Tag : anak nabi adam

Kisah Nabi Syits – Nabi Yang Menerima Suhuf Terbanyak

Parenting, Sejarah Nabi No comment
Kisah Nabi Syits – Nabi Yang Menerima Suhuf Terbanyak

kisah-nabi-syits-nabi-yang-menerima-suhuf-terbanyak

NABI SYITS PENERUS WASILAH KENABIAN YANG MENERIMA SUHUF TERBANYAK. Sahabat setia Pondok Islami, kali ini kita akan melanjutkan kisah anak keturunan Nabi Adam AS dan Siti Hawa yang akan meneruskan wasilah kenabian di muka bumi ini. Setelah kejadian terbunuhnya Habil oleh Qabil saudaranya sendiri, maka Siti Hawa diberi karunia sepasang anak kembar, lelaki dan perempuan. Anak lelakinya diberi nama Syits, sedangkan anak perempuannya diberi nama ‘Azura.

Dalam kitab Qasas Al- Anbiya, disebutkan bahwa Nabi Adam AS sempat menderita sakit selama beberapa hari sebelum wafat. Saat menderita sakit itulah, Nabi Adam AS memberikan wasiatnya kepada Syits untuk menggantikan posisi kepemimpinannya dan mengingatkan Syits agar tidak memberitahukan pemberian mandat ini kepada kakaknya, Qabil, sang pendengki.

Menurut keterangan Ibnu ‘Abbas, ketika Syits dilahirkan, Nabi Adam sudah berusia 930 tahun. Nabi Adam sengaja memilih Syits sebab anaknya yang satu ini memiliki kelebihan dari segi keilmuan, kecerdasan, ketakwaan dan kepatuhan dibandingkan dengan semua anaknya yang lain.

Suatu pelajaran penting bagi kita tentang memilih seorang pemimpin dari peristiwa Nabi Adam AS di atas. Nabi Adam AS menjadikan dasar memilih pewaris kenabiannya berdasarkan ketakwaan, kecerdasan dan ketaatan sebagai kriteria utama. Nabi Adam AS mengesampingkan faktor fisik, usia, postur tubuh, serta aspek-aspek lainnya.

Sebagai Nabi, Syits menerima perintah-perintah dari Allah yang tertulis dalam 50 suhuf/sahifah. Ia merupakan nabi yang menerima suhuf terbanyak.  Diriwayatkan dari Abu Dzar Al-Ghifari, dari Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, “Sesungguhnya Allah menurunkan seratus empat puluh shahifah, dan kepada Syits sebanyak 50 shahifah.” [Tarikh Ath-Thabari 1/152].

Demikian keterangan dari Hadits Nabi SAW. yang diriwayatkan oleh Abu Dzar al-Ghifari sebagaimana dikutip dalam Tarikh Thabari (Jil. I, hal. 152).

Suhuf Nabi Syits merupakan yang terbanyak yang diterima seorang Nabi. Nabi Adam AS menerima 10 suhuf, Nabi Musa AS menerima 10 suhuf, Nabi Ibrahim AS menerima 30 suhuf dan Nabi Idris menerima 30 suhuf. Suhuf / Sahifah merupakan firman Allah SWT yang disampaikan kepada Nabi dalam bentuk lembaran-lembaran terpisah, tetapi tidak harus disampaikan kepada umatnya. Berisikan puji-pujian dan zikir kepada Allah SWT.

Berbeda dengan kitab Allah SWT, yang berjumlah 4 dan diturunkan kepada Nabi serta Rasul-Nya yaitu kitab Taurat kepada Nabi Musa AS, Zabur kepada Nabi Daud AS, Injil kepada Nabi Isa AS dan terakhir kitab Alquran kepada Nabi Muhammad SAW yang menjadi penyempurna kitab-kitab sebelumnya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Maidah yang artinya :

“Dan kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya…” (QS Al-Ma’idah : 48)

Keempat kitab itu, selain sebagai mukjizat bagi Nabi, juga wajib mereka sampaikan kepada kaum mereka masing-masing. Berisikan tentang ajaran Akidah, Ibadah, Syariah dan Muamalah.

NASIHAT NABI ADAM AS KEPADA NABI SYITS AS

Beberapa nasihat Nabi Adam AS kepada Nabi Syits anaknya  :

suhuf nabi syits

gambar hanya ilustrasi

“Setiap perbuatan yang kamu lakukan, renungkan terlebih dahulu akibat yang akan ditimbulkan. Seandainya aku merenungkan akibat suatu perkara, tentu aku tidak tertimpa musibah seperti ini.” 

“ baik ayah”, jawab Nabi Syits AS, kemudian Nabi Adam AS meneruskan wasiatnya “Ketika hati kamu merasakan kegamangan akan sesuatu, maka tinggalkanlah ia. Karena ketika aku hendak makan syajarah, hatiku merasa gamang, tetapi aku tidak menghiraukannya, sehingga aku benar-benar menemui penyesalan ”

“Dan anakku bermusyawarahlah mengenai suatu perkara, karena seandainya aku bermusyawarah dengan para malaikat, tentu aku tidak akan tertimpa musibah.”

Dalam kisah lain dicetuskan: Wahab bin Munabbih mengatakan, ketika Adam As meninggal, Syits As berusia 400 tahun. Dia telah diberi tabut, tali, pedang dan kudanya yang bernama Maimun yang telah diturunkan kepadanya dari surga. Apabila kuda itu meringkik, semua binatang yang melata di bumi menyambutnya dengan tasbih.

PERANG PERTAMA DI MUKA BUMI DAN AWAL MULA BERHALA

Syits telah diwasiati untuk memerangi saudaranya, Qabil. Dia pergi untuk memerangi Qabil dan akhirnya perang itu pun berkecamuk. Itulah perang pertama yang terjadi antara anak-anak Adam di muka bumi. Dalam peperangan itu, Syits memperoleh kemenangan dan dia menawan Qabil.

Qabil sebagai tawanan berkata, “Wahai Syits, jagalah persaudaraan di antara kita.” Syits berkata, “Mengapa engkau sendiri tidak menjaganya? Engkau telah membunuh saudaramu, Habil.” Kemudian Qabil ditawan oleh Syits; kedua tanganya dibelenggu di atas pundaknya, dan dia ditahan di tempat yang panas sampai meninggal. Anak-anak Qabil bermaksud menguburkannya. Tiba-tiba Iblis datang kepada mereka dalam rupa malaikat. Iblis berkata kepada mereka, “Jangan dikubur di dalam bumi.”

Iblis membawakan dua batu hablur yang telah dilubangi tengah-tengahnya. Dia menyuruh mereka memasukkan Qabil ke dalam ruang antara dua batu hablur itu, memakaikannya pakaian terindah dan meminyakinya dengan ramuan-ramuan tertentu sehingga dia tidak akan mengering. Lalu Iblis menyuruh mereka menyimpannya di sebuah rumah, diletakkan di atas kursi yang terbuat dari emas dan memerintahkan kepada setiap orang yang masuk ke rumah itu untuk bersujud kepadanya sebanyak tiga kali.

Iblis memerintahkan kepada mereka untuk merayakan upacara setiap tahun untuknya dan berkumpul di sekitarnya. Kemudian Iblis mewakilkan urusan ini kepada setan. Setan itulah yang kemudian berkomunikasi dengan mereka sehingga manusia terus-menerus sujud kepada Qabil. Qabil dan keturunannya inilah yang pertama kali menyembah api atas perintah iblis.

WAFATNYA NABI SYITS AS

Setelah menunaikan tugasnya memerangi Qabil, maka Nabi Syits pun kembali ke negerinya dan menetap di sana sebagai juru pemutus yang adil di antara manusia. Berdasarkan riwayat dari Wahab bin Munabbih, istri Nabi Adam AS, Siti Hawa, meninggal di zaman anaknya, Syits AS. Ia tidak hidup lama setelah Nabi Adam AS meninggal, yaitu satu tahun setelahnya dan meninggal pada hari Jumat di waktu yang sama dengan hari ketika dia diciptakan.

Siti Hawa dimakamkan dekat dengan makam Nabi Adam AS. Setelah kepergian mereka, Allah menurunkan 50 Suhuf/Sahifah kepada Syits As. Dialah orang pertama yang mengeluarkan kata-kata hikmah, melakukan transaksi emas dan perak, memperkenalkan jual beli, membuat timbangan dan takaran serta menjadi orang pertama yang melakukan penggalian barang tambang dari dalam bumi.

Nabi Syits AS diberi keturunan seorang putera  yang diberi nama Anusy. Cahaya dalam kening Nabi Syits AS yang merupakan cahaya Muhammad SAW, yang berpindah kepadanya dari Adam AS, setelah Anusy lahir berpindah ke keningnya putranya itu. Itulah salah satu pertanda bahwa ajalnya sudah dekat. Ia pun menyadari rambut-rambutnya yang sudah memutih. Pada tahun itu Nabi Syits AS meninggal dunia dalam usia 900 tahun.

Setelah Syits AS wafat, kedudukannya digantikan oleh anaknya, Anusy. Tabut, tali, suhuf, dan cincin Nabi Syits sebelum ia meninggal diserahkan kepada Anusy. Anusy kemudian menikah dengan seorang wanita yang memberikannya keturunan. Salah satu anak cucu keturunan Anusy bernama Ukhnukh, yang juga memiliki perilaku baik dan luhur. Kelak Ukhnukh inilah yang mewarisi cahaya Muhammad SAW dan menjadi penerus wasilah kenabian, dan lebih dikenal dengan Nabi Idris AS.

Demikianlah sahabat setia Pondok Islami, perjalanan kisah anak Nabi Adam AS dan Siti Hawa yang paling mereka sayangi yaitu Nabi Syits. Nabi Syits, nabi yang menerima suhuf paling banyak dari Allah SWT, dan dari keturunan Nabi Syits ini lah kelak yang akan menjadi pewaris wasilah kenabian umat manusia di muka bumi ini.

Catatan :
Nabi Syits merupakan nabi yang tidak disebutkan dalam Al-Quran dan berada di luar 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui dan diimani. Nabi dan rasul yang wajib diketahui dan diimani yang berjumlah 25 orang itu, adalah mereka yang namanya disebutkan secara jelas dalam Al-Quran dan disepakati kenabian ataupun kerasulannya.

Al-Quran sendiri sesungguhnya mengisahkan tentang para nabi lebih dari 25 orang, tetapi meski kisahnya disebutkan, namanya tidak disebutkan dengan tegas. Misalnya Nabi Khidir a.s, yang memiliki kisah cukup panjang dalam Al-Quran, tapi tak satupun ayat Al-Quran yang secara jelas menyebutkan namanya. Sebagaimana Allah katakan dalam firman-Nya, yang artinya,

“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, diantara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan diantara mereka ada yang tidak Kami ceritakan kepadamu” (QS. Al-Ghafir : 78)

Riwayat-riwayat yang menjelaskan mengenai tentang Nabi Syits bersumber dari para ahli kitab Yahudi dan Nashrani atau riwayat Israiliyat yang keshahihanya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Maka akan banyak sekali kekhilafan serta ketidakserasian dalam kisahnya. Namun yang pasti Nabi Syits AS adalah Nabi yang mulia dan telah diberikan suhuf/shahifah oleh Allah SWT sebagai petunjuk dalam menjalani kehidupannya dan keluarganya saat itu dan dari beliaulah umat manusia dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala menyebar di muka bumi.

Kisah ini penulis bagikan dalam artikel “Kisah Nabi Syits – Nabi Yang Menerima Suhuf Terbanyak” juga dengan tujuan agar bisa melengkapi sekaligus menambah wawasan kita tentang silsilah kenabian dari awal mula Nabi Adam AS hingga nabi penutup Muhammad SAW. Semoga kita semua bisa senantiasa mengambil hikmah dari kehidupan para manusia-manusia pilihan Allah SWT tersebut.

 

Wallahu’alam bishawab.

sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Set
http://www.sharingseputarislam.com/2016/07/kisah-nabi-syits-alaihis-salam.html
https://muhandisun.wordpress.com/2013/01/14/kisah-nabi-adam-alaihissalaam-wafatnya-dan-sekelumit-kisah-nabi-syits-3/
https://www.eramuslim.com/aqidah/dasar-rujukan-adanya-25-orang-nabi.htm#.Wmb8SaiWbIU

Kisah Habil dan Qabil Anak Keturunan Nabi Adam dan Siti Hawa

Parenting, Sejarah Nabi 2 comments
Kisah Habil dan Qabil Anak Keturunan Nabi Adam dan Siti Hawa

kisah_habil_dan_qabilKISAH HABIL DAN QABIL ANAK KETURUNAN NABI ADAM DAN SITI HAWA. Sahabat Quran yang dimuliakan Allah, sebagai lanjutan dari Kisah Nabi Adam dan Siti Hawa sejak diciptakan hingga turun ke bumi yang lalu, maka kali ini penulis akan mengisahkan tentang kisah keturunan dari Nabi Adam dan Siti Hawa yang sudah hidup di bumi.

Nabi Adam dan Siti Hawa setelah diturunkan ke bumi oleh Allah SWT, sebagai hukuman atas perbuatannya yang melanggar larangan Allah sekaligus juga mengembang amanah sebagai khalifah di muka bumi, kemudian dikarunia banyak keturunan.

Ibunda Hawa melahirkan 20 pasang anak kembar laki-laki dan perempuan Setelah beberapa pasang anak Nabi Adam Alaihissalam lahir, mereka kesemuanya hidup sesuai dengan ajaran dan petunjuk-petunjuk dari Allah.

Mulailah pengajaran Nabi Adam AS kepada anak-anaknya agar mengikuti perintah Allah. Selain itu ada hal penting juga yakni mengingatkan bahwa manusia memiliki musuh yang nyata dan abadi yakni iblis dan keturunannya, yaitu syaitan yang terkutuk. Golongan Iblis yakni syaitan tidak pernah akan berhenti, dan tidak akan pernah menyerah sampai hari kiamat untuk mengajak sebanyak-banyak keturunan Nabi Adam dan Siti Hawa kepada kesesatan.

Waktu di Bumi terus berlalu, Nabi Adam AS bertambah terus umurnya. Segala perintah dan larangan Allah dijalankannya bersama Siti Hawa dan anak-anaknya. Disebutkan bahwa anak kembar yang pertama dan anak kembar yang kedua dari Nabi Adam AS dengan Siti Hawa telah mencapai usia dewasa. Anak kembar yang pertama bernama Qabil dan Iqlima, dan anak kembar kedua bernama Habil dan Labuda.

Allah menurunkan perintah kepada Nabi Adam AS agar menikahkan anak-anak pasangan pertama dengan pasangan kedua secara bersilangan. Qabil dengan Labuda, dan Habil dengan Iqlima. Nabi Adam kemudian memberitahukan perintah Allah tersebut kepada anak-anaknya.

Syaitan pun menjalankan misinya menghasut anak-anak Nabi Adam. Perintah Allah ini menjadi peluang bagi Syaitan, karena Syaitan sangat ingin agar manusia tidak mematuhi perintah Allah.

Siang malam syaitan membisikan kepada Qabil, kalau keputusan Allah untuk menikahkan Qabil dengan Labuda, adiknya Habil, adalah keputusan yang tidak Adil. Syaitan kemudian membandingkan rupa Iqlima yang jauh lebih cantik daripada Labuda kepada Qabil. Syaithan membisikkan bahwa Qabil yang tampan hanya cocok menikah dengan Iqlima yang cantik.

Qabil pun termakan bujuk rayu Syaitan. Diam-diam ia membandingkan Iqlima dengan Labuda, dan akhirnya Qabil pun menjadi benci atas perintah Allah SWT itu. Qabil menilai keputusan Allah untuk menikahkannya dengan Labuda adalah keputusan yang tidak adil. Qabil tidak mau menerima keputusan tersebut.

Ia tidak mau menjalankan perintah Allah dan Nabi Adam AS. Qabil berkata bahwa dirinya yang tampan lebih pantas menikah dengan Iqlima yang rupawan. Qabil iri dan dengki kepada Habil dan merasa ayahnya lebih sayang kepada Habil daripada dia.

Rupanya syaitan telah berhasil mempengaruhi pemikiran dan hawa nafsu Qabil. Qabil sendiri sepertinya telah lupa ajaran ayahnya, Nabi Adam AS, bahwa syaitan adalah musuh manusia yang sangat nyata dan sangat membenci ketaatan manusia kepada Allah.

Nabi Adam kemudian memohon kepada Allah agar diberi petunjuk mengenai permasalahan anaknya Qabil tersebut. Allah mendengar dan memberi Nabi Adam petunjuk. Nabi Adam diperintahkan untuk mengadakan persembahan qurban. Siapa yang qurbannya dipilih Allah maka dialah yang lebih pantas untuk menikah dengan Iqlima.

Qabil dan Habil mulai bersiap untuk melakukan persembahan qurban. Nabi Adam kemudian menentukan hari persembahan. Ketika hari itu tiba, Qabil dan Habil diminta menaruh persembahan mereka di atas puncak bukit. Tak lama kemudian Allah pun telah memberikan pilihan.

Dipuncak bukit diketahui, bahwa persembahan qurban yang diterima oleh Allah adalah milik Habil. Qurban yang diterima tersebut adalah qurban seekor binatang peliharaan yang sangat sehat dan besar, tidak ada cacat sama sekali.

Sedang milik Qabil yang ditolak adalah, persembahan yang berasal dan hasil-hasil pertanian berupa sekarung gandum yang jelek dan buah-buahan yang telah membusuk. Tetapi ketika Nabi Adam menjelaskan hal ini kepada Qabil. Qabil malah marah, dan mengatakan kalau ayahnya hanya berdoa untuk habil dan tidak dirinya.

Nabi Adam AS pun lalu memutuskan dan menetapkan bahwa Qabil menikah dengan Labuda dan Habil menikah dengan lqlima. Bagaimana sikap Qabil setelah menerima keputusan tersebut ?

Ternyata Qabil tetap belum bisa menerima keputusan Allah SWT. Muncullah rasa kecewa bertumpuk-tumpuk di dalam dirinya hingga menjadi rasa dendam. Dia tidak sadar qurbannya ditolak karena ia memberikan qurban yang jelek dengan hati yang dongkol. Dia hanya merasa semuanya membela Habil adiknya.

Syaitan pun terus menjalankan hasutannya dan mengatakan kepada Qabil bahwa tidak ada jalan lain untuk bisa memiliki Iqlima kecuali dengan membunuh Habil adiknya sendiri. Awalnya Qabil tidak mau, tetapi syaitan tidak pernah berputus asa. Syaitan terus menghadirkan bayangan Iqlima yang cantik jelita, hingga akhirnya Qabil pun terpancing mengikut perintah Syaitan untuk membunuh Habil.

Dalam riwayat Ibnu Katsir dikisahkan bahwa pada suatu malam Habil terlmbat pulang menggembala. Nabi Adam menyuruh Qabil mencari adiknya. Ketika mereka bertemu,  syaitan membisikkan kepada Qabil kalau ini adalah waktu yang tepat untuk membunuh Habil.

Kemudian Qabil pun memarahi adiknya karena gara-gara Habil lah qurbannya tidak diterima Allah. Habil mencoba menjelaskan, akan  tetapi Qabil tidak mau menerima penjelasan Habil. Qabil yang sedang diliputi hawa nafsu pengaruh syaitan pun kemudian melemparkan batu ke kepala Habil.

Habil sendiri yang mengetahui saudaranya melempar batu untuk membunuhnya tidak membalas karena takut kepada Allah SWT , sebagaimana dikisahkan dalam surat Al-Maidah ayat 28 yang artinya :

“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”. (QS. Al Maidah : 28)

Akhirnya Habil pun terbunuh. Kejadian pembunuhan Habil oleh kakaknya sendiri yaitu Qabil, merupakan peristiwa pembunuhan pertama atas manusia di muka bumi. Melihat Habil terbunuh oleh perbuatannya, Qabil menjadi tertegun, gemetar dan bingung, jadilah dia orang yang paling celaka sepanjang dunia.

kisah-habil-dan-qabil-keturunan-nabi-adam-dan-siti-hawa

Qabil tidak berani pulang, ia takut akan kemurkaan Nabi Adam AS. Mayat Habil lalu dibawa dipundaknya, sampai Allah SWT kemudian mengutus dua ekor burung gagak yang berkelahi, lalu salah satunya terbunuh dan burung yang satunya menguburkannya. Kisah ini diceritakan Allah pada surat Al Maidah ayat 31 yang artinya :

Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal. (QS. Al Maidah : 31)

Sedangkan syaitan sendiri tertawa puas dengan keberhasilan dan kemenangan untuk kedua kalinya atas manusia, yaitu pertama terhadap Nabi Adam AS dan Siti Hawa ketika di surga, dan kedua terhadap anak keturunan Nabi Adam dan Siti Hawa, Qabil yang berhasil digoda dan dihasut untuk melakukan perbuatan dosa besar dengan membunuh adiknya sendiri Habil.

Setelah terbunuhnya putra Adam AS yang bernama Habil, bukan main rasa sedih yang dialami oleh Nabi Adam. Isak tangis pun terdengar bertahun-tahun mengiringi kepergiannya. Pada akhirnya, Allah SWT memberikan pengganti, seorang anak yang bernama Syits. Syits artinya adalah pemberian Allah SWT untuk menggantikan Habil.

Setelah Syits beranjak dewasa, Nabi Adam pun memberikan kepercayaan kepada Syits serta memberikan semua ilmunya kepadanya.Bahkan ketika akan wafatpun Nabi Adam AS memberikan wasiat kepada Syits untuk menggantikan dalam memimpin anak keturunannya untuk beribadah kepada Allah SWT.

Setelah hidup selama 960 tahun dan sudah pula memiliki banyak keturunan, tibalah saatnya Nabi Adam untuk bertemu Allah SWT. Ibnu Katsir berkata, “Para ahli sejarah telah menceritakan bahwa Adam AS tidak akan meninggal kecuali ia sudah melihat keturunannya, dari anak, cucu, cicit terus ke bawah yang jumlah mencapai 400 ribu jiwa.”

Ubay bin Ka’ab meriwayatkan, sesungguhnya ketika akan datang wafat, Nabi Adam berkata kepada anak-anaknya, “Wahai anak-anakku, sesungguhnya aku menginginkan buah dari surga.” Maka, pergilah anak-anak beliau untuk mencari buah dari surga. Ketika dalam perjalanan, mereka bertemu dengan para malaikat yang membawa kain kafan, ramuan minyak wangi untuk mayat, kapak, cangkul dan keranda.

Para malikat itu berkata kepada anak-anak Adam AS, “Wahai anak-anak Nabi Adam AS, apa yang kalian kehendaki dan apa yang kalian cari?” “Bapak kami sedang sakit, ia menginkan buah dari surga,” kata salah satu anak Adam AS.
“Kembalilah kalian, sungguh saat ini telah datang keputusan kematian bagi bapakmu,” kata malaikat.

Sesaat kemudian, malaikat sudah mendatangi nabi Adam AS.Ketika mereka tiba di rumah, Siti Hawa kaget sesaat sebelum akhirnya mengerti maksud kedatangan malaikat tersebut. “Wahai Adam, minta tangguhlah kematianmu,” kata Ibu Hawa. “Pergilah engkau dariku, sungguh aku diciptakan sebelummu. Biarkan nyawaku dicabut oelh para malaikat Rabbku,” kata Nabi Adam as.

Akhirnya,para malikat mencabut nyawa Nabi Adam AS pada hari Jumat. Para malaikat memandikannya, mengkafani, mengoleskan ramuan minyak wangi serta menggali liang kubur untuk Adam AS. Selanjutnya mereka menyalatinya lalu memasukkannya ke liang kubur dan menempatkannya di liang lahat.

Para malaikat juga meratakan tanah kuburnya.Lalu para malaikat berkata,”Wahai anak Adam, inilah tuntunan bagi kalian pada orang mati di antara kalian.” Nabi Adam lalu mewasiatkan kepada putranya Nabi Syits untuk melanjutkan menyampaikan risalah agama kepada kaumnya.

Sahabat Quran pembaca setia Pondok Islami, pelajaran berharga / ibroh yang bisa kita petik dari Kisah Habil dan Qabil Anak Keturunan Nabi Adam dan Siti Hawa di atas adalah :

  • Kehebatan syaitan sebagai musuh abadi manusia yang taat dan beriman tidak boleh diremehkan
  • Kita harus memperbanyak dzikir dan ingat kepada Allah SWT setiap saat, serta memohon perlindungan-Nya, karena syaitan selalu ada di setiap kesempatan untuk menggoda manusia.
  • Taat dan patuh kepada segala perintah Allah, serta menjauhi semua larangan-Nya tanpa terkecuali dengan penuh kesadaran
  • Berkurban haruslah dilakukan dengan memberikan harta kita yang terbaik
  • Jauhi sifat iri, dengki serta marah, karena sifat-sifat itu merupakan pintu masuk kepada kejahatan dan perbuatan yang disenangi syaitan
  • Bila kita diuji dengan kesengsaraan dan kita mampu bersabar, maka Allah SWT akan memberikan ganjaran hadiah yang setimpal atas kesabaran tersebut
  • Setiap orang tua perlu meninggalkan wasiat, kepada keturunananya untuk senantiasa istiqamah di jalan Allah serta berusaha untuk berdakwah di jalan Allah SWT

Semoga kisah Habil dan Qabil anak keturunan Nabi Adam AS dan Siti Hawa ini dapat memberikan hikmah pelajaran yang sangat berharga bagi kita, hamba Allah SWT yang senantiasa mengharapkan ridha dan berkah-Nya.

Jangan lupa juga untuk menceritakan kisah 25 Nabi dan Rasul seperti di atas kepada putra-putri kita tercinta, agar mereka mengenal dan mencintai manusia-manusia pilihan, yaitu Nabi dan Rasul Allah SWT.

Wallhu’alam bishawab.