Srikandi Pejuang Wanita Islam Indonesia

No comment 477 views
3-srikandi-pejuang-wanita-islam-indonesia

3-srikandi-pejuang-wanita-islam-indonesia

SRIKANDI PEJUANG WANITA ISLAM INDONESIA. Setelah membahas tentang srikandi pejuang wanita islam di masa Rasulullah SAW masih hidup, kali ini Pondok Islami akan menyajikan kisah para srikandi pejuang wanita islam dari nusantara, yang juga tidak kalah inspiratif dan mengagumkan. Masih mengambil sumber dari buku yang sama yaitu buku yang berjudul “Jifara Sniper Wanita Perang Suriah“, penerbit Rais Asa Sukses (Penebar Swadaya Grup), karangan R. Armando.

Ketiga tokoh pahlawan wanita Islam dari tanah air ini mungkin sebagian sudah cukup populer dan ada yang sudah pernah dibuat buku ataupun novel hingga film layar lebarnya, akan tetapi ada pula yang mungkin sangat sedikit terpublikasi, padahal prestasi, sepak terjang perjuangan para muslimah srikandi nusantara yang gagah perkasa ini sangat luar biasa dan layak untuk dijadikan idola serta panutan bagi generasi muda. Semoga cuplikan kisah mereka ini dapat menambah wawasan dan inspirasi serta motivasi pembaca semua. Aamiin

1. Cut Nyak Dien

Cut Nyak Dien adalah satu dari sekian banyak srikandi pejuang wanita Islam Nusantara dari tanah Aceh yang dengan keberaniannya mengangkat senjata untuk mengusir penjajah Belanda. Sejak kecil, Cut Nyak Dien dididik dengan ilmu agama dan ilmu keterampilan keluarga. Inilah keterampilan dasar yang selalu ditanamkan Islam kepada para muslimah sejak kecil. Dengan begitu, mereka memiliki akhlak yang baik dan bisa melakukan pekerjaan rumah tangga dengan baik pula.

cut nyak dien srikandi pejuang wanita islam Aceh

sumber : Wikipedia

Cut Nyak Dien menikah sejak berumur 12 tahun dengan seorang putera bangsawan Aceh yang bernama Teuku Cek Ibrahim Lamnga. Suaminya adalah seorang alim, taat beragama dan memiliki wawasan luas. Setelah 13 tahun berkeluarga, datanglah informasi yang mengabarkan bahwa Belanda menyerang Aceh. Aksi ini terjadi pada tahun 1873 dengan datangnya pasukan Belanda di bawah komando Mayjen Kohler. Tepat pada tanggal 26 Maret 1873, Belanda menyatakan perang kepada Aceh dan mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citdadel van Antwerpen.

Perang Aceh pun meletus, masjid Baiturrahman diduduki pasukan Belanda. Bahkan Masjid kebanggaan yang didirikan oleh Sultan Iskandar Muda serta pusat spirit Rakyat Aceh itu dibakar. Mendengar hal tersebut, Cut Nyak Dien marah dan berkata: “Lihatlah wahai orang-orang Aceh ! Tempat ibadat kita dirusak! Mereka telah mencorengkan nama Allah ! Sampai kapan kita begini ? Sampai kapan kita akan menjadi budak Belanda ?”

Perang Aceh itu terus berkobar dibawah kepemimpinan Sultan Machmud Syah dan Panglima Polim. Dalam perang ini, Teuku Ibrahim Lamnga, suami Cut Nyak Dien, ikut bertempur di garis depan. Tepat pada bulan April 1873, Jenderal Kohler tewas tertembak oleh seorang sniper Aceh, tepat di jantungnya. Peristiwa ini terjadi di serambi Masjid Baiturrahman yang telah dibakar. Pada perang ini, rakyat Aceh berhasil memenangkan pertempuran.

Belanda marah besar dan kembali mengirimkan pasukannya. Kesultanan Aceh jatuh dan daerah asal suaminya, Mukim VI, juga dikuasai Belanda. Teuku Ibrahim Lamnga pun kembali bertempur untuk mengusir Belanda dari tanah kelahirannya. Sayang, Teuku Ibrahim Lamnga gugur.

Berita kematian Teuku Ibrahim Lamnga membuat Cut Nyak Dien sangat marah. Ia bersumpah akan menghancurkan tentara Belanda. Bahkan ia berjanji hanya mau dinikahi lelaki yang mau membantunya untuk menuntut bela kematian Teuku Ibrahim Lamnga. Pada akhirnya, Cut Nyak Dien dilamar oleh Teuku Umar.

Awalnya, Cut Nyak Dien menolak lamaran tersebut, namun setelah Teuku Umar mengijinkan dirinya utnuk terjun bertempur, Cut Nyak Dien pun menerima lamaran tersebut. Berita pernikahan mereka berdua memompa kembali semangat persatuan dan perlawanan rakyat Aceh. Sebaliknya, para hulubalang yang memihak Belanda menjadi khawatir.

Pertempuran berlanjut dan Mukim VI berhasil direbut dari tangan Belanda. Cut Nyak Dien kembali ke kampungnya dan membina rumah tangganya di sana. Di rumah itulah para pejuang bertemu untuk membahas taktik dan strategi perang. Sayang, Cut Nyak Dien harus kembali kehilangan suaminya. Teuku Umar gugur pada saat melakukan penyerbuan ke Meulaboh. Hal ini terjadi karena seorang informan melaporkan rencana penyerangan kepada pihak Belanda.

Saat Cut Gambang, anak satu-satunya, bersedih setelah mendengar berita kematian ayahnya, Cut Nyak Dien segera menampar dan memeluknya. Cut Nyak Dien berpesan kepada puterinya, “Sebagai wanita Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid.”

Perjuangan Cut Nyak Dien berlanjut. Ia mendapat bantuan dari para hulubalang, datuk serta penyair yang selalu mengobarkan semangat perlawanan. Ribuan tentara Belanda tewas, jutaan uang sudah dikeluarkan. Namun, perang gerilya yang dilakukan Cut Nyak Dien belum berhasil dipatahkan. Cut Nyak Dien terus bergerilya di pedalaman Meulaboh. Sementara ia sudah mulai tua, matanya rabun, dan penyakit encok juga datang mendera. Sementara itu, pasukannya semakin sedikit, sedangkan pasukan Belanda sudah terbiasa dengan medan perang Aceh. Kondisi ini membuat pasukannya iba.

foto asli cut nyak dien srikandi pejuang wanita islam Aceh

sumber : wikipedia

Tak tahan dengan kondisi sulit, salah seorang anak buah Cut Nyak Dien menyerah dan memberitahukan posisi Cut Nyak Dien. Dengan syarat, Cut Nyak Dien dirawat sebagai pahlawan dan tidak dijauhkan dari rakyat Aceh yang mencintainya. Syarat tersebut diterima pihak Belanda dan dilakukan operasi penangkapan. Meski beberapa kali pasukan kecil Cut Nyak Dien berhasil meloloskan diri, pada akhirnya mereka ditemukan. Sadar mereka disergap, para pengawal Cut Nyak Dien melakukan perlawanan dan bertempur habis-habisan. Hingga Cut Nyak Dien tertangkap, sedangkan Cut Gambang berhasil meloloskan diri. Pada saat ditangkap, Cut Nyak Dien, yang sudah tidak bisa melihat dengan jelas, mencabut rencongnya dan melakukan perlawanan. Namun aksinya berhasil dipatahkan.

Pada awalnya Cut Nyak Dien dirawat denga baik. Ia pun bisa dikunjungi oleh rakya Aceh. Namun, pihak Belanda khawatir pertemuan mereka akan dijadikan sebagai ajang untuk melakukan perlawanan. Pada akhirnya, salah seorang srikandi pejuang wanita Islam terbaik dari tanah Aceh Cut Nyak Dien diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat dan wafat di sana.

 

2. Laksamana Malahayati, The First Woman Admiral

Jika disebutkan srikandi pejuang wanita Islam Nusantara dari tanah Aceh, pikiran kita akan melayang pada sosok Cut Nyak Dien yang menjadi salah satu sosok pemimpin perlawanan rakyat Aceh melawan pendudukan Belanda. Namun, jauh sebelum Cut Nyak Dien, Aceh telah melahirkan salah seorang pahlawan wanita yang juga gigih mengusir kaum penjajah dari Bumi Serambi Mekkah, dialah Laksamana Malahayati.

Laksamana Malahayati - srikandi pejuang wanita islam - Laksamana Wanita Pertama

sumber : wikipedia

Laksamana Malahayati memiliki nama asli, Keumalahayati. Ia adalah seorang puteri bangsawan berdarah biru. Ayahnya bernama Laksamana Mahmud Syah, sedangkan kakeknya bernama Laksamana Muhammad Said Syah. Nah, sang kakek Keumalahayati tersebut ternyata putera dari Sultan Salahuddin Syah, yang memimpin Kesultanan Aceh Darussalam pada tahun 1530 – 1539 M. Adapun Ayah dari Sultan Salahuddin, yaitu Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah, merupakan pendiri Kesultanan Aceh Darussalam.

Jiwa bahari yang tumbuh dari dalam sanubari Keumalahayati memang tak lepas dari lingkungan para laksamana, pemimpin armada pasukan laut kesultanan Aceh Darussalam. Ayah dan kakeknya seorang laksamana, sedangkan nenek moyangnya adalah negarawan. Inilah yang membentuk Keumalahayati menjadi sosok wanita hebat yang tidak hanya menguasai medan pertempuran laut, tetapi juga negosiasi dan diplomasi.

Segera, setelah menamatkan pendidikan ilmu agamanya di Meunasah, Rangkang dan Dayah, Keumalahayati mendaftarkan diri ke akademi militer Kesultanan Aceh Darussalam. Akademi militer tersebut bernama Askery Beitul Mukaddes yang berarti Prajurit Tanah Suci, selanjutnya biasa diserbut dengan Askar Baitul Makdis.

Dilihat dari namanya, akademi militer ini memang didirikan oleh prajurit Kekhalifahan Turki Utsmani, yang saat itu dikirim oleh Sultan Salim II untuk membantu Aceh melawan Portugis. Kedatangan pasukan Turki di bawah komando Laksamana Kurtoglu Hizir Reis, Armada Utsmani dari Laut Merah, atas permintaan Sultan Aceh ketika itu, Alauddin Ri’ayat Syah Al-Kahhar. Setelah berhasil mengalahkan Portugis, 17 kapal dari 19 kapal yang sampai ke Aceh kembali ke Turki. Sementara sisanya tetap tinggal di Aceh.

Keumalahayati diterima di akademi tersebut dan menjadi salah satu siswa terbaik. Karena prestasinya tersebut, ia diperbolehkan memilih jurusan yang disukainya. Saat itu, Akademi Askar Baitul Makdis memiliki dua jurusan, yaitu Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Adapun Keumalayahayati memilih masuk jurusan Angkatan Laut. Di akademi ini pula Keumalahayati bertemu dengan calon suaminya dan menikah.

Setelah menamatkan pendidikan di Akademi Askar Baitul Makdis, Keumalahayati ditunjuk sebagai Komandan Protokol Istana Darud Dunia di Kesultanan Aceh Darussalaam. Namun, hal ini tidak berlangsung lama. Armada Kesultanan Aceh Darussalam terlibat pertempuran sengit dengan Portugis di Teluk Haru. Armada Aceh dipimpin oleh Sultan Alauddin Ri’ayat Syah, dibantu dua orang laksamananya. Armada Aceh kehilangan dua orang laksamana dan ribuan prajurit, tetapi berhasil memenangkan pertempuran. Salah satu dari dua laksamana yang gugur tersebut adalah suami Keumalahayati.

Keumalahayati pun meminta izin kepada sultan untuk membentuk armada Aceh yang semua prajuritnya berasal dari para janda yang suaminya gugur pada Perang Teluk Haru. Sultan menyetujuinya dan mengangkatnya sebagai Laksamana. Inilah wanita pertama bergelar Laksamana atau Admiral yang membawahi 2.000 pasukan dan 100 kapal (galey). Armada ini disebut dengan Armada Inong Balee.

Pangkalan Armada Inong Balee terletak di Teluk Lamreh Krueng Raya. Untuk memperkuat basis pertahanannya, Laksamana Malahayati membangun benteng di daerah perbukitan di sekitar teluk. Prestasi luar biasa Laksamana Malahayati yaitu saat diperintahkan untuk menyerang armada Belanda di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Alhasil, Cornelis de Houtman dan beberapa anak buahnya terbunuh. Sementara yang terluka dibiarkan kembali ke negaranya.

Laksamana Malahayati juga punya andil besar dalam menyelesaikan masalah internal kesultanan, yaitu ketika ia melengserkan Sultan Ali Ri’ayat Syah yang merampas kekuasaan dari tangan ayahnya, Sultan Alauddin Ri’ayat Syah. Diawali dengan berbagai bencana yang menimpa Kesultanan Aceh seperti kemarau berkepanjangan, pertikaian berdara antarsaudara, dan ancaman pihak Portugis. Sementara Sultan Ali Ri’ayat Syah tidak mampu menanganinya dengan baik. Banyak punggawa kesultanan yang kecewa, diantaranya Darmawangsa Tun Pangkat, kemenakannya sendiri. Darmawangsa ditangkap dan dijebloskan ke penjara.

Namun, Darmawangsa dibebaskan pada saat Portugis menyerang Kesultanan Aceh Darussalam di bawah pimpinan Alfonso de Castro. Pembebasan itu pun tak lepas dari peran Laksamana Malahayati. Mereka pun bertempur dan berhasil mengusir pasukan Portugis. Oleh karena ketidakcakapan Sultan Ri’ayat Syah dalam memimpin negara, Laksamana Malahayati menurunkan sultan dari kekuasaannya. Sementara Kesultanan pada akhirnya diserahkan kepada Darmawangsa dengan gelar Sultan Iskandar Muda, yang memimpin Aceh Darussalam pada zaman keemasan antara tahun 1607 – 1636.

Meski akhir hidup sang srikandi pejuang wanita Islam dari Aceh yang bergelar The First Woman Admiral ini tidak terekam dengan baik oleh sejarah, tetapi sepak terjangnya tak pernah lepas dari sejarah Nusantara, khususnya masyarakat Aceh. Saat meninggal dunia, jasad Malahayati dikebumikan di bukit Krueng Raya, Aceh Besar.

 

3. Nyi Ageng Serang

Srikandi pejuang wanita islam Nusantara berikutnya adalah seorang puteri bungsu dari Bupati Serang kala itu, Panembahan Natapraja. Wanita yang bernama asli RA. Kustiyah Wulaningsih Retno Edi ini menggantikan posisi ayahnya setelah mangkat sebagai Bupati Serang dan kelak lebih dikenal dengan Nyi Ageng Serang. Beliau sangat dekat dengan rakyatnya dan terkenal karena kearifan dan kebijaksanaanya. Tidak mengherankan apabila selama kepemimpinannya, beliau sangat dicintai oleh rakyatnya. Di samping itu, Nyi Ageng Serang pun juga mahir dalam seni perang.

nyi ageng serang - srikandi pejuang wanita islam tanah jawa

sumber : wikipedia

Sebagaimana ayahnya, Nyi Ageng Serang sangat membenci Belanda. Semangatnya untuk bangkit membela rakyat juga didorong kemarahannya akibat gugurnya sang kakak saat membela Pangeran Mangkubumi melawan Paku Buwana I yang didukung Belanda. Menyimpang dari adat kebiasaan Jawa yang masih kuat pada masa itu, Nyi Ageng Serang justru mengikuti latihan-latihan kemiliteran dan siasat perang bersama para prajurit pria. Keberaniannya sangat mengagumkan. Dlaam keyakinannya, selama ada penjajahan di bumi pertiwi masih ada, maka rakyat harus selalu siap bertempur untuk melawan dan mengusir penjajah. Tak heran jika para pemuda dilatih terus menerus dalam kemahiran berperang.

Melihat sikap Natapraja yang tidak tunduk pada Belanda, para penjajah itupun melakukan penyerbuan besar-besaran. Karena sudah tua, pimpinan pertahanan Serang pun diserahkan pada Nyi Ageng Serang dan kakak laki-lakinya. Dalam suatu pertempuran yang sangat sengit putra Panembahan natapraja, saudara laki-laki Nyi Ageng Serang, gugur. Pucuk pimpinan pun langsung dipegang sendiri oleh Nyi Ageng Serang. bersama prajurit yang ada, Nyi Ageng Serang bertempur terus-menerus mempertahankan Serang dari gempuran Belanda.

Para prajurit berguguran, sedangkan Pangeran Mangkubumi pun pada akhirnya mengadakan perdamaian dengan Belanda berdasarkan Perjanjian Giyanti. Tak ada yang membantu basis perlawanan Natapraja. Pada akhirnya, Nyi Ageng Serang berhasil ditangkap. Panembahan Natapraja yang semakin tua dan didera kesedihan itu pun akhirnya wafat.

