Author: admin

author

    Riba Dalam Islam : Ebook Gratis

    Download Gratis, Keuangan Islam, Perencanaan Keuangan Syariah No comment
    Riba Dalam Islam : Ebook Gratis

    RIBA DALAM ISLAM. Sahabat pencinta quran, tahukah sahabat tentang riba ? Apa itu riba ? Bagaimana pandangan Islam tentang riba ? Mengapa riba dilarang oleh Allah dan Rasulnya ? Perhatikan sabda Rasulullah berikut ini :

    عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ اَلنَّبِيِّ قَالَ: اَلرِّبَا ثَلاثَةٌ وَسَبْعُونَ بَابًا أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ اَلرَّجُلُ أُمَّهُ

    Dari Abdullah bin Masud RA dari Nabi SAW bersabda,”Riba itu terdiri dari 73 pintu. Pintu yang paling ringan adalah seperti seseorang yang menzinai ibunya”. (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim)

    Sungguh Nabi Muhammad SAW berabad-abad lalu telah menyampaikan bagaimana besarnya dosa riba itu. Bahkan yang paling ringan saja seperti berzina dengan ibunya sendiri. Melakukan zina saja sudah sangat berdosa, apalagi dengan ibunya sendiri, Itu baru dosa yang paling ringan lho sahabat, apalagi yang paling beratnya…Na’udzubillahi mindzalik.

    Sangatlah disayangkan bahwa transaksi riba saat ini sepertinya bukan menjadi kegiatan/transaksi yang dijauhi oleh kita, khususnya umat muslim, karena takut akan ganjaran dosa yang begitu berat. Malah sudah menjadi kebutuhan atau gaya hidup bagi sebagian umat muslim di jaman serba modern ini. Bisa jadi hal ini disebabkan ketidaktahuan atau kurangnya informasi / syiar tentang riba,  bahayanya serta dosa riba dalam islam.

    Untuk itu sebagai bagian dari ikut menyiarkan tentang riba ini, pondokislami.com menyertakan sebuah ebook gratis yang dapat sahabat pencinta quran download pada halaman dibawah ini, sebagai bahan referensi dan pengetahuan tentang riba dalam islam dan segala hal terkait riba menurut Alquran dan hadist.

    Dalam ebook ini sahabat Insya Allah akan mendapatkan pencerahan seputar riba yaitu :

    1. Pengertian Riba Dalam Islam
    2. Perbedaan perdagangan /jual beli dengan riba
    3. Hukum riba dan alasan sekelompok orang yang menghalalkannya
    4. Ancaman terhadap pelaku riba
    5. Solusi bisnis pengganti riba dalam islam melalui syirkah

    Imam Malik mengingatkan kita :

    “Siapa yang tidak mempelajari hukum-hukum jual beli niscaya ia memakan riba, suka atau tidak suka” (Imam Malik)

    Ebook-seputar-RIBA-download-gratisSebagaimana perkataan Khalifah Umar Bin Khattab terkait dengan transaksi muamalah dan riba, ketika sedang berjalan berkeliling pasar,

    “Tidak boleh berjual-beli di pasar kita, kecuali orang yang telah mengerti fiqh (muamalah) dalam agama Islam” (H.R.Tarmizi)

    Artinya, jangan coba-coba bertransaksi muamalah sebelum kita tahu ilmunya, karena tanpa ilmu fiqh yang benar kita cenderung akan terjerumus dalam dosa riba, yang sangat dilarang dalam Islam.

    Dengan adanya ebook seputar riba ini Insya Allah banyak yang akan mendapatkan manfaat dan dapat menjadi ladang amal bagi penulisnya, begitu pula bagi siapa saja yang turut mensyiarkannya terutama bagi yang mempraktekkan dalam kehidupan sehari-harinya. Semoga sharing ilmu tentang riba dalam islam ini, dapat mendatangkan keberkahan dan kebaikan bagi kita semua.

     

    Aaamin Ya Rabbal ‘alamin…

    Silahkan download file tentang riba yang berjudul “RIBA DITENDANG BAROKAH DATANG” disini.

    Jangan lupa share artikel ini kepada sahabat, saudara dan rekan-rekan Anda, agar semakin banyak yang mendapatkan kebaikan dan manfaatnya…..

    Note :
    Miliki buku “Harta Haram Muamalat Kontemporer” karangan Ustadz DR. Erwandi Tarmizi MA sebagai referensi terlengkap berbagai transaksi muamalat terkini.

    Jurnal Ramadhan : Download Gratis

    Download Gratis, Ibadah No comment
    Jurnal Ramadhan : Download Gratis

    Asslaamu’alaikum Wr. Wb.

    Sahabat pencinta quran, Alhamdulillah kita sudah memasuki bulan Ramadhan 1437 H. Semoga di bulan Ramadhan yang penuh dengan keberkahan ini kita bisa mendapatkan hikmah dan berkah yang sebaik-baiknya. Mari tingkatkan amal ibadah kita di bulan nan suci ini, dan jangan menyia-nyiakannya. Anggap saja bulan Ramadhan ini adalah hari-hari terakhir kita hidup di dunia. Jadikanlah bulan Ramadhan ini adalah bulan ibadah terbaik kita selama hidup.

    jurnal-ramadhanUntuk membantu peningkatan amal ibadah kita di bulan ini, silahkan sahabat pencinta quran untuk mendownload Jurnal Ramadhan gratis dibawah ini. Jurnal ini terdiri dari 16 halaman,  printable ! Ukuran A5. Isinya adalah sebagai berikut :

    • Target Ramadhan
    • Ramadhan Planner
    • Mutaba’ah Harian
    • Diary Ramadhan
    • Pencapaian Ramadhan
    • Notes

    Semoga bisa menjadi sarana penyemangat kita dalam beribadah dan memperbanyak amalan selama bulan penuh berkah dan rahmat serta maghfiroh ini…aamiin.

    Silahkan download di link berikut —–> Jurnal Ramadhan

    Semoga Bermanfaat.

    Ebook Panduan Puasa Ramadhan : Download Gratis

    Ibadah No comment
    Ebook Panduan Puasa Ramadhan : Download Gratis

    Program Buku Gratis: “Panduan Puasa Ramadhan, Bekal Meraih Ramadhan Penuh Berkah” 1437 H sejumlah 10.000 eksemplar (Gratis)

    Penerbit buku Islam Pustaka Muslim Yogyakarta dan Panitia Semarak Ramadhan YPIA insyaaALLAH akan menerbitkan dan membagikan secara gratis buku berjudul ‘Buku Panduan Ramadhan, Bekal Meraih Ramadhan Penuh Berkah’ yang ditulis oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal.

    panduan ramadhan edisi 7

                              Buku Panduan Ramadhan Edisi 7

    Insya Allah buku panduan puasa ramadhan ini akan diterbitkan sebanyak 10 ribu eksemplar dengan rincian 176 halaman ukuran A5 (14×20 cm). Alhamdulillah, buku ini telah tercetak sebanyak 7 kali:
    1. Cetakan pertama pada tahun 2009, sejumlah 4000 eksemplar.
    2. Cetakan ke-2 pada tahun 2010, sejumlah 4.000 eksemplar.
    3. Cetakan ke-3 pada tahun 2011, sejumlah 10.000 eksemplar.
    4. Cetakan ke-4 tahun 2012, sejumlah 12.000 eksemplar.
    5. Cetakan ke-5 tahun 2013, sejumlah 13.000 eksemplar.
    6. Cetakan ke-6 tahun 2014, sejumlah 15.000 eksemplar.
    7. Cetakan ke-7 tahun 2015, sejumlah 22.000 eksemplar.

    Tahun-tahun sebelumnya buku-buku tersebut telah didistribusikan ke masjid-masjid, mushola, sekolah, kampus, instansi, perusahaan, majlis taklim pengajian, dll.

    Pada cetakan ke-8 ini, difokuskan distribusi buku ini pada kaum muslimin yang belum mendapatkan buku ini pada cetakan-cetakan sebelumnya. Buku ini diharapkan dapat selesai didistribusikan 2 minggu sebelum bulan Ramadhan 1437 H. Direncanakan buku ini dapat mulai didstribusikan pada 5 Mei 2016. Untuk memperlancar proses cetak, dimohon agar donasi yang diberikan khusus buku panduan ramadhan telah diterima sebelum 15 Mei 2016.

    Cara Pemesanan buku Panduan Puasa Ramadhan :
    Bagi yang ingin mendapatkan buku panduan ini dengan cara memesan ke no HP 0851.0774.3338 (AS Flexi Pustaka Muslim). Jumlah buku maksimal yang diberikan sesuai dengan jatah yang telah ditentukan panitia. Baik untuk donatur maupun bukan donatur.

    Perkiraan Biaya Kegiatan
    Diperkirakan biaya cetak dan distribusi buku ini sebesar Rp. 12.000,- per buku. Sehingga total keseluruhan biaya akan menghabiskan biaya sekitar Rp. 120.000.000,-

    Karena begitu banyak yang menginginkan buku Panduan Puasa Ramadhan ini padahal stoknya hanya dibatasi 15.000 eksemplar, maka kami sengaja menyajikan buku Panduan Ramadhan tersebut dalam versi buku digital sehingga bisa mudah dibuka di iPad, tab atau di handphone para pembaca sekalian.

    panduan-ramadhan

    Download: Buku Panduan Ramadhan 1436 H

    Versi Panduan Puasa Ramadhan yang telah didownload ini tidak boleh dicetak dan dijual.

