SENTUHAN FISIK AYAH PADA ANAK REMAJA PERLUKAH? Sore itu Zidan pulang sekolah dengan wajah yang, kalau saya boleh gambarkan, mirip cuaca Bandung belakangan ini, mendung, tapi belum tentu turun hujan. Tas masih nempel di punggung, sepatu belum dilepas, langsung rebahan di sofa dengan gaya orang yang baru saja kalah debat sama seluruh dunia.
Saya yang kebetulan sedang duduk di ruang tengah cuma melirik sebentar. Dalam hati saya sudah menyusun beberapa opsi. Mau tanya langsung? Tapi nanti kemungkinan bakal dijawab, “Gapapa, Yah,” dengan nada suara yang jelas-jelas bilang “banyak apa-apanya.”
Mau dipeluk? Nah, ini yang bikin saya diam-diam bimbang. Soalnya anak saya ini sudah kelas 9. Usia yang, entah kenapa, bikin saya merasa memeluknya itu semacam pertaruhan besar. Takut dikira lebay, takut dianggap aneh, atau yang paling menyakitkan, takut dia cuma diam kaku kayak lagi dipeluk satpam kompleks yang baru kenal.
Akhirnya saya cuma mendekat, duduk di sampingnya, lalu tangan saya mendarat pelan di pundaknya. Dua-tiga detik saja, sambil bilang, “Capek ya, Kak?” Zidan tidak langsung menjawab.
Tapi bahunya yang tadinya menegang seperti sedang siaga perang perlahan turun. Ada helaan napas kecil, terus dia mulai bercerita soal temannya yang bikin sebel di kelas.
Saya cuma menepuk pundaknya sebentar, bukan pelukan besar penuh drama ala sinetron, hanya tepukan sesingkat iklan lewat di tv. Tapi ternyata cukup buat bikin dia mau buka mulut.
Kenapa Sentuhan Fisik Ayah Kepada Anak yang Sudah Besar Rasanya Berat ?
Saya jadi mikir, kenapa sih hal sesederhana ini bisa terasa sangat berat ? Bahkan terasa lebih berat dibandingkan dengan mengangkat barbel puluhan kilo saat latihan di gym? Padahal saat mereka masih kecil, perlakuan seperti itu sangat biasa terjadi.
Saya menduga ini bukan soal anak tidak butuh sentuhan fisik itu, tapi lebih ke saya sebagai ayah yang tidak dibesarkan dengan budaya seperti itu. Ayah saya dulu jarang memeluk saya, kakek saya kemungkinan besar juga begitu ke ayah saya.
Jadi rasanya budaya ini turun-temurun, diwariskan tanpa pernah benar-benar dipertanyakan alasan atau sebab musababnya. Belum lagi ada semacam standar tak tertulis kalau seorang ayah itu harus tegas, harus berwibawa, jangan cengeng, apalagi sampai terlihat baper duluan sebelum anaknya.
Padahal siapa juga yang bikin aturan kalau ayah tegas itu berarti dilarang hangat? Kayaknya itu cuma mitos yang kita ciptakan sendiri, terus kita jaga rapat-rapat seperti menjaga resep rahasia tradisi keluarga yang diwariskan turun-temurun.
Contoh Rasulullah Justru Beda Jauh
Suatu hari saya baca satu riwayat yang bikin saya diam lumayan lama. Ada seorang sahabat, Al-Aqra’ bin Habis, melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencium cucunya, Al-Hasan. Ia sampai berkomentar heran, katanya dia punya sepuluh anak dan tidak pernah sekalipun menciumnya. Rasulullah menjawab singkat,
“Barang siapa tidak menyayangi, ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari, shahih)
Saya baca itu sambil mikir, wah, berarti selama ini yang saya kira “menjaga wibawa ayah” itu jangan-jangan cuma gengsi yang saya bungkus rapi pakai kata “tegas.” Padahal Rasulullah, manusia paling mulia sepanjang zaman, justru tidak segan menunjukkan sayangnya lewat sentuhan fisik ke cucunya sendiri. Kalau beliau saja begitu, kenapa saya yang cuma manusia biasa ini malah sok jaga image.
Bukan Butuh Ceramah, Tapi Bukti Ayahnya Ada
Anak seusia Zidan ini unik. Kalau ditanya perasaannya secara langsung, jawabannya bisa sesingkat pesan WhatsApp yang cuma dibales “oke” tanpa titik. Tapi begitu saya menepuk pundaknya sambil duduk diam menemani, ceritanya justru bisa mengalir sendiri, tanpa perlu dipancing panjang lebar.
