Benarkah Gadget Menyebabkan Kerusakan Otak atau Brain Rot?

KERUSAKAN OTAK / BRAIN ROT. Bayangkan sebuah sore di kafe, kamu niatnya cuma mau buka HP sebentar, scroll TikTok atau Instagram sekadar hiburan. Tapi tahu-tahu, dua jam lewat tanpa sadar.

Kepala agak berat, konsentrasi buyar, dan rasanya kayak blank. Pernah ngalamin? Kalau iya, bisa jadi kamu sedang merasakan gejala yang sering disebut orang dengan istilah brain rot.

kerusakan-otak-brainrot

Tapi, pertanyaannya: benarkah gadget benar-benar bisa menyebabkan kerusakan otak? Atau sekadar mitos anak zaman sekarang? Mari kita kupas tuntas, dengan santai dan apa adanya.

Apa Itu Kerusakan Otak atau Brain Rot?

Istilah brain rot sebenarnya bukan istilah medis resmi. Ini lebih ke istilah gaul internet untuk menggambarkan kondisi saat otak terasa “lapuk” gara-gara terlalu sering terpapar konten yang cepat, dangkal, dan adiktif.

Mengacu kepada laman Alodokter, brain rot adalah kondisi ketika kemampuan berpikir menurun karena terlalu sering menonton konten berkualitas rendah atau receh di internet.

Istilah lain yang mungkin lebih mendekati yaitu pembusukan otak. Misalnya, Nonton video pendek berjam-jam tapi habis itu nggak ingat apa-apa. Sulit fokus baca artikel panjang (kayak artikel ini ). Cepat bosan kalau aktivitas nggak ada stimulasi instan.

Jadi, brain rot bukan berarti otak benar-benar “rusak” atau “membusuk”, tapi lebih ke turunnya kualitas fokus, daya ingat, dan produktivitas karena konsumsi konten berlebihan.

Hubungan Gadget dan Kerusakan Otak

Sekarang kita masuk ke pertanyaan utama, apakah gadget bisa merusak otak? Jawabannya: iya dan tidak.

proses-pembusukan-otak

Sisi Negatif Gadget terhadap Otak

Beberapa riset menunjukkan dampak negatif gadget pada otak, terutama jika digunakan berlebihan:

  1. Dopamin overload. Setiap kali kita scroll media sosial, otak melepas dopamin, hormon “senang” yang bikin nagih. Lama-lama, otak terbiasa dengan stimulasi cepat, sehingga aktivitas normal (seperti baca buku, belajar, atau ngobrol) terasa membosankan.
  2. Menurunkan fokus dan konsentrasi. Menurut studi dari University of California, rata-rata orang dewasa hanya bisa fokus 8 detik sebelum terdistraksi, lebih singkat daripada ikan mas! Media sosial dan notifikasi gadget punya peran besar di sini.
  3. Gangguan tidur. Cahaya biru dari layar gadget bisa menghambat produksi melatonin, hormon yang bikin ngantuk. Akibatnya, tidur jadi susah, kualitas istirahat menurun, dan otak tidak sempat “membersihkan diri” dari racun metabolisme.
  4. Memengaruhi perkembangan otak anak. American Academy of Pediatrics menyarankan anak di bawah 2 tahun sebaiknya tidak terpapar layar sama sekali, karena otaknya masih berkembang dan belajar lebih baik lewat interaksi nyata ketimbang konten digital.

Sisi Positif Gadget terhadap Otak

Namun, bukan berarti gadget selalu jahat. Justru kalau dipakai dengan bijak, gadget bisa jadi alat bantu luar biasa:

  • Belajar interaktif lewat aplikasi edukasi, video pembelajaran, atau online course.
  • Meningkatkan memori lewat catatan digital, kalender, atau reminder.
  • Melatih keterampilan otak lewat game puzzle, coding apps, atau simulasi kreatif.
  • Akses ilmu tanpa batas, dari tafsir kitab sampai tutorial masak, semua bisa dipelajari lewat layar.

Artinya, gadget bukan penyebab langsung kerusakan otak. Yang bikin rusak adalah cara kita memakainya.

Kisah Nyata: Antara Brain Rot dan Produktivitas

Izinkan penulis cerita sedikit. Beberapa waktu lalu, penulis sempat kecanduan nonton video pendek. Awalnya cuma buat hiburan, lama-lama, waktu baca buku berkurang drastis. Bahkan, saat duduk menulis artikel pun, konsentrasi gampang pecah.

Penulis sadar, otak mulai terbiasa dengan “dopamin instan”. Rasanya butuh stimulasi cepat terus-menerus. Ini yang disebut orang sebagai brain rot.

Titik baliknya, ketika penulis coba “detoks digital”. Mulai dengan hal sederhana:

  • Membatasi waktu menonton video-video pendek
  • Ganti jam sebelum tidur dengan baca buku fisik.
  • Gunakan gadget untuk hal produktif: belajar, kerja, atau komunikasi penting.

Hasilnya? Alhamdulillah dalam dua minggu, kualitas tidur membaik, fokus meningkat, dan yang paling kerasa, akhirnya bisa menikmati kembali aktivitas sederhana seperti membaca panjang.

Fakta Ilmiah: Apakah Otak Benar-benar Rusak?

Otak manusia punya kemampuan yang luar biasa: neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak beradaptasi dan membentuk jalur saraf baru.

mencegah-brainrot

Artinya, meskipun gadget bisa membuat otak terbiasa dengan stimulasi cepat, kerusakan itu tidak permanen. Dengan latihan fokus, kebiasaan sehat, dan penggunaan gadget yang bijak, otak bisa “sembuh” dan kembali tajam.

Beberapa cara ilmiah yang terbukti membantu otak pulih dari brain rot:

  • Digital detox – kurangi screen time secara bertahap.
  • Latihan fokus – meditasi, menulis jurnal, atau membaca buku panjang.
  • Tidur cukup – 7–8 jam sehari, biar otak sempat meregenerasi sel.
  • Olahraga rutin – meningkatkan aliran darah ke otak.
  • Sosialisasi langsung – ngobrol dengan orang nyata meningkatkan kecerdasan emosional.

Mengapa Kita Mudah Terjebak Brain Rot?

Ada alasan psikologis mengapa gadget sangat bikin ketagihan:

  • Algoritma personalisasi, konten yang muncul selalu sesuai minat kita, bikin susah berhenti.
  • FOMO (Fear of Missing Out), takut ketinggalan info terbaru, gosip, atau tren.
  • Reward instan, setiap like, komen, atau notifikasi bikin otak merasa “berharga”.

Kombinasi ini membuat gadget terasa seperti candu digital. Kita tidak sadar, tapi otak kita dilatih untuk mencari kesenangan cepat, mengabaikan kesabaran dan proses panjang.

Jadi, Benarkah Gadget Menyebabkan Kerusakan Otak/Brain Rot?

Jawaban singkatnya: gadget tidak secara langsung merusak otak, tapi penggunaan yang salah bisa menimbulkan gejala pembusukan otak atau “brain rot”.

Kalau gadget dipakai cuma untuk hiburan cepat tanpa batas, otak jadi tumpul. Kalau gadget dipakai untuk belajar, bekerja, dan mengembangkan diri, otak justru makin tajam.

Sama seperti pisau: bisa dipakai untuk masak, bisa juga melukai. Semua tergantung cara kita menggunakannya.

Tips Bijak Menggunakan Gadget Agar Otak Tetap Sehat

Biar artikel ini nggak sekadar bikin kamu was-was, berikut tips praktis yang bisa langsung dicoba, berdasarkan pengalaman pribadi dan dari beberapa sumber terpercaya :

  • Atur screen time
    Batasi maksimal 2 jam sehari untuk hiburan (di luar kerja/belajar).
  • Gunakan mode fokus
    Aktifkan mode “Do Not Disturb” saat kerja, belajar, atau waktu ibadah.
  • Konten berkualitas
    Pilih tontonan atau bacaan yang bermanfaat. Ganti sebagian waktu scroll dengan podcast, audiobook, atau kursus online.
  • Jangan multitasking berlebihan
    Fokus ke satu hal dalam satu waktu. Otak lebih efisien kalau tidak dipaksa lompat-lompat.
  • Ritual tanpa gadget
    Sediakan waktu tertentu bebas gadget: sebelum tidur, saat makan, atau ketika bersama keluarga.

Jadi, kalau ada yang bertanya, “Benarkah gadget menyebabkan kerusakan otak atau brain rot?” jawabannya: tidak secara permanen, tapi bisa kalau kita biarkan diri hanyut tanpa kontrol.

Otak kita ibarat taman. Kalau tiap hari ditanami “konten receh” yang instan, lama-lama isinya hanya semak belukar. Tapi kalau kita rawat dengan bacaan berkualitas, interaksi bermakna, dan latihan fokus, otak bisa tumbuh subur dengan ide-ide segar.

Gadget hanyalah alat. Yang menentukan apakah otak kita layu atau berkembang, tetap kita sendiri. Semoga bermanfaat.

Barakallahu fiikum.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Main Kartu Tapi Isinya Pahala
This is default text for notification bar