Mengajar Anak Mengaji, Wajibkah Untuk Ayah?

mengajar-anak-mengaji

Wajibkah ayah mengajar anak mengaji sendiri? Jawaban singkatnya, tidak harus. Seorang ayah tidak dituntut untuk menjadi guru yang mengajarkan tajwid atau membimbing bacaan Al-Qur’an secara teknis. Namun, ada satu tanggung jawab yang tidak bisa dipindahkan kepada siapa pun, yaitu memastikan anak bertumbuh bersama Al-Qur’an.

Ada perbedaan yang sering luput kita sadari antara mengajar dan bertanggung jawab. Sekilas terdengar mirip, tetapi dampaknya bisa sangat berbeda dalam kehidupan sebuah keluarga.

Mungkin karena perbedaan itulah saya jadi sering memperhatikan jawaban para ayah ketika obrolan kami sampai pada topik ini. Seperti kejadian suatu sore saat kami sedang duduk selepas salat Magrib.

Obrolannya ringan, berpindah-pindah dari urusan pekerjaan sampai pendidikan anak. Entah bagaimana, akhirnya pembicaraan mengarah pada Al-Qur’an.

Saya iseng bertanya,

“Di rumah, siapa yang biasanya ngajarin anak mengaji?”

Jawabannya hampir bisa saya tebak.

“Ibunya.”

“Ada guru ngajinya di TPQ.”

“Kalau saya paling nyimak aja sesekali.”

Lalu kami sama-sama tertawa, bukan karena jawabannya lucu. Tetapi hampir semua ayah di lingkaran obrolan malam itu memberikan jawaban yang mirip. Jarang sekali ada yang berkata,

“Saya yang ngajarin sendiri.”

Padahal, kalau dipikir-pikir, hampir semua yang hadir adalah ayah yang sangat menyayangi anak-anaknya. Mereka bekerja keras sejak pagi hari, dan baru pulang ketika menjelang malam.

Menyisihkan penghasilan untuk sekolah, untuk guru ngaji, untuk membeli Al-Qur’an terbaik, bahkan ada yang rela mengantar anaknya ke rumah tahfiz setiap pekan. Artinya, masalahnya bukan pada rasa peduli. Lalu apa?

Saya mulai menyadari bahwa banyak dari kita mungkin masih mencampuradukkan dua hal yang sebenarnya berbeda. Mengajar dan bertanggung jawab.

Padahal keduanya tidak selalu harus dilakukan oleh orang yang sama.

Mengajar dan Bertanggung Jawab Itu Berbeda

Kalau pertanyaannya, apakah ayah wajib mengajar anak mengaji sendiri? Jawaban saya, tidak selalu. Tidak semua ayah memiliki kemampuan mengajar tajwid. Tidak semua ayah hafal metode Iqra, Tilawati, Ummi, atau metode-metode pembelajaran Al-Qur’an lainnya.

Dan itu bukan masalah. Yang menjadi masalah justru ketika seorang ayah merasa bahwa karena ada guru ngaji, maka seluruh urusan Al-Qur’an anak sudah selesai. Di sinilah letak perbedaannya.

Mengajar bisa didelegasikan, tapi tanggung jawab tidak. Sebagaimana seorang pemilik perusahaan boleh menunjuk manajer untuk mengelola bisnisnya, tetapi ia tetap bertanggung jawab atas arah perusahaan tersebut. Begitu pula seorang ayah.

Ia boleh meminta bantuan guru mengaji, boleh memasukkan anak ke TPQ, boleh juga memilih rumah tahfiz terbaik untuk anak-anaknya. Namun memastikan semua proses itu berjalan dengan baik tetap menjadi amanahnya.

Allah berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)

Pada ayat ini Allah tidak mengatakan, “Pastikan keluarga kalian memiliki guru terbaik.” Tetapi Allah berbicara langsung kepada kepala keluarga, ada amanah yang tidak bisa dipindahkan. Boleh dibantu, tapi tidak boleh ditinggalkan.

Bukan Soal Siapa yang Paling Pintar Mengajar

Pada artikel tentang doa ayah untuk anak sebelumnya, kita pernah membahas sebuah hadits yang sangat indah. Rasulullah menjelaskan bahwa orang tua yang anaknya membaca, menghafal, lalu mengamalkan Al-Qur’an akan mendapatkan kemuliaan di akhirat.

Yang menarik perhatian saya bukan hanya isi haditsnya, tetapi kepada siapa kemuliaan itu diberikan. Bukan kepada guru ngajinya, bukan pula kepada ustadznya, melainkan kepada orang tuanya.

Tentu ini bukan berarti mengecilkan jasa para guru Al-Qur’an, justru sebaliknya. Guru memiliki kedudukan yang sangat mulia karena menjadi jalan sampainya ilmu.

Namun, hadis itu mengingatkan bahwa tanggung jawab utama mengajari anak mengaji tetap berada di pundak ayah dan ibu. Terutama ayah sebagai pemimpin keluarga sebagaimana pernah dibahas pada artikel sebelumnya tentang peran ayah dalam mendidik anak. Di sinilah kita harus mulai memahami sesuatu.

Guru mengajari anak mengaji dengan metode tertentu belajar membaca Al-Qur’an, tetapi ayah mengajarkan sesuatu yang lebih dalam, sebagaimana juga dicontohkan oleh para Nabi kita, yang bisa kita baca dalam kisah teladan ayah, pada artikel lain di blog Pondok Islami.

Ayah sedang menunjukkan prioritas hidup dan anak-anak akan belajar tentang hal itu. Mereka tidak hanya belajar dari apa yang kita ucapkan, tetapi sering kali dari apa yang kita lakukan.

Mereka jauh lebih cepat belajar dari apa yang kita contohkan. Kalau setiap hari ayah bersemangat bertanya soal nilai matematika, tetapi tidak pernah bertanya tentang hafalan Al-Qur’an, anak akan menangkap satu pesan yang sangat jelas.

Matematika penting, Al-Qur’an… mungkin tidak sepenting itu. Padahal boleh jadi bukan itu maksud ayah.

Anak Belajar dari Apa yang Dilihat

Ada satu kebiasaan anak-anak yang sering kali kita lupakan, mereka adalah peniru ulung. Bahkan sebelum mereka pandai berbicara, mereka sudah pandai meniru. Mulai dari cara berjalan, cara tertawa, cara memegang sendok, bahkan intonasi bicara ayah dan ibunya

Begitu pula dalam urusan agama. Ketika anak melihat ayahnya rutin membuka mushaf selepas Subuh, mereka sedang belajar bahwa Al-Qur’an bukan sekadar pelajaran sekolah. Ketika ayah menghentikan pekerjaannya beberapa menit hanya untuk mendengarkan hafalan anak, mereka belajar bahwa Al-Qur’an layak diperjuangkan.

Sebaliknya, jika ayah selalu sibuk ketika anak ingin memperdengarkan hafalannya, lama-kelamaan anak juga belajar bahwa urusan itu bisa menunggu. Padahal mungkin yang dibutuhkan anak bukan lima puluh menit.

Bisa jadi hanya lima menit. Lima menit yang jika dilakukan berulang-ulang sering kali jauh lebih bermakna daripada satu jam yang hanya terjadi setahun sekali.

Ayah Tidak Harus Menjadi Guru Ngaji

Salah satu alasan banyak ayah menghindari urusan ini adalah karena merasa tidak cukup paham tajwid, tidak hafal metode mengajar anak mengaji yang benar, atau khawatir malah mengajarkan yang salah. Ini kekhawatiran yang wajar, tapi sebenarnya keterlibatan ayah tidak harus berarti mengambil alih peran teknis mengajar. Ada beberapa cara sederhana yang bisa dicoba:

  • Menyimak hafalan, bukan mengajarkan bacaan baru. Ini yang paling ringan dilakukan cukup duduk beberapa menit mendengarkan anak murojaah surat yang sudah dihafal, tanpa perlu jago tajwid untuk sekadar menyimak.
  • Sholat berjamaah, lalu obrolkan ayat yang baru dibaca. Setelah sholat, tanyakan hal simpel seperti, “Tadi ayat apa yang dibaca imam?” atau ceritakan sedikit makna surat pendek yang sering dibaca. Ini tidak butuh keahlian mengajar, cuma niat untuk terlibat.
  • Ikut duduk di sesi mengaji, meski tidak ikut mengajar. Kehadiran fisik saja, meski cuma sesekali, mengirim pesan bahwa ayah menganggap ini kegiatan yang penting.
  • Bertanya soal progres, secara rutin. Sekadar tanya, “Sekarang sudah sampai juz berapa?” atau “Ada bagian yang susah dihafal?” pertanyaan sederhana yang menunjukkan perhatian berkelanjutan, bukan cuma sesekali saat ingat.

Kalau kamu ingin tahu metode teknis yang lebih detail soal cara mengajarkan Al-Qur’an ke anak sejak dini mulai dari mengenalkan hijaiyah sampai memilih metode mengaji yang tepat itu sudah dibahas lebih lengkap di artikel belajar Al-Qur’an untuk anak di rumah. Artikel ini lebih fokus ke sisi kenapa dan bagaimana ayah bisa mulai terlibat, bukan metode mengajarnya secara teknis.

Yang Sebenarnya Dicari Anak

Semakin lama menjadi ayah, saya semakin percaya bahwa anak-anak sebenarnya tidak sedang mencari ayah yang sempurna. Mereka tidak menuntut ayah yang hafal tiga puluh juz, atau berharap ayahnya mampu menjelaskan seluruh tafsir Al-Qur’an.

Yang mereka rindukan sering kali jauh lebih sederhana, mereka hanya ingin ayahnya hadir. Mau mendengarkan, mau bertanya, mau ikut senang ketika hafalannya bertambah satu ayat.

Saya membayangkan suatu hari nanti, anak-anak mungkin sudah dewasa, mereka mungkin lupa siapa guru Iqra pertamanya. Lupa metode mengaji yang dulu dipakai, tetapi saya berharap mereka tidak lupa satu hal.

Bahwa pernah ada seorang ayah yang duduk di sampingnya. Yang mungkin bacaannya tidak sempurna. Yang mungkin sesekali masih salah makhraj, tetapi selalu berusaha hadir ketika anak membuka mushaf. Karena boleh jadi, kenangan itulah yang kelak membuat mereka tetap mencintai Al-Qur’an hingga dewasa.

Pada akhirnya, mungkin bukan soal apakah seorang ayah bisa mengajari anak mengaji, akan tetapi apakah anak melihat bahwa ayahnya juga mencintai Al-Qur’an. Sebab cinta tidak selalu diwariskan melalui kata-kata, sering kali ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilihat setiap hari.

Semoga Allah memudahkan setiap ayah untuk terus mengambil bagian dalam perjalanan anak-anaknya bersama Al-Qur’an. Bukan sekadar menjadi orang yang membiayai mereka belajar mengaji, tetapi juga menjadi orang yang menemani, mendoakan, dan menunjukkan lewat teladan bahwa Al-Qur’an adalah cahaya yang pantas diperjuangkan sepanjang hidup.

Aamiin.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses