Kekuatan Sebuah Harapan (Sifat Roja’) Dalam Perspektif Islam

KEKUATAN SEBUAH HARAPAN (SIFAT ROJA’). Sahabat pembaca Pondok Islami yang dimuliakan Allah, pasti semua setuju kalau yang namanya hidup tentu akan dipenuhi dengan berbagai macam situasi atau kondisi. Terkadang kita dihadapkan pada situasi yang menyenangkan, melapangkan, tapi tidak jarang pula kita harus menghadapi situasi yang penuh dengan cobaan, tantangan yang akan membuat kita merasakan himpitan beban hingga membuat kita menjadi tidak nyaman.

sifat roja

Ada yang bisa bertahan hingga berhasil menghadapi cobaan dan tantangan tersebut dengan baik, ada yang masih harus terus bergulat dengan tantangan dan cobaan itu, ada pula yang gagal dan menyerah ditengah jalan. Tapi sadarkah sahabat, bahwa yang mampu bertahan bahkan hingga mampu keluar sebagai pemenang karena satu element penting.

Apakah elemen penting itu ? Ya, itulah “harapan”. Memiliki harapan akan mampu membangkitkan satu kekuatan dari dalam diri yang akan membuat kita bisa bertahan dalam situasi sesulit apapun. Kekuatan ini mampu membuat kita terus melangkah walaupun terasa berat, mampu menghidupkan kembali semangat yang mungkin sempat meredup, akibat besarnya dinding penghambat di depan kita.

Nah, jika memiliki harapan itu begitu penting, dan besar pengaruhnya bagi manusia, lalu bagaimana Islam memandang harapan, dan bagaimana urgensinya menurut pandangan Islam ?

Artikel berikut ini akan membahas lebih jauh lagi tentang bagaimana harapan ini menurut pandangan Islam dan penjelasan ayat-ayat Al-Quran serta hadits, yang menjadi dasar kajian untuk memberitahu kepada kita bahwa harapan ini memang merupakan elemen yang penting karena dapat membentuk hidup kita menjadi lebih positif.

Harapan dalam Islam: Makna dan Nilainya

Dari sudut pandang Islam, harapan (roja’) memiliki makna berharap hanya kepada Allah, sebagaimana dijelaskan pada laman Islam NU. Dijelaskan lebih lanjut menurut Al-Muhasibi dalam Adabun-Nufus, makna dari roja’ sendiri adalah, berharap hanya kepada Allah, bahwasanya amalan yang dilakukan akan diterima dan mendapatkan balasan dari Allah.

Ini merupakan tingkatan roja‘ yang paling rendah dari seorang hamba pada saat dirinya beramal. Karena pada tingkatan roja’ yang tertinggi, seorang hamba tidak lagi mengharapkan balasan pahala ataupun surga, akan tetapi hanya mengharapkan keridhoan Allah semata, atas apa yang telah dilakukannya.

Dengan mendapatkan ridho-Nya, maka apapun yang Allah berikan atau balas, sudah pasti akan memberikan kebahagiaan bagi hamba-Nya. Keyakinan yang teguh kepada rahmat dan kemurahan Allah merupakan salah satu dari tiga komponen penting dalam ibadah kepada Allah, bersama dengan cinta (mahabbah) dan rasa takut (khauf).

kekuatan sebuah harapan

Harapan (roja’) kepada Allah mendorong umat Muslim untuk tetap optimis, sabar, dan percaya bahwa Allah selalu memiliki rencana yang terbaik untuk setiap hamba-Nya.

1. Harapan (sifat Roja’) sebagai Bagian dari Iman

Harapan atau sifat roja’ adalah bagian integral dari iman, tanpanya, iman akan lemah. Hal ini dikarenakan kepercayaan kepada Allah mencakup keyakinan bahwa Dia akan memberikan yang terbaik untuk kita. Allah berfirman dalam Al-Quran:

قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

Artinya :“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar : 53)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa rahmat Allah sangat luas dan tidak terbatas, sehingga kita tidak boleh berputus asa apapun situasi yang kita hadapi.

