ARTI QAWWAM ADALAH KEPEMIMPINAN AYAH. Ada satu kata yang sering saya dengar untuk membenarkan banyak hal dalam rumah tangga: qawwam. “Saya kan qawwam, jadi keputusan akhir di tangan saya.” “Istri harus nurut, kan suami itu qawwam.” Setiap kali mendengar kalimat semacam ini, saya jadi bertanya-tanya, benarkah begitu maksud sebenarnya dari kata ini?
Semakin saya coba memahami lebih dalam, semakin saya sadar bahwa qawwam sering dipakai dengan pemahaman yang agak keliru. Jika dibiarkan, kekeliruan ini bisa berdampak signifikan pada cara seorang ayah memperlakukan keluarganya sendiri.
Di artikel sebelumnya, konsep ini sudah sempat disinggung sekilas yang menjadi bagian dari dalil peran ayah dalam mendidik anak. Nah, kali ini, mari kita bahas lebih dalam.
Qawwam Adalah: Makna yang Sebenarnya
Qawwam adalah istilah yang dasarnya bisa ditemukan di surat An-Nisa ayat 34:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ
Artinya : “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan…” (QS. An-Nisa: 34)
Kata “qawwam” berasal dari akar kata “qaama“, yang artinya berdiri atau menegakkan. Dari akar kata ini, para ahli bahasa Arab menjelaskan bahwa qawwam punya makna yang lebih dekat ke “penegak” atau “penopang”, bukan sekadar “penguasa” atau “yang berkuasa penuh”.
Bayangkan sebuah tiang penyangga rumah. Fungsinya menopang supaya bangunan tidak roboh, bukan menindas bagian rumah yang lain. Itulah gambaran yang lebih pas untuk memahami qawwam: seorang ayah menopang keluarganya supaya tetap tegak, bukan mengendalikan seluruh isi rumah sesuka hatinya.
Kalau ditelusuri konteks ayat ini lebih jauh, dari berbagai pendapat para mufasir yang saya pelajari, maka kepemimpinan yang dimaksud juga disandingkan dengan tanggung jawab memberi nafkah“…karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.”
Jadi qawwam ini bukan gelar kehormatan yang berdiri sendiri, tapi terikat erat dengan kewajiban yang menyertainya. Semakin besar posisi yang disandang, semakin besar pula pertanggungjawaban yang harus dipikul, bukan sebaliknya, semakin besar privilege yang bisa dinikmati.
Menariknya, beberapa kitab tafsir klasik yang pembahasannya sempat saya baca menyatakan tentang peranan ayah dalam keluarga dan menekankan bahwa ayat ini turun dalam konteks rumah tangga. Bukan untuk melakukan justifikasi secara umum bahwa laki-laki lebih unggul dari perempuan di segala bidang kehidupan. Qawwam adalah peran fungsional dalam struktur keluarga, bukan pernyataan tentang derajat kemanusiaan.
Qawwam Bukan Alasan untuk Bersikap Keras
Ini bagian yang menurut saya paling penting untuk diluruskan. Banyak yang menjadikan status qawwam sebagai pembenaran untuk bersikap otoriter di rumah, merasa pendapatnya harus selalu menang, merasa tidak perlu mendengar masukan istri atau anak, bahkan ada yang menjadikannya alasan untuk bersikap kasar.
Padahal kalau kita lihat dari akhlak Rasulullah, sosok yang paling layak disebut qawwam dalam rumah tangganya justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Beliau bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ
Artinya “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya.” (HR. Tirmidzi, hasan)
Standar “terbaik” dalam Islam justru diukur dari perlakuan kita di rumah, bukan dari seberapa keras kita bisa mendominasi keluarga sendiri. Rasulullah sendiri dikenal sering membantu pekerjaan rumah, mendengarkan pendapat istri-istrinya, bahkan bermusyawarah dalam banyak keputusan, meski beliau adalah kepala keluarga sekaligus pemimpin umat.
Jadi kalau ada ayah yang merasa “kekuasaannya” sebagai qawwam terusik hanya karena mendengarkan pendapat istri atau anak, itu justru pertanda pemahaman qawwam yang keliru, bukan bukti kepemimpinan yang kuat.
Pembagian Peran Praktis Ayah dan Ibu
Salah satu pertanyaan yang sering muncul: kalau ayah itu qawwam, berarti semua keputusan harus dari ayah? Bukan begitu. Qawwam lebih tepat dipahami sebagai penanggung jawab arah, bukan pelaksana tunggal segala urusan.
Prinsip ini sebenarnya sudah pernah disinggung juga di artikel sebelumnya tentang persoalan siapa yang bertanggung jawab mengajar anak mengaji Al-Qur’an. Bertanggung jawab tidak selalu berarti mengerjakan semuanya sendiri.
Dalam praktiknya, pembagian ini bisa terlihat berbeda di setiap fase kehidupan anak. Saat anak masih bayi, biasanya ibu yang lebih banyak terlibat langsung secara fisik menyusui, mengasuh sehari-hari, sementara ayah memastikan kebutuhan rumah tangga tercukupi dan suasana rumah kondusif. Bukan berarti ayah lepas tangan, tapi bentuk keterlibatannya berbeda.
Ketika anak masuk usia sekolah, biasanya urusan teknis seperti antar-jemput atau menemani belajar lebih sering dijalankan oleh salah satu pihak yang waktu luangnya lebih memungkinkan. Tapi keputusan besar mau sekolah di mana, bagaimana pendekatan mendidik yang diterapkan, idealnya tetap didiskusikan berdua.
Peran ayah memastikan arah keputusan itu diambil dengan matang, bukan asal ikut kata istri atau sebaliknya memaksakan pendapat sendiri. Semakin anak beranjak remaja, di sinilah qawwam sering diuji paling nyata.
Bukan persoalan siapa yang mengasuh secara fisik, tapi soal siapa yang berani mengambil keputusan sulit dan bertanggung jawab atas konsekuensinya, sambil tetap terbuka pada masukan dari pasangan maupun anak itu sendiri.
Ada juga fase yang sering luput dari perhatian: ketika anak mulai punya pandangan sendiri yang berbeda dari orang tuanya, misalnya soal pilihan jurusan kuliah atau pergaulan. Di titik ini, qawwam yang sehat akan lebih banyak bertanya dan mendengarkan dulu sebelum memutuskan, dibandingkan dengan langsung melarang atau memaksakan kehendak hanya karena merasa punya otoritas lebih tinggi.
Kapan Qawwam Benar-Benar Diuji
Qawwam itu mudah diucapkan saat semua berjalan lancar, tapi baru benar-benar diuji ketika ada perbedaan pendapat dalam keluarga. Misalnya, soal bagaimana mendisiplinkan anak atau mengambil sebuah keputusan besar dalam keluarga, seperti pindah kota demi pekerjaan.
Di momen seperti ini, godaan untuk memakai “saya kan qawwam” sebagai kartu truf untuk memenangkan argumen tanpa mendengarkan pihak lain jauh lebih besar. Padahal justru di situlah kepemimpinan yang sesungguhnya diuji.
Apakah seorang ayah mampu mendengarkan, mempertimbangkan, baru kemudian mengambil keputusan dengan penuh tanggung jawab, atau justru memaksakan kehendak dengan dalih posisi yang disandangnya.
Saya jadi teringat satu momen sederhana di rumah sendiri. Waktu itu ada perbedaan pendapat soal jam belajar anak. Istri saya berpendapat perlu jadwal yang lebih longgar, sementara saya sendiri awalnya keukeuh soal disiplin waktu yang ketat.
Godaan untuk langsung bilang, “Sudah, ikuti saja pendapat ayah”, itu ada. Tapi setelah didiskusikan lebih tenang, ternyata pendapat istri saya justru lebih mempertimbangkan kondisi anak yang memang sedang lelah di sekolah.
Keputusan akhirnya kami ambil bersama, dan saya yang tetap bertanggung jawab menyampaikannya kepada anak. Proses itu yang menurut saya lebih dekat dengan makna qawwam yang sebenarnya dibandingkan dengan saya memaksakan pendapat sendiri sejak awal.
Kepemimpinan yang baik bukan tentang siapa yang paling sering menang dalam perdebatan di rumah, tapi tentang siapa yang bersedia menanggung akibat dari keputusan yang diambil, sambil tetap menjaga hati orang-orang yang dipimpinnya.
Qawwam adalah Beban dan Amanah, Bukan Previlege
Semakin saya renungkan, semakin saya sadar bahwa qawwam adalah beban tanggung jawab dan amanah yang berat, bukan privilege yang membanggakan. Ayah yang benar-benar memahami maknanya justru akan merasa lebih banyak dituntut untuk introspeksi, bukan merasa lebih berhak untuk didengar tanpa perlu mendengarkan balik.
Semoga Allah membantu setiap ayah untuk memahami dan menjalankan peran ini dengan cara yang benar, menjadi penopang yang menegakkan keluarganya, bukan penguasa yang menundukkannya. Aamiin.
Jika terdapat kesalahan ataupun kekurangan dari pembahasan artikel di atas, semata-mata karena kesalahan dan kefakiran penulis, dan segala yang benar datangnya hanya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Koreksi dan perbaikan bisa disampaikan melalui alamat email yang telah kami cantumkan pada halaman Tentang Kami (About Us).
Barakallahu fiikum.
