Saat Perilaku Anak Mengajari Seorang Ayah

Perilaku Anak

DARI PERILAKU ANAK AYAH BELAJAR. Seperti hari-hari biasa yang sudah berjalan rutin, pagi ini saya berangkat ke kantor pukul 6.30 pagi sambil mengantar anak lelaki saya yang berusia 14 tahun ke sekolah. Kebetulan ia akan mengikuti kegiatan kemping Pramuka selama satu malam di sekolah SMP-nya.

Sejak tadi malam, suasana rumah diramaikan oleh kesibukan mempersiapkan berbagai perlengkapan kemping. Mulai dari kayu bakar, kompor gas portable, jas hujan, baju Pramuka, peralatan makan, dan entah apa lagi yang rasanya kalau dikumpulkan bisa membuka cabang toko perlengkapan outdoor di ruang tamu.

Tapi ada satu hal yang menarik perhatian saya.

Dari caranya mempersiapkan semua itu, saya menangkap kesan bahwa ia sedang menjalankan sebuah tugas yang sama sekali tidak menyenangkan. Ada rasa kesal ketika barang yang dicari belum ketemu, keluhan karena terlalu banyak yang harus dibawa, dan wajah yang seolah sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi hukuman, bukan persiapan untuk mengikuti sebuah kegiatan yang menyenangkan.

Pagi harinya ternyata tidak jauh berbeda. Hal-hal kecil yang tidak berjalan sesuai rencana dengan mudah memancing emosinya. Ada saja yang dikeluhkan: barang bawaan terlalu banyak, persiapan terasa merepotkan, dan berbagai hal kecil lainnya yang sebenarnya cukup lumrah terjadi ketika seseorang hendak bepergian dan menginap di tempat lain.

Saya mencoba memaklumi perilaku anak saya, namanya juga anak berusia 14 tahun. Barangkali ada hal-hal yang belum bisa ia kelola dengan baik, termasuk rasa kesal ketika kenyataan tidak berjalan sesuai keinginannya.

Namun, sebagai seorang ayah, tentu saya tidak ingin berhenti hanya pada pemakluman perilaku anak yang terjadi pagi ini. Setibanya di sekolah, sambil menunggu kendaraan yang akan membawa mereka ke lokasi kemping, saya mencoba mengajaknya berbincang.

Bukan untuk menasehati tapi hanya ingin memberinya ruang untuk menyampaikan apa yang sebenarnya sedang ia rasakan. Saya ingin tahu, jangan-jangan ada sesuatu yang lebih mendasar daripada sekadar kerepotan membawa perlengkapan kemping.

Dari percakapan itu, akhirnya saya mengetahui bahwa ia memang tidak menyukai kegiatan kemping yang diselenggarakan sekolahnya. Saya mencoba mengajaknya melihat sisi lain dari kegiatan tersebut.

Kegiatan kemping bukan semata-mata tidur di tenda, memasak dengan peralatan seadanya, atau membawa barang bawaan yang membuat pundak terasa seperti sedang mengikuti audisi menjadi kuli angkut. Ada banyak hal yang bisa dipelajari.

Kemandirian, kerja sama, tanggung jawab, kemampuan beradaptasi, dan pengalaman menjalani sesuatu yang berbeda dari rutinitas sehari-hari. Saya pun mengajaknya untuk perlahan-lahan belajar menikmati prosesnya.

Tidak harus langsung senang, tetapi setidaknya memberi kesempatan kepada dirinya sendiri untuk menemukan sesuatu yang mungkin menyenangkan dari kegiatan itu. Namun, jawabannya justru membuat saya berpikir lebih jauh.

Ia mengatakan bahwa sebenarnya ia sedang berusaha melawan rasa tidak sukanya untuk tetap mengikuti kegiatan kemping tersebut. Tetapi ia tidak mau belajar menikmatinya, karena memang sejak awal tidak menyukai kegiatan itu.

Saya terdiam sejenak.

Bukan karena tidak punya jawaban, melainkan karena jawaban sederhana dari anak berusia 14 tahun itu membuka sebuah pertanyaan yang menarik bagi saya sebagai ayah.

Mengapa kegiatan yang sama bisa menghadirkan perasaan yang begitu berbeda. Apakah tergantung pada siapa yang mengajak dan dalam situasi seperti apa kegiatan itu dilakukan? Atau karena hal lain?

Sebab saya teringat beberapa kali pernah merancang kegiatan kemping bersama keluarga kecil kami. Ketika itu, antusiasmenya luar biasa. Ia terlihat bersemangat membayangkan tidur di tenda, berada di alam terbuka, menyiapkan makanan bersama, dan menikmati suasana yang berbeda dari kesehariannya.