2. Harapan (sifat Roja’) Menumbuhkan Ketekunan dan Kesabaran

Harapan kepada Allah mendorong kita untuk tetap tegar dan sabar dalam menghadapi ujian hidup. Nabi Muhammad SAW bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

Artinya : “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya; dan hal ini tidak terjadi pada siapa pun kecuali pada seorang mukmin. Jika ia memperoleh kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu baik baginya.” (HR. Muslim)

Hadits ini mengajarkan bahwa seorang mukmin dapat melihat kebaikan dalam setiap situasi, baik itu dalam kebahagiaan maupun kesulitan.

Kekuatan Harapan dalam Kehidupan Sehari-hari

1. Harapan sebagai Pendorong untuk Berbuat Baik

Harapan kepada Allah tidak hanya membuat kita optimis, tetapi juga mendorong kita untuk terus melakukan perbuatan baik. Kita percaya bahwa setiap tindakan baik yang kita lakukan akan mendapat balasan dari Allah, baik di dunia ini maupun di akhirat.

Rasulullah SAW bersabda:

لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ 

“Tidaklah seorang mukmin meninggal kecuali dia memiliki prasangka baik kepada Allah.” (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan pentingnya memiliki prasangka baik atau harapan kepada Allah hingga akhir hayat kita. Ini memotivasi kita untuk terus berbuat baik dengan keyakinan bahwa Allah akan memberikan balasan yang terbaik.

2. Harapan (Sifat Roja’) Mengatasi Rasa Putus Asa

Dalam hidup, kita sering dihadapkan pada situasi yang tampak mustahil untuk diatasi. Namun, dengan berharap dan bergantung hanya kepada Allah, kita bisa mengalahkan rasa putus asa. Allah SWT berfirman:

فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا۟ ذَوَىْ عَدْلٍ مِّنكُمْ وَأَقِيمُوا۟ ٱلشَّهَٰدَةَ لِلَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ يُوعَظُ بِهِۦ مَن كَانَ يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا

Artinya : “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq : 2-3)

Ayat ini mengajarkan kita bahwa Allah selalu menyediakan jalan keluar bagi hamba-Nya yang bertakwa dan selalu berharap hanya kepada-Nya, bahkan dalam situasi yang paling sulit sekalipun.

3. Harapan (sifat Roja’) Memperkuat Hubungan Sosial

Harapan kepada Allah juga memperkuat hubungan sosial kita. Ketika kita memberikan harapan dan dukungan kepada orang lain, kita tidak hanya membantu mereka menghadapi kesulitan tetapi juga mempererat ikatan persaudaraan. Nabi Muhammad SAW bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

Artinya : “Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)

Dengan menolong sesama, kita membangun jembatan kasih sayang dan saling percaya yang didasarkan pada hanya berharap kepada Allah semata.

Harapan dalam Perspektif Sejarah Islam

1. Kisah Nabi Yusuf: Dari Penjara Menuju Kemuliaan

Kisah Nabi Yusuf AS adalah contoh klasik dari kekuatan sebuah harapan atau sifat roja’ ini. Meskipun dibuang ke sumur oleh saudara-saudaranya, dijual sebagai budak, dan dipenjara karena fitnah, Nabi Yusuf tetap mempertahankan prasangka baik dan yakin akan adanya pertolongan Allah. Akhirnya, Allah mengangkatnya ke posisi tinggi sebagai penguasa di Mesir. Al-Quran mengisahkan:

وَكَذٰلِكَ مَكَّنَّا لِيُوْسُفَ فِى الْاَرْضِ يَتَبَوَّاُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاۤءُۗ نُصِيْبُ بِرَحْمَتِنَا مَنْ نَّشَاۤءُ وَلَا نُضِيْعُ اَجْرَ الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya :“Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri ini; dia bebas pergi ke mana saja yang dia kehendaki di bumi ini. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki, dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf : 56)

Kisah ini mengajarkan kita bahwa berharap dan percaya semata hanya kepada Allah dapat membawa kita dari kegelapan menuju cahaya.

2. Kisah Siti Hajar: Ketabahan dan Harapan di Padang Pasir

Siti Hajar, ibu dari Nabi Ismail AS, menunjukkan kekuatan harapan yang luar biasa ketika ditinggalkan di padang pasir oleh Nabi Ibrahim AS atas perintah Allah. Meskipun sendirian dan tanpa sumber daya, Ibunda Siti Hajar tidak pernah hilang keyakinannya akan pertolongan Allah.

Dia berlari hingga 7 kali bolak-balik antara bukit Safa dan Marwah, mencari air untuk anaknya. Dengan izin Allah, muncullah mata air Zamzam yang kini menjadi sumber air yang abadi.

Kisah ini menggambarkan bagaimana berharap hanya kepada Allah disertai dengan keteguhan hati dan keyakinan penuh hanya kepada Allah semata, dapat membuka pintu keberkahan yang tak terduga.

Cara Menumbuhkan dan Mempertahankan Harapan (Sifat Roja’)

1. Memperkuat Iman Melalui Ibadah

Ibadah adalah cara utama untuk memperkuat iman dan harapan kita kepada Allah. Dengan melaksanakan shalat, berpuasa, membaca Al-Quran, berdoa, berakhlak baik, birrul walidain (berbakti kepada orang tua) akan memperdalam hubungan kita dengan Allah dan memperkuat pengharapan kita pada rahmat-Nya. Allah berfirman:

وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ

Artinya : “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah : 45)

2. Mengingat Janji-janji Allah

Menggali dan mengingat janji-janji Allah dalam Al-Quran membantu kita mempertahankan keyakinan kita akan pertolongan Allah. Allah berjanji untuk memberikan pertolongan dan rahmat kepada hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Allah berfirman:

لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٌ مِّنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦ يَحْفَظُونَهُۥ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوْمٍ سُوٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d :11)

Ayat ini mengingatkan kita meneguhkan prasangka baik kita kepada Allah bahwa perubahan dan pertolongan dari Allah akan datang ketika kita mau berusaha untuk mengubah keadaan kita menjadi lebih baik lagi.

3. Berdzikir dan Berdoa

Dzikir dan doa adalah cara efektif untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperkuat prasangka baik kita kepada-Nya. Dengan berdzikir, kita mengingat Allah dan merasakan kehadiran-Nya dalam setiap aspek kehidupan kita. Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ

Artinya : “Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai oleh Allah dari seorang hamba yang berdoa kepada-Nya.” (HR. Tirmidzi)

4. Berbuat Baik dan Memberikan Harapan kepada Orang Lain

Berbuat baik kepada orang lain dan memberikan mereka harapan adalah salah satu cara terbaik untuk mendapatkan keridhoan-Nya. Dengan menolong dan mendukung orang lain, kita menciptakan lingkungan yang positif dan saling mendukung, yang pada gilirannya memperkuat iman dan harapan kita.

Rasulullah SAW bersabda, yang artinya :

“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai Allah SWT adalah: memasukan kebahagiaan pada hati seorang Muslim yang lain bahagia, menghilangkan kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya, menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang Muslim untuk membantu keperluannya, lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini (masjid Nabawi) selama sebulan penuh…” (HR. Thabarani) 

5. Tetap Bersabar dan Berprasangka Baik kepada Allah

Bersabar dalam menghadapi ujian dan tetap memiliki prasangka baik kepada Allah adalah kunci untuk mempertahankan harapan. Ketika kita percaya bahwa setiap ujian adalah bentuk kasih sayang dan rencana terbaik dari Allah, kita dapat menghadapi setiap tantangan dengan hati yang lebih kuat. Allah berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya : “Mungkin kamu membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu, dan mungkin kamu menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al-Baqarah : 216)

Harapan (sifat roja’) adalah elemen penting yang mampu memberikan kekuatan dan arah dalam hidup kita. Dalam perspektif Islam, harapan kepada Allah adalah bentuk kepercayaan yang mendalam kepada rahmat dan kebijaksanaan-Nya.

Harapan ini membantu kita untuk tetap optimis, sabar, dan berprasangka baik dalam menghadapi setiap tantangan. Melalui ibadah, doa-doa, dan akhlak mulia, kita dapat menumbuhkan dan mempertahankan harapan yang kuat kepada Allah.

Harapan ini bukan hanya memotivasi kita untuk terus maju dalam hidup, tetapi juga memperkuat hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama. Sebagai umat Muslim, kita diajarkan untuk tidak pernah putus asa dari rahmat Allah dan selalu berharap yang terbaik dari-Nya.

Dengan memiliki harapan atau sifat roja’ yang kuat, tulus serta penuh kepercayaan dan keyakinan hanya kepada Allah, kita dapat menghadapi segala rintangan dan mencapai keberkahan yang luar biasa dalam hidup kita.

Wallahu’alam bishawab.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Investasi terbaik untuk pendidikan anak di rumah
This is default text for notification bar