Kisah Teladan Ayah Dalam Al-Qur’an. Menjadi ayah itu unik, karena kalau dipikir-pikir, hampir semua profesi butuh proses belajar. Mau jadi dokter harus kuliah bertahun-tahun, jadi guru ada pendidikannya, bahkan untuk bisa mengendarai mobil kita harus mengikuti pelatihan dan lulus ujian.
Akan tetapi, menjadi ayah? Hingga tulisan ini ditulis, yang penulis ketahui belum ada sekolah yang benar-benar mengajarkan itu. Entah mungkin nanti, beberapa waktu ke depan.
Saat seorang laki-laki menikah, kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengaruniakan seorang anak, maka sejak saat itulah statusnya berubah. Bukan hanya sebagai seorang suami, tetapi juga sebagai seorang ayah. Datangnya begitu saja, tanpa masa orientasi, tanpa buku panduan yang benar-benar lengkap.
Mungkin karena itulah banyak ayah yang akhirnya belajar sambil menjalani perannya, istilah yang sering kita kenal sebagai learning by doing. Belajar saat anak lahir, belajar saat anak mulai berjalan, belajar saat anak mulai bertanya. Bahkan, tidak jarang kita baru belajar setelah melakukan kesalahan.
Kalau direnungkan, sebagian besar cara kita mendidik anak kita sebenarnya berasal dari pola asuh di rumah tempat kita dibesarkan. Cara ayah berbicara kepada kita, cara ibu menenangkan kita ketika kita menangis, kebiasaan yang ada di rumah, semuanya perlahan membentuk cara kita memperlakukan anak-anak sendiri.
Kalau kita dibesarkan dalam keluarga yang hangat, yang terbiasa berdialog, saling menghargai, dan menjadikan agama sebagai pegangan, tentu itu adalah nikmat yang patut disyukuri. Besar kemungkinan suasana yang sama juga akan kita hadirkan di rumah kita nanti.
Namun, tidak semua orang memiliki pengalaman seperti itu. Ada seorang ayah yang tumbuh dalam keluarga yang komunikasinya kaku. Tidak sedikit pula yang lebih sering mendengar bentakan daripada pelukan. Begitu juga ada ayah yang tumbuh sejak kecil hanya dengan ibunya; ayah ada, tapi nyaris tidak pernah benar-benar mengenal sosok ayahnya.
Lalu muncul pertanyaan yang mungkin tidak pernah kita ucapkan, tetapi sering hadir dalam hati, “Kalau dulu saya tidak mendapatkan contoh yang baik, bagaimana saya bisa menjadi ayah yang baik untuk anak-anak saya?”
Menurut saya, pertanyaan itu justru menunjukkan bahwa kita sadar diri, kita merasa memiliki kekurangan dan ingin memperbaikinya dengan belajar. Menjadi ayah tidak otomatis membuatnya tahu segalanya.
Menjadi ayah adalah proses yang terus berjalan. Semakin anak bertumbuh, semakin banyak hal baru yang harus dipelajari. Cepat atau lambat, setiap ayah akan sampai pada fase yang kurang lebih sama.
Anak yang dulu semasa kecil selalu menurut pada kita, kini semakin beranjak usianya dan mulai memiliki pendapat sendiri. Mereka mulai bertanya mengapa aturan itu harus dipatuhi.
Mereka mulai menyampaikan alasan, bahkan terkadang tidak setuju dengan keputusan orang tuanya, dan di momen seperti inilah emosi seorang ayah sering diuji. Ada yang langsung meninggikan suara karena merasa kewibawaannya sedang dipertanyakan.
Ada yang memilih mengakhiri pembicaraan dengan kalimat, “Pokoknya ikut kata Ayah.” Namun, ada juga yang mencoba mendengar lebih dulu, bukan karena anak selalu benar, tetapi karena ia sadar bahwa anak sedang bertumbuh melewati proses perkembangan alaminya, belajar berpikir.
Perbedaan respons itu biasanya lahir dari bekal yang dimiliki masing-masing orang tua, khususnya seorang ayah. Ada yang hanya mengandalkan pengalaman masa kecilnya, ada pula yang terus menambah ilmu karena menyadari bahwa menjadi ayah juga berarti menjadi pembelajar seumur hidup.
Alhamdulillahnya, hari ini sebetulnya kesempatan untuk belajar jauh lebih terbuka. Buku-buku parenting lebih mudah ditemukan. Kajian tentang keluarga semakin banyak dan seminar serta kelas pengasuhan juga terus bermunculan. Tinggal kita yang memilih, mau berhenti pada pengalaman sendiri atau membuka diri untuk terus belajar.
Lalu, di antara begitu banyak teori tentang parenting, muncul satu pertanyaan yang jauh lebih penting. Kalau Islam mengajarkan tentang salat, zakat, muamalah, bahkan adab makan dan tidur, tentu Islam juga memiliki panduan tentang bagaimana seorang ayah mendidik anak. Tapi di manakah kita menemukannya?
Menariknya, Al-Qur’an tidak menyusun jawabannya dalam bentuk daftar sepuluh langkah untuk menjadi ayah yang ideal, misalnya. Allah subhanahu wa ta’ala melalui Al-Qur’an justru mengajarkan kita melalui kisah.
Kita diajak menyaksikan bagaimana para nabi berbicara kepada anak-anak mereka. Bagaimana mereka mendampingi keluarganya, menghadapi ujian, menegur dengan kasih sayang, hingga tidak pernah berhenti mendoakan orang-orang yang mereka cintai.
Melalui kisah-kisah teladan itulah kita belajar bahwa mendidik anak ternyata bukan hanya soal membuat aturan, bukan juga sekadar memastikan anak akan patuh pada setiap nasihat orangtuanya.
Ada hubungan yang harus dibangun terlebih dahulu, ada keteladanan yang harus lebih dulu dicontohkan, dan ada doa yang dipanjatkan tanpa pernah putus. Sebab, sehebat apa pun usaha seorang ayah, hati seorang anak tetap berada dalam genggaman Allah.
Pada tulisan sebelumnya tentang peran ayah dalam mendidik anak, kita telah belajar dari nasihat Luqman kepada putranya. Kali ini, kita akan melanjutkan perjalanan itu melalui dua sosok ayah yang kisahnya begitu kuat diabadikan dalam Al-Qur’an: Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub.
Keduanya hidup pada zaman yang sangat berbeda dengan kita. Mereka tidak menghadapi media sosial, gawai, atau berbagai tantangan keluarga modern seperti hari ini. Namun, anehnya, semakin kisah mereka dibaca, semakin terasa bahwa pelajaran yang mereka tinggalkan justru tidak pernah kehilangan relevansinya.
Teladan Menjadi Ayah Lewat Nabi Ibrahim
Kalau ditanya, kisah Nabi Ibrahim yang paling sering kita dengar itu yang mana, mungkin sebagian besar dari kita akan langsung teringat pada peristiwa penyembelihan Nabi Ismail. Memang, kisah itu luar biasa bukan karena beratnya ujian yang Allah berikan, tetapi juga karena besarnya ketaatan yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim dan putranya.
Namun, terus terang, ada satu bagian dari kisah itu yang belakangan justru lebih sering membuat saya berhenti sejenak, bukan tentang perintah menyembelihnya. Tetapi tentang percakapan antara seorang ayah dan anaknya.
Nabi Ibrahim Mengajarkan Bahwa Ayah Perlu Berdialog
Allah menceritakannya dalam Surah Ash-Shaffat ayat 102.
“Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”
Kalau kita membacanya sekilas, mungkin ayat ini terasa biasa saja, padahal justru di sinilah ada pelajaran yang sangat besar. Coba kita bayangkan situasinya: Nabi Ibrahim baru saja menerima perintah dari Allah melalui mimpi.
Sebagai seorang nabi, beliau tentu tahu bahwa perintah itu harus dijalankan. Beliau sebenarnya bisa saja langsung berkata,
“Ismail, ikut Ayah.”
Atau,
“Ini perintah Allah. Kamu harus menurut.”
Selesai. Tidak ada yang salah dengan itu, tapi ternyata bukan itu yang beliau lakukan. Beliau memilih berbicara lebih dulu. Beliau membuka ruang percakapan agar putranya mengetahui apa yang sedang terjadi dan beliau melibatkan Ismail dalam menghadapi ujian tersebut.
Ini yang menarik, karena Nabi Ibrahim bukan sedang meminta izin kepada Ismail. Para ulama tafsir, termasuk Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa perintah Allah tetap wajib dilaksanakan, tidak bergantung pada persetujuan Ismail.
Lalu mengapa beliau bertanya? Karena ada adab yang sedang diajarkan, ada kelembutan yang sedang dicontohkan, dan ada hati seorang anak yang sedang dipersiapkan untuk menghadapi ujian yang tidak ringan.
Saya rasa di sinilah banyak ayah, termasuk saya sendiri, perlu banyak belajar. Terkadang kita terlalu sibuk memastikan anak patuh, sampai lupa membantu mereka memahami alasan di balik sebuah keputusan.
Padahal, itu merupakan dua hal yang berbeda. Anak yang hanya terbiasa menerima perintah mungkin akan patuh ketika ayahnya ada di dekatnya, tapi ketika tidak ada yang mengawasi? Belum tentu.
Sebaliknya, anak yang memahami alasan di balik sebuah aturan biasanya akan membawa nilai itu ke mana pun ia pergi. Bukan karena takut kepada orang tuanya, tapi karena ia mengerti mengapa hal itu harus dilakukan.
Kalau dipikir-pikir, masalah seperti ini masih sering terjadi di rumah kita, bukan? Berapa banyak percakapan antara ayah dan anak yang isinya hanya berupa instruksi?
“Belajar.”
“Matikan HP.”
“Jangan main terus.”
“Sudah Ayah bilang.”
Kalimat-kalimat itu tentu tidak salah. Sesekali memang perlu dilakukan karena namanya juga orang tua. Tetapi kalau hampir setiap komunikasi hanya berisi perintah, kapan anak punya kesempatan untuk belajar menyampaikan isi pikirannya? Kapan ia merasa bahwa pendapatnya juga didengar?
Padahal, mendengar bukan berarti selalu mengikuti keinginan anak, ini yang kadang disalahpahami. Berdialog tidak sama dengan menyerahkan seluruh keputusan kepada anak, karena pada akhirnya bisa saja orang tua tetap akan memutuskan.
Akan tetapi proses menuju keputusan itulah yang bisa membuat anak merasa dihargai, dan perasaan dihargai sering kali menjadi pintu lahirnya kepercayaan. Saya jadi teringat dengan banyak cerita para ayah di komunitas Forum Ayah Bandung, di mana saya aktif sebagai pengurusnya.
Ada yang berkata, “Anak saya sekarang sudah jarang bercerita.”
Ada juga yang mengeluh, “Kalau ada masalah, dia lebih memilih curhat ke temannya.”
Sesungguhnya kalau hal seperti itu terjadi, mungkin yang perlu kita renungkan bukan hanya anaknya, tapi bisa jadi, selama ini rumah belum menjadi tempat yang cukup nyaman untuk berdialog.
Nabi Ibrahim mengajarkan sesuatu yang sederhana, tetapi dampaknya besar, yaitu tentang kewibawaan seorang ayah yang ternyata tidak berkurang hanya karena ia mau mendengar anaknya. Bahkan justru dari situlah rasa hormat anak tumbuh dengan cara yang lebih sehat. Anak menghormati ayahnya bukan semata-mata karena takut, melainkan karena percaya, dan kepercayaan seperti itulah yang jauh lebih bertahan lama.
Jawaban Nabi Ismail Tidak Dibentuk dalam Semalam
Setelah mendengar apa yang disampaikan ayahnya, Nabi Ismail memberikan jawaban yang luar biasa.
“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. As-Saffat: 102)
Setiap kali membaca ayat ini, saya selalu membayangkan satu hal, bagaimana mungkin seorang anak bisa menjawab setenang itu? Kalau yang datang adalah perintah biasa, mungkin kita masih bisa memahaminya.
Akan tetapi, ini bukan perintah biasa, melainkan ujian yang bahkan kalau hanya dibayangkan saja sudah membuat hati terasa sesak. Namun, Ismail tidak membantah, tidak pula bertanya, “Kenapa harus aku?” atau berkata, “Bukankah masih ada cara lain?”
Kalimat yang keluar justru kalimat penuh keyakinan, “Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”
Menurut saya, jawaban seperti ini tidak mungkin lahir begitu saja, hanya karena beliau adalah seorang Nabi Allah. Tapi respons yang lahir dari hasil pendidikan dan kebiasaan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Anak yang sejak kecil dibiasakan berkata jujur biasanya saat dewasa pun terbiasa bersikap jujur. Sangat jarang kita temui tanpa pembiasaan sejak kecil, tiba-tiba seseorang menjadi jujur ketika dewasa.
Anak yang terbiasa menghormati orang tua juga bukan karena pembiasaan satu atau dua kali saja, tapi semuanya dibangun pelan-pelan, sedikit demi sedikit, hari demi hari. Itulah yang terjadi dengan Nabi Ismail, dan inilah yang Allah jadikan sebagai sebuah hikmah pembelajaran bagi kita.
Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini memberi isyarat tentang panjangnya proses pendidikan yang telah beliau jalani bersama ayahnya. Artinya, sebelum ujian besar itu datang, sudah ada begitu banyak hari-hari biasa yang diisi dengan pendidikan, keteladanan, kasih sayang, pembiasaan ibadah, pengenalan tentang siapa Allah dan terjalinnya hubungan yang begitu dekat antara ayah dan anak.
Karena itulah, ketika ujian datang, karakter yang selama ini dibangun akhirnya terlihat. Inilah pelajaran penting yang mungkin sering terlewat. Kadang kita berharap anak mampu bersikap tenang ketika menghadapi masalah besar.
Padahal, keseharian di rumah belum tentu mendukung terbentuknya karakter seperti itu. Kita ingin anak jujur, tapi bagaimana kalau dalam keseharian ia lebih sering melihat orang tuanya mencari alasan?
Kita ingin anak sabar, tapi ternyata setiap masalah yang terjadi di rumah selalu diselesaikan dengan bentakan, dengan emosi? Kita ingin anak dekat dengan Allah, tapi setiap hari diperlihatkan dengan perilaku ayahnya sendiri yang tidak sungguh-sungguh menjaga salatnya.
Anak-anak lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat dibandingkan dengan apa yang mereka dengar. Oleh karenanya, pendidikan karakter sebenarnya dimulai jauh sebelum karakter itu diuji. Bukan saat masalah datang, melainkan ketika hari-hari masih berjalan biasa.
Setelah Ikhtiar, Jangan Lupakan Doa
Ada satu hal lagi yang saya rasakan sangat indah dari kisah Nabi Ibrahim. Beliau bukan hanya mendidik dengan perkataan, tapi juga dengan contoh teladan lewat tindakan. Beliau selalu terus berdoa, dan ini yang mungkin menjadi bagian yang kadang luput dari perhatian.
Hari ini banyak orang tua benar-benar berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Mereka memilih sekolah yang baik, mencari lingkungan yang baik, membatasi pergaulan, mengurangi waktu bekerja agar bisa lebih banyak bersama keluarga.
Semua itu tentu bagian dari ikhtiar yang sangat baik dan sesuai dengan ajaran Islam agar kita selalu berusaha sebaik mungkin. Akan tetapi, Nabi Ibrahim mengingatkan kita bahwa sehebat apa pun usaha manusia, tetap ada satu hal yang berada di luar jangkauan kita.
Yaitu hati, dan hati anak bukan milik kita, karena ia berada dalam kekuasaan Allah. Mungkin karena itulah Nabi Ibrahim tidak pernah berhenti berdoa. Allah mengabadikan doa beliau dalam Surah Ibrahim ayat 40.
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku termasuk orang-orang yang tetap mendirikan salat.”
Ayat ini rasanya sangat menyentuh kita sebagai seorang ayah, seorang kepala keluarga. Mengapa? Karena yang memanjatkan doa itu adalah Nabi Ibrahim, salah seorang nabi. Beliau telah memberikan teladan yang luar biasa, beliau berhasil mendidik keluarganya dengan penuh keimanan, tapi ternyata beliau tetap memohon kepada Allah.
Kalau seorang nabi saja masih terus berdoa untuk anak-anaknya, lalu bagaimana dengan kita? Di sinilah saya merasa mendapat pelajaran yang sangat menenangkan, karena sering kali kita sebagai ayah merasa sudah melakukan segalanya.
Sudah bekerja keras, sudah meluangkan waktu, sudah berusaha menjadi contoh teladan yang baik untuk anak-anak kita, tapi anak kita tetap saja melakukan kesalahan. Sebaliknya, ada pula orang tua yang merasa dirinya masih penuh kekurangan, tetapi Allah menganugerahkan anak-anak yang saleh.
Apa artinya? Bukan berarti usaha tidak penting; malah, justru usaha adalah bagian dari ibadah yang dianjurkan. Akan tetapi, yang ingin diajarkan Nabi Ibrahim adalah bahwa hasil akhirnya bukan sepenuhnya berada di tangan kita.
Ada wilayah yang hanya bisa disentuh oleh doa, karenanya, jangan pernah merasa doa hanyalah merupakan pelengkap. Islam sudah mengajarkan kita bahwa doa adalah bagian penting dalam proses mendidik anak.
Diawali sejak mereka lahir ke dunia ini, saat mereka mulai bersekolah, saat mereka beranjak remaja, hingga kelak mereka telah memiliki keluarga sendiri. Doa ayah kepada anak-anaknya jangan pernah terputus, karena inilah bentuk kerendahan hati seorang ayah di hadapan Rabb-nya.
Ia berusaha semampunya, lalu mengakui bahwa ada banyak hal yang tidak sanggup ia kendalikan, dan untuk itulah ia terus mengetuk pintu langit dengan doa.
Nabi Ya’qub dan Kekhawatiran Seorang Ayah
Kalau kisah teladan Nabi Ibrahim mengajarkan bagaimana membangun hubungan dengan anak, maka Nabi Ya’qub mengajarkan sesuatu yang lain. Beliau menunjukkan apa yang paling layak dikhawatirkan oleh seorang ayah.
Coba kita renungkan, kalau hari ini ada orang tua ditanya, “Apa harapan terbesar untuk anak-anaknya?” Jawabannya mungkin bermacam-macam.
Ada yang ingin anaknya lulus di kampus terbaik, ada yang berharap anaknya punya pekerjaan yang mapan, ada yang bercita-cita melihat anaknya hidup berkecukupan, memiliki rumah yang nyaman, dan memiliki keluarga yang harmonis.
Tidak ada yang salah dengan semua harapan itu, semuanya wajar. Saya pun yakin hampir semua orang tua menginginkan hal yang sama. Tetapi ketika kita membaca kisah teladan Nabi Ya’qub dalam Al-Qur’an, ternyata ada sesuatu yang jauh lebih beliau pikirkan.
Menjelang akhir hayatnya, ketika beliau merasa waktunya di dunia sudah tidak lama lagi, beliau memanggil anak-anaknya. Bayangkan suasana itu, seorang ayah yang tahu bahwa perpisahan sudah dekat.
Kalau berada di posisi seperti itu, kira-kira apa yang pertama kali akan kita bicarakan? Bisa jadi soal harta warisan, mungkin juga soal pesan untuk menjaga ibu mereka, atau mungkin tentang pembagian tanggung jawab di dalam keluarga.
Namun, Nabi Ya’qub justru mengajukan satu pertanyaan yang Allah abadikan dalam Surah Al-Baqarah ayat 133.
“Apa yang akan kalian sembah sepeninggalku?”
Jujur, setiap kali membaca ayat ini, saya selalu merasa sedang diingatkan. Beliau tidak bertanya tentang sawah, tidak bertanya tentang rumah, tidak juga bertanya siapa yang akan menjadi kepala keluarga setelah beliau wafat.
Yang beliau khawatirkan justru sesuatu yang tidak bisa dihitung dengan angka: keimanan anak-anaknya. Mengapa?
Karena Nabi Ya’qub memahami satu hal, yaitu harta bisa habis, jabatan bisa hilang, kesehatan juga bisa berubah, tapi kalau iman tetap terjaga, insya Allah anak akan memiliki pegangan dalam menghadapi semua itu.
Mengapa Nabi Ya’qub Masih Bertanya?
Ada pertanyaan yang mungkin muncul seperti itu: bukankah anak-anak Nabi Ya’qub tumbuh di rumah seorang nabi? Bukankah mereka sudah mengenal Allah sejak kecil? Lalu mengapa beliau masih menanyakan hal itu?
Para ulama menjelaskan bahwa pertanyaan tersebut bukan karena Nabi Ya’qub meragukan keimanan mereka. Beliau sedang meminta penegasan sekaligus komitmen dari anak-anaknya untuk tetap bertauhid setelah dirinya tiada.
Inilah pelajaran yang sangat dalam dari kisah teladan Nabi Ya’qub, yaitu tentang warisan terbesar seorang ayah untuk anak-anaknya, bukan apa yang bisa ditinggalkan di dunia. Akan tetapi, apa yang tetap dibawa anak sampai akhir hidupnya.
Hari ini banyak orang tua bekerja keras demi masa depan anak, menabung sejak mereka masih kecil, mempersiapkan biaya sekolah, mencicil rumah untuk masing-masing anak mereka, sampai membangunkan sebuah usaha yang nanti bisa diwariskan.
Sekali lagi, tidak ada yang salah, semua itu adalah bentuk kasih sayang dan islam tidak melarangnya, bahkan itu adalah bagian dari tanggung jawab. Akan tetapi, Al-Qur’an mengajak kita melihat urutan prioritas.
Kalau harta diwariskan tanpa iman, apakah harta itu benar-benar akan menyelamatkan anak? Sebaliknya, kalau seorang anak memiliki iman yang kokoh, meskipun hidupnya sederhana, ia tetap memiliki arah dalam menjalani kehidupannya.
Mungkin karena itulah Nabi Ya’qub lebih dulu memastikan akidah anak-anaknya. Bukan karena urusan dunia tidak penting, tapi karena ada yang jauh lebih penting daripada itu.
Menjadi Orang Tua Seumur Hidup
Ada kalimat yang cukup sering saya dengar: “Nanti kalau anak sudah besar, tugas orang tua selesai.” Entah mengapa, saya rasa kalimat itu kurang tepat. Kalau melihat kisah Nabi Ya’qub di atas, justru sebaliknya: peran orang tua memang berubah, tapi tidak pernah benar-benar selesai.
Saat anak masih kecil, kita lebih banyak mengajari, saat mereka mulai remaja, kita lebih sering mengingatkan, saat mereka dewasa, mungkin kita tidak lagi menentukan pilihan hidup mereka.
Namun, bukan berarti berhenti peduli; kita tetap mendoakan, tetap mengingatkan ketika diperlukan, tetap menjadi tempat pulang ketika hidup mereka sedang tidak baik-baik saja.
Lihatlah Nabi Ya’qub, anak-anak beliau saat itu bukan lagi anak kecil bahkan sebagian sudah berkeluarga. Akan tetapi kasih sayang beliau tidak berkurang sedikit pun. Beliau tetap memikirkan keadaan iman mereka.
Saya rasa, di sinilah letak cinta seorang ayah. Semakin bertambah usia anak, bentuk perhatian memang berubah, namun doanya tidak pernah berhenti.
Mungkin itu sebabnya banyak ayah yang tidak pandai mengungkapkan perasaan, tidak sering berkata, “Ayah sayang.” Tetapi hampir setiap selesai salat, nama anak-anaknya selalu ikut disebut dalam setiap doa-doanya.
Barangkali, itulah salah satu bentuk cinta yang paling tulus dari sosok seorang, yang kita kenal sebagai “ayah”.
Dua Kisah Teladan, Pola Asuh Ayah Yang Utuh
Semakin lama saya membaca kisah dua nabi ini, semakin terasa bahwa keduanya seperti saling melengkapi. Nabi Ibrahim mengajarkan bagaimana seorang ayah membangun hubungan dengan anak, sedangkan Nabi Ya’qub mengingatkan, hubungan itu seharusnya dibawa ke mana.
Yang satu berbicara tentang proses, yang satu lagi berbicara tentang tujuan. Kalau dua pelajaran ini dipadukan, kita mendapatkan gambaran yang cukup utuh tentang pola asuh seorang ayah dalam Islam.
Ternyata yang dikejar bukan sekadar anak yang penurut atau anak yang nilai sekolahnya selalu tinggi, apalagi hanya mengejar kesuksesan dunia. Walaupun semuanya baik, tapi bukan sebagai tujuan akhirnya.
Tujuan akhirnya adalah melahirkan anak yang mengenal Rabb-nya, memiliki akhlak yang baik, dan tetap berada di jalan yang benar meskipun suatu hari nanti orang tuanya sudah tidak lagi mendampingi.
Kalau dipikir-pikir, bukankah memang itu yang paling kita inginkan?
Empat Teladan Ayah Yang Utuh
Saya mencoba meringkas pelajaran dari kisah teladan Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub. Mungkin akan ada banyak hikmah lain yang bisa digali, tetapi setidaknya ada empat hal yang menurut saya paling dekat dengan kehidupan kita hari ini.
- Prestasi dunia jangan lebih diutamakan daripada akidah. Semua orang tua pasti bangga kalau anaknya berprestasi. Akan tetapi, Al-Qur’an mengingatkan bahwa prestasi tanpa iman tidak selalu membawa seseorang kepada kebaikan. Hari ini kita bisa menemukan banyak orang yang pintar, yang sukses, yang kaya, tapi belum tentu semuanya mengenal Allah. Sebaliknya, anak yang imannya terjaga akan memiliki kompas ketika harus memilih di antara banyak jalan yang terbuka di hadapannya. Ilmu akan membuka dan menunjukkan jalan mana yang mungkin dilakukan, sementara iman akan membantu memilih mana yang benar untuk dilakukan.
- Anak tidak hanya butuh diarahkan, mereka juga ingin didengar. Ini pelajaran yang saya rasa cukup menampar sebagai seorang ayah karena sering kali kita terlalu cepat memberi jawaban, atau menyalahkan padahal anak belum selesai bercerita. Nabi Ibrahim menunjukkan bahwa mendengarkan anak tidak serta-merta membuat wibawa seorang ayah hilang, justru sebaliknya, anak yang merasa didengar biasanya lebih mudah menerima arahan. Ia belajar bahwa ayahnya tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mau memahami.
- Ketiga, jangan pernah meremehkan doa. Ada saat ketika kita bisa membersamai anak melalui fase-fase tumbuh kembang mereka. Akan tetapi, waktu terus berjalan dan anak kita juga semakin bertambah besar sehingga sampai pada fase di mana ada banyak hal yang tidak lagi bisa kita jangkau, kecuali melalui doa. Karena doa tidak mengenal jarak, tidak juga dibatasi oleh usia. Doa tetap bisa sampai lebih dulu, walaupun kita sebagai orang tua, sudah tidak lagi bisa berjalan menemui mereka.
