SURAT AL HUJURAT AYAT 2. Ada satu hal yang belakangan sering terpikirkan:
kenapa dalam Islam, adab begitu sering disebut, bahkan didahulukan?
Padahal, kalau dilihat sepintas, adab itu terlihat “kecil”, cara bicara, nada suara, sikap. Hal-hal yang sering kita anggap sepele dibanding shalat, puasa, atau sedekah. Tapi semakin belajar, semakin terasa bahwa justru dari hal-hal kecil inilah kualitas iman diuji.
Surat Al Hujurat ayat 2 adalah salah satu ayat yang akan membuat siapapun yang membaca dan mengkajinya akan berhenti cukup lama. Ayatnya singkat, tapi dampaknya dalam sekali.
Bukan cuma soal etika berbicara, tapi soal bagaimana amal bisa hilang, tanpa disadari. Dan itu tentu sangat menakutkan, kalau dipikir-pikir lebih dalam lagi.
Peristiwa Turunnya Surat Al Hujurat Ayat 2
Dari tafsir Ibnu Katsir surat Al Hujurat ayat 2, di jelaskan peristiwa turunnya ayat ini. Peristiwanya sederhana, tidak dramatis dan tidak pula ada konflik besar yang terjadi.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wassalam suatu waktu sedang bersama para sahabat di kota Madinah. Dua di antaranya adalah Abu Bakar Shiddiq dan Umar Bin Khattab radhiyallaahu ‘anhuma, dua orang sahabat yang merupakan bagian penting dari generasi terbaik umat dan kedudukannya tidak perlu diragukan lagi.
Mereka berdiskusi. Membicarakan urusan umat. Karena semangat, suara mereka meninggi. Bukan untuk meremehkan Rasulullah, bukan pula karena ego atau karena ingin menang sendiri, hanya karena terlalu bersemangat.
Kalau ini terjadi hari ini, mungkin kita akan menganggapnya biasa. Bahkan wajar, tapi Allah subhanahu wata’ala tidak memandangnya ringan. Justru di momen seperti itulah, Allah menurunkan ayat.
Larangan yang Terlihat Sederhana, Tapi Akibatnya Berat
Allah berfirman dalam Al Quran, surat Al Hujurat, ayat 2 :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ
Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian di atas suara Nabi, dan janganlah berbicara kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara sebagian kalian kepada sebagian yang lain, agar tidak hapus amal-amal kalian, sedangkan kalian tidak menyadarinya.” (QS. Al-Hujurat: 2)
Allah mengingatkan agar orang-orang beriman tidak meninggikan suara di atas suara Nabi, dan tidak berbicara kepada beliau dengan suara keras seperti kepada sesama manusia. Lalu di akhir ayat, Allah menyebutkan sesuatu yang sangat mengguncang, agar tidak gugur amal-amal kalian, tanpa kalian sadari.
Bagian ini yang membuat penulis pun terdiam, saat membaca dan merenungkannya. Bukan karena ancamannya keras, tapi karena ia begitu halus.
Amal bisa gugur, bukan karena dosa besar, bukan karena niat buruk, tapi karena adab yang tidak dijaga. Dan yang lebih mengerikan, kita bisa seringkali tidak menyadari saat itu terjadi.
Amal Gugur Bukan Karena Jahat, Tapi Karena Lalai
Selama ini, mungkin kita membayangkan gugurnya amal itu karena maksiat besar. Padahal ayat ini menunjukkan hal lain. Orang baik bisa kehilangan amalnya, orang yang niatnya tulus bisa dirugikan.
Hanya karena sikap yang kurang beradab. Ini seharusnya menjadi pengingat buat kita, membuat kita sadar, bahwa adab bukan hiasan, ia pelindung. Tanpa adab, amal seperti bangunan tanpa pondasi.
Perubahan Umar bin Khattab Akibat Surat Al Hujurat Ayat 2
Setelah ayat ini turun, para sahabat benar-benar berubah. Umar bin Khattab, yang dikenal lantang dan tegas, menjadi sangat pelan ketika berbicara kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wassalam.
Suaranya sampai-sampai sulit terdengar, bukan karena takut kepada Nabi. Tapi karena takut kepada Allah. Takut amalnya terhapus, takut melanggar adab. Kalau Umar saja sedemikian hati-hatinya, lalu bagaimana dengan kita?
Adab Didahulukan Sebelum Segalanya
Dari ayat ini, para ulama mengambil satu pelajaran besar, adab itu didahulukan sebelum ilmu. Ilmu tanpa adab bisa melahirkan kesombongan, niat baik tanpa adab bisa berubah menjadi kerusakan.
Para sahabat tidak kekurangan iman. Mereka tidak kurang cintanya kepada Rasulullah, tapi Allah tetap menegur, agar umat setelah mereka belajar: semangat saja tidak cukup. Harus ada adab.
Lalu, Bagaimana dengan Kita Hari Ini?
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wassalam sudah wafat. Tapi ayat ini tidak kehilangan relevansinya. Hari ini, adab kita kepada Rasulullah hadir dalam bentuk yang berbeda.
Bagaimana kita memandang sunnah beliau, bagaimana kita menyebut nama beliau, bagaimana kita memperlakukan hadis-hadisnya.
Apakah kita meremehkan sunnah karena dianggap tidak relevan? Apakah kita mempermainkan hadis untuk kepentingan debat? Apakah ego kita lebih tinggi daripada tuntunan Nabi?
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin akan terasa tidak nyaman, tapi perlu. Agar kita senantiasa bisa bercermin, bermuhasabah atas semua perilaku kita yang mungkin tidak kita sadari selama ini.
Adab Tidak Selalu Soal Suara, Tapi Sikap Hati
Hari ini, meninggikan suara tidak selalu berarti berteriak. Kadang ia hadir dalam bentuk merasa paling benar, merendahkan orang lain, menyampaikan kebenaran dengan cara yang melukai.
Ayat ini seolah ingin mengingatkan kita untuk senantiasa berhati-hati. Jangan sampai kita merasa membela agama, tapi justru melukai adab yang diajarkan Nabi yang mulia.
Tentang Lisan dan Amal
Lisan itu kecil, tapi dampaknya besar. Banyak amal rusak bukan karena perbuatan, tapi karena kata-kata.
Surat Al Hujurat ayat 2 di atas jelas menjadi pengingat, bahwa menjaga lisan bukan sekadar etika sosial, tapi penjaga iman. Tidak semua yang benar harus diucapkan dengan keras, termasuk juga tidak semua perbedaan harus dimenangkan.
Refleksi Surat Al Hujurat Ayat 2
Ayat ke-2 dari Surat Al Hujurat ini tidak mengajak kita menghakimi orang lain. Justru mengajak kita semua untuk bercermin. Sudahkah kita beradab kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasslam?
Sudahkah sunnah beliau menjadi pedoman kita, bukan hanya sekadar referensi? Apalagi hanya sekedar menjadi hiasan. Pernahkah ego kita lebih tinggi dari tuntunan Nabi? Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk menjaga.
Surat Al Hujurat ayat 2 mengajarkan satu hal penting, iman bukan hanya soal apa yang kita lakukan, tapi bagaimana sikap kita di hadapan wahyu.
Adab bukan hal kecil, tapi menjadi penentu, sekaligus penjaga dan cermin dari hati. Semoga Allah subhanahu wata’ala senantiasa menjaga amal kita dengan adab, dan menjaga adab kita dengan kerendahan hati.
Sahabat pembaca Pondok Islami yang dimuliakan Allah, semoga artikel singkat yang penulis tulis sebagai bagian dari proses penulis belajar dan mengkaji kalamullah ini, bisa memberikan manfaat.
Penulis pribadi pun menyadari akan kekurangan, kekhilafan maupun kefakiran diri penulis pribadi. Oleh karenanya, jika ada kata yang salah ataupun kurang tepat dari pembahasan pada artikel yang penulis beri judul : Amal Bisa Gugur Tanpa Disadari (Surat Al Hujurat Ayat 2) ini, penulis memohon ampun kepada Allah, dan mohon masukan serta koreksiannya dari pembaca semua.
Akhirul kalam segala yang benar datangnya hanya dari Allah subhanahu wata’ala semata, dan yang salah datangnya dari kekhilafan dan kefakiran diri penulis.
Wallaahu a‘lam bishawaab.


