Fatherless di Indonesia: Renungan Film “Panggil Aku Ayah”

FATHERLESS DI INDONESIA. Jujur, penulis tidak menyiapkan apa-apa sebelum menonton film Panggil Aku Ayah. Penulis kira ini cuma film keluarga biasa, hanya karena pemeran utamanya Ringgo Agus Rahman, aktor yang selalu bikin penulis penasaran untuk menonton filmnya.

fatherless-di-indonesia

Ceritanya sederhana, dua penagih utang Dedi dan Tatang secara tak sengaja “mendapatkan” seorang anak kecil sebagai jaminan utang. Lalu akhirnya justru membangun hubungan keluarga yang hangat.

Tapi setelah filmnya selesai, saya malah tidak langsung beranjak. Duduk sebentar, diam, pikiran ke mana-mana. Film itu bukan film yang bikin nangis bombastis mengharu biru penontonnya.

Tapi justru karena ceritanya real, terjadi dalam keseharian kita, jadinya terasa masuk pelan-pelan. Walaupun dikemas dalam cerita yang kadang diselingi dengan humor, tapi mengingatkan penonton pada sesuatu yang sudah lama kita tahu, tapi sering kita abaikan.

Cerita itu membuka lapisan perasaan yang selama ini mungkin banyak orang sembunyikan, tentang apa artinya hadir sebagai seorang ayah, dan bagaimana fenomena fatherless di Indonesia bukan sekadar teori, tapi nyata di kehidupan banyak keluarga.

Liputan berita di beberapa media online nasional, seperti Antaranews, pernah melaporkan bahwa 20,9% anak Indonesia tumbuh tanpa peran Ayah. Sebuah angka yang cukup signifikan sebagai sinyal perbaikan yang harus dilakukan, tentang kehadiran Ayah dalam pertumbuhan generasi masa depan bangsa ini.

Filmnya Sederhana, Tapi Rasanya Dekat

Film ini menceritakan tentang Dedi (Ringgo Agus Rahman) dan Tatang (Boris Bokir), dua penagih utang yang hidupnya keras dan penuh tekanan. Suatu hari, mereka “mendapatkan” Intan (Myesha Lin), anak kecil yang dijadikan jaminan utang oleh ibunya, Rossa (Sita Nursanti).

Awalnya ikatan antara mereka sangat dingin dan diberi label “kewajiban semata”. Dedi dan Tatang bukan sosok ayah idaman. Hidup mereka keras, apa adanya, bahkan jauh dari kata mapan. Intan, si anak kecil itu, masuk ke hidup mereka bukan karena cinta, tapi karena urusan utang.

Awalnya canggung. Hubungannya kaku. Tidak ada naluri “keayahan” yang langsung muncul. Tapi justru di situ penulis merasa ceritanya jujur. Karena di dunia nyata, banyak ayah juga tidak pernah benar-benar siap.

Namun seiring waktu, Dedi dan Tatang mulai mengurus kebutuhan Intan, dari sekolah sampai kebiasaan kecil seperti mendengarkan cerita dan mengantar tidur. Hubungan mereka yang awalnya penuh keterpaksaan bertransformasi jadi ikatan hangat, bukan karena darah, tapi karena kasih sayang, empati, dan perhatian.

Film ini bukan sekadar hiburan. Ia punya pesan yang lebih dalam: bahwa figur ayah tidak harus datang dari ikatan biologis, dan bahwa kehadiran emosional jauh lebih berarti daripada sekadar ada secara fisik.

Tidak semua orang tiba-tiba tahu caranya menjadi ayah yang hangat, sabar, dan penuh empati. Sebagian belajar sambil jalan. Sebagian lagi… tidak pernah benar-benar belajar.

Fatherless di Indonesia Itu Tidak Selalu Dramatis

Kalau mendengar kata fatherless, kebanyakan orang langsung membayangkan ayah yang pergi. Yang meninggalkan keluarga, yang tidak bertanggung jawab.