Bahkan, kalau saya tidak salah ingat, kegiatan kemping keluarga justru menjadi salah satu pengalaman yang ingin ia ulangi. Lalu mengapa ketika sekolah mengadakan kegiatan serupa, responsnya justru berkebalikan?

Apakah karena ia tidak bisa memilih? Apakah karena kegiatan itu terasa seperti kewajiban, bukan keinginan? Apakah karena ia membayangkan akan kehilangan kenyamanan yang biasa dinikmatinya di rumah? Atau jangan-jangan ada hal lain yang belum sempat ia ceritakan kepada saya?

Saya belum tahu jawabannya, tapi mungkin di situlah peran ayah dalam mendidik anak mengambil tempatnya. Selama ini, kita sebagai orang tua sering kali merasa sudah mengetahui apa yang terbaik bagi anak-anak.

Ketika mereka mengeluh, kita buru-buru memberikan nasihat. Ketika mereka menolak sesuatu, kita lekas mengingatkan tentang manfaatnya. Ketika mereka tidak bersemangat, kita meminta mereka mengubah sikap.

Padahal, belum tentu yang mereka butuhkan saat itu adalah nasihat. Bisa jadi, perilaku anak seperti itu menandakan bahwa mereka ingin dipahami terlebih dahulu.

Saya pun mulai bertanya kepada diri sendiri, apakah selama ini saya terlalu sibuk meyakinkan anak tentang manfaat sebuah kegiatan sampai lupa mencari tahu apa yang sebenarnya membuat kegiatan itu terasa tidak menyenangkan baginya?

Bukankah ada perbedaan antara mengajari anak untuk bertanggung jawab dan memaksa anak untuk menyukai segala sesuatu yang menurut kita baik?

Anak tentu perlu belajar menghadapi hal-hal yang tidak disukainya. Kehidupan tidak selalu menyediakan pilihan sesuai selera. Kelak, ia akan bertemu dengan tugas yang melelahkan, pekerjaan yang tidak selalu menyenangkan, dan tanggung jawab yang tetap harus ditunaikan meskipun suasana hatinya sedang tidak mendukung.

Karena itu, saya tidak ingin menjadikan rasa tidak suka sebagai alasan untuk selalu menghindar. Namun, saya juga tidak ingin setiap ketidaksukaannya buru-buru dianggap sebagai masalah sikap yang harus segera diperbaiki.

Barangkali ada pelajaran yang lebih penting daripada sekadar meminta anak menikmati kemping. Yaitu mengajarinya mengenali perasaannya, memahami alasan di balik perasaan tersebut, lalu belajar menentukan sikap yang tepat.

Ia boleh tidak suka. Ia boleh merasa kesal. Ia boleh mengakui bahwa kegiatan itu bukan sesuatu yang ingin ia lakukan. Tetapi ia juga perlu belajar bahwa tidak semua ketidaksukaan harus berakhir dengan keluhan, kemarahan, atau penolakan terhadap seluruh pengalaman yang akan dijalaninya.

Kita tidak selalu bisa memilih apa yang harus dijalani, tetapi kita bisa belajar memilih bagaimana menyikapinya.

Dan sebagai ayah, saya pun perlu belajar hal yang sama.

Mungkin selama ini saya terlalu ingin anak menikmati sesuatu yang menurut saya baik, sampai lupa bahwa proses untuk sampai pada titik menikmati itu tidak bisa dipaksakan. Apalagi jika saya sendiri belum sungguh-sungguh memahami apa yang membuatnya merasa tidak nyaman.

Saya belum tahu bagaimana pengalaman kemping kali ini akan berakhir. Bisa jadi ia pulang dengan cerita menyenangkan yang membuatnya berubah pikiran. Bisa juga ia tetap merasa bahwa kemping bukan kegiatan favoritnya.

Apa pun itu, saya berharap pengalaman ini menjadi kesempatan baginya untuk belajar tentang tanggung jawab, kemandirian, dan cara mengelola perasaan. Sementara bagi saya, mungkin inilah kesempatan untuk belajar menjadi ayah yang lebih baik.

Ayah yang tidak hanya sibuk menunjukkan jalan, tetapi juga bersedia mendengarkan cerita anak ketika ia merasa jalan itu terlalu berat untuk dilalui. Sebab mendidik anak ternyata bukan hanya tentang bagaimana membuat mereka menyukai apa yang kita anggap baik.

Kadang, mendidik juga berarti belajar memahami perilaku anak. Mengapa mereka tidak bersikap seperti itu, menyukai sesuatu atau tidak menyukainya. Siapa tahu, dari percakapan sederhana pagi ini, saya justru sedang belajar satu hal yang selama ini sering dilupakan sebagai orang tua:

Sebelum meminta anak belajar menikmati prosesnya, barangkali kita perlu terlebih dahulu belajar menikmati proses memahami perilaku anak dan diri anak-anak kita.

Wallahu’alam bishawab.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses