Cerita Motivasi Anggota DPR Penghafal Alquran

No comment 128 views

cerita-motivasi-penghafal-quran

CERITA MOTIVASI ANGGOTA DPR PENGHAFAL ALQURAN. Sahabat setia pembaca website Pondok Islami, kali ini penulis ingin berbagi sebuah cerita motivasi, yang insya allah dapat membangkitkan semangat kita untuk senantiasa istiqamah menghafal Al Quran.

Kisah ini merupakan cuplikan kisah nyata, yang penulis ambil dari buku berjudul “Dalam Dekapan Mukjizat Al Quran“, dari penerbit Syaamil Quran, Bandung. Sebuah buku, yang merupakan kumpulan kisah nyata dari para wanita penghafal quran, para ibu, yang berjuang untuk selalu menjaga keistiqamahan dalam menghafal Al Quran, ditengah kesibukan keseharian mereka.

***********

CAHAYA INSPIRASI

“Usia Bapak sudah tua,” ujarnya saat menerima penghargaan dari panitia. “Mungkin bapak tidak cukup umur lagi untuk bisa selesai menghafalkan seluruh Al Qur’an. Yang bapak inginkan adalah tetap dalam keadaan istiqamah menghafal Al Qur’an ketika tiba saatnya Allah memanggil bapak nanti.”

Suatu ketika, pada bulan Desember 2014, Ibu Netty Heryawan memintaku untuk mewakili beliau dan memberikan sambutan di Mukhoyyam Quran Nasional. Saat itu, posisiku sebagai Ketua Pokja I PKK Provinsi Jawa Barat.

Atmosfer di dalam acara tersebut sungguh luar biasa. Energi positif memancar dari para penghafal Al Quran. Begitu indah rasanya, begitu damai. Ya Allah, ingin rasanya membawa atmosfer itu ke luar ruangan, membawanya ke mana-mana agar semua orang merasakan kedamaian dan energi positif ini.

Saat memberikan sambutan, kuceritakan pengalamanku saat mengikuti program Tahfiz Qur’an di Masjid Habiburrahman. Ketika itu, diadakan pemilihan peserta terbaik. Yang menjadi peserta terbaik itu ternyata seorang kakek yang tidak pernah alpa menyetorkan hafalan. Kakek itu pun selalu bersungguh-sungguh menghafal Al Qur’an.

“Usia Bapak sudah tua,” ujarnya saat menerima penghargaan dari panitia. “Mungkin bapak tidak cukup umur lagi untuk bisa selesai menghafalkan seluruh Al Qur’an. Yang bapak inginkan adalah tetap dalam keadaan istiqamah menghafal Al Qur’an ketika tiba saatnya Allah memanggil bapak nanti.”

Untaian kalimat yang keluar dari mulut kakek itu sungguh menyentuh batinku. Masya Allah……

Menghafal pada usia tua tidak semudah jika dilakukan saat muda. Daya serap otak tua tidak lagi sekuat anak muda. Daya tahan tubuhpun sudah tidak seprima dulu. Namun, usia tua tidak menghalangi semangatnya untuk menghafal Al Qur’an.

Menceritakan peristiwa itu kepada hadirin, membuat tenggorokanku tercekat, terharu. Terlintas doa di dalam hati agar jika kelak waktuku tiba, hafalan Al Quran tetap melekat di dalam jiwaku.

Ruangan pun sejenak hening.

“Semoga kita semua diberikan kemudahan untuk menghafalkan Al Quran dan menjaganya hingga akhir hayat,” tutupku.

Setelahku, giliran Ustadz Abdul Aziz memberi sambutan. Diluar dugaan, beliau berkata, “Bapak tua yang diceritakan oleh Ibu Salmiah tadi, akhirnya selesai menyetorkan hafalan Al Quran sebelum beliau meninggal dunia.”

Allahu Akbar….

Aku semakin bersemangat untuk menghafal Al Quran. Terbukti sudah bahwa usia tidak menjadi penghalang. Allah akan mempermudah orang-orang yang sungguh-sungguh berikhtiar meraih ridho-Nya.

Selain itu, aku pun ingin menjadi contoh bagi anak-anakku. Rasanya amat egois jika aku meminta mereka menghafal Al Quran, tetapi aku sendiri tidak berusaha untuk menghafal Al Quran. Jadi, aku harus memulainya dari diriku sendiri. Alhamdulillah, dua anakku sudah menyelesaikan setoran 30 juz hafalan Al Quran.

Seorang teman dalam pengajian rutin yang kuikuti menyarankanku untuk mengikuti halaqah di Pondok Quran. Usul yang menarik, tapi…saat itu aku baru empat bulan dilantik sebagai anggota DPRD Kota Bandung. Tugas dan kewajiban sebagai anggota dewan sudah menanti di depan mata.