    Untuk tahun ini (1437 H) ada revisi dan penampilan lebih baik.
    Jika ingin pesan versi terbaru (1437 H) jual di Toko Online Ruwaifi.Com: 085200171222 (30 ribu rupiah per buku), beli banyak bisa diberi diskon.

    Bagaimana Cara Donasi Sebagai Amal Jariyah untuk Buku Ini?

    Bagi donatur yang ingin memberikan bantuan dalam kegiatan Semarak Ramadhan 1437 H / 2016 bisa ditransfer ke nomor rekening YPIA sebagai berikut:
    1. Bank BNI Syariah dengan no. Rekening 0241913801
    a.n. Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari
    2. Bank Muamalat dengan no. Rekening 5350002594
    a.n. Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Yogyakarta
    3. Bank Syariah Mandiri dengan no. Rekening 7031571329
    a.n. YPIA Yogyakarta
    4. Bank CIMB Niaga Syariah dengan no. Rekening 508.01.00028.00.0
    a.n. Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari

    Donatur yang telah menyalurkan bantuan dimohon memberikan sms konfirmasi ke no. 0857.4722.3366 (Bidang Donasi Dakwah YPIA) dengan format konfirmasi sbb:
    Nama#Alamat#Tanggal donasi#jumlah donasi#tujuan donasi#Rekening Tujuan Donasi#
    Contoh: Abdulloh#Jl. Slamet Riyadi, no 1000, Solo#1 mei 2012#Buku Panduan#BSM#

    Semoga ALLAH meberikan balasan kebaikan kepada kaum muslimin sekalian. Barokallohu fiikum.

    Tentang Buku Panduan Puasa Ramadhan

    Buku Panduan Puasa Ramadhan yang disusun oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M.Sc. berisikan berbagai hukum puasa dan amalan-amalan selama bulan puasa. Insya Allah bisa membantu kita dalam mempersiapkan dan menjalankan ibadah Ramadhan dengan lebih baik. Sangat layak kita miliki dan jadikan sebagai referensi.

    Buku ini awalnya diterbitkan oleh Pustaka Muslim dalam bentuk buku dan dibagikan gratis oleh Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari (Muslim.Or.Id) sebanyak 15.000 eksemplar. Buku ini terdiri dari 144 halaman dengan ukuran A5 (14 x 20 cm).

    Isi buku tersebut: motivasi untuk berilmu sebelum beramal, seputar hukum puasa, bacaan doa niat puasa ramadhan, keutamaan bulan Ramadhan, keutamaan puasa, shalat tarawih, qadha puasa, shalat Idul Fithri, panduan zakat fitrah dan maal, serta panduan mudik penuh berkah.

    Info selengkapnya di Muslim.Or.Id : Buku Panduan Ramadhan Muslim.Or.Id.

    Buku tersebut bisa diperbanyak dan dibagi secara gratis.

    Silakan sebar info ini pada yang lainnya. Semoga yang lainnya bisa mengambil ilmu bermanfaat dari buku tersebut. Bagi yang turut berdonasi untuk buku ini, semoga meraih berkah pada rezekinya.

    Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
    “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

    Aamiin Ya Rabbal Alamiin.

    Cara Mendidik Anak Agar Memiliki Kecerdasan Untuk Bertahan Hidup (Adversity Quotient)

    Parenting No comment
    Cara Mendidik Anak Agar Memiliki Kecerdasan Untuk Bertahan Hidup (Adversity Quotient)

    ADVERSITY QUOTIENT. Sahabat pencinta quran, pernahkah Anda mendengar tentang istilah Adversity Quotient ? Barangkali belum banyak yang mengetahui atau mendengar istilah tersebut. Adversity Quotient adalah sebuah istilah bagi kemampuan atau kecerdasan dalam menghadapi kesulitan atau hambatan dan kemampuan untuk bertahan dalam berbagai kesulitan hidup dan tantangan yang dialami (“Adversity Quotient”, Paul G. Stoltz). Kebanyakan dari kita orang tua, paham bagaimana cara mendidik anak kita untuk mengembangkan IQ (Intelegent Quotient) atau kecerdasan intelektual. Pertanyaannya adalah seberapa besar anak-anak kita menggunakan IQ dibandingkan dengan AQ ?Mari kita lihat bersama-sama.

    Pernahkah Anda mencoba untuk membetulkan keran sendiri ? Pasang lampu bohlam di rumah sendiri ? Ganti ban motor atau mobil yang bocor di jalan sendiri ? Me-lem sesuatu yang sdh terlanjur patah ? Membuka botol kaca yang Allahuakbar sangat susah sekali dibuka ? Bagi para bunda pernahkah bunda memasak sambil menggendong anak bahkan di sambi dengan menaruh pakaian kotor ke mesin cuci ? Menyetrika sambil bicara dengan mertua di telepon dan kaki menggoyang-goyangkan bouncer agar bayi mungil bunda tidak bangun dan menangis tanpa henti ?

    adversity_quotient_never_giveupHidup ini penuh dengan masalah, cobaan, kesulitan, tantangan dan pekerjaan susah yang kadang mau tidak mau harus kita jalani. Bagi kita yang tinggal di Indonesia, barangkali masih lebih enak dibandingkan dengan saudara-saudara kita yang tinggal di negara maju. Disini, pembantu, tukang air/ledeng, tukang bangunan, supir relatif mudah dimintakan pelayanannya dan terjangkau biayanya. Berbeda dengan saudara-saudara kita yang hidup di negara maju, mereka tahu betul bahwa pelayan dan pelayanan semua itu diluar jangkauan saku kita pada umumnya. Bagi para pekerja saja belum tentu bisa membayar jasa mereka, apalagi bagi para mahasiswa yang keluar negeri untuk menuntut ilmu, mengejar S2 atau S3.

    Kita tidak tahu apakah anak kita akan berada dimana di bagian bumi Allah ini nantinya, izinkan dia belajar menyelesaikan masalahnya sendiri. Jangan memainkan semua peranan, ya jadi ibu, ya jadi koki, ya jadi tukang cuci,. Ya jadi Ayah, ya jadi tukang ledeng, ya jadi supir.

    Anda bukanlah anggota tim SAR, anak Anda tidak dalam keadaan berbahaya, berhentilah memberikan bantuan bahkan ketika sinyal S.O.S nya tidak ada.Janganlah selalu membantu dan memperbaiki semuanya.

    Anak mengeluh sedikit karena puzzle tidak bisa nyambung menjadi satu, “…sini…ayah bantu”. Botol minum yang ditutup rapat sehingga sedikit susah untuk dibuka, ” …sini…mama saja yang buka…”. Sepatu bertali lama diikat saat sekolah sudah hampir telat,”….sini biar Ayah aja yang bantuin…”. Kecipratan kentang minyak goreng saat sedang menggoreng kentang, “… sudah sini mama saja yang gorengin…”.

    Kapan anak Anda bisa ? Jangankan di luar negeri, di Indonesia saja pembantu sudah semakin langka. Kalau bala bantuan muncul tanpa adanya bencana, apa yang akan terjadi saat bencana benar-benar terjadi ?

    Berikan anak-anak kesempatan untuk memecahkan masalahnya dan menemukan solusi mereka sendiri. Kemampuan menangani stress, menyelesaikan masalah, dan mencari solusi merupakan keterampilan/skill yang wajib dimiliki. Dan keterampilan/skill itu hanya bisa diperoleh dengan latihan dan jam terbang. Tanpa latihan memecahkan masalah sendiri dan menemukan solusi maka mustahil keterampilan/skill tersebut bisa dimiliki.

    CARA MENDIDIK ANAK AGAR MEMILIKI ADVERSITY QUOTIENT

    Mendidik anak saat ini haruslah dibarengi dengan ilmu, ya ilmu tentang pendidikan dalam keluarga. Salah satunya adalah ilmu tetang bagaimana membentuk kemampuan anak dalam bertahan menghadapi segala kesulitan dan tantangan dalam kehidupannya. Kemampuan menyelesaikan masalah dan bertahan dalam kesulitan tanpa menyerah bisa berdampak sampai puluhan tahun ke depan. Bukan saja bisa membuat seseorang lulus dan melewati jenjang pendidikan / sekolah tinggi, tetapi juga lulus melewati ujian dan berbagai badai dalam kehidupannya kelak. Tampak sepele saat ini…karena barangkali pemikiran orang tua adalah, apa yang salah dengan membantu anak ? Bukankah itu bukti perwujudan kasih sayang orang tua kepada anak ?

    cara-mendidik-anak-tangguh-hadapi-tantangan Sesungguhya dalam jangka panjang sikap dan “kasih sayang” seperti itu malah akan menjerumuskan anak Anda dalam lembah kesulitan di masa depannya kelak. Anak Anda akan menjadi pribadi yang ringkih, mudah layu sebelum berkembang. Tidak memiliki daya juang dan daya tahan terhadap perubahan yang terjadi dilingkungannya, termasuk dalam menghadapi persaingan dan masalah. Sedikit saja menghadapi kesulitan, segera meminta bantuan orang tua. Bertengkar sedikit dengan pasangannya, solusinya memilih untuk bercerai. Sakit sedikit mengeluhnya luar biasa. Masalah sedikit, bisa jadi gila bahkan memilih bunuh diri.

    Kalau saat ini Kita menghabiskan banyak waktu, perhatian, dan biaya untuk membentuk IQ-nya, maka habiskanlah hal yang sama untuk pembentukan AQ-nya juga. Bukankah kecerdasan ini yang jadinya lebih penting untuk mereka dalam menjalani dan menghadapi kehidupan serta masalah sehari-harinya ?

    Itulah kecerdasan yang dicontohkan oleh para rasul dan nabi utusan Allah SWT. Nabi Nuh dengan ketabahan dan sifat pantang menyerahnya saat berdakwah hingga ratusan tahun lamanya. Nabi Yusuf yang mengalami berbagai cobaan dalam kehidupannya hingga menjadi manusia pilihan. Nabi Ayyub yang terkenal dengan kesabarannya dalam menghadapi masalah dan cobaan dari Allah SWT sehingga mendapatkan kemuliaanya. Nabi terakhir dan manusia terbaik pilihan Allah SWT, Muhammad SAW yang kita tahu bagaimana perjalanan hidupnya dari sejak lahir hingga wafatnya, yang penuh dengan berbagai penderitaan, cobaan dan tantangan yang akhirnya menjadi contoh teladan terbaik bagi umat manusia.

    Perasaan mampu melewati ujian, merupakan suatu anugerah yang luar biasa nikmatnya. Bisa merasakan bagaimana kebahagiaan saat mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi mulai dari masalah yang sederhana hingga masalah sulit akan membentuk sikap percaya diri. Percaya pada kemampuan diri sendiri, dan meminta pertolongan orang lain hanya dilakukan bila sudah benar-benar tidak mampu. Setelah melakukannya berkali-kali, mencobanya berulangkali tanpa mengenal kata menyerah dalam waktu yang lama.

    Jadi, sudah saatnya kita mengizinkan anak kita melewati berbagai kesulitan. Tidak masalah mereka akan mengalami sedikit luka, sedikit menangis, sedikit kecewa, sedikit telat, dan sedikit kehujanan. Tahan lidah, tangan dan hati dari memberikan bantuan. Ajari mereka bagaimana menangani rasa frustasi, kesal, sedih dan kecewa tapi tetap mampu berpikiran positif dan melangkah maju.

    Kalau kita selalu menjadi ibu peri atau malaikat penyelamat anak-anak kita, bayangkan apa yang akan terjadi pada mereka saat kita telah tiada. Bisa-bisa mereka pun ikut mati bersama kita. Sulit memang untuk tidak mengintervensi, ketika melihat anak sendiri susah, sakit dan sedih. Apalagi sebagai orang tua insting pertama yang akan muncul adalah keinginan untuk melindungi. Jadi sesungguhnya melatih AQ anak kita adalah ujian buat kita sendiri sebagai orang tua.

    Tapi sadarilah bahwa kesulitan akan selalu ada, karena sudah merupakan sunatulah dari sang Maha Kuasa sebagaimana firman-Nya dalam Alquran surat Al-Baqarah 155-156 :

    “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”[101]. (Al Baqarah: 155-156)

    Orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang mampu bertahan melewati berbagai cobaan dan kesulitan dengan tetap memiliki keyakinan bahwa semua berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.

    “Permata hanyalah arang … yang bisa melewati tekanan dengan sangat baik”

    Semoga kita senantiasa diberikan keikhlasan dan kelapangan dada ketika berproses membesarkan mereka dengan cara mendidik anak yang benar, agar mereka kelak bisa menjadi manusia-manusia yang tangguh dan mampu menjadi permata-permata di muka bumi Allah yang sangat luas ini.

    Aamiin Yaa Rabbal ‘alamiin.

    sumber utama : Komunitas Parenting Islami, Ibu Elly Risman (Senior Psikolog dan Konsultan)

    Hukum Hutang Piutang Dalam Agama Islam

    Keuangan Islam, Perencanaan Keuangan Syariah No comment
    Hukum Hutang Piutang Dalam Agama Islam

    HUTANG DALAM ISLAM. Hari ini baru saja mendapatkan kiriman video tentang bahayanya memulai bisnis dengan bermodalkan hutang. Jadi kembali teringat saat beberapa tahun lalu masih menjadi bagian dalam lingkaran hutang piutang ini. Alhamdulillah, saat ini sudah bisa terbebas dari segala transaksi hutang piutang tersebut. Sesungguhnya hutang piutang sudah diatur dalam Islam dengan sangat jelas, termasuk berbagai batasan dan peringatan yang disampaikan Allah SWT dan Baginda Muhammad SAW. Salah satu yang penulis selalu ingat dan dahulu seringkali terngiang-ngiang di kepala adalah kisah tentang bagaimana Rasulullah SAW tidak mau menshalati jenazah orang yang masih memiliki hutang serta hadist beliau berikut ini :

    “Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali hutang.” (HR. Muslim no. 1886)

    Subhanallah, betapa beratnya hidup orang yang masih memiliki hutang, hingga Nabi Muhammad pun memberikan peringatkan dalam perumpamaan yang begitu berat seperti hadist di atas.

    hutang-piutang-dalam-islam

    Sungguh sebuah ironi dalam kehidupan kita masa kini, dimana berhutang bahkan bukan lagi menjadi sebuah transaksi yang harus dihindari semaksimal mungkin karena melihat beban akhirat yang begitu berat. Malahan berhutang sudah menjadi sebuah kebiasaan atau gaya hidup yang sudah membudaya hampir diseluruh lapisan masyarakat. Masih segar dalam ingatan kisah dari para orang tua tentang bagaimana beberapa puluh tahun lalu, orang masih sangat malu bila ketahuan memiliki hutang / kredit pada sebuah lembaga keuangan. Hingga seringkali ditutup tutupi karena tidak ingin ada tetangga atau saudara yang mengetahui bahwa mereka memiliki hutang pinjaman.

    Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat, hingga kini berhutang sudah bukan lagi sebuah hal yang tabu, bahkan sudah menjadi gaya hidup / life style. Keinginan untuk memiliki berbagai harta / asset secara cepat dan instant menjadi alasan orang untuk terlibat dalam transaksi hutang piutang tersebut. Memiliki banyak hutang seolah-olah sudah menjadi tanda-tanda kemakmuran dan kesuksesan seseorang. Keinginan dan kebutuhan akhirnya menjadi tersamarkan, seolah-olah semua keinginan itu adalah kebutuhan hidup yang harus terpenuhi segera.

    Baca juga :  Perbedaan Kebutuhan dan Keinginan Dalam Pencatatan Cash Flow Rumah Tangga

    Hampir setiap aspek kehidupan tidak luput dari transaksi hutang piutang ini. Memang tidak bisa dipungkiri perkembangan yang pesat dari pelaku-pelaku keuangan ribawi yang tumbuh dengan subur, dan memberikan berbagai kemudahan bagi orang untuk mendapatkan pinjaman hutang juga merupakan faktor yang mempercepat terbentuknya budaya berhutang ini. Sayangnya fenomena ini tidak diikuti dengan pemahaman yang baik tentang bagaimana hukum hutang piutang dalam islam sesungguhnya.

    Padahal bila kita kembali kepada hadist dan kisah Rasulullah SAW tersebut, harusnya kita akan berpikir berkali-kali untuk memiliki hutang. Mengapa ? Karena siapa yang bisa menjamin umur kita akan sampai hingga kita bisa melunasi hutang-hutang tersebut ? Bagaimana bila kita keburu dipanggil Allah sementara hutang kita belum terlunasi ? Siapa yang akan melunasi hutang-hutang kita tersebut ? Padahal jelas-jelas orang yang meninggal dengan meninggalkan hutang nasibnya seperti kisah dan hadist diatas.

    BOLEHKAH BERTRANSAKSI HUTANG PIUTANG?

    hutang-dalam-islam

    Dari berbagai sumber pada situs islami terpercaya, penulis dapatkan bahwa dalam Islam hutang dikenal dengan istilah Al-Qardh, yaitu berarti memotong atau dalam pengertian lain memberikan harta dengan kasih sayang, untuk digunakan dengan benar dan suatu saat nanti, harta tersebut akan dikembalikan lagi kepada si pemberi harta tersebut.

    Hukum hutang piutang dalam Islam adalah boleh. Sebagaimana firman Allah SWT pada surat Al-Baqarah:245 berikut (yang artinya) :

    “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”(Q. S. Al-Baqarah ayat 245)

    Allah memberikan ganjaran kebaikan yang lebih kepada orang yang memiliki kelapangan untuk membantu saudaranya yang sedang dalam kesulitan berupa pemberian hutang. Lalu bagaimana seharusnya hutang piutang itu dilakukan ?

    Nabi Muhammad SAW adalah contoh terbaik bagi kita. Untuk mempelari bagaimana hukum hutang piutang dalam Islam, mari kita lihat kehidupan beliau. Pernahkah Nabi Muhammad berhutang ? Mungkin pertanyaan itu yang akan muncul kemudian di benak kita kemudian. Di akhir hayat beliau, beliau masih memiliki hutang kepada seorang Yahudi, dan hutang beliau dibayarkan dengan baju besi yang digadaikan kepada orang tersebut. Hadistnya adalah sebagai berikut :

    Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallaahu’anhaa, bahwasanya dia berkata:

    “Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam membeli makanan dari seorang Yahudi dengan tidak tunai, kemudian beliau menggadaikan baju besinya” (HR Al-Bukhari no. 2200)

    Dari riwayat tersebut jelas sekali bahwa berhutang bukan sesuatu yang dilarang oleh Islam, karena Nabi Muhammad SAW pun melakukannya. Akan tetapi simak hadist yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiallaahu ‘anhaa, bahwasanya dia mengabarkan,

    “Dulu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa di shalatnya:
    “Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari azab kubur, dari fitnah Al-Masiih Ad-Dajjaal dan dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian. Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari hal-hal yang menyebabkan dosa dan dari berhutang“

    Berkatalah seseorang kepada beliau:
    “Betapa sering engkau berlindung dari hutang?”

    Beliau pun menjawab:
    “Sesungguhnya seseorang yang (biasa) berhutang, jika dia berbicara maka dia berdusta, jika dia berjanji maka dia mengingkarinya” (HR Al-Bukhaari no. 832 dan Muslim no. 1325/589)

    Jadi dari firman Allah SWT dan hadist diatas jelaslah bahwa berhutang bukanlah suatu perbuatan dosa sebagaimana telah disebutkan. Bahkan bagi pemberi hutang, Allah mengganjarnya dengan kebaikan/pahala yang berlipat, karena berarti telah membantu menolong saudaranya yang sedang ditimpa kesulitan. Tetapi, perlu secara khusus diperhatikan bagi orang yang diberi hutang, bahwa kebiasaan berhutang akan bisa mengantarkannya kepada perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh Allah subhaanahu wa ta’aala. Pada hadits di atas disebutkan dua dosa akibat dari kebiasaan berhutang, yaitu: berdusta dan menyelisihi janji. Keduanya merupakan perbuatan dosa yang sangat dilarang oleh Allah SWT.

    Dari kisah Nabi Muhammad SAW tersebut kitapun mempelajari bahwa berhutang itu dilakukan Nabi saat kondisi darurat. Mengapa ? Karena Nabi Muhammad berhutang saat beliau membutuhkan makanan, dan itupun ditukar dengan sebuah jaminan yaitu baju besinya. Artinya, bila Nabi Muhammad tidak bisa membayar hutangnya maka akan dibayar dengan baju besi yang dijadikan sebagai jaminan. Berhutang hanya dilakukan bila dalam kondisi sangat-sangat terdesak, yaitu taruhannya adalah hidup dan mati (tanpa mendapatkan makanan manusia bisa mati), itupun dibarengi dengan adanya cadangan jaminan kepastian pembayaran yang senilai dengan hutang tersebut.

    Pelajaran utama tersebut seolah-olah terlupakan oleh kita saat ini. Ditengah arus konsumerisme yang sangat luar biasa hebatnya, ajaran Rasulullah di atas jadi terlupakan atau sengaja dilupakan. Kita lebih sering selalu melihat ke atas terkait dengan kemakmuran dan ekonomi sehingga lupa ajaran Rasulullah untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada kita dengan senantiasa selalu melihat ke bawah. Yaitu melihat orang-orang yang ekonominya lebih rendah dari diri kita, sehingga yang muncul adalah senantiasa rasa syukur akan apa yang sudah kita miliki sebagai anugerah dari Allah SWT.

    akibat-berhutang

    Akibatnya budaya konsumerisme tersebut, kita lebih rela berkubang dalam hutang piutang yang sudah sangat jelas peringatannya dari Baginda Rasul dan bahkan cenderung mengarahkan kita pada dosa berikutnya yang tidak kalah hebatnya yaitu riba. Kita lebih memilih menuruti hawa nafsu agar terlihat hebat dimata manusia, yaitu dengan “memiliki” segala keinginan akan perhiasan dunia yang hanya sementara dan sebentar ini saja, serta rela mengorbankan “masa depan” kita sesungguhnya yaitu kehidupan akherat kelak yang kekal dan abadi. Allaahumma innaa na’udzu bika min dzaalika.

    Oleh karena itu beberapa syarat dan adab dalam Islam atau hukum hutang piutang dalam islam, ketika seseorang mau berhutang atau akan memberikan hutang kepada orang lain yang penulis dapatkan, agar terhindar dari keburukan kebiasaan berhutang dan mendapatkan kebaikan yaitu :

    1. Harta yang dihutangkan haruslah jelas dan halal
    2. Pemberi hutang tidak mengungkit-ungkit masalah hutang  dan tidak menyakiti pihak yang diberi hutang (peminjam)
    3. Pemberi hutang memiliki niat untuk menolong dan penerima hutang niatnya adalah untuk mendapatkan ridho Allah dengan menggunakan yang dihutangkan tersebut secara benar
    4. Tidak mengambil / memberi kelebihan atau keuntungan dari harta yang dihutangkan tersebut kepada pemberi hutang
    5. Berhutang hanya dalam keadaan terdesak/darurat
    6. Harus ada perjanjian tertulis dan saksi yang dapat dipercaya
    7. Pihak yang berhutang harus sadar akan hutangnya dan harus melunasi dengan cara yang baik (dengan harta atau benda lain yang sama halalnya) dan berniat melunasinya sesegera mungkin

    Berhutang memang diperbolehkan menurut Islam, namun menghindarinya adalah lebih baik. Allah SWT sudah mengatur rezeki setiap hamba-Nya . Hanya tinggal bagaimana kita menjemput rezeki tersebut, agar bisa mendapatkannya dengan cara yang halal. Jangan mudah tergiur dengan kemewahan sesaat, senantiasa berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT agar dilimpahkan rezeki yang halal dan berkah.

    Jika memang sangat amat terpaksa untuk berhutang, maka itu lebih baik dilakukan daripada berbuat maksiat semacam mencuri. Tapi harus diingat, tujuan berhutang adalah murni untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya dengan cara yang baik pula. Serta, di dalam hati sudah berniat untuk sesegera mungkin melunasi hutang tersebut agar tidak menjadi penghalang di akhirat nanti.

    Sebagai seorang muslim yang sangat mendambakan surganya Allah SWT, kita semua khususnya penulis pribadi, sudah selayaknya mulai menata kembali cara-cara kita menjalani kehidupan ini. Bukan hanya dalam hal ibadah saja, tetapi juga dalam hal bermuamalah, karena itulah yang hampir menyita sebagian besar waktu kita sehari-hari. Alangkah beruntungnya kita jika semua yang kita lakukan selama hidup di dunia ini bernilai ibadah.

    jaga-harta-dari-harta-ribawi-hutang-dalam-islamApa yang sudah diperintahkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah SAW merupakan jalan yang terbaik untuk kehidupan kita di dunia dan utamanya diakherat kelak. Khusus dalam bermuamalah, sudah saatnya kita jangan hanya terpaku pada apa-apa yang sudah terjadi dan menjadi budaya saat ini. Sudah selayaknya umat islam mulai kembali melihat dan mempelajari sunnah-sunnah yang sudah dicontohkan Rasulullah SAW dan para sahabat. Terlebih dalam hal hutang piutang dan transaksi ribawi yang saat ini sudah menjadi budaya modern akan tetapi sungguh-sungguh sangat diwanti-wanti oleh Rasulullah dan Allah SWT. Sudah selayaknya kita belajar lebih serius lagi tentang bagaimana hutang dalam Islam itu diatur.

    Baca juga artikel : Ada Apa Dengan Riba Dalam Islam

    Bagi penulis pribadi, mempelajari transaksi muamalah berdasarkan tuntunan Alquran dan Sunnah adalah sebuah kewajiban. Jangan sampai apa-apa yang kita makan dan konsumsi merupakan hasil dari transaksi dan perilaku yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Semoga pembahasan tentang hukum hutang piutang dalam islam ini dapat memberikan manfaat dan pemahaman yang lebih baik bagi kita semua. Harapannya tentu saja semoga kita senantiasa terhindar dari beratnya timbangan amal keburukan dan dosa saat hari penghisaban kelak. Aamiin.

    Wallahu’alam bishawab…

    sumber :

    http://dalamislam(dot)com/dasar-islam/bahaya-hutang-dalam-islam
    https://muslim(dot)or(dot)id/13427-bahaya-kebiasaan-berhutang.html
    https://almanhaj(dot)or(dot)id/2716-adab-berhutang.html
    https://rumaysho(dot)com/187-bahaya-orang-yang-enggan-melunasi-hutangnya.html

    Belajar Alquran Metode Nabi dan Para Sahabat

    Alquran No comment
    Belajar Alquran Metode Nabi dan Para Sahabat

    Sahabat muslim pencinta Alquran, seperti kita pahami dan yakini bahwa belajar Alquran adalah kewajiban setiap muslim. Mengapa ? Karena Alquran adalah pedoman utama bagi seorang muslim dalam menjalani kehidupannya di dunia ini. Sebagaimana sabda Rasulullah :

    “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Alquran dan mengamalkannya” (HR Bukhari)

    Oleh karenanya Rasulullah selalu mengajarkan bahwa orang yang terbaik adalah mereka yang melakukan dua hal yaitu, belajar Alquran dan mengamalkan Alquran. Artinya, belajar Alquran saja tidaklah cukup, tetapi tahapan berikutnya adalah kita memiliki kewajiban untuk mengamalkannya.

    cara belajar alquran

    Namun tahukah kita, bagaimana caranya belajar Alquran ? Saat ini sudah sangat banyak sekali cara belajar Alquran, mulai dari cara membaca Alquran, cara menghafal Alquran hingga tentu saja bagaimana menerapkannya dalam kehidupan. Mulai dari metode Iqro yang populer bagi umat muslim yang mau belajar membaca Alquran, hingga metode menghafal alquran dengan pengulangan / repetisi yang lebih dikenal saat ini dengan istilah metode tikrar (dengan mushaf alquran tikrar sebagai pelengkapnya, dan masih banyak lagi metode atau cara-cara lainnya yang tidak semua kita ketahui.

    Akan tetapi pernahkan terpikirkan oleh kita, bagaimana para sahabat Nabi dahulu saat mempelajari Alquran ? Pada saat Alquran pertama kali diturunkan, bagaimanakah cara Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Muawiyah, Abdurrahman bin Auf, Mushab bin Umair, Aisyah, dan para sahabat lain belajar Alquran? Pada masa awal dakwah Nabi Muhammad SAW, para sahabat belajar Alquran secara langsung kepada Nabi Muhammad dengan cara lisan dan hafalan. Hal ini disebabkan pada masa itu para sahabat memiliki daya hafalan yang kuat, disamping pada masa itu alat-alat tulis belum ada. Hingga pada masa pemerintahan Khalifah Umar Bin Khattab pun beliau sangat mengutamakan hafalan ayat-ayat Alquran, bukan membaca dari lembaran-lembaran Alquran. Baru kemudian pada masa Khalifat Utsman bin Affan, Alquran dibukukan dan diberi nama “Al Mushaf”.

    Metode belajar Alquran para sahabat Nabi sangat unik. Metode mereka sangat layak untuk kita tiru. Sebab, metode mereka pasti merupakan hasil mencontoh dari pola Nabi Muhammad saat mengajarkan Alquran pada para sahabatnya itu. Alhamdulilah agama kita diberkahi dengan hadist. Salah satu fungsi hadist adalah memperjelas ayat-ayat Alquran. Dari seorang sahabat, yakni Abdurrahman as-Sulami, kita mendapatkan informasi tentang metode para sahabat Nabi. Seperti apakah caranya?

    Metode Belajar Alquran Para Sahabat Nabi

    Dari Abi Abdurrahman as-Sulami, ia berkata, “Para pembaca Alquran semisal Utsman bin Affan, Abdullah bin Mas’ud, dll, bercerita kepada kami bahwa mereka belajar dari Rasulullah 10 ayat. Mereka tidak menambahnya sampai memahami makna kandungannya dan mengamalkannya. Mereka berkata, ‘Kami mempelajari Alquran, memahaminya, sekaligus mempraktikkannya’.

    belajar alquran generasi sahabat nabi

    Dari perkataan tersebut kita bisa mendapatkan keterangan tentang bagaimana para sahabat Nabi dahulu belajar Alquran, yaitu :

    1. Sahabat Nabi belajar Alquran per 10 Ayat.

    Mereka tidak terburu-buru dalam mempelajarinya. Mereka tidak akan pindah ke ayat ke-11, apabila 10 ayat yang sebelumnya belum selesai dipelajari. Bukan hanya itu, selanjutnya setelah mempelajari 10 ayat tersebut, mereka pun tidak akan pindah ke ayat ke-11 apabila belum memahami sekaligus mengamalkan 10 ayat yang sedang dipelajarinya itu. Masya Allah, unik sekali, bukan ? Bahkan sangat istimewa dan luar biasa. Para sahabat Nabi hanya belajar Alquran dengan cara belajar tiap 10 ayat, akan tetapi sangat lengkap seperti hadist Nabi Muhammad diatas, mempelajari Alquran hingga mengamalkannya.

    Sangat jauh bila dibandingkan dengan kita saat ini. Kita biasanya tidak sabar dalam belajar Alquran. Kita lebih sering ingin cepat-cepat bisa belajar banyak ayat. Bisa jadi di antara kita ada yang langsung belajar 20 ayat, 30 ayat, atau bahkan 1 surat Alquran langsung yang bisa berisi puluhan sampai ratusan ayat. Lebih terpaku pada mengejar hafalan ayat-ayat Alquran, daripada memahami apalagi sampai mengamalkannya.

    Walaupun sahabat Nabi adalah orang-orang yang imannya paling kuat dan paling dekat dengan Nabi Muhammad saw, mereka tidaklah terburu-buru dalam belajar Alquran. Para sahabat nabi justru sebaliknya. Mereka tidak belajar Alquran banyak-banyak sekaligus. Mereka justru belajar Alquran sedikit-sedikit, tiap 10 ayat. Dan ini adalah metode sahabat Nabi yang sungguhan karena diberitakan oleh sahabat Nabi juga yang bernama Abdurrahman as-Sulami.

    2. Sahabat Nabi Belajar Alquran dengan Cara Menghafal dan Memahami Maknanya.

    Walaupun mereka sendiri adalah orang arab dan Alquran diturunkan dalam bahasa arab, mereka tetap berusaha Mmmahami arti tiap kata. Selain itu, para sahabat Nabi juga belajar Alquran dengan cara mempelajari makna (tafsir) Alquran yang langsung diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.

    Inilah uniknya para sahabat Nabi. Mereka belajar Alquran tidak saja hanya belajar membaca dan menghafal, tetapi juga tafsirnya. Walaupun para sahabat Nabi sebagian besar adalah orang Arab dan Alquran juga diturunkan dalam bahasa Arab, namun mereka tetap merasa perlu untuk mempelajari cara menafsirkan Alquran langsung dari Rasulullah SAW.

    Sekarang coba kita bandingkan dengan kita saat ini. Jika kita ingin belajar Alquran biasanya yang kita maksudkan adalah belajar membaca Alquran. Barangkali kondisi yang lebih baik adalah sampai dengan belajar menghafal Alquran, bukan belajar tafsir Alquran. Sementara kita sendiri bukanlah orang Arab yang sudah pasti tidak memahami arti bahasa Arab. Sehingga seharusnya yang kita sebut dengan belajar Alquran adalah termasuk mempelajari bahasa Arab agar dapat menafsirkan Alquran.

    3. Tahap berikutnya setelah mereka hafal Alquran dan memahami makna ayat dan tafsirnya, berusaha untuk mengamalkan ayat tersebut. Mereka tidak akan pindah mempelajari ayat Alquran yang lain hingga semua proses ini dilalui dengan lengkap, sebagaimana Abdurrahman as-Sulami mengatakan,

    “Mereka (para sahabat Nabi) tidak menambahnya (belajar Alquran) sampai memahami makna kandungannya dan mengamalkannya”

    Jika kita detilkan maka langkah-langkah yang dilakukan para sahabat Nabi dalam belajar Alquran terdiri dari 5 langkah yaitu :
    1. Belajar per 10 ayat
    2. Menghafalkan 10 ayat tersebut
    3. Mempelajari makna dan tafsir ayat-ayat tersebut
    4. Mengamalkanya sesuai petunjuk Rasulullah SAW
    5. Tidak pindah ke ayat lain sebelum 10 ayat tersebut tuntas dipelajari hingga diamalkan

    Itulah cara para sahabat Nabi dalam belajar Alquran yang dikabarkan oleh Abdurrahman As-Sulami. Pantas saja para sahabat menjadi generasi yang paling paham dengan Alquran. Itu tidak mengherankan, sebab metode belajar Alquran mereka begitu bagus dan sistematis.

    Oleh karena itu jika kita ingin menjadi generasi seperti para sahabat, atau minimal bisa mendekati mereka, maka sudah saatnya kitapun mencontoh cara mereka belajar Alquran agar kita menjadi generasi muslim yang lebih baik seperti yang diharapkan baginda Rasulullah SAW.

    Aamiin Yaa Rabbal ‘alamiin…

    Lihat Juga : 4 Jam Bisa Baca Quran dan 8 Jam Bisa Terjemah Alquran

    Al Quran Tikrar Syaamil Quran Edisi Ukuran A4 Besar

    Alquran No comment
    Al Quran Tikrar Syaamil Quran Edisi Ukuran A4 Besar

    Al Quran Tikrar merupakan Alquran khusus hafalan, yang sudah digunakan oleh ribuan orang sejak diluncurkan pada bulan Ramadhan tahun 2015 lalu. Alhamdulillah sudah banyak masyarakat yang merasakan manfaat dari cara menghafal Alquran dengan metode pengulangan/repetisi/tikrar yang ada pada Al Quran Tikrar ini. Tidak heran bila pelatihan-pelatihan penggunaan metode menghafal Alquran dengan Al Quran Tikrar ini pun sudah dilaksanakan dibeberapa kota di Indonesia, dan disambut dengan sangat antusias oleh para peserta.

    isi-mushaf-alquran-tikrar

    Menghafal Alquran menjadi lebih mudah dan menyenangkan karena metode bittikrar/tikrar yang digunakan adalah metode yang menerapkan pola pengulangan/repetisi, tanpa perlu menghafalkan secara khusus. Sehingga tidak heran bila tagline yang digunakan pada produk mushaf Alquran Tikrar ini adalah “Hafal tanpa Menghafal”. Diharapkan dengan menerapkan metode ini, setiap muslim bisa menghafalkan Alquran cukup dengan rajin membaca Alquran secara berulang-ulang mengikuti metode yang diajarkan pada Alquran Tikrar. Insya Allah dengan mengikuti secara konsisten dan istiqamah, maka ayat-ayat yang dibaca berulang-ulang tersebut akan hafal dengan sendirinya. Sehingga siapapun bisa menjadi penghafal Alquran. Aamiin.

    Alquran Tikrar Edisi Ukuran A4 Besar

    Walaupun demikian tiada gading yang tak retak. Peluncuran Alquran Tikrar ini pada awalnya memang hanya dikeluarkan dalam ukuran kecil B6 (12 cm x 16,6 cm) dan sedang A5 (14,8 cm x 21,1 cm). Sehingga bagi sebagian masyarakat yang mengalami masalah dengan penglihatan (karena usia atau faktor lainnya), menjadi kendala tersendiri dalam menggunakan Alquran Tikrar yang ada tersebut. Seiring dengan semakin meluasnya animo masyarakat terhadap penggunaan Alquran Tikrar ini, maka dalam rangka memenuhi kebutuhan yang tinggi dan menjawab kendala masyarakat terhadap ukuran Alquran Tikrar, maka Penerbit Syaamil Quran telah meluncurkan produk mushaf Alquran Tikrar edisi ukuran A4.

    Pada awal peluncuran Alquran Tikrar, ukuran mushaf yang dikeluarkan oleh Syaamil Quran adalah ukuran B6 (12 cm x 16,6 cm) dan ukuran A5 (14,8 cm x 21,1 cm). Karena kebutuhan yang tinggi, terutama usia dewasa dan usia tua yang membutuhkan ukuran yang lebih besar, pada 31 Maret 2016 ini, mushaf Tikrar ukuran A4 (21,5 cm x 30,1 cm) telah resmi dikeluarkan. Semoga dengan dikeluarkannya produk Alquran Tikrar ukuran A4 ini dapat menjadi solusi bagi masyarakat yang selama ini mengalami gangguan karena penglihatan.

    alquran tikrar ukuran a4 besarHarga Jual Alquran Tikrar Ukuran A4 Besar

    Harga Al-Quran Tikrar ukuran A4 yaitu Rp. 129.000,- (belum ongkir dari Bandung)

    Spesifikasi Mushaf Tikrar ukuran A4 adalah sebagai berikut :

    Ukuran cover Al-Qur’an Tikrar A4 : 21,5 cm x 30,1 cm
    Ukuran isi Al-Qur’an Tikrar A4 : 21 cm x 29,7 cm
    Jumlah halaman : 616 halaman
    Bahan cover luar : Art paper 150 gram
    Bahan isi : Quran Paper premium 50 gram

    Untuk harga dan ukuran Alquran Tikrar lainnya sebagai berikut :

    Ukuran A5 (14,8 cm x 21,1 cm) : Rp. 79.000,-
    Ukuran B6 (12 cm x 16,6 cm)) : Rp. 59.000
     

    Informasi dan pemesanan Al-Quran Tikrar
    SMS / Call : 087821830344
    BBM : 27C69F90
    WA : 087821830344

    “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka, dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri”

    Q.S Fathir [35]:29-30

    Silahkan sebarkan informasi ini kepada saudara, teman dan handai taulan. Semoga dengan adanya mushaf Alquran Tikrar dari Syaamil Quran ini, bisa mewujudkan mimpi kita untuk menjadi penghafal Al-Quran. Aamiin Ya Rabbal Alaamin.

    Salam.

    Shalat Gerhana Dan Fenomena Alam Gerhana Matahari

    Ibadah No comment
    Shalat Gerhana Dan Fenomena Alam Gerhana Matahari

    Alhamdulillah, pagi ini diberikan kelapangan dan kemudahan untuk bisa melaksanakan Shalat Gerhana, tepatnya shalat gerhana matahari yang terjadi beberapa menit lalu pada tanggal 9 Maret 2016. Memang kota Bandung, tidak dilalui langsung oleh peristiwa gerhana matahari ini, tetapi masyarakat masih bisa melihat secara langsung fenomena alam gerhana matahari partial/sebagian yang dapat disaksikan sejak sekitar pukul 7.30 pagi, dan berlangsung selama sekitar 10 menit, hingga matahari kembali bersinar penuh seperti normalnya di waktu pagi hari.

    gerhana-matahari-parsial

    Gerhana Matahari Sebagian / Parsial

    Sungguh sebuah fenomena alam yang sangat langka, dan konon hanya terjadi dalam rentang waktu 33 tahun sekali. Mungkin kita selama hidup hanya bisa menyaksikan  tidak lebih dari 2 kali saja peristiwa fenomena alam ini, jika melihat rata-rata umur manusia berkisar 60-70 tahun. Tidak heran jika banyak masyarakat, yang berduyun-duyun ingin mengabadikan momen ini sebagai kenang-kenangan. Hal itu pula yang penulis saksikan saat perjalanan pulang shalat gerhana dari Mesjid Pusdai Bandung, dan melewati salah satu jalan layang di kota Bandung. Cukup banyak masyarakat dan pengendara yang berhenti di pinggir jalan layang, untuk mengambil gambar atau video peristiwa fenomena alam gerhana matahari parsial yang saat itu masih berlangsung. Posisi sudut pandang yang sangat terbuka luas, menjadi alasan utama pengambilan gambar fenomena gerhana matahari dari atas jalan layang tersebut.

    Apapun kejadian menariknya dari fenomena gerhana matahari itu, satu hal yang terpenting perlu dipahami oleh kita umat muslim adalah, tentang perilaku dan contoh yang ditunjukkan oleh junjungan kita Rasulullah Muhammad SAW, saat mengalami peristiwa yang sama ribuan tahun lalu. Salah satu sahabat Rasulullah yang ikut bersama Rasullullah saat hijrah ke Madinah, Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu menuturkan,

    ”Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi lantas berdiri takut karena khawatir akan terjadi hari kiamat, sehingga beliau pun mendatangi masjid kemudian beliau mengerjakan shalat dengan berdiri, ruku’ dan sujud yang lama. Aku belum pernah melihat beliau melakukan shalat sedemikian rupa.”
    Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam lantas bersabda,”Sesungguhnya ini adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang ditunjukkan-Nya. Gerhana tersebut tidaklah terjadi karena kematian atau hidupnya seseorang. Akan tetapi Allah menjadikan demikian untuk menakuti hamba-hamba-Nya. Jika kalian melihat sebagian dari gerhana tersebut, maka bersegeralah untuk berdzikir, berdo’a dan memohon ampun kepada Allah.”

    Salah seorang ulama, An Nawawi rahimahullah menjelaskan mengenai maksud kenapa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam takut, khawatir terjadi hari kiamat. Beliau menjelaskan dengan beberapa alasan, di antaranya:

    Gerhana tersebut merupakan tanda yang muncul sebelum tanda-tanda kiamat seperti terbitnya matahari dari barat atau keluarnya Dajjal. Atau mungkin gerhana tersebut merupakan sebagian tanda kiamat. Hendaknya seorang mukmin merasa takut kepada Allah, khawatir akan tertimpa adzab-Nya. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam saja sangat takut ketika itu, padahal kita semua tahu bersama bahwa beliau shallallahu ’alaihi wa sallam adalah hamba yang paling dicintai Allah. Lalu mengapa kita hanya melewati fenomena semacam ini dengan perasaan biasa saja, mungkin hanya diisi dengan perkara yang tidak bermanfaat dan sia-sia, bahkan mungkin diisi dengan berbuat maksiat. Na’udzu billahi min dzalik.

    Dari contoh Rasulullah SAW tersebut, jelaslah bagi kita umat muslim, bahwa peristiwa fenomena alam gerhana matahari itu merupakan salah satu tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, dan merupakan salah satu tanda-tanda juga bahwa semakin dekat waktu kita menghadapi hari kiamat, suatu hari yang pasti akan datang, dan kita sebagai hamba-hamba-Nya harus siap mempertanggungjawabkan segala perbuatan dan amal kita selama hidup di dunia ini di hadapan sang Khalik, Allah SWT. Setiap peristiwa gerhana seharusnya menjadikan kita semakin takut kepada Allah SWT, semakin malu akan segala dosa dan perbuatan buruk yang kita lakukan selama ini. Bukan malah menjadikan peristiwa fenomena alam ini sebagai ajang hiburan semata, bahkan perbuatan-perbuatan yang malah menjurus pada maksiat, dengan perayaan dan pesta-pesta yang berlebihan.

