INSPIRASI PENGHAFAL QURAN TUNANETRA . Ada majelis-majelis tertentu yang tak sekadar mengisi waktu, tapi mengguncang sesuatu yang ada di dalam hati. Ahad yang baru lalu, 16 Agustus 2026, pada sebuah kajian di Majelis Ilmu Buahbatu (MIB), bertempat di Mesjid Baitul Maqdis Buahbatu Bandung, saya hadir di sana, dan gemanya masih menetap di dada sampai saat ini.
Ruangan yang sederhana, jamaah yang duduk berjajar rapi, dan satu suara yang perlahan mengubah suasana majelis itu menjadi begitu berbeda dari biasanya.
Suara yang Mengguncang di Antara Jamaah
Salah seorang pematerinya adalah seorang penghafal Al-Qur’an, hafal 30 juz. Suaranya tenang, tartilnya menenangkan, caranya melantunkan ayat demi ayat begitu dalam, seolah setiap huruf sudah menyatu dengan nafasnya sendiri. Saya duduk di antara jamaah lain, menyimak dengan takjub, seolah tak percaya, kalau beliau ini seorang tunanetra.
Bukan tunanetra sejak lahir, atau sejak kecil. Beliau kehilangan penglihatannya di usia 22 atau 23 tahun, disebabkan sebuah penyakit yang datang tanpa permisi, merenggut cahaya dari matanya dalam waktu singkat.
Saya mencoba membayangkan itu. Usia 22-23 tahun, usia di saat seseorang sedang berada di puncaknya, sedang gagah-gagahnya memandang masa depan, merancang mimpi, menatap dunia dengan mata yang menyala penuh harapan. Lalu tiba-tiba, gelap.
Bukan gelap yang datang perlahan, tapi gelap yang menutup segalanya sekaligus, seperti lampu yang dipadamkan di tengah pertunjukan yang belum selesai.
Titik Terendah Sebelum Cahaya Itu Datang
Beliau bercerita, dengan nada yang sudah damai, seolah semua peristiwa itu sudah selesai baginya. Tapi rangkaian cerita di balik nada itu, bisa saja masih tersimpan sedemikian dalam, bahwa dunianya waktu itu pernah terasa runtuh.
Ia mengaku, ada masa-masa di saat itu beliau merasa begitu putus asa, sampai pada titik nyaris ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Bukan karena lemah iman, tapi karena begitulah rasanya kehilangan sesuatu yang selama ini kita anggap pasti akan selalu ada.
Ada satu ayat yang sempat terlintas di benak saya saat mendengar bagian cerita ini, meski beliau sendiri tidak menyebutkannya secara langsung. Allah berfirman dalam surat Al-Insyirah, “Fa inna ma’al ‘usri yusra“, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.
Ayat pendek ini diulang dua kali dalam surat yang sama, seolah menegaskan bahwa kemudahan itu bukan sekadar mungkin, tapi pasti menyertai setiap kesulitan yang Allah izinkan terjadi pada hamba-Nya. Kisah yang saya dengar hari itu terasa seperti perwujudan nyata dari ayat tersebut, meski prosesnya tentu tidak semudah membaca terjemahannya.
Qodarullah, atas izin Allah, di titik paling gelap itulah, justru Allah titipkan cahaya dengan cara yang paling tak terduga.
Dari Sekadar Mendengar, Tumbuh Menjadi Hafalan
Di tengah hari-harinya yang sunyi, beliau mulai mencari kesibukan, sekadar pelarian dari pikiran yang terus berkecamuk. Ia mulai mendengarkan lantunan Al-Qur’an, awalnya mungkin hanya untuk mengisi waktu yang terasa begitu lambat berjalan.
Tapi entah bagaimana, sesuatu di dalam dirinya mulai tergerak. Ada ketenangan yang ia temukan di sana, bahkan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, saat matanya masih bisa melihat dunia dengan jelas.
Dari sekadar mendengarkan, tumbuh keinginan untuk menghafal. Dari hafalan yang tersendat-sendat di awal, sedikit demi sedikit bertambah, ayat demi ayat, juz demi juz, hingga akhirnya, di hadapan kami semua yang duduk mendengarkan kemarin, beliau berdiri sebagai seorang penghafal quran, hafidz 30 juz. Sempurna. Utuh.
Dihafal bukan dengan mata, tapi dengan hati yang telah lama belajar melihat dengan cara yang berbeda. Perjalanan seorang hafidz tunanetra seperti ini tentu tidak sama dengan proses menghafal pada umumnya para penghafal quran.
Tanpa bisa melihat mushaf, tanpa bisa mengandalkan visual sama sekali, seluruh proses bergantung pada pendengaran dan pengulangan yang jauh lebih intens. Setiap ayat harus benar-benar diresapi lewat telinga dan hati, bukan sekadar dilihat berkali-kali seperti yang biasa dilakukan penghafal pada umumnya.
Barangkali justru di situlah salah satu hikmahnya, keterbatasan itu memaksa hubungan antara hati dan ayat-ayat Al-Qur’an menjadi jauh lebih dalam, karena tidak ada jalan pintas visual yang bisa diandalkan.
Rasa Malu yang Muncul Setelah Kekaguman
Saya duduk terpaku mendengar kisah itu. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan, campur antara takjub dan malu pada diri sendiri. Betapa sering saya mengeluh atas hal-hal kecil dalam hidup, sementara ada orang yang justru menemukan jalan menuju Allah lewat pintu yang paling menyakitkan sekalipun.
Saya jadi teringat, bahwa musibah dalam pandangan Allah tidak pernah datang sebagai hukuman semata. Kadang, musibah adalah jalan memutar yang justru menuntun seseorang menuju kemuliaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Kehilangan penglihatan itu, yang pada awalnya terasa seperti kiamat kecil bagi beliau, ternyata menjadi pintu menuju cahaya yang jauh lebih besar, cahaya Al-Qur’an. Cahaya yang menuntun hatinya lebih dekat kepada Sang Pemilik Cahaya itu sendiri.
Sepulang dari majelis itu, saya merenung panjang. Berapa banyak dari kita yang diberi mata yang sempurna, tapi justru jarang benar-benar “melihat” Al-Qur’an? Berapa banyak yang diberi waktu luang berlimpah, tapi justru menghabiskannya untuk hal-hal yang tak membawa bekal apa pun ke akhirat?
Pelajaran yang Tidak Akan Didapat dari Buku Manapun
Beliau, yang kehilangan penglihatannya di usia 23 tahun, mengajarkan kita sesuatu yang tak akan didapatkan dari buku manapun: bahwa keterbatasan bukanlah penghalang menuju kemuliaan, selama hati masih mau membuka diri pada hidayah. Terkadang, Allah mengambil satu nikmat, justru untuk menggantinya dengan nikmat lain yang jauh lebih agung, nikmat dekat dengan kalam-Nya.
Kisah seorang penghafal quran, hafidz tunanetra seperti ini sebenarnya bukan yang pertama saya dengar, tapi entah kenapa yang satu ini terasa berbeda. Mungkin karena disampaikan langsung, dengan suara dan nada yang bisa saya dengar sendiri getarannya, bukan sekadar tulisan yang dibaca dari layar.
Ada kejujuran dalam cara beliau bercerita yang sulit ditiru lewat teks semata, jeda-jeda kecil saat mengingat masa tergelap, dan ketenangan yang menyelimuti setiap kalimat yang keluar setelahnya.
Hari Ahad yang lalu itu, membekali sesuatu yang lebih dari sekadar ilmu tajwid atau tafsir ayat, tapi pulang membawa pengingat. Bahwa di balik setiap kegelapan yang Allah izinkan terjadi dalam hidup seorang hamba, selalu ada kemungkinan cahaya yang jauh lebih terang menanti di baliknya, asal hamba itu mau bersabar, dan mau mencari-Nya di tengah gelap yang paling pekat sekalipun.
Ya Allah, yang maha membolak-balikkan hati, jadikanlah setiap ujian yang Engkau titipkan kepada kami sebagai jalan mendekat kepada-Mu, bukan sebagai jalan menjauh. Dan jadikan kami termasuk hamba-hamba yang mampu menemukan cahaya-Mu, bahkan di tengah kegelapan yang paling gelap sekalipun.
Aamiin allahumma aamiin. 🤲