Dengan agenda kerja sedemian padat, bagaimana aku bisa punya waktu untuk menghafal dan menyetorkan hafalan ? Pemikiran pesimistis menghantuiku. Menurut hitung-hitungan matematis, aku tidak mungkin bisa mengikuti halaqah itu. Namun, hati kecilku mendesak. Pergilah ke sana. Bergabunglah. Kau belum mencobanya bukan ?

Akhirnya, kumantapkan hati. Kuhubungi Teh Lana, salah satu pengurus Pondok Quran (PQ). Teh Lana menyambungkanku dengan grup halaqah Al Quran di Masjid Telkom Supratman yang dibimbing leh Teh Ana.

Setiap Ahad, kusetorkan hafalan kepada Teh Ana. Bagiku, Ahad bukan hari libur. Justru banyak aktivitas kemasyarakatan yang harus kudatangi pada hari tersebut. Namun, kusediakan waktu khusus untuk menyetorkan hafalan.

Dukungan suami tidak perlu ditanya lagi. Sungguh, aku bersyukur Allah memberiku pasangan hidup yang selalu mendukung aktivitasku.

JALANKU UNTUK LEBIH DIDENGAR

Menjadi anggota dewan memudahkan suaraku didengar oleh orang banyak. Memungkinkanku untuk mengajak masyarakat agar lebih dekat dengan Al Quran.

Sebagai anggota DPR Kota Bandung yang termasuk kategori pejabat publik, aku mendapat amanah untuk memperhatikan serta memperjuangkan kepentingan umat dan masyarakat Kota Bandung. Tugas-tugas itu begitu menyita waktu, tenaga, pikiran, juga perasaan.

Selain langsung mengunjungi masyarakat, aku juga terlibat langsung dalam berbagai rapat kerja. Rapat-rapat kerja tersebut perlu dikawal untuk memperjuangkan kebijakan yang berpihak pada kepentingan masyarakat. Dari rapat-ratap kerja tersebut, kelak lahir sejumlah peraturan daerah.

Terkadang, rasa lelah pun menghampiri, karena berbagai problematika dan tantangan dalam menjalankan tugas sebagai anggota DPR. Saat seperti itu, aku terus meminta perlindungan dan pertolongan Allah. Allah sebaik-baiknya pemberi pertolongan. Tidak ada yang perlu ditakutkan jika berjuang di jalan Allah. Aku lebih takut jika tidak bisa mengemban amanah dan tugasku sebagai wakil rakyat.

Sehari-hari, telingaku akrab dengan keluhan masyarakat atas berbagai kesulitan yang mereka hadapi, mulai dari akses terhadap pendidikan, kesehatan, permodalan untuk usaha kecil, dan sebagainya, sudah sering aku dengar.

Allah menempatkanku di sini, di posisi ini, agar bisa mendengarkan penderitaan mereka, agar bisa menyampaikan suara-suara lemah mereka kepada yang berwenang, agar bisa memperjuangkan kepentingan mereka. Bahagia rasanya jika berhasil mengadvokasi atau membantu masyarakat yang tengah kesulitan. Semuanya tak lepas dari izin Allah.

Kebahagiaan lain adalah ketika bertemu dengan komunitas ibu-ibu atau masyarakat untuk memberikan edukasi atau mengisi pengajian.

“Dalam kesibukan kita sehari-hari, selalu sempatkan diri untuk membaca dan menghafal Al Quran. Jangan gunakan waktu yang tersisa, ya Ibu-ibu. Namanya saja sudah sisa-sisa, pasti kualitasnya tidak sebaik yang utama. Ibu-ibu mau tidak kalau diberikan barang sisa-sisa atau makanan sisa ?”

“Tidak, Uuum…..”

“Tapi kalau makanan anak tidak habis, ya …. saya bantu menghabiskan sisanya, Um. Kalau dibuang kan, mubazir,” celetuk seorang ibu. Celetukan itu disambut tawa hadirin. Sepertinya, semua ibu pernah mengalami hal seperti itu, terutama jika punya anak kecil.

Kuedarkan tatapan kepada ibu-ibu majelis taklim yang memenuhi ruangan. Kemudian, kuceritakan perjuanganku menghafal Al Quran di sela-sela kesibukanku. Tidak ada niat untuk menyombongkan diri. Tidak ada niat untuk riya dan mempertontonkan amalan.

Kebaikan juga perlu disyiarkan agar semakin banyak yang tergerak untuk berbuat kebaikan serupa, atau bahkan lebih baik lagi. Aku berlindung kepada Allah agar dijauhkan dari sombong dan riya meski hanya sebesar zarah.

“Masya Allah … Ummi Salmiah, saya jadi malu. Padahal, kesibukan saya tidak ada apa-apanya dibandingkan kesibukan Ummi.”

Aku tersenyum, “Ibu-ibu pun pasti bisa. Kita luruskan niat. Kita azamkan dalam hati untuk selalu membaca dan menghafal Al Quran. Insya Allah, yang akan langsung memudahkan urusan kita nantinya.”

“Aamiin….”

“Naaah….siapa diantara Ibu-ibu yang rutin membaca satu juz setiap hari ? Atau ada yang sudah mulai menghafal Al Quran ?”

Hening sejenak. Malu-malu, satu-dua orang mengacungkan tangan.

“Alhamdulillah.”

Kepada mereka kuserahkan hadiah yang sudah kusiapkan dari rumah. Sekedar apresiasi kecil atas kecintaan mereka kepada Al Quran. Kelak, Allah yang akan memberikan balasan terindah untuk mereka.

Menjadi anggota dewan memudahkan suaraku didengar oleh orang banyak. Memungkinkanku untuk mengajak masyarakat agar lebih dekat dengan Al Quran.

PERJUANGAN MENGHAFAL QURAN SEUMUR HIDUP

Membaca, menghafal, dan mengamalkan Al Quran adalah salah satu bentuk perniagaan dengan Allah yang akan dibalas dengan Jannah-Nya.

Hafalan 17 juz selesai kusetorkan dalam waktu 17 bulan. Rasa syukur yang membuncah kutumpahkan dalam sujud yang panjang. Ditengah rasa syukur itu, terselip sedikit kekhawatiran tidak bisa menjaga hafalanku. Namun, buru-buru kutepis rasa itu. Kutegaskan dalam hati untuk selalu menjaga hafalanku itu. Aku membacanya ketika shalat dan mengulang-ulang membacanya di setiap kesempatan. Insya Allah, Allah akan memampukan.

 

Hafalan yang beringsut menghilang dari ingatan bukanlah sebuah dosa. Justru karena lupa aku akan terus dekat dengan Al Quran. Tentunya aku akan membaca dan menghafalkannya lagi. Yang menjadi dosa adalah jika tidak ingin menghafalkan Al Quran lagi.

“Dan barang siapa berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pengasih (Al Quran). Kami biarkan setan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya.” (QS. Az Zukhruf, 43:36)

Membaca, menghafal, dan mengamalkan Al Quran adalah salah satu bentuk perniagaan dengan Allah yang akan dibalas dengan Jannah-Nya.

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al Quran) dan melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi.” (QS. Fathir, 35:29)

***********

kisah-inspirasi-anggota-dpr-penghafal-quran.jpg

Demikianlah sahabat quran pembaca setia Pondok Islami, secuplik cerita motivasi anggota DPR penghafal alquran,  Ibu Hj. Salmiah Rambe, S.Pd. yang biasa disapa Ummi Salmiah, atau Teh Mia. Beliau selain aktif sebagai anggota DPRD kota Bandung, juga aktif sebagai penulis dan sering mengisi majelis taklim ibu-ibu, hingga menjadi pengurus sebuah organisasi politik di Jawa Barat.

Cerita nyata inspiratif di atas harapannya, semoga dapat menjadi motivasi kuat bagi siapapun, agar bersegera untuk rutin membaca Al Quran, menghafalkannya dan mengamalkannya. Karena kisah Ummi Salmiah di atas merupakan sebuah bukti nyata, bahwa menghafalkan Al Quran dapat dilakukan oleh siapapun, tanpa batas usia.

Terlebih lagi saat ini sudah banyak fasilitas/alat bantu untuk bisa menghafalkan Al Quran dengan menyenangkan, seperti mushaf khusus untuk hafalan, dari penerbit Syaamil Quran, Al Quran Tikrar. Dibantu dengan adanya gadget Speaker Audio Quran Murottal Quran lengkap 30 juz dari Al-Akram, yang mudah dibawa-bawa dan dapat didengarkan kapan saja, dimana saja. Dengan lantunan murottal dari berbagai qori yang suaranya enak didengar tentunya akan sangat membantu dalam murojaah hafalan.

Asalkan ada niat yang lurus, azzam yang kuat dan istiqamah untuk terus berjuang menghafalkan Al Quran, maka insya Allah, Allah akan memberikan berbagai jalan kemudahan, termasuk solusi atas problematika kehidupan kita di dunia ini. Aamiin ya Rabbal ‘alaamiin.

Kisah Ummi Salmiah yang penulis tulis ulang dengan judul Cerita Motivasi Anggota DPR Penghafal Alquran, merupakan secuplik kisah dari kumpulan kisah wanita, para ibu penghafal Quran yang ada dalam buku “Dalam Dekapan Mukjizat Al Quran”. Buku yang sangat menginspirasi dan penuh motivasi luar biasa, sangat layak untuk dimiliki oleh siapapun, yang ingin menjaga dan meningkatkan motivasi serta keistiqamahan dalam menghafal Al Quran.

Bagi sahabat yang ingin membaca seluruh kisahnya atau ingin mendapatkan info lebih lanjut dapat menghubungi admin Pondok Islami, pada link berikut : info buku Dalam Dekapan Mukjizat Al Quran.

Wallaahu’alam bishawab.

Semoga bermanfaat.

 

author
Author: 

    Leave a reply "Cerita Motivasi Anggota DPR Penghafal Alquran"

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.