    TUNTUNAN ISLAM SAAT TERJADI FENOMENA ALAM GERHANA MATAHARI

    Apakah kemudian tuntunan Islam dan Rasulullah untuk menyikapi kejadian fenomena alam gerhana matahari ini ? Kembali kepada contoh Rasulullah SAW di atas, maka yang terbaik harus dilakukan oleh kita adalah memperbanyak zikir, do’a dan memohon ampunan kepada Allah. Ritual ibadah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW saat menghadapi gerhana matahari sebagaimana hadist berikut ini,

    “Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk menyeru ‘ASH SHALATU JAMI’AH’ (mari kita lakukan shalat berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at. (HR. Muslim)

    “Aisyah menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri. Kemudian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak.” (HR. Bukhari)

    Berdasarkan hadist tersebut maka hal-hal yang harus dilakukan saat terjadi gerhana matahari dapat kita rangkum sebagai berikut :

    1. Perbanyak zikir, istighfar, takbir, sedekah dan bentuk ketaatan lainnya

    2. Bersegeralah ke mesjid untuk melaksanakan shalat sunat gerhana berjamaah di mesjid.

    Bagaimana bila tidak berjamaah ? Apakah shalat berjamaah merupakan syarat shalat gerhana ? Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin menjelaskan, ”Shalat gerhana secara jama’ah bukanlah syarat. Jika seseorang berada di rumah, dia juga boleh melaksanakan shalat gerhana di rumah. Dalil dari hal ini adalah sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam,

    ”Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka shalatlah”.(HR Bukhari)

    Dalam hadits ini, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam tidak mengatakan, ”(Jika kalian melihatnya), shalatlah kalian di masjid.” Oleh karena itu, hal ini menunjukkan bahwa shalat gerhana diperintahkan untuk dikerjakan walaupun seseorang melakukan shalat tersebut sendirian. Namun, tidak diragukan lagi bahwa menunaikan shalat tersebut secara berjama’ah tentu saja lebih utama (afdhol). Bahkan lebih utama jika shalat tersebut dilaksanakan di masjid karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengerjakan shalat tersebut di masjid dan mengajak para sahabat untuk melaksanakannya di masjid. Ingatlah, dengan banyaknya jama’ah akan lebih menambah kekhusu’an. Dan banyaknya jama’ah juga adalah sebab terijabahnya (terkabulnya) do’a.

    3. Wanita juga boleh shalat gerhana bersama kaum pria.

    Dari Asma` binti Abi Bakr, beliau berkata,
    “Saya mendatangi Aisyah radhiyallahu ‘anha -isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika terjadi gerhana matahari. Saat itu manusia tengah menegakkan shalat. Ketika Aisyah turut berdiri untuk melakukan sholat, saya bertanya: ‘Kenapa orang-orang ini?’ Aisyah mengisyaratkan tangannya ke langit seraya berkata, ‘Subhanallah (Maha Suci Allah).’ Saya bertanya: ‘Tanda (gerhana)?’ Aisyah lalu memberikan isyarat untuk mengatakan iya.” (HR. Bukhari)

    Bukhari membawakan hadits ini pada bab:
    ”Shalat wanita bersama kaum pria ketika terjadi gerhana matahari.”

    Ibnu Hajar mengatakan, ”Judul bab ini adalah sebagai sanggahan untuk orang-orang yang melarang wanita tidak boleh shalat gerhana bersama kaum pria, mereka hanya diperbolehkan shalat sendiri.” (Fathul Bari, 4/6)

    Kesimpulannya, wanita boleh ikut serta melakukan shalat gerhana bersama kaum pria di masjid. Namun, jika ditakutkan keluarnya wanita tersebut akan membawa fitnah (menggoda kaum pria), maka sebaiknya mereka shalat sendiri di rumah. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1/345)

    4. Menyeru jama’ah dengan panggilan “ash sholatu jaami’ah” dan tidak ada adzan maupun iqomah.

    Dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan,
    “Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk memanggil jama’ah dengan: ‘ASH SHALATU JAMI’AH’ (mari kita lakukan shalat berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.” (HR. Muslim).

    Dalam hadits ini tidak diperintahkan untuk mengumandangkan adzan dan iqomah. Jadi, adzan dan iqomah tidak ada dalam shalat gerhana.

    5. Berkhutbah setelah shalat gerhana.

    Disunnahkah setelah shalat gerhana untuk berkhutbah, sebagaimana yang dipilih oleh Imam Asy Syafi’i, Ishaq, dan banyak sahabat (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1/435). Hal ini berdasarkan hadits:

    Dari Aisyah, beliau menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri. Kemuadian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya, beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan shalat tadi), sedangkan matahari telah nampak.

    Setelah itu beliau berkhotbah di hadapan orang banyak, beliau memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda, ”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.”

    Nabi selanjutnya bersabda,
    ”Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah karena ada seorang hamba baik laki-laki maupun perempuan yang berzina. Wahai Umat Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. (HR. Bukhari)

    Khutbah yang dilakukan adalah sekali sebagaimana shalat ’ied, bukan dua kali khutbah. Inilah pendapat yang benar sebagaimana dipilih oleh Imam Asy Syafi’i. (Lihat Syarhul Mumthi’, 2/433)

    TATA CARA SHALAT GERHANA

    Shalat gerhana dilakukan sebanyak dua raka’at dan ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Namun, para ulama berselisih mengenai tata caranya. Ada yang mengatakan bahwa shalat gerhana dilakukan sebagaimana shalat sunnah biasa, dengan dua raka’at dan setiap raka’at ada sekali ruku’, dua kali sujud. Ada juga yang berpendapat bahwa shalat gerhana dilakukan dengan dua raka’at dan setiap raka’at ada dua kali ruku’, dua kali sujud. Pendapat yang terakhir inilah yang lebih kuat sebagaimana yang dipilih oleh mayoritas ulama. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1: 435-437)

    shalat-gerhana-matahari

    Hal ini berdasarkan hadits-hadits tegas yang telah disebutkan di atas. Ringkasnya, tata cara shalat gerhana sama seperti shalat biasa dan bacaannya pun sama, urutannya sebagai berikut.

    1.Berniat di dalam hati dan tidak dilafadzkan karena melafadzkan niat termasuk perkara yang tidak ada tuntunannya dari Nabi kita shallallahu ’alaihi wa sallam dan beliau shallallahu ’alaihi wa sallam juga tidak pernah mengajarkannya lafadz niat pada shalat tertentu kepada para sahabatnya.

    2.Takbiratul ihram yaitu bertakbir sebagaimana shalat biasa.

    3.Membaca do’a istiftah dan berta’awudz, kemudian membaca surat Al Fatihah dan membaca surat yang panjang (seperti surat Al Baqarah) sambil dijaherkan (dikeraskan suaranya, bukan lirih) sebagaimana terdapat dalam hadits Aisyah:

    “Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menjaherkan bacaannya ketika shalat gerhana.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    4. Kemudian ruku’ sambil memanjangkannya.

    5. Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan ’SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA WA LAKAL HAMD’

    6. Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama.

    7. Kemudian ruku’ kembali (ruku’ kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ sebelumnya.

    8. Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal).

    9. Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali.

    10.Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka’at kedua sebagaimana raka’at pertama hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya.

    11.Tasyahud.

    12.Salam.

    13.Setelah itu imam menyampaikan khutbah kepada para jama’ah shalat gerhana matahari, yang berisi anjuran untuk berdzikir, berdo’a, beristighfar, sedekah, dan membebaskan budak. (Lihat Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, 349-356, Darul Fikr dan Shohih Fiqih Sunnah, 1: 438)

    Demikianlah tuntunan Islam bagi kita umatnya, saat menghadapi berbagai macam situasi termasuk saat menghadapi fenomena alam gerhana matahari yang baru saja kita saksikan dan alami ini. Semoga dapat memberikan manfaat dan menambah keyakinan kita akan kebesaran Allah SWT dan keagungan ajaran-Nya yang disampaikan melalui junjungan kita Rasulullah Muhammad SAW.

    Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin…

    Gempita Lantunan Alquran Pada Pelatihan Akbar Alquran Tikrar Bandung 2016

    Alquran No comment
    Gempita Lantunan Alquran Pada Pelatihan Akbar Alquran Tikrar Bandung 2016

    Pelatihan-Akbar-Tikrar-Akan-Digelar-di-Bandung-posterPELATIHAN AKBAR ALQURAN TIKRAR. Alhamdulillahirabbil ‘alamin, akhirnya pelatihan akbar menghafal al quran dengan mushaf Alquran Tikrar, sukses diadakan di kota Bandung, 14 Februari 2016. Acara pelatihan menghafal alquran metode tikrar atau bittikrar ini, baru pertama kali diselenggarakan secara besar-besaran pada awal tahun 2016 atau 1437 H ini. Pelatihan akbar ini dihadiri oleh para peserta dari berbagai kota di Jawa Barat, dan tentu saja meninggalkan kesan luar biasa. Sejak diluncurkannya mushaf Alquran Tikrar, oleh Penerbit Syaamil Quran bulan Ramadhan 1436 H lalu, inilah kali pertama Syaamil Quran mengadakan pelatihan akbar, yang menghadirkan tidak kurang dari 1000 peserta.

