CARA MENGENDALIKAN AMARAH. Malam itu tiba-tiba terdengar suara yang memecah keheningan rumah.
Prang…!
Tidak terlalu keras, tetapi cukup membuat siapa pun yang mendengarnya spontan menoleh ke arah dapur. Saya baru saja pulang bekerja, tas masih tergantung di bahu dan sepatu bahkan belum sempat kulepas.
Kepala masih dipenuhi sisa-sisa rapat yang belum selesai, target pekerjaan yang masih mengejar, juga kemacetan yang sepanjang perjalanan pulang seolah sengaja menguji kesabaran. Lalu suara piring pecah itu datang.
Saya bergegas menuju dapur dan di sana melihat anak kedua saya sedang berdiri. Usianya waktu itu baru enam tahun. Tubuh kecilnya masih kaku memegang piring keramik yang ukurannya hampir sebesar lengannya sendiri. Ia sedang membantu bundanya menyiapkan meja makan.
Niatnya baik, hanya saja tangannya belum cukup kuat sehingga satu piring terlepas dari genggamannya. Kini pecahannya berserakan di lantai dan entah mengapa, sebelum sempat berpikir, suara saya lebih dulu keluar.
“Makanya kalau bawa piring pelan-pelan!”
“Sudah Ayah bilang berkali-kali, kan?”
Anakku terdiam, bibirnya bergetar pelan, dan perlahan matanya mulai dipenuhi air yang berusaha ia tahan. Saat itu saya kira ia menangis karena takut melihat pecahan piring. Belakangan saya menyadari kalau yang membuatnya takut bukanlah piring yang pecah, melainkan suara ayahnya yang tiba-tiba berubah.
Saat itu saya masih berdiri dengan napas yang belum teratur, hingga istri yang sedari tadi ada di dapur mendekat, lalu berbisik begitu pelan,
“Yah… dia tidak sengaja.”
“Dan… itu cuma piring.”
Tidak tahu mengapa kalimat sesingkat itu terasa begitu berat, seolah ada seseorang yang baru saja mengetuk pintu hati dari dalam. Saya menunduk dan sekilas sempat melihat anak saya masih berdiri kaku di dekat pecahan keramik. Ia tidak berani bergerak seperti masih menyimpan rasa takut melakukan kesalahan lagi.
Malam itu, ketika kami bersama-sama menyapu serpihan piring, saya merasa ada sesuatu yang lain turut pecah. Bukan keramik itu, tapi rasa aman seorang anak ketika melakukan kesalahan di depan ayahnya sendiri.
Bukan Soal Cara Menahan Amarah, Tapi Soal Mengenali
Peristiwa seperti ini mungkin pernah dialami banyak ayah. Bukan semata tentang piring yang pecah, mungkin juga tentang mainan yang berantakan atau nilai ulangan anak kita yang jauh dari harapan, hingga hal sepele seperti anak yang terlalu lama memakai sepatu padahal waktu sudah mepet.
Pemicu itu akan selalu ada setiap saat. Hari ini piring, besok mungkin sepatu, lusa bisa jadi hal-hal lain yang bisa hampir dipastikan selalu muncul entah dari mana asalnya. Ada ayah yang bahkan menuliskan penyesalannya secara terbuka setelah momen marah yang berujung pada luka batin anaknya.
Ini sebagai bukti bahwa pengalaman-pengalaman dalam keseharian seperti itu tidak hanya dialami sendirian. Yang membedakan ayah yang satu dengan ayah yang lain bukan apa yang memicu amarahnya, melainkan bagaimana cara masing-masing meresponsnya.
Jadi teringat pesan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wassalam,
“Bukanlah orang yang kuat itu yang menang dalam pergulatan, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Semakin sering merenungi hadist ini, semakin merasa bersalah, karena apa yang diingatkan oleh Rasulullah pada hadist di atas mungkin berbeda pandangan dengan apa yang selama bertahun-tahun dipahami, bahwa ketegasan identik dengan suara yang keras.
Rasulullah justru membalik cara pandang itu: kekuatan bukan ketika kita mampu menguasai orang lain, tapi kekuatan justru lahir ketika kita berhasil menguasai diri sendiri.
Menariknya, ternyata musuh yang paling sulit dikalahkan bukan orang lain, tapi malah diri kita sendiri ketika sedang marah.
Rasulullah Mengajarkan Ayah Cara Mengendalikan Amarah Saat Mendidik Anak
Ada satu hadist lain yang dicontohkan Rasulullah saat seorang sahabat datang kepada beliau, dan meminta sebuah nasihat. Bukan nasihat yang panjang atau rumit, cuma meminta satu pesan untuknya dari Rasulullah agar mudah diingat.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wassalam menjawab,
“Laa taghdhab.”
