Meritokrasi (Merit System) Dalam Pandangan Islam

MERITOKRASI DALAM PANDANGAN ISLAM. Sahabat pembaca setia Pondok Islami bagaimana kabarnya ? Semoga semua senantiasa berada dalam keadaan sehat, aktif dan selalu berusaha untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Aamiin.

Saat ini, tepatnya jelang pemilu 2024 kita sering sekali mendengar istilah meritokrasi atau Merit System. Istilah ini acap kali keluar dalam perbincangan ataupun perkataan dari para tokoh politik, termasuk calon presiden yang sedang berdiskusi ataupun berkampanye dalam rangka kontestasi politik tahun 2024.

Sebenarnya apa sih meritokrasi atau sistem merit tersebut ? Dan mengapa menjadi topik pembicaraan yang hangat saat ini ? Lalu, bagaimana juga Islam memandang sistem merit ini ?

Nah, dalam artikel singkat kali ini, penulis yang juga tertarik dengan istilah meritokrasi ini akan coba merangkum dari berbagai sumber terkait istilah ini, sekaligus coba melihat bagaimana pandangan Islam tentang hal ini.

Pengertian Meritokrasi atau Sistem Merit

Jika kita cek pada laman web kbbi, kata meritokrasi artinya adalah sistem yang memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memimpin berdasarkan kemampuan atau prestasi, bukan kekayaan, senioritas, dan sebagainya. Pengertian ini secara prinsip memiliki aplikasi luas, termasuk dalam bidang pendidikan, pekerjaan, dan pemerintahan.

Jika dilihat pada laman wikipedia, maka meritokrasi atau sistem merit berasal dari kata merit, dari bahasa Latinmereō; dan -krasi, dari bahasa Yunani Kuno: κράτος kratos, ‘kekuatan, kekuasaan’, adalah sistem politik yang memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memimpin berdasarkan kemampuan atau prestasi, bukan kekayaan atau kelas sosial. 

Kemajuan dalam sistem seperti ini didasarkan pada kinerja, yang dinilai melalui pengujian atau pencapaian yang ditunjukkan. Istilah meritokrasi sendiri diciptakan oleh seorang sosiolog Michael Dunlop Young dalam bukunya yang berjudul The Rise Of Meritocracy, pada tahun 1958.

Nah, sampai tahap ini, topik tentang meritokrasi ini mulai menarik bukan ? Apalagi jika kita amati dalam keseharian kita, baik di lingkungan tempat kita tinggal dan bersosialisasi, juga terutama di tempat bekerja atau berwirausaha, apakah sistem ini berjalan ? setengah berjalan atau sama sekali tidak berjalan ? Silahkan sahabat pembaca amati dan renungkan.

Hal yang menarik lainnya adalah, dalam Islam, melalui perintah Allah subhanahu wata’ala didalam Al Quran dan contoh teladan dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wassalam, konsep meritokrasi ini sudah lebih dahulu disampaikan dan diamalkan. Melalui shirah Nabawi, ataupun sejarah kekhalifahan Islam, kita bisa saksikan bagaimana sistem merit ini sudah berjalan dengan sempurna.

Artinya jauh sebelum dunia barat mengimplementasikannya, Islam sudah lebih dahulu mengajarkan dan menerapkan dalam sistem kepemimpinannya. Yuk, kita ikuti pembahasannya satu persatu di bawah ini.

Meritokrasi dalam Cahaya Al-Quran

Dalam konteks Islam, meritokrasi merupakan topik yang menarik dan kompleks. Islam mengajarkan keadilan sebagai salah satu prinsip utamanya. Oleh karena itu, setiap individual dihargai tinggi dalam kerangka Islam.

Ajaran Islam memberikan pedoman tentang bagaimana memberikan hak dan tanggung jawab berdasarkan kemampuan dan integritas seseorang.

Prestasi di Mata Allah

Allah menciptakan setiap hamba-Nya dengan potensi yang unik. Al Qur’an mengingatkan kita bahwa setiap perbuatan yang baik akan diberi balasan. Dalam Surah Al-Baqarah Allah berfirman,

وَأَنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلْقُوا۟ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى ٱلتَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوٓا۟ ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ

Artinya : “Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah :195)

Adil dan Berprestasi

Meritokrasi dan keadilan selalu berjalan beriringan dalam Islam. Allah menetapkan keadilan sebagai prinsip utama-Nya. Dalam Surah An-Nisa Allah berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ وَإِيتَآئِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nisa : 90)

Penilaian Berdasarkan Amal

Dalam pandangan Islam, meritokrasi juga mencakup penilaian berdasarkan amal perbuatan. Allah berfirman dalam Surah Al-Kahf,

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى ٱلْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik amal perbuatannya.” (QS. Al-Kahfi : 7)

Hadits yang Menerangi Meritokrasi

Dalam sejarah perjuangan dan dakwah Islam, prinsip meritokrasi sangat jelas melekat dalam setiap peristiwa-peristiwa besar, sebagaimana Rasulullah sampaikan dalam hadits-hadits beliau.

Kompetensi dalam Pemilihan Pemimpin

Begitu banyak pesan yang disampaikan Rasululllah shallallaahu ‘alaihi wassalam meritokrasi dalam memilih pemimpin. Diantaranya adalah sebagai berikut :

Rasulullah Saw. bersabda,

Artinya: “Tidaklah seorang hamba dibebani amanah ‎oleh Allah untuk memimpin rakyat lalu mati dalam keadaan berkhianat kepada rakyatnya; melainkan Allah akan ‎mengharamkan surga baginya.”  (Hadis sahih – Muttafaq ‘alaih)

Rasulullah SAW bersabda,

Artinya : “Tunggu tanggal kehancurannya, apabila amanat disia-siakan maka tunggu tanggal kehancurannya. “Para sahabat serentak bertanya, “Ya Rasulullah apa yang dimaksud menyia-nyiakan amanah itu?” Nabi SAW bersabda: “Apabila sesuatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya maka tunggu tanggal kehancurannya”. (HR Bukhari)

Rasulullah SAW bersabda,

Artinya : “Sebaik-baik pemimpin kamu adalah mereka yang kamu cintai dan mereka pun cinta kepada kamu, kamu menghormati mereka dan mereka pun menghormati kamu”. Sejelek-jelek pemimpin kamu, adalah yang kamu benci dan mereka pun benci kepada kamu, kamu melaknat mereka, mereka pun melaknat kamu”. (HR. Muslim Ahmad dan AdDarim)

Berkarya dengan Sebaik-Baiknya

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wassalam juga banyak memberikan contoh bahwa setiap pekerjaan harus dilakukan dengan sebaik-baiknya, sebagaimana sabda Beliau,

Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang apabila ia bekerja, ia menyempurnakan pekerjaannya.” (HR. Tabrani)

Artinya : “Sesungguhnya Allah mencintai salah seorang diantara kamu yang melakukan pekerjaan dengan itqon (tekun, rapi dan teliti).” (HR. Al-Baihaki)

Keseimbangan Meritokrasi dalam Islam

Meritokrasi dalam Islam bukan hanya bicara soal prestasi, akan tetapi melibatkan nilai-nilai luhur yang harus dimiliki seorang pemimpin yaitu niat yang tulus dan serta keikhlasan. Rasulullah bersabda,

Artinya : “Amal perbuatan hanya diterima berdasarkan niatnya, dan setiap orang hanya akan mendapatkan sesuai dengan niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Meritokrasi dalam Islam diberlakukan bukan hanya dari sisi keduniawian saja, akan tetapi juga ikut melibatkan nilai-nilai mulia yang harus menjadi dasarnya. Hal inilah yang nantinya akan melahirkan seorang pemimpin, yang dapat mewujudkan nilai-nilai islam, rahmatan lil alamin.

Menelusuri Kehebatan Para Sahabat

Para sahabat Rasulullah adalah teladan utama dalam praktik meritokrasi. Mereka bukanlah orang-orang yang dipilih berdasarkan keturunan atau status sosial, melainkan karena keunggulan dan dedikasi mereka.

1. Abu Bakar As-Shiddiq: Pemimpin yang Dibuktikan oleh Dedikasi

Abu Bakar Ash-Shiddiq, sahabat yang penuh keikhlasan, diangkat sebagai pemimpin umat Islam setelah Rasulullah wafat. Beliau bukanlah pilihan berdasarkan hubungan keluarga, melainkan karena ketaatan, keberanian dan keadilannya.

Ayat dalam Al-Quran menggambarkan kemuliaan dari golongan kaum Muhajirin sahabat yang dijamin masuk surga dan pertama masuk Islam, dan menurut para ahli tafsir diantaranya adalah sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq,

وَالسّٰبِقُوْنَ الْاَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِاِحْسَانٍۙ رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَاَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

Artinya : “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (Q.S. At-Taubah: 100)

2. Umar bin Khattab: Kepemimpinan yang Adil dan Tangguh

Umar bin Khattab, sahabat yang dikenal dengan kecerdasan, keberanian dan keadilannya, sehingga beliau mendapat gelar Al Faruq dari Baginda Rasul, yang artinya orang yang mampu memisahkan antara yang haq (benar) dan yang batil (salah), menegaskan meritokrasi dalam pemilihan pejabat.

Walaupun pemilihan beliau menjadi khalifah pengganti Abu Bakar Shiddiq melalui penunjukkan langsung dari Abu Bakar, akan tetapi sebelumnya telah melalui proses musyawarah yang dilakukan Abu Bakar dengan para sahabat Nabi lainnya. Kemudian hasil musyawarah tersebut menyetujui bahwa Umar Bin Khattab adalah pengganti yang paling tepat pada saat itu, dengan segala kelebihan dan keutamaan yang dimilikinya untuk memimpin umat Islam.

Dan hasil sistem merit tersebut, melahirkan pemimpin dengan prestasi yang tercatat sebagai tinta emas dalam sejarah dunia dan sejarah dakwah Islam. Masa pemerintahan Umar bin Khattab merupakan masa yang gemilang bagi perkembangan dan kemajuan agama Islam.

Walaupun hanya menjabat sebagai khalifah kurang lebih sepuluh tahun, akan tetapi prestasi yang telah diraih pada masa itu sangat signifikan. Diantara prestasi yang berhasil dicapai meliputi banyak bidang, seperti dalam bidang perluasan wilayah, penataan administrasi negara, bidang perekonomian, keamanan dan ketertiban masyarakat, dan lain sebagainya.

Bukan hanya prestasi dalam pemerintahan akan tetapi sosok pribadi Amirul Mukminin Umar Bin Khattab pun banyak meninggalkan inspirasi keteladanan seorang pemimpin. Kisah Umar Bin Khattab yang penuh inspirasi dari berbagai kejadian yang dialaminya semasa menjadi khalifah, dan berbagai quote inspirasi Umar Bin Khattab hingga kini tetap menjadi warisan keteladanan yang akan terus diperbincangkan dan diceritakan kepada generasi-generasi penerus.

Dengan berbagai pencapaian yang sangat cemerlang dan mengagumkan tersebut ada yang bahkan menyatakan bahwa Khalifah Umar bin Khattab adalah sebagai pendiri Negara Islam (Abbas Mahmud Al Akkad, Abqariyatu Umar, Terj.Gazirah Abdi Ummah “Kejeniusan Umar”, (Jakarta:Pustaka Azzam, 2002), hal. 95. Sumber : https://repository.uin-suska.ac.id/7186/3/BAB%20II.pdf)

3. Utsman bin Affan: Kekayaan Hati yang Diperoleh dengan Kebaikan

Utsman bin Affan, merupakan sahabat Nabi yang sangat dermawan, mendapat kepercayaan menjadi Khalifah ketiga. Pemilihan beliau tidak hanya didasarkan pada kekayaan materi semata, melainkan juga karena kekayaan hati dan kebaikan amalnya.

Banyak kisah Utsman Bin Affan dalam menjalankan bisnisnya yang penuh dengan hikmah pembelajaran. Begitu pula sifat kedermawananan beliau yang rela berkorban demi Islam, dan sangat berpengaruh terhadap gerak langkah perjuangan Islam pada masa itu.

Al-Quran menyatakan,

“Orang-orang yang meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, akan dilipat gandakan untuk mereka.” (Q.S. Al-Hadid: 18)

Utsman Bin Affan terpilih sebagai penerus tampuk kekhalifahan dari Umar Bin Khattab melalui proses syuro dari para sahabat terdekat Rasulullah yang mewakili golongan mereka masing-masing. Diantaranya adalah sahabat Abdurrahman bin Auf, yang secara syuro dipercaya para sahabat, untuk menentukan siapa yang berhak menggantikan Umar Bin Khattab untuk menjadi khalifah diantara Ali Bin Abi Thalib dan Utsman Bin Affan.

Beberapa keutamaan Utsman Bin Affan yang akhirnya menjadikan beliau sebagai penerus Umar Bin Khattab diantaranya :

1. Sahabat Utama Rasulullah & Ahli Surga

Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata,

Artinya : “Kami (para sahabat) pernah menilai orang terbaik di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka kami dapatkan yang terbaik adalah Abu Bakar radhiyallahu anhu , kemudian Umar bin Khattab radhiyallahu anhu , kemudian Utsman bin Affan, mudah-mudahan Allah meridhai mereka semua”. (HR. Bukhari)

Muhammad bin al-Hanafiyyah menceritakan saat ia bertanya kepada ayahnya,  Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, tentang sahabat utama rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Artinya : “Aku bertanya kepada ayahku, siapa orang terbaik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka ia menjawab: Abu Bakar, aku pun bertanya lagi :Kemudian siapa setelah itu? Ia menjawab: Kemudian Umar, maka aku khawatir ia akan menjawab Utsman setelah itu, aku pun segera memotongnya: kemudian engkau? Ia menjawab: Aku hanyalah seseorang dari kaum muslimin”. (HR. Bukhari)

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

Artinya : “Setiap Nabi memiliki teman karib di surga, dan teman karibku di surga adalah Utsman bin ‘Affan”. (HR. Ibnu Majah)

2. Sangat Dermawan Terhadap Umat & Jihad Fisabilillah

Kedermawanan Utsman Bin Affan sangat melegenda, dan banyak riwayat yang mengisahkan sifat kedermawanannya ini, beberapa diantaranya yang sangat populer dan sangat menginspirasi yaitu :

Pertama, saat terjadi masa paceklik air di kota Madinah, sehingga semua kaum muslim kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Maka tanpa ragu Utsman bin Affan setelah mendengar sabda Rasulullah bagi yang merelakan hartanya untuk membeli satu-satunya sumur air bersih milik orang Yahudi, untuk diwakafkan bagi kepentingan umat Islam Madinah, maka akan mendapatkan ganjaran surga (HR. Muslim).

Kedua, pada saat terjadi Perang Tabuk, yaitu sebuah peristiwa peperangan yang dialami kaum Muslimin di saat masa-masa sulit, sehingga dikenal juga dengan istilah Ghazwah Al-Usrah, yakni perang yang dilakukan dalam masa kesulitan dan kesempitan. Dalam situasi seperti demikian, Utsman Bin Affan menginfakkan 300 ekor unta perang beserta pelana dan perlengkapannya untuk pasukan kaum muslimin.

Sebagian riwayat lagi mengisahkan beliau juga menginfakkan 1000 dinar emas yang dimilikinya dan jika dikonversikan ke dalam mata uang rupiah saat ini, maka nilai 300 ekor unta akan setara dengan 3,6 miliyar rupiah, dan nilai 100 dinar emas akan setara dengan 1,7 miliar rupiah.

Bahkan ada sebagian riwayat lagi yang menceritakan sedekah ini ditambah dengan dirham perak dan dirham emas dalam jumlah fantastis, yang total nilainya jika dijumlahkan akan setara dengan triliunan rupiah. Masya Allah sifat kedermawanan sahabat Utsman Bin Affan sungguh menjadikan beliau sebagai sahabat utama Rasulullah yang pahalanya tidak lain hanyalah surga.

4. Ali Bin Abi Thalib : Kepemimpinan Dengan Ilmu, Keberanian & Keadilan

Ali bin Abi Thalib adalah sahabat yang sangat memegang erat sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wassalam, yang melarang untuk meminta-minta jabatan. Perintah inilah yang membuat Ali menolak permintaan para sahabat Nabi, untuk menggantikan kedudukan khalifah ke-3, Utsman Bin Affan yang wafat akibat pemberontakan.

Merujuk pada laman nu.or.id yang diambil dari buku Ali bin Abi Thalib, sampai kepada Hasan dan Husain (Ali Audah, 2015), sahabat Ali bin Abi Thalib bahkan menolak beberapa kali ketika ditujuk menjadi Khalifah keempat. Penolakan berulang kali oleh Ali bin Abi Thalib ini kemudian memicu keresahan para sahabat dan umat Islam di berbagai wilayah, hingga akhirnya sebagian perwakilan dari mereka mendatangi langsung Ali Bin Abi Thalib di Kota Madinah untuk membaiat Ali sebagai khalifah yang baru.

Para sahabat Rasulullah adalah saksi hidup akan kehebatan Ali. Mereka, tanpa memandang belakang, menyatukan suara dalam mendukung Ali sebagai pemimpin. Pemilihan ini bukan hasil rekayasa politik atau intrik, melainkan bukti nyata persatuan dalam meritokrasi.

Pemilihan Ali tidak hanya dilakukan oleh segelintir orang. Umat Islam pada saat itu, terlepas dari suku dan keturunan, turut serta dalam proses pemilihan. Ini menggambarkan bahwa meritokrasi bukan hak istimewa kelompok tertentu, melainkan hak seluruh umat.

Keutamaan Ali Bin Abi Thalib sehingga mendapatkan kepercayaan umat sebegitu besar dikarenakan Ali Bin Abi Thalib memiliki berbagai kelebihan dan keunggulan yang membuat para sahabat dan umat Islam pada masa itu begitu percaya kepadanya.

Diantara keutamaan Ali Bin Abi Thalib, sebagaimana dijelaskan pada laman web rumaysho, adalah sebagai berikut :

Pertama, Ali termasuk golongan sahabat yang pertama masuk islam (assabiqunal awwalun) dan dijamin masuk surga, sebagaimana hadits Rasulullah dari ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Artinya : “Abu Bakar di surga, ‘Umar di surga, ‘Utsman di surga, ‘Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, ‘Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’ad (bin Abi Waqqash) di surga, Sa’id (bin Zaid) di surga, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah di surga.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Kedua, Ali Bin Abi Thalib memiliki kedudukan yang penting bagi Rasulullah. Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ia berkata,

Artinya : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meninggalkan ‘Ali bin Abi Thalib saat perang Tabuk (untuk menjaga para wanita dan anak-anak di rumah). Ali pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, engkau hanya menugasiku untuk menjaga anak-anak dan wanita di rumah?’ Maka beliau menjawab, ‘Tidakkah engkau rela mendapatkan kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku?” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga, Ayah dari pemimpin pemuda di surga.

Dari Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Artinya : “Sesungguhnya Al-Hasan dan Al-Husain adalah pemimpin para pemuda di surga.” (HR. Tirmidzi)

Keempat, sosok yang dicintai kaum muslim.

Ali bin Abi Thalib mengatakan,

Artinya : “Demi Dzat yang membelah biji-bijian dan melepaskan angin. Sesungguhnya Nabi telah berjanji kepadaku bahwa tidak ada yang mencintaiku kecuali ia seorang mukmin, dan tidak ada yang membenciku kecuali ia seorang munafik.” (HR. Muslim)

Demikianlah sahabat pembaca yang dimuliakan Allah, Meritokrasi dalam Islam bukanlah sekadar konsep, tetapi realitas hidup yang diamalkan oleh umat islam khususnya para sahabat. Keikhlasan, keadilan, dan prestasi adalah nilai-nilai yang harus kita terapkan dalam kehidupan kita, karena itulah jalan menuju kesuksesan sejati.

Semoga artikel singkat mengenai apa itu konsep Meritokrasi dan pandangan Islam tentang Meritokrasi, dapat memberikan gambaran yang cukup jelas. Islam merupakan ajaran yang sempurna, dan mencakup semua aspek dalam kehidupan manusia.

Sudah selayaknya sebagai seorang muslim yang taat, untuk benar-benar mengamalkan ajaran-ajaran Islam dengan semampu dan semaksimal mungkin, sebagai sarana pengabdian dan rasa syukur kita sebagai hamba.

Wallahu’alam bishawab.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Template Tema Qurban & Idul Adha Terbaru
This is default text for notification bar