi konsisten.

Misalnya:

  • Mulai jaga shalat di awal waktu
  • Nambah bacaan Al-Qur’an walau sedikit
  • Kurangi kebiasaan yang gak penting
  • Latihan bangun lebih pagi
  • Belajar menahan lisan dan emosi

Hal-hal kecil ini mungkin terasa biasa. Tapi kalau dilakukan sejak Rajab, dampaknya akan terasa besar saat Ramadhan tiba.

Rajab Mengajarkan Kita untuk Tidak Telat

Ada satu penyesalan yang sering muncul setiap Ramadhan, “Seandainya dari kemarin-kemarin sudah mulai…” Rajab datang untuk menghapus penyesalan itu. Rajab seperti alarm lembut yang bilang, “Ayo, mulai sekarang. Jangan nanti.”

Karena dalam urusan ibadah, yang rugi bukan yang sedikit amalnya, tapi yang terlambat memulainya.

Bulan Rajab Bukan Tentang Euforia, Tapi Kesadaran

Rajab tidak seramai Ramadhan, tidak ada takjil di mana-mana, tidak ada jadwal tarawih, tidak ada lomba-lomba ibadah. Justru karena sepi itulah Rajab berharga.

Amal di Rajab lebih jujur. lebih sunyi, lebih personal. Tidak banyak dilihat orang, tapi sangat diperhatikan Allah. Dan sering kali, perubahan besar memang dimulai dari ruang yang sepi.

Rajab dan Mental Seorang Pedagang Akhirat

Kalau kita pakai logika pedagang, tentu kita ingin:

  • Modal kecil
  • Waktu panjang
  • Keuntungan besar

Rajab memberi semua itu. Amal kecil tapi konsisten. Waktu persiapan panjang. Dan potensi pahala yang berlipat saat Ramadhan.

Masalahnya, banyak orang justru baru buka lapak saat pasar sudah ramai. Saat tenaga sudah terbagi. Saat fokus sudah ke mana-mana.

Rajab mengajarkan satu hal penting: pedagang cerdas selalu datang lebih awal.

Jangan Tunggu Sempurna untuk Mulai

Satu hal yang sering bikin orang menunda di bulan Rajab adalah rasa “belum siap”. Merasa ibadah masih berantakan. Merasa hati belum bersih. Merasa hidup masih penuh dosa.

Padahal, justru karena itulah Rajab hadir. Dalam nasihat ulama tadi disebutkan, bagi yang sakit karena dosa, obatnya sudah dibawakan. Artinya Rajab bukan untuk orang yang sudah bersih, tapi untuk yang ingin membersihkan diri.

Mulai saja dulu. Perbaiki sambil jalan.

Rajab Adalah Kesempatan yang Sering Diremehkan

Setiap tahun, bulan Rajab selalu datang. Tapi tidak semua orang benar-benar hadir di dalamnya. Banyak yang hanya melewati, tanpa pernah masuk.

Padahal bisa jadi, Ramadhan kita tahun ini kualitasnya biasa saja atau luar biasa, sangat ditentukan oleh bagaimana kita memperlakukan Rajab.

Apakah hanya dilewati? Atau benar-benar dimanfaatkan?

Jangan Datang Terlambat ke Pasar Amal

Bulan Rajab itu seperti pintu yang dibuka lebih awal, siapa yang masuk, punya waktu lebih banyak. Siapa yang menunda, tinggal mengejar.

Kalau kita ingin Ramadhan yang lebih hidup, lebih ringan, dan lebih bermakna, tidak ada jalan lain selain mulai duluan, mulai dari sekarang, mulai dari Rajab. Karena dalam urusan dunia, kita paham betul pentingnya memulai lebih awal, maka dalam urusan akhirat, semestinya kita lebih sadar lagi.

Jangan sampai saat Ramadhan tiba, kita hanya bisa menyesal melihat orang lain sudah sibuk berdagang, sementara kita baru sibuk menata lapak. Bulan Rajab sudah datang. Pertanyaannya sederhana, kita mau mulai sekarang, atau menunda lagi?

Kalau artikel ini terasa relevan, silakan share. Siapa tahu, lewat tulisan ini ada hati yang tergerak untuk mulai lebih dulu.

Barakallaahu fiikum.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Saatnya foto-fotomu jadi ladang rezeki
This is default text for notification bar