“Jangan marah.” (HR. Bukhari)
Sahabat itu rupanya ingin memperoleh nasihat lain, ia mengulang permintaannya sampai beberapa kali. Namun setiap kali itu pula Rasulullah memberikan jawaban yang sama.
“Jangan marah.”
Dari hadist jangan marah ini, saya seperti merasakan kalau Rasulullah sedang berbicara kepada para ayah agar mampu menahan amarah. Karena, banyak luka dalam sebuah keluarga berawal dari satu emosi yang gagal dikendalikan.
Sering kali yang melukai anak bukan akibat dari hukuman yang diberikan, akan tetapi cara hukuman itu disampaikan. Nada suara ketika aturan itu diucapkan lebih sering menimbulkan luka pada diri anak yang akan selalu diingat .
Sebagai ayah, saya mulai belajar bahwa anak sebenarnya tidak terlalu mengingat kalimat apa yang kita katakan, akan tetapi yang mereka ingat justru bagaimana perasaan mereka saat mendengarnya. Apakah mereka merasa dibimbing, ditunjukkan arah yang benar saat salah melangkah atau justru malah langsung dihakimi.
Apakah mereka merasa aman, atau justru merasa takut. Kesemuanya itu sering kali ditentukan oleh satu hal yang tampaknya sederhana: cara mengendalikan amarah.
Marah Itu Manusiawi, Tapi Cara Mengendalikan Amarah Adalah Ibadah
Seorang ayah yang baik sebagaimana diajarkan Islam bukanlah ayah yang tidak pernah marah. Islam tidak meminta kita menjadi manusia tanpa emosi dan marah adalah fitrah.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wassalam sendiri pernah menunjukkan kemarahan. Namun kemarahan beliau bukan lahir karena ego yang terluka, atau karena masalah sepele akibat piring yang pecah.
Beliau marah ketika batas-batas yang telah Allah tetapkan dilanggar. Beliau marah karena agama, bukan karena harga diri. Oleh sebab itu, Al-Qur’an tidak memuji orang yang tidak pernah marah.
Allah justru memuji mereka yang tahu cara mengendalikan amarahnya dan mampu mengontrolnya, sebagaimana disampaikan-Nya dalam Al-Qur’an,
“…yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya pada waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)
Perhatikan ayat itu, Allah tidak mengatakan orang yang tidak pernah marah. Yang Allah puji adalah orang yang mampu menahan amarahnya. Artinya Allah memahami bahwa marah itu manusiawi dan memang selalu akan muncul pada diri manusia.
Yang membedakan seorang mukmin bukan karena ada atau tidaknya emosi itu, tapi apa respon yang dilakukannya saat emosi itu datang. Bagi saya pribadi, ayat ini selalu menghadirkan sebuah harapan, yaitu saat saya gagal mengendalikan emosi, pintu untuk bertobat dan segera memperbaikinya masih terbuka.
Kuncinya hanya satu: saya tidak pernah boleh berhenti belajar dan selalu berusaha keras memperbaiki diri dari waktu ke waktu.
Cara Mengendalikan Amarah Saat Mendidik Anak Menurut Islam
Semakin sering mempelajari hadist-hadist Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wassalam, rasa kekaguman itu semakin muncul. Beliau yang mulia tidak hanya mengajarkan nilai-nilai besar, tapi juga memberikan langkah-langkah yang sangat praktis.
Langkah-langkah berikut ini adalah cara mengendalikan amarah yang bisa langsung dicoba oleh seorang ayah saat emosinya mulai naik, seperti di bawah ini:
1. Ubah posisi tubuh
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wassalam bersabda,
“Jika salah seorang di antara kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk. Jika belum hilang juga, hendaklah ia berbaring.” (HR. Abu Dawud)
Dulu saya mengira ini hanya adab, ternyata ada hikmah tersembunyi di dalamnya. Ketika marah, tubuh kita ikut bersiap untuk “bertarung.” Kita berdiri lebih tegak, suara ikut meninggi dan gerakan tubuh menjadi lebih cepat.
Mengubah posisi tubuh seolah memberi sinyal kepada diri sendiri bahwa pertarungan itu tidak perlu diteruskan, sesederhana duduk. Hikmahnya, sering kali itulah jeda yang menyelamatkan kita dari ucapan yang akan disesali kemudian.
2. Berwudhu sebelum emosi mengambil alih
Dalam hadist lain Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wassalam bersabda bahwa amarah berasal dari setan, sedangkan setan diciptakan dari api. Api dipadamkan dengan air, oleh karena itu beliau menganjurkan berwudhu ketika marah.
Bagi saya, wudhu bukan sekadar membasuh wajah, tapi kesempatan untuk berhenti. Air yang mengalir di wajah sering kali ikut membawa pergi panas yang sejak tadi memenuhi dada.
Ketika selesai berwudhu, biasanya persoalan yang tadi terasa sangat besar mulai tampak lebih kecil. Inilah salah satu cara mengendalikan amarah paling efektif bagi saya pribadi.
3. Diam sebelum berbicara
Cara mengendalikan amarah yang satu ini adalah yang paling sering gagal saya lakukan, padahal mungkin justru yang paling sederhana. Malam ketika anak saya menjatuhkan piring itu, andaikan saya diam lima detik saja, mungkin kalimat yang keluar bukan bentakan.
Mungkin saya hanya akan berkata,
“Tidak apa-apa, Nak.”
“Ayah bantu bersihkan.”
Cuma lima detik, tapi jarak itu yang membuat penyesalan atau kebijaksanaan.
4. Membaca ta’awudz
Saat amarah mulai muncul, Rasulullah mengajarkan kita untuk membaca ta’awudz memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan. Karena sering kali yang membuat kita kehilangan kendali bukan masalahnya, tapi bisikan yang membesar-besarkan masalah itu.
Piring pecah terasa seperti bencana, mainan berantakan terasa seperti bentuk pembangkangan, padahal setelah hati tenang, kita sadar, kalau itu hanyalah bagian dari proses anak belajar.
Kalau Sudah Terlanjur Marah
Malam itu, setelah pecahan piring selesai kami bersihkan, rumah kembali tenang. Saya menghampiri anak saya tapi kali ini bukan sebagai ayah yang sedang marah. Saya menghampirinya sebagai ayah yang sedang belajar.
Saya duduk hingga posisi mata kami sejajar.
“Maaf ya, Nak.”
“Tadi Ayah kaget.”
“Piringnya memang tidak sengaja jatuh, kan?”
Ia mengangguk pelan, masih tampak ragu sambil perlahan menatap wajah saya. Perlahan saya melanjutkan,
“Lain kali kita lebih hati-hati.”
“Tapi Ayah juga salah.”
“Piring bisa kita beli lagi.”
“Ayah tidak ingin kamu takut sama Ayah.”
Beberapa detik kemudian ia langsung memelukku dan terdengar isak kecilnya. Ia menangis, tapi saya tahu bukan tangis ketakutan, melainkan tangis karena perasaan lega.
Pelukan yang sederhana, tangisan kecil yang spontan hadir karena hati yang sudah kembali hangat. Namun bagi saya, rasanya seperti Allah sedang memberiku kesempatan kedua.
Sebuah penyesalan, dibarengi dengan rasa syukur, karena malam itu saya belajar bahwa meminta maaf kepada anak tidak mengurangi wibawa seorang ayah. Justru di situlah anak belajar adab meminta maaf dan mengakui kesalahan bahwa menjadi dewasa bukan berarti selalu benar, melainkan berani mengakui kesalahan ketika memang bersalah.
Menjadi Ayah yang Terus Belajar
Semakin lama menjadi ayah, saya semakin sadar bahwa mendidik anak sebenarnya adalah proses Allah mendidik diri kita sendiri. Anak-anak mungkin sedang belajar mengendalikan emosi, tapi ternyata ayahnya juga.
Anak-anak sedang belajar meminta maaf, ayahnya pun demikian. Anak-anak sedang belajar menjadi manusia yang lebih baik, begitu pula orang tuanya. Mungkin itulah sebabnya Allah tidak meminta kita menjadi ayah yang sempurna.
Allah hanya meminta hati yang mau terus memperbaiki diri. Hari ini mungkin kita masih mudah marah, besok mudah-mudahan jedanya lebih panjang. Lusa, semoga suara kita lebih lembut dan semoga setiap hari kita bisa semakin mampu untuk mendahulukan kasih sayang sebelum kemarahan.
Pada akhirnya, anak-anak mungkin akan lupa berapa banyak piring yang pernah mereka pecahkan, tapi mereka tidak akan pernah lupa bagaimana ayah mereka mengajarkan mereka tentang merasa dan tahu, ketika mereka melakukan kesalahan.
Apapun kesalahan yang pernah dilakukan seorang anak, tentu kita selalu berharap dan berdoa agar hati mereka selalu merasa nyaman untuk kembali pulang kepada ayahnya, kepada kedua orang tuanya.
Semoga Allah menjadikan kita para ayah yang tahu cara mengendalikan amarah saat mendidik anak dan mampu melakukannya. Bukan untuk terlihat sempurna di hadapan manusia, tapi di sinilah peran ayah dalam mendidik anak yang sesungguhnya, yang kelak akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah subhanahu wata’ala.
Aamiin.
Artikel ini adalah bagian dari Cerita & Refleksi Ayah di Pondok Islami: kumpulan kisah dan renungan seputar perjalanan menjadi seorang ayah. Semoga bisa jadi teman merenung di sela-sela kesibukanmu.