Padahal, dalam konteks fatherless di Indonesia, ceritanya sering jauh lebih sunyi. Ayahnya ada, pulang ke rumah, masih menafkahi. Ayah hadir secara rutinitas, pulang kerja, makan bersama, dan tidur di rumah, tetapi tidak terlibat dalam dunia emosional atau pengasuhan anak secara intens.

Hubungan dengan anaknya terasa datar, tidak dekat, tidak hangat, tidak benar-benar terhubung. Bukan karena benci, bukan karena tidak sayang, tapi di banyak kasus karena tidak tahu harus mulai dari mana.

Film Panggil Aku Ayah mengangkat tema ini secara tidak langsung dengan menunjukkan bagaimana anak seperti Intan bisa bertumbuh dengan figur ayah yang bukan ayah kandung, tapi bisa memberikan cinta dan perhatian yang nyata.

Ini mengingatkan kita bahwa fatherless di Indonesia bukan hanya soal kehilangan fisik, tapi juga tentang absennya kehadiran yang sesungguhnya, kehadiran yang melihat, mendengar, berbicara, bertanya, dan berjalan berdampingan dengan anak.

Dan pola ini, jujur saja, bisa jadi sangat umum.

“Yang Penting Ayah Kerja”

Banyak Ayah yang tumbuh dengan kalimat itu. Kalimat yang terdengar bijak, tapi lama-lama terasa seperti tembok.

Seolah tugas ayah selesai begitu urusan uang beres, selebihnya, urusan ibu. Pelan-pelan, kita membentuk gambaran bahwa ayah yang baik itu:

  • Kerja keras dan memberikan nafkah untuk keluarga
  • Jarang di rumah tidak apa-apa
  • Tidak banyak bicara juga tidak masalah

Padahal, anak tidak hanya menilai ayah dari seberapa lelah ia bekerja. Anak juga mengingat ayah dari seberapa sering ia hadir, saat anak membutuhkannya. Bukan melulu hadir secara fisik, tapi terhubung secara emosional.

Ayah yang Ada, Tapi Tidak Sampai

Inilah bagian yang paling sulit dibicarakan. Karena ayah seperti ini tidak terlihat bermasalah. Tidak ada konflik besar. Tidak ada pertengkaran hebat. Rumah tetap berjalan seperti biasa.

Tapi anak tumbuh dengan jarak, tidak tahu harus cerita ke siapa. Tidak tahu bagaimana mengekspresikan perasaan, tidak terbiasa didengar.

Dan lama-lama, kebutuhan emosional itu dipendam sendiri. Banyak anak seperti ini tidak akan menyebut dirinya fatherless. Tapi di dalam, ada ruang kosong yang sulit dijelaskan.

Film Ini Mengingatkan: Hadir Itu Dipelajari

Yang penulis suka dari Panggil Aku Ayah, film ini tidak menggambarkan ayah sebagai sosok sempurna. Dedi tetap salah, tetap kasar di beberapa bagian, tetap kikuk.

Tapi satu hal berubah: ia mulai peduli, dan dari kepedulian itulah, peran ayah mulai tumbuh. Ini seperti pengingat halus bahwa menjadi ayah itu bukan bakat bawaan. Tapi proses belajar.

Kalau Dibaca dari Perspektif Al-Qur’an

Menariknya, kalau kita membuka Al-Qur’an, gambaran ayah yang muncul justru sangat utuh: hadir secara spiritual, emosional, dan dialogis. Ada Luqman yang menasihati anaknya dengan panggilan lembut. Ada Nabi Ibrahim yang berdialog, bukan memaksa.

Luqman: Ayah yang Menasihati dengan Kasih

Dalam Surah Luqman, Allah menggambarkan seorang ayah yang berbicara langsung kepada anaknya. Bukan dengan bentakan, tapi dengan nasihat yang penuh makna.

“Ya bunayya…”
(Wahai anakku…)

Panggilan ini sederhana, tapi sarat kehangatan. Luqman tidak hanya mengajarkan tauhid, tapi juga adab, akhlak, dan cara hidup. Ia hadir sebagai pembimbing, bukan sekadar pemberi perintah.

Nabi Ibrahim: Ayah yang Berdialog

Kisah Nabi Ibrahim dan putranya Ismail menunjukkan ayah yang melibatkan anak dalam keputusan besar. Bahkan dalam perintah yang sangat berat, Ibrahim tidak memaksakan kehendak. Ia berdialog dalam Surat Ash-Shaffat 102 :

“…maadzaa taraa”
(…Bagaimana pendapatmu?”)

Ini menunjukkan bahwa peran ayah dalam Islam bukan hanya pemimpin, tapi juga pendamping.

Ayah dalam Al-Qur’an bukan hanya figur otoritas, tapi juga pendamping. Ada percakapan, ada keterlibatan, ada hubungan. Ironisnya, nilai ini sering kita dengar, tapi jarang kita praktikkan di rumah.

Fatherless di Indonesia Itu Soal Pola, Bukan Niat Buruk

Semakin dipikir, penulis merasa isu fatherless di Indonesia bukan soal ayah yang tidak peduli. Banyak ayah justru merasa sudah melakukan yang terbaik.

Masalahnya ada di pola lama :

  • Tidak diajari cara hadir secara emosional
  • Tidak terbiasa bicara perasaan
  • Tidak punya contoh dari generasi sebelumnya

Akhirnya, pola itu diteruskan atau diwarikan ke generasi berikutnya. Bukan karena ingin, tapi karena terbiasa, dan tak menyadari bahwa ada yang tidak tepat pada pola tersebut.

Dampaknya Baru Terasa Belakangan

Anak-anak jarang protes soal ini, mereka beradaptasi. Menyesuaikan diri, tumbuh seperti biasa. Tapi dampaknya sering muncul belakangan:

  • Saat dewasa bingung membangun relasi
  • Sulit membuka diri
  • Identitas diri yang rapuh
  • Atau merasa harus selalu kuat sendiri
  • Mencari validasi di luar

Ini semua bukan sekadar imajinasi. Banyak penelitian sosial dan psikologis menunjukkan hubungan kuat antara keterlibatan ayah dan perkembangan psikologis anak.

Bukan berarti semua anak akan mengalami ini, tapi risikonya nyata. Terlebih di era internet, gadget dan sosial media saat ini. Dampak negatif gadget sudah menjadi ancaman baru yang membahayakan generasi muda.

Tidak bisa dipungkiri teknologi ini bisa menjadi “pengganti” Ayah dan keluarga bagi anak-anak kita, jika sebagai Ayah atau kedua orang tua tidak bijak dalam menyikapinya.

Hal Kecil yang Sering Diremehkan Ayah

Setelah menonton film ini, penulis jadi sadar, kadang yang dibutuhkan anak itu sederhana:

  • Duduk dan didengar
  • Bertanya tanpa menghakimi
  • Hadir tanpa ponsel di tangan

Bukan ceramah panjang, bukan nasihat setiap hari. Walau film ini adalah adaptasi dari film Korea Pawn, versi Indonesia menghadirkan nuansa lokal yang kuat, dari bahasa Sunda yang natural hingga dinamika keluarga yang terasa mirip dengan banyak keluarga di tanah air.

Dedi dan Tatang yang awalnya tidak terlatih menjadi figur ayah justru menunjukkan bahwa tidak ada kata terlambat untuk mulai belajar hadir bagi anak. Itu adalah pesan kuat yang tidak hanya relevan untuk keluarga kecil dalam film, tapi juga untuk fenomena fatherless di Indonesia di luar layar.

Panggil Aku Ayah bukan film yang menggurui, tapi justru karena itu, pesannya terasa lebih dalam. Tentang ayah yang tidak sempurna, tentang anak yang hanya ingin ditemani.
Tentang keluarga yang tumbuh dari kehadiran, bukan dari rencana.

Fatherless di Indonesia sering bukan soal ayah yang pergi. Tapi ayah yang belum sempat benar-benar hadir. Dan mungkin, selama masih ada waktu, belum ada kata terlambat untuk mulai.

Pelan-pelan, dengan cara yang sederhana, dengan niat yang jujur.

Semoga bermanfaat, barakallahu fiikum.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Saatnya foto-fotomu jadi ladang rezeki
This is default text for notification bar