5 Kesalahan Mendidik Anak & Solusinya Untuk Ayah

kesalahan-mendidik-anak

Kesalahan mendidik anak yang dilakukan seorang ayah sering terjadi dalam sebuah keluarga tanpa disadari. Meskipun niat ayah sebenarnya baik, akan tetapi pola asuh yang kurang tepat yang dulu diterimanya justru tanpa sadar ditiru dan diterapkan kepada anak-anak mereka.

Saya kira, hampir tidak ada ayah yang setiap pagi bangun lalu berkata dalam hati, “Hari ini saya mau membuat anak saya terluka.”

Tidak ada.

Sebagian besar ayah justru ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik, mandiri, berakhlak, dan sukses. Ayah sibuk bekerja keras, memikirkan masa depan anak, membayar sekolah, memenuhi kebutuhan keluarga. Semua dilakukan karena cinta.

Tapi ada satu hal yang kadang luput kita sadari.

Niat baik tidak selalu menghasilkan dampak yang baik.

Kadang bukan karena kita tidak sayang kepada anak, tapi justru kesalahan mendidik anak bisa terjadi karena rasa terlalu sayang. Kita ingin anak kita menjadi anak yang rajin, tetapi cara menyampaikannya membuat ia merasa tidak pernah cukup.

Kita ingin anak kita disiplin, tetapi tanpa sadar membuatnya malah menjadi takut. Selain itu, kita ingin anak sukses, tapi kita lupa bahwa sebelum sukses, ia perlu menjadi manusia yang baik.

Kita ingin anak tumbuh mandiri, tetapi kita juga perlu menghormati prosesnya. Nah, mungkin ada beberapa pola tentang bagaimana peran ayah dalam mendidik anak yang perlu kita periksa kembali, agar kesalahan mendidik anak tidak terjadi.

1. Membandingkan Anak dengan Anak Lain

“Coba lihat anak si Fulan, rajin banget belajarnya.”

Pernah mengucapkan kalimat seperti itu? Mungkin niat kita sederhana: supaya anak termotivasi. Masalahnya, anak belum tentu menangkap pesan yang sama. Yang mungkin masuk ke hatinya justru:

“Berarti aku kurang baik.”

“Berarti Ayah lebih bangga kepada anak itu.”

“Berarti aku harus menjadi seperti orang lain supaya disayang.”

Padahal setiap anak datang dengan membawa keunikan masing-masing. Beberapa anak cepat memahami pelajaran, ada yang membutuhkan waktu lebih panjang. Namun, ada yang percaya diri, ada yang perlu didampingi lebih lama. Sebaliknya, ada yang kuat di akademik, ada yang menonjol di bidang lain.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasssalam mengajarkan pentingnya berlaku adil kepada anak-anak. Dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim tentang pemberian hadiah kepada anak, Rasulullah mengingatkan Nu’man bin Basyir agar bertakwa kepada Allah dan berlaku adil di antara anak-anaknya.

Konteks hadis tersebut memang berkaitan dengan pemberian, tetapi ada pelajaran besar yang bisa kita renungkan: jangan sampai perlakuan kita kepada anak menumbuhkan rasa bahwa dirinya kalah dibandingkan dengan saudaranya atau anak lain.

Jadi, daripada berkata:

“Kenapa kamu nggak bisa seperti kakak?”

Cobalah berkata:

“Menurut Ayah, kamu sudah lebih baik dari kemarin. Namun, bagian mana yang masih mau kamu perbaiki?”

Bedanya sederhana, yang satu membuat anak sibuk mengejar orang lain, sementara yang satu lagi mengajarkan anak bertumbuh menjadi versi terbaik dirinya. Jangan bandingkan anak dengan anak lain.

Bandingkan ia dengan dirinya sendiri kemarin. Apresiasi proses, usaha, dan kemajuan kecil yang ia lakukan.

2. Terlalu Mudah Berjanji, tetapi Sulit Menepati

“Nanti kalau Ayah gajian, kita beli sepeda, ya.”

Anak pun menunggu, gajian datang, dan sepeda tidak ada; ayah lupa. Anak mungkin tidak langsung marah. Bahkan bisa jadi ia juga lupa. Tapi kalau pola ini terus berulang, ada sesuatu yang perlahan-lahan terkikis: kepercayaan.

Bagi kita, janji kepada anak mungkin terasa kecil. Bagi anak, kata-kata ayah bisa menjadi sesuatu yang sangat besar. Ada hadis yang patut menjadi bahan renungan.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wassalam bersabda tentang seseorang yang berkata kepada anak kecil, “Kemarilah, aku akan memberimu kurma,” tetapi kemudian tidak memberikannya. Perkataan tersebut disebut sebagai kedustaan (HR. Abu Dawud, dinilai hasan).

Ini mengajarkan kepada kita bahwa ucapan kepada anak bukan sesuatu yang boleh dianggap remeh. Anak sedang belajar tentang dunia melalui orang-orang terdekatnya. Dan salah satu guru pertamanya adalah ayah.

Kalau ayah berkata A, anak belajar bahwa A berarti A. Kalau berkali-kali ternyata A berubah menjadi B, lama-lama anak belajar bahwa perkataan ayah tidak selalu bisa dipercaya.

Maka, kalau memang belum yakin bisa memenuhi sesuatu, jangan buru-buru menjadikannya janji. Daripada mengatakan:

“Nanti Ayah pasti belikan.”

Lebih baik:

“Kalau kondisi keuangan Ayah memungkinkan, Ayah usahakan. Kita lihat nanti, ya.”

Jujur kepada anak bukan berarti membuat kita kehilangan wibawa. Justru di situlah anak belajar tentang kejujuran. Jangan menjanjikan sesuatu yang belum pasti. Kalau sudah terlanjur berjanji dan ternyata tidak bisa menepatinya, jelaskan alasannya dan minta maaf kepada anak.

3. Sibuk Mengejar Prestasi, Tapi Lupa Menguatkan Akhlak

Ada pertanyaan yang sering kita ajukan kepada anak:

“Nilai ulanganmu berapa?”

“Ranking berapa?”

“Menang lomba nggak?”

Jarang sekali kita bertanya:

“Hari ini kamu sudah berbuat baik kepada siapa?”

“Tadi ada teman yang kesulitan, kamu bantu nggak?”

“Waktu ada yang mengejek temanmu, kamu ikut-ikutan atau membela?”

Padahal, kalau kita renungkan, anak tidak hidup hanya untuk mendapatkan nilai bagus. Ia akan tumbuh menjadi manusia yang suatu hari berhadapan dengan pasangan, teman, tetangga, rekan kerja, bawahan, atasan, bahkan anak-anaknya sendiri.

Karena itu, kemampuan akademik penting. Tetapi akhlak tidak boleh menjadi nomor dua, sebagaimana Rasulullah bersabda:

Artinya : “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi)

ciri-ciri orangtua yang salah mendidik anak

Maka jangan hanya bangga ketika anak mendapatkan nilai sembilan, tapi banggalah juga ketika ia mengembalikan barang yang bukan miliknya. Banggakan saat ia berani meminta maaf. Banggakan saat ia membantu temannya tanpa diminta. Banggakan juga saat ia tetap jujur, meskipun ia bisa saja berbohong, yang mungkin membuat urusannya menjadi lebih mudah.

Sebab bisa jadi, prestasi membuat namanya dikenal manusia. Tetapi akhlaklah yang membuat kehadirannya dirasakan membawa kebaikan. Seimbangkan perhatian terhadap prestasi dengan perhatian terhadap akhlak. Jadikan pertanyaan tentang karakter dan kebaikan sebagai bagian dari percakapan sehari-hari bersama anak.

4. Gengsi Mengakui Kesalahan kepada Anak

Ada ayah yang kadang sulit dan tidak tahu cara mengendalikan amarah, sehingga tak jarang meluapkan emosinya pada anak hanya karena kesalahan kecil yang dilakukan anak. Sayangnya, saat ayah menyadari kesalahannya, ia merasa bahwa meminta maaf kepada anak akan membuat wibawanya jatuh.

Seolah-olah kalau ayah berkata, “Maaf, Ayah salah,” maka anak akan kehilangan rasa hormat. Padahal menurut saya, justru sebaliknya. Anak tidak membutuhkan ayah yang selalu terlihat benar. Anak membutuhkan ayah yang berani melakukan hal yang benar ketika ia salah.

Bayangkan suatu hari ayah marah kepada anak karena mengira anak melakukan sesuatu yang buruk. Setelah ditelusuri, ternyata ayah yang salah memahami keadaan.

Ada dua pilihan: pertama, tetap mempertahankan gengsi. Kedua, mendatangi anak dan berkata:

“Maaf ya. Tadi Ayah salah. Ayah terlalu cepat marah sebelum mendengarkan penjelasanmu.”

Kalimat itu mungkin hanya membutuhkan beberapa detik. Tetapi pelajarannya bisa melekat bertahun-tahun. Anak belajar bahwa orang yang kuat bukan orang yang tidak pernah salah.

Orang yang kuat adalah orang yang berani mengakui kesalahan dan memperbaikinya.

Semangat untuk kembali kepada kebenaran dan bertaubat juga sangat kuat dalam ajaran Islam. Kita tidak diminta menjadi manusia tanpa kesalahan. Kita diajarkan untuk tidak mempertahankan kesalahan karena ego.

Jadi, jangan takut kehilangan wibawa hanya karena meminta maaf. Bisa jadi justru dari permintaan maaf itulah anak semakin menghormati ayahnya. Kalau memang salah, akui dengan jelas. Tidak perlu berputar-putar. Katakan apa kesalahannya, minta maaf, lalu tunjukkan perbaikannya.

5. Menggunakan Cara yang Sama untuk Semua Anak

“Dulu Ayah dididik seperti ini dan baik-baik saja.”

Kalimat ini sering menjadi alasan kita mendidik anak dengan cara yang sama seperti ketika kita dibesarkan. Kita tidak merasa telah melakukan kesalahan mendidik anak dalam peran kita sebagai seorang ayah sekaligus qawwam dalam rumah tangga.

Padahal, anak kita bukan kita dan kakaknya bukan adiknya. Mereka masing-masing memiliki karakter yang berbeda. Ada anak yang ketika dinasihati dengan lembut langsung memahami.

Ada yang perlu batasan yang tegas. Ada anak yang senang berdiskusi. Ada yang membutuhkan waktu untuk mencerna nasihat. Ada yang mudah percaya diri. Ada pula yang harus berkali-kali diyakinkan bahwa dirinya mampu.

Maka, mendidik anak bukan seperti memasukkan semua anak ke dalam satu cetakan. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dinisbatkan memiliki nasihat agar seseorang berbicara kepada manusia sesuai dengan kadar akalnya.

Ini merupakan perkataan yang relevan untuk kita renungkan dalam mendidik anak: pendekatan perlu disesuaikan dengan siapa yang kita hadapi. Jangan buru-buru mengatakan:

“Kenapa adik bisa, kamu nggak?”

Pertanyaannya bukan siapa yang lebih mudah dididik. Pertanyaannya:

“Cara apa yang paling membantu anak ini bertumbuh?”

Karena tujuan mendidik bukan memenangkan pertarungan dengan anak. Tujuan mendidik adalah membantu anak menjadi manusia yang semakin baik. Kenali anak satu per satu. Amati karakternya, cara belajarnya, hal yang membuatnya termotivasi, dan hal yang membuatnya tertutup. Jangan pakai satu template untuk semua anak.

Menjadi Ayah yang Terus Belajar

Kalau setelah membaca lima hal tadi kita merasa, “Wah, ternyata saya pernah melakukan semuanya,” jangan buru-buru merasa menjadi ayah yang gagal. Kesalahan mendidik anak yang telah kita lakukan selama ini dan akhirnya kita sadari justru menjadi momen awal perubahan.

Kita tidak perlu menjadi ayah yang sempurna. Karena memang tidak ada. Yang kita perlukan adalah ayah yang mau belajar. Hari ini mungkin masih suka membandingkan, besok mulai belajar menghargai proses.

Hari ini mungkin masih mudah berjanji, besok mulai belajar menjaga ucapan. Hari ini mungkin terlalu sibuk mengejar prestasi, besok mulai lebih sering bertanya tentang akhlak. Hari ini mungkin gengsi meminta maaf, besok mulai berani berkata, “Ayah salah.”

Dan hari ini mungkin kita masih mencari cara terbaik untuk mendidik anak, tidak apa-apa. Sebab menjadi ayah memang bukan perjalanan sehari dua hari. Kita sedang berproses untuk mendampingi manusia yang Allah titipkan kepada kita.

Maka tugas kita bukan sekadar memastikan anak punya masa depan yang baik. Lebih dari itu, kita ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang baik, dekat dengan Allah, bisa bermanfaat bagi sesama, dan ketika suatu hari mereka mengingat masa kecilnya, mereka bisa berkata dalam hati:

“Ayah tidak sempurna. Tapi Ayah selalu berusaha mencintaiku dengan cara yang benar.”

Semoga Allah membimbing kita menjadi ayah yang bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan anak-anak kita, tetapi juga mampu menghadirkan teladan, ketenangan, kasih sayang, dan akhlak yang baik di rumah.

Karena pada akhirnya, anak-anak mungkin lupa banyak nasihat kita. Tetapi mereka akan lama mengingat bagaimana rasanya tumbuh bersama kita. Aamiin allahumma aamiin.

Demikianlah artikel tentang 5 Kesalahan Mendidik Anak beserta solusinya sesuai syariat islam, semoga bermanfaat bagi penulis pribadi dan bagi para pembaca semuanya.

Wallahu’alam bishawab.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses