Cerita Pendek Tentang Sedekah Beras Oleh Buya HAMKA

CERITA PENDEK TENTANG SEDEKAH BERAS. Siapa yang tak kenal dengan Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan panggilan Buya Hamka ? Sosok ulama patriotik sekaligus sastrawan dan mantan mentri agama Republik Indonesia jaman pemerintahan orde baru.

cerita-pendek-tentang-sedekah-beras

Ketinggian ilmu agama, perjuangan, kepahlawanan dan berbagai kisah inspiratif dari kiprah beliau semasa hidupnya, hingga kini masih membekas dan memberikan legacy keteladanan yang tidak akan pernah pudar, bagi seluruh rakyat Indonesia. Khusus bagi umat Islam Indonesia, sosok dan pribadi ulama kebanggaan tanah Minang ini, senantiasa menjadi panutan dan contoh keteladanan yang tidak pernah lekang oleh waktu.

Keteguhan sikapnya sebagai seorang ulama, pemimpin dan pejuang dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar di tengah masyarakat dan bangsa, saat harus menghadapi berbagai kondisi, situasi dan cobaan dalam kehidupan. Banyak kisah-kisah inspiratif perjalanan hidup beliau yang sarat hikmah, hingga tidak heran biografi hidupnya ditulis dalam berbagai buku.

Bahkan baru-baru ini juga telah dibuat versi layar lebar dari biografi beliau, dengan judul Buya Hamka. Disutradarai oleh Fajar Bustomi dan dibintangi oleh aktor Vino Bastian sebagai Hamka.

Alhamdulillah penulis pribadi sudah menonton film biografi Buya Hamka ini, dan sangat merekomendasikan sahabat pembaca untuk juga menontonnya, karena banyak sekali hikmah dan inspirasi hebat dalam film tersebut.

Nah, yang akan di bagi dalam artikel kali ini bukan tentang film kisah Buya Hamka tersebut, tapi sebuah kisah yang diceritakan dalam buku Buya Hamka Ulama Umat Teladan Rakyat, karangan Yusuf Maulana, penerbit Pro-U Media. Kisah ini merupakan cerita pendek tentang sedekah beras, yang diceritakan oleh Buya Hamka, saat ia menjadi seorang rawatib masjid agung di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sebagai refleksi dari manfaat dan keutamaan zakat fitrah.

Saat Mesjid Al-Azhar baru awal-awal berdiri, ada seorang centeng penjaga mesjid yang setia dengan tugasnya. Walaupun demikian, Hamka memperhatikan bahwa centeng ini tidak tampak pernah bersujud di dalam mesjid, padahal ia tinggal di pekarangan mesjid tersebut.

Hal ini menimbulkan keprihatinan tersendiri bagi Hamka. Hingga suatu saat nama centeng tersebut dimasukkan dalam jajaran takmir mesjid yang berhak menerima zakat fitrah, dan usaha ini kelak akan mengubah jalan hidup sang centeng.

Hamka menceritakan cerita pendek tentang sedekah beras ini dalam Tafsir Al-Azhar Surat Al-Baqarah ayat ke-272, bahwa sesaat setelah zakat fitrah tersebut dibagikan dan diserahkan kepada centeng tersebut, bukan main herannya dia. Ternyata selama hidupnya, ia tidak pernah menerima zakat fitrah !

Saat masih tinggal di tempat asalnya, ia mengatakan bahwa yang diberi zakat fitrah biasanya hanyalah para kyai dan haji, termasuk saat Sang centeng hendak menunaikan zakat fitrah, para alim itulah orang yang menerimanya. Walaupun mereka sesungguhnya sudah termasuk dalam golongan yang mampu secara ekonomi.

Peristiwa pemberian zakat fitrah saat Idul Fitri dan daging qurban saat Idul Adha, ternyata meninggalkan kesan yang sangat dalam bagi sang centeng tersebut. Ia merasakan sebuah kenikmatan dalam beragama. Sejak saat itu, perlahan ia mengalami perubahan dalam hidupnya, menjadi Muslim yang patuh beragama.

Cerita pendek tentang sedekah beras di atas merupakan sebuah contoh adanya kepekaan sosial, kepedulian sosial dari seorang ulama terhadap jemaahnya, rakyatnya yang membutuhkan sentuhan kepedulian dari orang-orang yang lebih mampu ataupun lebih “tinggi derajatnya” dalam pandangan manusia. Pertemuan Hamka muda dengan H.O.S Tjokroaminoto di waktu lalu, telah mewariskan sebuah pendidikan tentang kepedulian sosial kepada sesama.

Pendidikan yang nyata, langsung dalam wujud konsep dan aksi yang nyata. Kesenjangan kekayaan yang terjadi di tengah masyarakat, seringkali tidak mendapatkan solusi pemecahannya dari para pemuka umat.

Malahan, seperti kasus di kampung sang centeng Mesjid Al-Azhar itu, justru para alim ulama lah yang menikmati hasil dari jerih payah masyarakat miskin. Atas nama golongan yang termasuk dalam pejuang di jalan Allah, mereka berhak untuk mendapatkan zakat fitrah; sebuah bentuk pemahaman yang masih terwariskan dalam budaya sebagian masyarakat kita.

Lebih lanjut Buya Hamka menjelaskan bahwa guru beliau, H.O.S Tjokroaminoto adalah orang yang berjasa dalam mendirikan “Bank Sedekah”. Walaupun Buya Hamka sendiri memprediksi ide tersebut akan dipandang sebelah mata, bahkan dicibir oleh sebagian Muslimin sendiri.

Padahal jelas Hamka, “Bank Sedekah yang ke sana orang dianjurkan mengorbankan harta bendanya untuk menolong orang kesempitan. Dia boleh menjadikan harta itu menjadi wakaf atau meminjamkannya. Gunanya buat membantu orang yang kekurangan modal tetapi tidak mengharapkan bunga.”

Masih menurut Hamka, “Dan Kalau perlu juga dibungai, bukan untuk yang memberikan uang, tetapi untuk memperbesar wakaf atau sedekah itu. Inilah yang akan memperkuat tali hubungan silaturahim di antara yang kekurangan, dengan yang berkelebihan uang.” (Islam: Revolusi Ideologi dan Keadilan Sosial, 1994). Peran-peran membantu sesama itu mestinya dilakukan pemerintah. Rakyat yang perlu modal, kata Hamka, dimodali oleh pemerintah.

Peran-peran pemerintah semestinya tidaklah berhenti di imbauan-imbauan, tetapi yang lebih lagi adalah tindakan nyata di lapangan. Bukan pula sekedar kepedulian yang ditingkahi ikhtiar melanggengkan kekuasaan.

Akses kekayaan yang dimiliki hanya dipakai untuk mengelabuhi, bukan untuk menyejahterakan rakyat. Bantuan langsung bukan serupa empati atau aksi nyata layaknya Umar Ibn Khaththab, akan tetapi modus semata untuk mendamba dipilih dalam kontestasi berkuasa.

Dalam uraian penutup soal kisah hijrahnya centeng penjaga Al-Azhar tadi, Hamka menyitir hadits Nabi yang terjemahannya, “Bukankah kamu ditolong dan diberi rezeki oleh Allah, lain tidak dengan orang-orang yang lemah itu?”

Apabila seorang yang kaya raya mempunyai sifat dermawan, jelas Hamka, suka membantu orang yang ketiadaan, maka orang-orang yang dibantu itu akan turut memelihara keamanan harta bendanya. Sebaliknya, kalau si kaya raya itu bakhil, sedang orang yang hidup menjadi tetangganya itu lapar, tak dapat tidak rasa benci dan dendamlah yang akan timbul.

buya-hamka

Serupa kisah sang centeng yang akhirnya insaf, begitulah pelajaran menyentuh hati. Ada kepedulian dari yang memegang kekayaan (harta, jabatan, kedudukan sosial) kepada sekitarnya. Dan lagi, Islam memiliki adab terkait bersedekah, diantaranya :

● Tidak menyakiti penerima
● Tidak menghinakan penerima, tapi justru memuliakan
● Tidak menjadikan sebagai pihak rendahan gara-gara menerima bantuan

Termasuk tindakan menyakiti adalah mengungkit-ungkit jasa bantuan. Orang-orang yang demikian, dengan tidak sadar, lama-lama akan bertukar menjadi budak hartanya, sesudah tadinya dia masih menguasai harta itu.” tulis Hamka tentang tafsir Surah Al-Baqarah ayat 263.

Demikianlah sahabat pembaca Pondok Islami yang dimuliakan Allah, secuplik cerita pendek tentang sedekah beras yang dikisahkan oleh Buya Hamka dalam buku Buya Hamka Ulama Umat Teladan Rakyat, karya Yusuf Maulana. Sungguh sulit memang mencari tokoh, ulama pejuang, negarawan, sekaligus sastrawan sekelas beliau saat ini.

Apa yang dikatakan Ustadz Abdul Somad di bawah ini barangkali bisa menjadi gambaran bagaimana sosok seorang Buya Hamka,

“Dalam dirinya ada cinta negara dan semangat berkorban untuk agama. Lembut dalam bermahzab, tapi tegas dalam berprinsip. Lentur dan lunak tutur katanya, tapi keras berpegang teguh pada aqidah.” (Prof. Dr. H. Abdul Somad, Lc, M.A.).

Semoga cerita pendek tentang sedekah beras di atas bisa menjadi inspirasi bagi kita saat ini. Begitu pula sosok Buya Hamka, dengan segala torehan karya dan baktinya bagi bangsa dan negara semasa hidupnya, bisa menjadi inspirasi dan hikmah pembelajaran serta contoh keteladanan bagi seluruh umat muslim Indonesia.

Wallahu’alam bishawab.

Note : Bagi sahabat yang ingin membaca buku Buya Hamka di atas ataupun buku-buku Islam bermutu lainnya, bisa mengunjungi Toko Buku Mardhatillah, pusatnya buku-buku Islam berkualitas.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Template Tema Qurban & Idul Adha Terbaru
This is default text for notification bar