Surat Al Insan 13-22 : Gambaran Surga Bagi Orang Sholeh!

SURAT AL INSAN 13-22 GAMBARAN SURGA BAGI ORANG SHOLEH. Sahabat pembaca Pondok Islami yang dimuliakan Allah, Surat Al Insan merupakan surat ke-76 dalam Al Quran yang terdiri dari 31 ayat. Surat ini tergolong dalam surat Madaniyah, yaitu surat yang diturunkan setelah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wassalam hijrah ke Madinah.

surat-al-insan

Di dalam surat ini Allah menyampaikan beberapa tema tentang manusia, namun salah satu yang paling menonjol adalah gambaran tentang kenikmatan yang Allah anugerahkan, kepada manusia yang taat dan sholeh (al-abraar) saat berada di surga kelak.

Allah menggambarkan balasan yang akan diterima hamba-Nya yang telah berbuat baik selama hidup di dunia, dan kelak surga akan menjadi tempat tinggal abadi mereka. Beberapa kenikmatan yang Allah jelaskan dalam surat ini diantaranya tentang minuman, wadah minuman, dan keindahan pakaian yang akan dikenakan oleh penghuni surga.

Pembahasan ini tidak hanya memberikan gambaran tentang balasan di akhirat, tetapi juga menegaskan pentingnya amal sholeh dan ketekunan dalam menjalankan perintah Allah selama hidup di dunia.

Makna dan Tafsir Surat Al Insan

Sebelum kita bahas ayat 13-21 Surat Al Insan, ayat-ayat awal surat ini mengingatkan kita akan asal mula manusia dan tahap perkembangan mereka, sebagai berikut :

Proses Penciptaan Manusia

Ayat pertama menyebutkan:

“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS. Al Insan: 1)

Ayat ini mengajak kita merenungkan tentang keadaan manusia sebelum dilahirkan, sebuah fase di mana manusia tidak memiliki eksistensi yang berarti. Tafsir dari ayat ini menekankan bahwa segala sesuatu berasal dari Allah SWT dan bahwa kehidupan manusia adalah anugerah yang diberikan oleh-Nya.

Kejadian Manusia dan Hidayah Allah

Ayat berikutnya menyoroti proses penciptaan manusia dan pentingnya hidayah dari Allah SWT:

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur (antara laki-laki dan perempuan) yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. Al Insan: 2)

Allah SWT menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari setetes mani yang melalui proses yang sangat kompleks hingga menjadi makhluk yang sempurna. Dalam proses penciptaannya, manusia diberikan kemampuan untuk mendengar dan melihat, yang merupakan alat penting untuk memahami wahyu dan petunjuk dari Allah SWT.

Dua Jalan Kehidupan

Selanjutnya, Allah SWT memberikan manusia pilihan antara dua jalan, yaitu jalan kebaikan atau jalan keburukan:

“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (QS. Al Insan: 3)

Ini menegaskan kebebasan yang diberikan kepada manusia untuk memilih jalannya sendiri. Manusia dapat memilih untuk menjadi hamba yang bersyukur dengan mengikuti jalan kebaikan atau menjadi kafir dengan menolak kebenaran. Keputusan ini akan menentukan nasib akhir mereka, apakah mereka akan mendapatkan balasan di surga atau di neraka, sebagaimana diterangkan pada ayat-ayat berikutnya.

Bagi mereka yang memilih jalan keburukan, menolak kebenaran dan menjadi kafir maka Allah telah menyediakan rantai dan belenggu serta siksa neraka dengan api yang menyala-nyala. Sementara bagi mereka yang memilih untuk menjadi hamba yang bersyukur, dengan mengikuti jalan kebaikan semata karena taat dan patuh kepada Allah, maka telah disediakan berbagai kenikmatan surga.

Setelah menjelaskan tentang dua jalan yang bisa dipilih manusia, surat Al Insan kemudian memberikan deskripsi yang indah tentang balasan bagi orang-orang yang memilih jalan kebaikan, yaitu surga:

“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (yaitu) mata air (dalam surga) yang diminum oleh hamba-hamba Allah dan mereka dapat memancarkannya dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al Insan: 5-6)

Diantara kenikmatan itu adalah hidangan minuman (air kafur), yaitu nama mata air di surga yang berwarna putih dan sangat wangi serta sedap sekali rasanya, tidak pernah bisa terbayangkan sebelumnya. Ini menggambarkan betapa nikmat dan spesialnya balasan yang disediakan bagi mereka.

Balasan Kenikmatan di Surga bagi Al-Abrar

Selanjutnya ayat 13 – 22 melengkapi gambaran tentang keadaan manusia Al-abraar di surga, yang akan menjadi tempat tinggal mereka kelak, mulai dari minuman, wadah minuman, dan keindahan pakaian mereka. Hal ini merupakan balasan dari Allah subhanahu wata’ala atas usaha mereka di dunia.

مُّتَّكِـِٕـيۡنَ فِيۡهَا عَلَى الۡاَرَآٮِٕكِ​ۚ لَا يَرَوۡنَ فِيۡهَا شَمۡسًا وَّلَا زَمۡهَرِيۡرًا​ۚ‏ ١٣

13. “Di sana mereka duduk bersandar di atas dipan, di sana mereka tidak melihat (merasakan teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang berlebihan.”

Ayat 13 dimulai dengan gambaran tentang tempat mereka duduk yaitu dengan bertelekan di atas dipan indah seraya tidak merasakan panas yang menyengat dan dingin yang menusuk. Di surga hanya ada satu hawa yaitu sejuk. Ketika mereka duduk, diteduhi oleh rindangnya pepohonan.

وَدَانِيَةً عَلَيۡهِمۡ ظِلٰلُهَا وَذُلِّلَتۡ قُطُوۡفُهَا تَذۡلِيۡلًا‏ ١٤

14. “Dan naungan (pepohonan)nya dekat di atas mereka dan dimudahkan semudah-mudahnya untuk memetik (buah)nya.”

Mereka juga bisa menikmati lezatnya buah-buahan di surga dengan mudah, karena buah-buahan tersebut didekatkan pada mereka. Baik itu ketika mereka berdiri, duduk maupun tertidur, mereka bisa dengan mudah memetik buah-buahan tersebut.

وَيُطَافُ عَلَيۡهِمۡ بِاٰنِيَةٍ مِّنۡ فِضَّةٍ وَّاَكۡوَابٍ كَانَتۡ قَوَارِيۡرَا۟ ۙ‏ ١٥

15. “Dan kepada mereka diedarkan bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kristal,”

قَوَارِيۡرَا۟ مِنۡ فِضَّةٍ قَدَّرُوۡهَا تَقۡدِيۡرًا‏ ١٦

16. “kristal yang jernih terbuat dari perak, mereka tentukan ukurannya yang sesuai (dengan kehendak mereka).”

​ ​ وَيُسۡقَوۡنَ فِيۡهَا كَاۡسًا كَانَ مِزَاجُهَا زَنۡجَبِيۡلًا ۚ‏ ١٧

17. “Dan di sana mereka diberi segelas minuman (khamr) bercampur jahe.”

عَيۡنًا فِيۡهَا تُسَمّٰى سَلۡسَبِيۡلًا‏ ١٨

18. “(Yang didatangkan dari) suatu mata air (di surga) yang dinamakan Salsabīl.”

وَيَطُوۡفُ عَلَيۡهِمۡ وِلۡدَانٌ مُّخَلَّدُوۡنَ​ۚ اِذَا رَاَيۡتَهُمۡ حَسِبۡتَهُمۡ لُـؤۡلُـؤًا مَّنۡثُوۡرًا‏ ١٩

19. “Dan mereka dikelilingi oleh para pemuda-pemuda yang tetap muda. Apabila kamu melihatnya, akan kamu kira mereka, mutiara yang bertaburan.”

Selanjutnya, Allah gambarkan bagaimana nikmatnya menjadi manusia Al-Abraar yang telah disediakan para pembantu yang berkeliling menyuguhkan wadah-wadah perak dan gelas-gelas yang terbuat dari kaca. Gelas tersebut transparan sehingga bisa terlihat luar serta dalamnya. Menurut Ibnu Abbas R.A. gelas tersebut tidak dapat ditemukan di dunia karena hanya ada di surga.