Saya jadi paham, sentuhan fisik itu semacam bahasa yang jauh lebih jujur dibanding kata-kata. Otak dan tubuh kita memang dirancang begitu. Sentuhan fisik yang tulus bisa bikin badan lebih tenang, menurunkan rasa cemas, dan diam-diam mengirim pesan, “Kamu gak sendirian.” Tanpa perlu pidato, tanpa perlu kalimat motivasi ala buku self-improvement.
Ironisnya, banyak anak yang serumah dengan ayahnya, tapi tetap merasa sendirian, seperti tinggal di satu atap sama tetangga yang kebetulan kenal nama. Bukan karena ayahnya tidak ada secara fisik, tapi karena kehangatan semacam ini yang jarang mampir.
Fenomena inilah yang sekarang ramai dibicarakan tentang peran ayah dalam mendidik anak yang jarang terasa hingga disebut fatherless: ayahnya ada secara fisik, tapi tidak ada di hati anak. Keberadaan ayah secara fisik tidak otomatis membuatnya hadir di hati anak-anaknya.
Kalau Belum Terbiasa, Mulai Saja dari yang Paling Mudah
Nah, buat ayah yang merasa dirinya bukan tipe yang nyaman untuk memberikan sentuhan fisik pada anak, termasuk saya sendiri di awal-awal dulu, kabar baiknya, tidak harus langsung lompat ke pelukan penuh drama seperti reuni sekolah setelah berpuluh-puluh tahun. Ada beberapa sentuhan kecil yang jauh lebih mudah dicoba, tapi maknanya tetap sampai:
- Menepuk pundak. Modalnya cuma dua detik, tapi efeknya bisa bertahan sampai malam. Cocok buat ayah yang masih grogi kalau harus pelukan formal.
- Menggenggam tangan. Saat menyeberang jalan, saat berdoa bareng sebelum makan, atau pas anak lagi gelisah menghadapi ujian. Simpel dan gak butuh keterampilan akting sama sekali.
- Mengusap kepala atau rambut. Ini bahkan sudah jadi kebiasaan yang cukup akrab di budaya kita, biasanya dibarengi doa singkat. Jadi sebenarnya bukan hal baru, cuma perlu lebih sering dipraktikkan, bukan cuma pas Lebaran.
Yang penting bukan seberapa dramatis sentuhan fisiknya, tapi seberapa sering dan tulus dilakukan. Sentuhan kecil yang konsisten tiap hari jauh lebih membekas dibanding pelukan super erat yang cuma terjadi setahun sekali pas momen wisuda.
Wajar Kalau Awalnya Canggung, Namanya Juga Belum Pernah Latihan
Saya juga mau kasih semangat buat para ayah yang merasa diri mereka kaku kalau soal sentuh-menyentuh begini. Wajar. Ini bukan soal bakat, tapi soal otot yang belum pernah dilatih, mirip kayak orang yang mendadak disuruh latihan beban di gym, pasti keesokan harinya badan terasa kaku dan pegal-pegal.
Bisa dimulai dari momen yang “memberi alasan”, misalnya menepuk pundak habis anak mendapat nilai bagus, menggenggam tangannya sebelum ujian, atau memeluk sebentar sebelum dia berangkat ke sekolah. Momen-momen begini biasanya bikin sentuhan gak terasa dipaksakan, karena ada alasan yang jelas.
Dan kalau di awal masih ada rasa canggung, baik dari ayah maupun dari anaknya sendiri, itu normal. Rasa canggung itu pelan-pelan akan hilang sendiri, asal terus dicoba, bukan malah dihindari cuma karena bikin gak nyaman sesaat.
Cerita Ayah yang Baru Bisa Ngobrol Panjang Lewat Chat WhatsApp
Ada satu cerita dari teman saya, sebut saja namanya Kang Hasan, yang sampai sekarang masih suka saya ingat-ingat. Anaknya, remaja laki-laki juga, kalau diajak ngobrol langsung, jawabannya paling banter cuma “iya”, “nggak tau”, atau senyum kikuk sambil buru-buru masuk kamar.
Kang Hasan sendiri mengaku, dari dulu memang bukan tipe ayah yang gampang pegang-pegang anak atau ngobrol berlama-lama sambil tatap mata. Bukan karena gak sayang, tapi ya itu tadi, gak terbiasa, dan kalau dipaksakan malah jadi terasa aneh buat berdua.
Sampai suatu malam, karena ada urusan mendadak yang perlu disampaikan, Kang Hasan iseng kirim pesan WhatsApp ke anaknya, padahal jaraknya cuma beda kamar, tinggal jalan beberapa langkah saja sebenarnya bisa.
Di luar dugaan, anaknya malah membalas panjang lebar. Bukan cuma soal urusan yang ditanyakan, tapi ikutan cerita soal masalah di sekolah, soal temannya yang bikin dia kesal, bahkan soal rasa minder yang selama ini dia pendam sendiri.
Kang Hasan sampai bilang ke saya sambil setengah bercanda, setengah heran, “Anak saya kayak punya kepribadian kedua kalau udah pegang HP. Di depan mata diem kayak batu, di chat cerewetnya kayak lagi presentasi skripsi.” Padahal cuma pindah medium, dari ngomong langsung ke ketikan huruf, tapi hasilnya bisa beda jauh.
Ternyata ini bukan cuma soal Kang Hasan atau anaknya. Banyak remaja memang merasa lebih aman mengungkapkan isi hati lewat tulisan, karena tidak perlu menahan tatapan mata langsung, tidak perlu takut melihat reaksi wajah orang tua yang mungkin kaget atau kecewa.
Ada jarak aman yang justru membuat mereka lebih berani jujur. Dan buat ayah yang memang belum terbiasa dengan sentuhan fisik atau obrolan tatap muka yang panjang, chat semacam ini bisa jadi jembatan sementara, bukan pengganti selamanya, tapi setidaknya pintu pertama supaya komunikasi mulai terbuka.
Yang menarik, setelah kejadian itu, Kang Hasan cerita kalau dia jadi lebih sering memulai obrolan lewat chat dulu, baru pelan-pelan dibawa ke obrolan langsung, bahkan sesekali diselingi tepukan pundak kalau ketemu di rumah. Perlahan, anaknya juga jadi lebih terbuka walau ketemu langsung, tidak lagi sekaku dulu.
Jadi kadang, jalan menuju kedekatan fisik itu tidak selalu harus dimulai dari sentuhan fisik, tapi bisa juga dimulai dari layar HP yang setiap hari sudah ada di genggaman keduanya.
Sentuhan Fisik Bukan Segalanya
Saya juga mau meluruskan tentang sentuhan fisik ini. Bisa menjadi penting, asal dilakukan dengan bijak dan disesuaikan juga dengan usia anak serta kenyamanan anak.
Selain itu berdasarkan referensi yang saya pelajari, pendekatan ini bukan satu-satunya cara untuk menunjukkan sayang. Ada ayah yang memang bukan tipe yang terbiasa dengan sentuhan fisik seperti ini, tapi menunjukkan cintanya lewat kerja keras banting tulang dalam mencari nafkah untuk keluarga.
Lewat perhatian kecil seperti mengantar-jemput anak sekolah, atau lewat doa ayah untuk anak yang dipanjatkan diam-diam di sepertiga malam, saat anaknya masih tertidur pulas tidak tahu apa-apa. Semua itu tetap sah dan tetap bermakna.
Yang jadi masalah sebenarnya bukan ketiadaan pelukan ataupun sentuhan fisik, tapi tiadanya kehangatan dalam bentuk apa pun sama sekali yang bisa ditunjukkan kepada anak. Tidak ada ada obrolan, tidak ada waktu bersama, tidak ada momen untuk mendengar cerita anak.
Zidan mungkin tidak akan pernah bilang secara langsung, “Yah, tolong tepuk pundak aku pas aku sedih ya.” Anak-anak jarang ngomong sejujur itu. Tapi lewat tepukan kecil sore itu, saya belajar satu hal: kadang yang mereka butuhkan bukan solusi instan atau nasihat berjilid-jilid, cukup bukti sederhana bahwa ayahnya ada dan peduli.
Jadi, malam ini, mungkin tidak perlu langsung melakukan pelukan besar yang bikin dua-duanya kikuk seperti pose saat di studio foto. Cukup coba tepuk pundaknya sebentar, atau genggam tangannya sambil tanya, “Hari ini gimana?” Sesederhana itu, tapi insya Allah, itu yang akan diingatnya sampai dia dewasa nanti.
Semoga Allah mudahkan kita, para ayah, untuk terus belajar mencintai anak-anak kita dengan cara yang mereka bisa rasakan, bukan cuma dengan cara yang menurut kita sendiri sudah cukup. Aamiin.
Artikel ini adalah bagian dari Cerita & Refleksi Ayah di Pondok Islami: kumpulan kisah dan renungan seputar perjalanan menjadi seorang ayah. Semoga bisa jadi teman merenung di sela-sela kesibukanmu.