Nyi Ageng Serang pada akhirnya dibebaskan pada Sultan Hamengkubuwono II naik tahta. Ia pun dikeluarkan dari tahanan Belanda dan diantarkan ke Yogyakarta untuk diserahkan kepada Sultan. Kedatangan Nyi Ageng Serang disambut dengan meriah sesuai tata cara penghormatan ala keraton. Upacara ini dilakukan untuk mengenang jasa almarhum Panembahan Natapraja dan Nyi Ageng Serang selama masa perlawanan.

Sebagai seorang srikandi pejuang wanita islam yang teguh dengan prinsipnya, jiwa perlawanan terhadap segala bentuk penjajahan dalam diri Nyi Ageng Serang belum pupus. Ia meminta izin kepada sultan untuk kembali ke Serang dan dikabulkan. Di Serang, ia menikah dengan Panageran Kusumawijaya. Dari perkawinannya tersebut, ia mendapat seorang putera dan seorang puteri.

patung nyi ageng serang - srikandi pejuang wanita islam tanah jawa

Patung Nyi Ageng Serang

Tingkah laku orang-orang Belanda dan antek-antek pribuminya semakin hari membuat kebencian dalam dada Sultan Hamengkubuwono II membara. Budaya Islami yang selama ini dijalankan di lingkungan keraton, dicemari dengan kegemaran minum-minuman keras dan main wanita. Untuk memperkuat posisinya, Sultan Hamengkubuwono II menikahkan puteranya dengan puteri Nyi Ageng Serang.

Hubungan yang tidak serasi antara pihak sultan dengan pihak Belanda semakin menguat. Bahkan Gubernur Daendels memecah-belah pihak keraton dengan melengserkan Sultan Hamengkubuwono II dari kekuasaanya. Situasi semakin kacau dan pada akhirnya pecahlah Perang Diponegoro yang terkenal dengan sebutan Perang Djawa.

Semangat perlawanan Nyi Ageng Serang kembali bergelora. Ia dan suaminya memihak Pangeran Diponegoro dan bersama-sama mengangkat senjata. Dalam perjalanannya, Pangeran Kusumawijaya gugur di medan pertempuran. Setelah ayah, kakak, dan suaminya gugur, ia pun harus melihat besan dan menantunya di buang ke Penang. Meski begitu, semangat perlawanannya tidak mengendor. Harapannya tertumpu pada sang cucu, Raden Mas Papak. Ia pun menggembleng Raden Mas Papak agar memiliki jiwa perlawanan dan melatihnya denga seni yuda dan kedisiplinan.

Bersama Pangeran Mangkubumi, Nyi Ageng Serang ditempatkan sebagai penasehat. Keberadaan Nyi Ageng Serang bersama para prajurit di garis depan membuat pasukan Belanda selalu berhasil diporak-porandakan. Pangeran Papak yang selama ini digemblengnya pun menunjukkan kehebatan sebagai salah seorang komandan pasukan. Pasukan Papak terkenal juga sebagai Pasukan Natapraja, yang wilayah pertempurannya meliputi wilayah Serang, Purwodadi, Gundih, Demak, Semarang, Kudus, Salatiga, Boyolali, Klaten, dan Magelang.

Walaupun terpaksa dipikul dengan tandu, Nyi Ageng Serang selalu berada di tengah-tengah prajurit untuk menggugah dan tetap menyalakan semangat. Dalam perang-perang besar, ia ikut langsung memberikan komando. Salah satu siasat Nyi Ageng Serang yaitu siasat Daun Lumbu, semacam rumpun dioscorea, berwarna hijau, lebar, agak tebal, tetapi lemas. Selain untuk menutup atau melindungi diri sehingga tidak tampak dari jarak yang agak jauh, daun ini juga bisa digunakan sebagai payung saat hujan dan penahan panas terik matahari. Inilah siasat kamuflase, yang membuat pasukan Nyi Ageng Serang dijuluki sebagai pasukan hantu. Keberadaan pasukan ini sering tidak disadari oleh pasukan Belanda.

Meski lanjut usia dan sakit-sakitan, Nyi Ageng Serang tetap setia mengawal perjuangan Pangeran Diponegoro. Hingga akhirnya sang srikandi pejuang wanita islam dari tanah Jawa inipun kembali keharibaan-Nya pada umur 76 tahun.

 

Semoga Bermanfaat.

Wallahu’alam Bishawab.

author
Author: 

    Leave a reply "Srikandi Pejuang Wanita Islam Indonesia"