Selain itu, pelayan-pelayan tersebut menyuguhkan minuman tersebut dengan pas sesuai dengan tingkat kehausan penghuni surga, sehingga tidak kurang dan tidak juga berlebihan. Itulah seenaknya-enaknya makanan atau minuman.

Menurut tafsir Ibnu Katsir di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe (ayat : 17). Terkadang minuman mereka diberi campuran kafur (ayat : 5) yang rasanya sejuk, dan terkadang diberi campuran dengan jahe yang rasanya hangat, sehingga seimbang. Mereka diberi minuman yang terkadang ini dan terkadang itu.

Beberapa mufassir memaknai kata (الكأس) yaitu wadah yang berisi khamr/arak yang bercampur dengan (زَنۡجَبِيۡلًا) rempah jahe . Tentunya arak dan jahe di di surga tidaklah sama dengan apa yang kita lihat di dunia.

Hanya namanya saja yang dipadankan supaya kita mendapatkan gambaran, meskipun pada hakikatnya tidaklah sama. Arak di surga divisualisasikan berwarna putih, rasanya sedap dan tidak memabukkan.

Jenis minuman ini dijelaskan dalam surah Ash Shaffat ayat 45-47,

يُطَافُ عَلَيۡهِمۡ بِكَاۡسٍ مِّنۡ مَّعِيۡنٍۢ بَيۡضَآءَ لَذَّةٍ لِّلشّٰرِبِيۡنَ لَا فِيۡهَا غَوۡلٌ وَّلَا هُمۡ عَنۡهَا يُنۡزَفُوۡنَ

Artinya: “Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamr dari sungai yang mengalir. (warnanya) putih bersih, sedap rasanya bagi orang yang minum. Tidak ada dalam khamar itu alkohol dan mereka tidak mabuk karenanya.” (QS. Ash-Shaffat : 45-47)

Air arak tersebut berasal dari sebuah mata air yang bernama salsabiil. Kata “salsabila” mengandung arti air yang gampang masuk ke dalam kerongkongan. Arak dunia sifatnya merusak dan menjerumuskan peminumnya pada hal-hal yang berbau maksiat, sebaliknya, arak di surga tidak memabukkan, warnanya putih dan terasa lezat bagi yang meminumnya.

Para pelayan yang melayani penghuni surga masih sangat muda, gesit dan terampil.
Mereka sungguh sedap dipandang mata dan tidak akan pernah menua, sehingga selalu
siap melayani para penghuni surga. Karena kegesitan mereka, mereka dianalogikan oleh
Allah sebagai mutiara yang bertebaran.

Menurut sebagian ahli tafsir, berpendapat bahwa hal ini menunjukan nikmat yang sangat luas, yang mana kita tidak akan pernah mampu membayangkannya. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa ini menunjukan kenikmatan tersebut bersifat selamanya.

Hal ini berbeda dengan apa yang kita lihat di dunia, di mana kenikmatan tersebut itu identik dengan syahwat dan maksiat. Kewajiban kita hanyalah mengimaninya sebagaimana kita percaya akan hal-hal gaib lainnya.

وَاِذَا رَاَيۡتَ ثَمَّ رَاَيۡتَ نَعِيۡمًا وَّمُلۡكًا كَبِيۡرًا‏ ٢٠

20. “Dan apabila engkau melihat (keadaan) di sana (surga), niscaya engkau akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar.”

عٰلِيَهُمۡ ثِيَابُ سُنۡدُسٍ خُضۡرٌ وَّاِسۡتَبۡرَقٌا وَّحُلُّوۡۤا اَسَاوِرَ مِنۡ فِضَّةٍ ​ۚوَسَقٰٮهُمۡ رَبُّهُمۡ شَرَابًا طَهُوۡرًا‏‏ ٢١

21. “Mereka berpakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan memakai gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih (dan suci).”

اِنَّ هٰذَا كَانَ لَـكُمۡ جَزَآءً وَّكَانَ سَعۡيُكُمۡ مَّشۡكُوۡرًا ٢٢

22. “Inilah balasan untukmu, dan segala usahamu diterima dan diakui (Allah).”

Selain minuman dan makanan lezat yang akan didapat oleh al-abraar di surga, mereka juga akan memakai sutra halus berwarna hijau dan sutra tebal serta perhiasan yang terbuat dari emas dan perak. Menurut Sa’id bin Musayyib seperti dikutip oleh Al Maraghi setiap penghuni surga akan memiliki tiga jenis perhiasan di tangannya: satu terbuat dari emas, yang lainnya terbuat dari perak, dan yang terakhir terbuat dari mutiara.

Semua kenikmatan yang telah Allah subhanahu wata’ala sediakan di surga adalah balasan atas apa yang telah mereka kerjakan selama hidup di dunia. Beberapa ahli tafsir mengatakan bahwasanya ini adalah kalam Allah kepada orang-orang beriman, sebagai maksud untuk menambahkan kebahagiaan di dada orang-orang beriman ketika masuk ke surga.

Hikmah Dari Surat Al Insan 13-22

Surat Al Insan memberikan gambaran yang sangat mendetail tentang balasan di surga bagi mereka yang berbuat baik. Ini bukan hanya sekedar cerita, tetapi merupakan janji dari Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya yang taat.

Hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik dari kajian Surat Al Insan adalah sebagai berikut :

  1. Dunia adalah tempat ujian : Kehidupan di dunia adalah tempat ujian, di mana manusia harus memilih antara jalan kebaikan dan jalan keburukan. Setiap keputusan dan perbuatan akan diperhitungkan oleh Allah SWT dan akan menentukan nasib akhir mereka di akhirat.
  2. Pentingnya Hidayah: Allah SWT memberikan kita kemampuan untuk mendengar dan melihat, serta menunjukkan jalan yang benar. Ini menegaskan pentingnya hidayah dan petunjuk dari Allah SWT dalam menjalani kehidupan.
  3. Amal Sholeh sebagai Kunci Surga: Amal sholeh dan ketekunan dalam menjalankan perintah Allah SWT adalah kunci untuk mendapatkan balasan surga. Surat Al Insan mengingatkan kita bahwa meskipun kehidupan di dunia penuh dengan ujian dan cobaan, balasan yang menunggu bagi mereka yang sabar dan taat adalah kenikmatan yang abadi di surga.
  4. Kenikmatan Surga: Deskripsi tentang surga yang penuh dengan kenikmatan adalah motivasi bagi kita untuk terus berusaha dan berbuat baik, karena balasan yang menunggu di akhirat adalah sesuatu yang luar biasa dan abadi.
  5. Allah Maha Adil & Bijaksana: Allah SWT adalah Maha Adil dan Maha Bijaksana. Setiap perbuatan baik sekecil apapun tidak akan luput dari perhitungan-Nya. Balasan surga adalah manifestasi dari keadilan Allah SWT yang memberikan penghargaan yang setimpal bagi hamba-hamba-Nya yang berbuat baik.

Surat Al Insan ayat 13 – 22 memberikan kita wawasan yang mendalam tentang pentingnya hidayah, dan balasan yang menunggu di akhirat bagi mereka yang berbuat baik. Deskripsi tentang kenikmatan surga dalam surat ini bukan hanya menggambarkan balasan yang luar biasa bagi orang-orang yang sholeh, tetapi juga memberikan kita motivasi untuk terus berusaha dan berbuat baik di dunia ini.

Allah SWT dengan jelas menggambarkan betapa indah dan nikmatnya kehidupan di surga sebagai balasan bagi mereka yang beriman dan beramal sholeh. Setiap muslim harus mengambil pelajaran dari surat ini, yaitu selalu bersyukur atas nikmat Allah SWT, memanfaatkan petunjuk-Nya dalam menjalani kehidupan, dan berusaha untuk berbuat baik agar dapat mencapai tujuan akhir yang penuh kebahagiaan di surga.

Wallahu’alam bishawab.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Template Tema Qurban & Idul Adha Terbaru
This is default text for notification bar