- Anak lebih percaya apa yang Dilihat daripada apa yang didengar. Coba kita renungkan berapa banyak nasihat masa kecil yang masih kita ingat? Mungkin tidak banyak, akan tetapi cara ayah kita memperlakukan ibu, cara bicaranya kepada orang lain, caranya saat menghadapi masalah, hingga bagaimana beliau menjaga salatnya. Semua itu diam-diam direkam oleh anak-anak dan mereka belajar itu setiap hari. Karena sikap keteladanan selalu memiliki kekuatan dan tidak bisa digantikan oleh kata-kata.
Kalau membaca kisah teladan para nabi, kadang kita merasa jaraknya terlalu jauh. Mereka adalah nabi, sementara kita hanyalah orang tua, ayah yang biasa-biasa aja. Nabi mendapatkan wahyu, sedangkan kita masih sering salah dalam mengambil keputusan.
Perasaan seperti itu wajar, tapi sebenarnya Allah tidak meminta kita menjadi Nabi Ibrahim, Allah juga tidak meminta kita menjadi Nabi Ya’qub. Allah hanya meminta kita untuk mengambil pelajaran dari kisah mereka.
Mungkin kita bisa mulai dari hal-hal yang kelihatannya sederhana, seperti mendengarkan anak bercerita, melupakan dahulu ponsel kita beberapa waktu untuk mereka. Tatap wajahnya, dengarkan cerita mereka hingga selesai.
Kalau harus memberi nasihat, jangan selalu dimulai dengan perintah, apalagi memarahi. Buka pembicaraan dengan hangat, ajak mereka berpikir bersama. Libatkan mereka dalam keputusan yang memang berkaitan dengan mereka.
Lalu ada satu hal yang menurut saya sering terlupakan, jadikan diri kita sebagai contoh teladan untuk mereka. Kalau ingin anak kita rajin salat, maka pastikan mereka sering melihat ayahnya menjaga salatnya.
Kalau ingin anak dekat dengan Al-Qur’an, biarkan mereka tumbuh di rumah yang akrab dengan Al-Qur’an. Karena anak belajar dari apa yang mereka lihat sehari-hari, bukan hanya dari ucapan. Terakhir, jangan pernah lelah berdoa.
Mungkin hari ini kita belum melihat hasilnya dan anak kita masih sering membuat kita kecewa. Tapi siapa yang tahu, satu doa yang terus kita ulang setiap selesai salat, menjadi sebab Allah membukakan pintu hidayah untuknya beberapa tahun kemudian.
Bukankah hati manusia memang berada dalam genggaman-Nya?
Pada akhirnya saya bisa mengambil satu kesimpulan yang sederhana, bahwa menjadi ayah ternyata bukan tentang menjadi orang yang selalu benar, bukan juga tentang mampu menjawab semua pertanyaan anak. Apalagi tentang terlihat sempurna di hadapan keluarga.
Menjadi ayah adalah tentang terus belajar, belajar memperbaiki diri, belajar mengendalikan emosi, belajar mendengar lebih banyak, belajar memberi contoh sebelum memberi nasihat. Puncaknya adalah belajar menyadari bahwa sekeras apa pun usaha kita, tetap ada wilayah yang hanya bisa diserahkan kepada Allah.
Mungkin itulah warisan terbesar dari kisah teladan ayah dalam Al-Qur’an yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ya’qub. Menjadi seorang ayah bukan hanya bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan hidup anak-anaknya.
Ia juga bertanggung jawab membantu mereka mengenal Rabb-nya. Karena bekal terbaik yang bisa diwariskan kepada anak ternyata bukan rumah, bukan tabungan, dan bukan gelar, melainkan hati yang tetap mengenal Allah, bahkan ketika orang tuanya sudah tidak lagi menemani perjalanan hidup mereka.
Wallahu’alam bishawab.





