Cerita Sejarah Kisah Nabi Hud Beserta Mukjizat Nabi Hud AS

No comment 3779 views
kisah-sejarah-nabi-hud-as-dan-kaum-ad-serta-mukjizat-nabi-hud

Bangunan Peninggalan Kaum Aad

CERITA SEJARAH KISAH NABI HUD & MUKJIZAT NABI HUD AS. Sahabat Pondok Islami yang selalu setia mengikuti artikel-artikel kami, alhamdulillah pada artikel kali ini kita akan meneruskan kisah sejarah 25 nabi dan rasul yang saat ini telah memasuki kisah Nabi Hud AS. Beliau adalah keturunan ketujuh dari Sam Bin Nuh AS dan keturunan ke-16 dari Nabi Adam AS.

Nabi Hud AS merupakan Nabi yang menempati posisi ke-4 pada urutan 25 Nabi dan Rasul yang wajib kita ketahui setelah Nabi Adam AS, Nabi Idris AS dan Nabi Nuh AS. Beliau hidup pada masa 4.500 – 5.500 tahun yang lalu. Menurut Ibnu Jarir nama lengkap Nabi Hud AS adalah Hud bin Abdullah bin Rabah bin A Jarud bin Aad bin Aush bin Iram bin Sam bin Nuh AS.

Nabi Hud AS diutus kepada kaum ‘Aad yang memiliki banyak karunia dari Allah SWT, salah satunya berupa fisik yang tinggi besar dan umur yang panjang. Nabi Hud AS tinggal di daerah Al-Ahqaaf (daerah antara Yaman dan Oman). Kisah Nabi Hud dalam Al-Quran terdapat pada 10 surah diantaranya surah Hud ayat 50 – 60, surah Al-Mukminun ayat 31 – 41, surah Al-Ahqaaf ayat 21 – 26 dan surah Al-Haaqqah ayat 6 – 8.

SEKILAS BANGSA ‘AAD – KAUM NABI HUD AS

Bangsa ‘Aad merupakan keturunan Sam bin Nuh yang diberikan karunia oleh Allah SWT berupa kelebihan fisik yang tinggi besar dan umur yang panjang. Setiap kepala mereka mencapai ketinggian setara dengan menara-menara tertinggi yang pernah dibuatnya. Hal ini Allah gambarkan dalam surat Al-Ahqaf yang artinya :

“(Yaitu) penduduk Iram (ibu kota tempat tinggal kaum ‘Aad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi–Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain,” (QS. Al Fajr: 7-8)

Mereka menetap di daerah Al-Ahqaaf (bukit-bukit berpasir) antara Yaman dan Oman. Perbukitan tersebut memanjang disepanjang laut yang bernama As Syahar dan lembah yang bernama Mughits.

Kaum ‘Aad terkenal memiliki kekayaan yang melimpah dan kemampuan mereka untuk membangun bangunan yang megah dan indah pada masa itu. Teknologi pun berkembang pesat pada saat itu, dengan anugerah otak yang cerdas dan fisik yang sangat kuat membuat kaum Aad menjadi sangat terkenal di antara penduduk lainnya.

Melalui teknologi tinggi yang mereka miliki mereka mampu membuat rumah yang sangat megah di perbukitan.  Mereka mahir dalam mengatur perkotaan dengan membangun benteng-benteng, gedung-gedung yang besar dan indah.

Teknologi pengairan mereka juga sangat maju, hingga mampu mengolah tanah-tanah yang tandus dan merubahnya menjadi subur, sehingga membuat hasil bercocok tanam mereka sangat memuaskan. Dalam berternak hewan mereka juga sangat baik dalam mengelolanya, hingga mampu menghasilkan kemakmuran dalam hidup.

Semua hasil kerja keras yang dilakukan kaum ‘Aad semasa hidup mereka membuat kehidupan kaum Nabi Hud AS ini menjadi makmur dan lebih maju dari pada kaum lainnya. Tetapi sangat disayangkan, semua anugerah itu telah membuat mata hati mereka berkiblat pada dunia materi.

Mereka bersifat sombong dan keji, meremehkan serta merendahkan orang yang jauh tidak punya darinya. Disetiap peperangan yang dilakukan kaum ‘Aad, mereka memperlakukan musuh mereka dengan sangat kejam dan tanpa rasa kasihan.

Hal ini Allah gambarkan dalam Al-Quran surah Asy-Syu’ara yang artinya :

“Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang yang kejam dan bengis.–Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.–Dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui.–Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak,–Dan kebun-kebun dan mata air,” (QS. Asy Syu’ara: 130-134)

Hingga pada akhirnya kesombongan kaum ‘Aad itu sampai melampaui batas, dan mereka berani menantang Allah SWT dengan berkata, “Siapa yang mampu kalahkan kami di bumi?”. Dan lebih parahnya lagi, mereka malah kemudian berpaling dari Allah SWT dan menyembah  berhala.

Kaum ‘Aad merupakan kaum yang sombong penyembah berhala pertama setelah peristiwa bencana air bah besar pada masa Nabi Nuh AS.




DAKWAH NABI HUD AS KEPADA KAUM ‘AAD

Risalah keislaman terus diperjuangkan oleh Sam bin Nuh dan anak keturunannya. Tetapi lagi-lagi Iblis tidak pernah berhenti menggoda mereka. Maka dengan dalih untuk mengenang orang shaleh maka kaum Aad pun membuat patung.

Kekayaan, kekuatan fisik, kecerdasan akan dan umur panjang justru membuat kaum Aad ingkar. Bujuk rayu Iblis untuk memurtadkan mereka berhasil. Kesombongan Iblis telah mereka tiru. Dan pelan tapi pasti mereka mulai melupakan ajaran Nabi Nuh dan menyembah berhala.

Berhala yang mereka sembah mereka beri nama Shamud dan Hattar. Kaum ‘Aad menganggap berhala-berhala inilah yang memberi mereka kekayaan, kekuatan dan kekuasaan. Saking kayanya Raja mereka yaitu Raja Ajiizan, dan kaum ‘Aad tidur diatas tempat tidur yang terbuat dari emas.

Kaum Aad juga mulai menaklukkan daerah daerah di sekitarnya. Merampok kekayaan dan menjadikan warga daerah yang mereka kuasai sebagi budak. Orang yang tidak menurut tidak segan segan mereka bunuh. Nyawa menjadi sangat murah dimata mereka.

Hud adalah salah satu kaum ‘Aad yang menolak segala bentuk penyembahan berhala. Akal sehatnya tidak bisa menerima kalau berhala yang tidak bisa bergerak melakukan banyak hal. Kemurnian berfikirnya membawanya kembali kepada Fitrah Islam.

Allah SWT dengan kasih sayang-Nya mengangkat Hud menjadi Nabi dan Rasul. Pada saat Nabi Hud AS, berusia 40 tahun, datanglah Malaikat Jibril dengan membawa wahyu serta mengangkatnya menjadi Nabi dan Rasul
utusan Allah kepada kaum ‘Aad untuk memberikan peringatan bagi mereka.

Maka, menghadaplah nabi Hud AS diantara raja dan penguasa-penguasa mereka yang saat itu sedang berpesta pora dengan segala kemegahan bersama rakyatnya. Dan berkatalah Nabi Hud kepada raja Ajiizan, “Wahai kaum ‘Aad, sembahlah Allah ? Tuhanku dan Tuhan kalian semua, Tinggalkanlah berhala yang menjadi sesembahan kalian! Seperti halnya kaum Nabi Nuh yang telah dilahap banjir, badai dan taufan karena telah menyekutukan Allah ?.”

Sebagaimana digambarkan dalam Al-Quran :

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?” (QS. Al-A’raaf : 65)

Seruan ajakan Nabi Hud AS tersebut tidak dihiraukan sang raja dan antek anteknya. Nabi Hud malah diejek dan dianggap pendusta. Sebagaimana Allah SWT gambarkan dalam Al-Quran :

Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta”. (QS. Al-A’raaf : 66). 

dan Nabi Hud AS pun menjawab,

Hud berkata: “Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku menyampaikan amanat-amanah Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu”. (QS Al-A’raaf : 67-68). 

Siang malam nabi Hud berdakwah kepada kaumnya. Dengan suara lembut dan welas kasih beliau tidak henti-hentinya mengingatkan kaumnya untuk bertobat, meninggalkan berhala dan kembali kepada Allah SWT.

Akan tetapi dakwah Nabi Hud dianggap sepi. Tidak ada satupun raja dan orang kaya di kaum ‘Aad yang percaya. Mereka malah merasa iri mengapa harus Hud yang mendapat Wahyu bukan mereka. Puluhan tahun Nabi Hud AS berdakwah kepada kaumnya.

Bukannya tambah sadar, malah kaum ‘Aad semakin jauh tersesat. Ternyata harta dan kekuasaan telah membuat mereka lupa diri hingga kejahatan dan kemungkaran mereka semakin merajalela.

Nabi Hud tidak pernah menyerah, beliau tetap berdakwah. Beberapa anggota masyarakat tertindas dan budak akhirnya ada juga yang mau mengikuti ajakan Nabi Hud AS. Akan tetapi justru hal ini membuat cercaan dari kaum ‘Aad semakin menjadi jadi.

Mereka bahkan berani menyiksa kaum muslimin pengikut Nabi Hud. Bila mereka mengetahui ada yang memeluk Islam, maka kaum ‘Aad tidak segan segan membunuh dan merampas harta mereka. Beberapa dari pengikut Nabi Hud AS terpaksa menyembunyikan keislaman mereka karena takut disiksa raja Ajiizan dan bala tentaranya serta kaum ‘Aad yang lain.

Puncaknya adalah ketika mereka berencana untuk membunuh dan menghabisi Nabi Hud dan pengikutnya. Kesombongan kaum ‘Aad dan kekejaman mereka kepada kaum muslim pengikut Nabi Hud, membuat Nabi Hud bersedih.




AZAB ALLAH KEPADA KAUM ‘AAD

Kaum ‘Aad yang ingkar kepada Allah SWT bahkan mengolok-olok Nabi Hud dan meminta kepadanya agar disegerakan azab. Mereka berkata,

“Maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada Kami jika kamu Termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Al A’raaf: 70)

Nabi Hud pun menjawab,

“Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu beserta nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah (azab itu), sesungguhnya aku juga termasuk orang yamg menunggu bersama kamu”. (QS. Al A’raaf: 71)

Beliaupun akhirnya memanjatkan doa kepada Allah SWT agar mengirimkan ujian kepada kaum ‘Aad supaya mereka menjadi sadar.

“Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakanku.” Allah berfirman: “Dalam sedikit waktu lagi pasti mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal.” Maka dimusnahkanlah mereka oleh suara yang mengguntur dengan hak dan Kami jadikan mereka (sebagai) sampah banjir maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang lalim itu.” (QS. Al-Mu’minuun : 39-41)

Permintaan Nabi Hud ini dikabulkan oleh Allah SWT. Maka Allah menjadikan lembah Mughits tempat tinggal kaum ‘Aad menjadi kering kerontang. Hujan tidak pernah turun selama jangka waktu yang panjang. Allah SWT jadikan kekeringan dimana mana. Seluruh tanaman gagal panen, sumber air menipis. Kaum ‘Aad semakin menyedihkan. Kematian hewan dan tumbuhan terjadi dimana mana.

Masa kemarau yang panjang ini bukannya membuat kaum ‘Aad sadar. Tetapi malah semakin ingkar. Nabi Hud AS berulang kali mengingatkan kaumnya bahwa semua bencana yang terjadi ini karena Allah sedang murka. Murka karena kesombongan dan kekejaman serta kemungkaran yang dilakukan kaum ‘Aad. Allah SWT hanya akan menurunkan hujan bila mereka segera bertobat.

Bukannya berterima kasih atas penjelasan dan solusi dari Nabi Hud AS, mereka malah menyalahkan Nabi Hud AS atas bencana kekeringan yang menimpa mereka. Nabi Hud dianggap pembawa sial.

Setelah tiga tahun kemarau, kekeringan pun mencapai puncaknya. Karena sudah tidak tahan lagi akhirnya kaum ‘Aad pun menghadap Nabi Hud AS untuk memohon agar mencabut sihirnya dan menurunkan hujan.

Ternyata bencana kekeringan hebat yang menimpa kaum ‘Aad tidak membuat mereka sadar, malah semakin jauh tersesat dan menuduh bencana tersebut sebagai hasil sihir Nabi Hud AS. Nabi Hud pun akhirnya berdoa memohon petunjuk Allah SWT.

Maka Allah pun berfirman, apabila kaum ‘Aad tidak segera bertobat maka Allah SWT akan menurunkan angin topan yang sangat dahsyat. Ancaman Allah yang disampaikan Nabi Hud AS malah ditertawakan oleh kaumnya. Akhirnya Nabi Hud AS pasrah atas ketentuan Allah untuk mengazab kaumnya.

Kemarau yang panjang telah membuat kaum ‘Aad kehilangan akal, maka mau tak mau mereka memohon kepada berhala dan kepada Allah SWT. Kaum ‘Aad pun kemudian mengirimkan suatu delegasi yang jumlahnya kurang lebih tujuh puluh orang menuju tanah suci, untuk meminta istisqa (hujan) di tanah suci buat kaumnya. Mereka berdoa dipimpin oleh ketua mereka yang dikenal dengan nama Qail Ibnu Anaz.

Dikisahkan Allah SWT mendengar doa Qail Ibnu Anaz dan Allah memunculkan tiga jenis awan, ada yang putih, ada yang hitam, dan ada yang merah. Lalu Qail mendengar suara dari langit yang mengatakan, “Pilihlah untukmu atau untuk kaummu dari awan-awan ini!”?

Qail berkata, “Saya memilih awan yang hitam ini, karena sesungguh¬nya awan hitam ini banyak mengandung air.”

Melihat datangnya awan yang besar seketika itu juga mereka merasa senang dan berpikir bahwa mereka akan mendapatkan curahan hujan. Mereka berkata, “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.”

sisa-peninggalan-azab-kaum-aad-kota-ubar

Sisa-sisa peninggalan azab kaum aad di kota ubar

Mereka mengira bahwa awan itu akan datang membawa kebaikan untuk mereka, menghilangkan haus dahaga mereka, memberi minum hewan-hewan mereka dan menyirami kebun dan tanaman-tanaman mereka. Padahal awan itu datang membawa azab bagi mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Maka ketika mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka, “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.” (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta agar datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih,”–Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.” (QS. Al Ahqaaf: 24)

Setelah awan itu semakin mendekat kaum ‘Aad terkejut. Ternyata awan hitam itu adalah angin taufan yang sangat kencang. Kaum Aad sangat terkejut. Mereka lari tunggang langgang. Mereka bersembunyi di rumah mereka yang megah. Kaum Aad pun ditimpa angin yang kencang yang sangat dingin terus menimpa mereka selama tujuh malam delapan hari tanpa henti, yang membinasakan segala sesuatu yang ada di hadapannya sehingga mereka semua binasa.

Kehancuran kaum ‘Aad dan kota Iram (ibu kota kaum ‘Aad) digambarkan Allah SWT dalam Al Quran,

“Adapun kaum ‘Ad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati berge-limpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (QS. Al Haaqqah : 6-7)

Allah SWT kemudian menyelamatkan Nabi Hud AS dan orang-orang yang beriman bersamanya, sebagaimana firman-Nya yang artinya :

“Maka Kami selamatkan Hud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan mereka bukanlah orang-orang yang beriman.” (QS. Al A’raaf: 72)
.

makam-nabi-hud-as

Komplek makam nabi hud as di hadramaut

Nabi Hud AS pun berangkat menuju tempat lain bersama dengan orang-orang yang beriman, dan ditempat yang baru tersebut, mereka beribadah kepada Allah SWT. Nabi Hud AS selanjutnya menetap di Yaman, sampai wafat di daerah Syib sekitar 80 km dari sana. Beliau wafat dalam usia 472 tahun, dan hingga saat ini kuburan beliau masih sering dikunjungi dan diziarahi oleh kaum muslimin dari seluruh dunia.

Demikanlah Cerita Sejarah Kisah Nabi Hud Beserta Mukjizat Nabi Hud AS yang penuh dengan pelajaran dan ibroh yang sangat layak kita renungkan. Semoga bisa memberikan manfaat untuk sahabat semua, dan tunggu kisah-kisah para Nabi dan Rasul Allah SWT berikutnya.

Salam.

author
Author: 

    Leave a reply "Cerita Sejarah Kisah Nabi Hud Beserta Mukjizat Nabi Hud AS"

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.