    Pelatihan akbar menghafal Alquran metode bittikrar yang diadakan di Gedung Wahana Pos, Bandung ini diawali dengan sesi motivasi. Tiga orang bintang tamu yang dihadirkan, masing-masing memberikan pengalaman rohaniah yang sangat berkesan dan menumbuhkan kesadaran akan kurangnya totalitas kita, umat islam pada umumnya dalam bergaul dengan Alquran. Padahal sudah sangat jelas, bahwa Alquran dan sunah Rasul itu adalah petunjuk sekaligus pegangan hidup utama bagi setiap muslim.

    PELAJARAN DARI BINTANG TAMU PELATIHAN AKBAR ALQURAN TIKRAR

    Yang sangat berkesan bagi penulis adalah kisah salah satu bintang tamu, masih muda, kang Fawaz namanya. Hafiz quran pada usianya yang masih 18 tahun, memiliki prestasi akademis luar biasa. Jenjang pendidikan SMA hanya dilalui 2 tahun saja, lewat kelas akselerasi yang diikutinya. Kang Fawas menunjukkan pada seluruh peserta pelatihan Alquran Tikrar ini, bahwa menjadi murid berprestasi di SMA Negeri 3 Bandung, yang notabene merupakan sekolah unggulan paling top di kota Bandung, sekaligus berproses menjadi hafiz bukanlah hal yang mustahil. Semua hanya membutuhkan semangat, kerja keras dan kemauan yang teguh.

    Sebuah bukti nyata akan janji Allah SWT dalam surat Al Qamar, yang menjadi pembuka acara pelatihan Alquran Tikrar tersebut, bahwa Allah akan memberikan kemudahan bagi siapa saja umat-Nya yang mau mempelajari Alquran. Bukan kemampuan untuk mempelari Alquran, akan tetapi bagi siapa saja umat-Nya yang memiliki kemauan untuk mempelajari Alquran, maka Allah SWT akan memberikan kemudahan bagi mereka untuk menjadi penghafal Alquran, Allahu Akbar.

    Kisah bintang tamu berikutnya, yang juga tidak kalah menginspirasi adalah kisah Ustad Entang Kurniawan. Seorang tuna netra sekaligus hafiz Quran, yang sekarang aktif di organisasi Ummi Maktum Voice, yaitu yayasan sosial tuna netra di kota Bandung.

    Kisah beliau bisa disimak pada artikel berikut ini : Kisah Inspiratif Seorang Tunanetra Penghafal Alquran.

    pelatihan-akbar-alquran-tikrar-bandungPelatihan cara menghafal Alquran metode bittikrar secara besar-besaran ini, tidak hanya meninggalkan kesadaran dan semangat untuk semakin mendekatkan diri dengan Alquran, tetapi juga telah menumbuhkan suatu nuansa kemegahan, kedamaian dan keberkahan serta keagungan asma-asma Allah yang tersurat dalam Alquran. Satu pengalaman ruhani yang belum pernah dirasakan oleh penulis sebelumnya. Hal ini terjadi pada sesi praktik metode bittikrar, yaitu setelah sesi sharing motivasi berakhir. Bisa dibayangkan, pada saat bersamaan, secara serentak, sekitar seribuan peserta yang hadir, melantunkan untaian asma-asma Allah yang tertulis dalam kitab-Nya dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan. Surat Thaha ayat 13 dan 14 menjadi ayat yang digunakan untuk melatih penerapan metode bittikrar ini. Berulangkali kedua ayat tersebut dilantunkan dengan khusuk dan khidmat hingga 40 kali pengulangan. Tanpa mampu ditahan, gemuruh dalam dada seketika bergolak, mengiringi lantunan ayat demi ayat yang terus diulang-ulang dengan penuh semangat dan kekhusukan.

    Sekelebat terbayangkan kisah kejadian sang Amirul Mukminin, Umar Bin Khattab ra, sesaat sebelum mengucapkan dua kalimah syahadat.  Atas izin Allah, Umar Bin Khattab tanpa sengaja mendengarkan lantunan surat Thaha hingga berhenti di ayat ke-14, dan bergetarlah seluruh tubuhnya karena keagungan kalimat Allah dalam ayat tersebut. Sehingga kemudian sang singa kaum Qurais itu, menemui Rasulullah untuk mengucapkan ikrar kesetiaan dan bersyahadat di hadapan junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

    Selepas sesi praktek dilaksanakan, sesungguhnya tagline “Hafal Tanpa Menghafal” yang digunakan oleh Penerbit Syaamil Quran untuk menunjukkan keistimewaan metode bittikrar pada Alquran Tikrar ini, menunjukkan hasil yang menakjubkan. Dua orang peserta, dari empat orang yang diminta maju untuk membacakan kedua ayat dari surat Thaha tersebut, ternyata dapat mengulang dengan lancar tanpa harus melihat dan membaca kembali mushaf alquran tikrarnya. Begitu juga dengan penulis, tanpa sadar ayat ke-13 surat Thaha, dapat penulis ucap ulang sesaat setelah praktek usai, tanpa harus melihat teks ayat tersebut lagi, Allahu Akbar.

    IBROH PELATIHAN AKBAR ALQURAN TIKRAR BANDUNG

    Ternyata segala kendala dan kesulitan yang kita rasakan selama ini untuk menghafalkan Alquran, benar-benar hanyalah godaan syaitan semata. Pelatihan Alquran Tikrar akbar kali ini telah membuktikan pada semua hadirin, khususnya penulis, bahwa janji Allah itu benar adanya. Allah akan memudahkan bagi siapa saja hamba-Nya yang memiliki kemauan untuk bisa mempelajarinya / menghafalkan Alquran, tanpa kecuali.

    وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

    “Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS Al-Qamar : 22)

    pelatihan-alquran-tikrar-bandung-2016Oleh karena itu, sudah selayaknya kita yang mengaku umat Nabi Muhammad SAW, benar-benar menjalankan wasiatnya yaitu Alquran dan Sunnah Rasulullah. Karena sesungguhnya sudah tidak ada alasan lagi bagi kita untuk menunda-nunda berakrab ria dan bergaul dengan Alquran. Mushaf Alquran Tikrar dengan sistematika dan metode bittikrarnya sesungguhnya telah menunjukkan jalan dan cara menghafal alquran yang mudah dan menyenangkan serta sangat membantu kita untuk bisa menghafalkan Alquran tanpa terkecuali.

    Tinggal azzam-kan dengan niat dan kesungguhan serta kemauan dari dalam diri kita sendiri, untuk melawan nafsu kemalasan dan berbagai nafsu lainnya yang akan menghadang niatan kita untuk semakin dekat dengan Alquran. Mulailah dari hal yang sederhana, mulailah saat ini dan mulailah dari diri kita masing-masing. Bukankah kita selalu memiliki keinginan yang sangat didambakan kelak, dihari perhitungan nanti, Allah akan mengumpulkan kita bersama dengan orang-orang yang kita cintai, anak-anak kita, istri kita, orang tua kita, dalam satu shaf yang sama, yaitu shaf yang diisi oleh orang-orang shaleh yang diberi ganjaran surganya Allah SAW. Aamiin Ya Rabbal ‘alamin.

    Untuk Pemesanan Alquran Tikrar dapat menghubungi Kami :

    SMS / Call : 087821830344BBM : 5810A4F4
    BBM : 27C69F90
    WA : 088218454806

    Harga Alquran Tikrar :

    Ukuran A5 (14,8 cm x 21,1 cm) : Rp. 79.000,-
    Ukuran B6 (12 cm x 16,6 cm)) : Rp. 59.000,-
    Ukuran A4 (21,5 cm x 30,1 cm) yaitu Rp. 129.000,-

    (belum dihitung ongkir dari Kota Bandung, kurir JNE)

    Semoga bermanfaat.

     

    Silahkan di share kepada teman, saudara dan handai taulan agar menjadi ladang kebaikan dan ibadah……

    Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda, “Siapa saja yang mengajak pada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun dan siapa saja yang mengajak pada kesesatan, maka baginya dosa seperti dosa yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim no. 2674)

    Ketika Sang Buah Hati Terluka ! Pentingnya Memahami Parenting Islami

    Parenting 1 comment
    Ketika Sang Buah Hati Terluka ! Pentingnya Memahami Parenting Islami

    Ketika Sang Buah Hati Terluka ! 
    Pentingnya Memahami Parenting Islami

    “Ya sudah, kalau Teteh gak mau sekolah hari ini, gak usah sekolah aja sekalian !!! Sudah dikasih tau supaya bisa bagi waktu ! Jangan pulang terlalu siang, biar bisa istirahat ! Gak diturutin !!! Udah sebesar ini masih aja gak bisa bikin prioritas, mana yang penting mana yang gak penting !”

    Begitu cepat kata-kata keras dan tegas keluar dari mulut seorang Ayah, di suatu pagi. Emosi mendadak membuncah mendengar penolakan si sulung, yang sedang beranjak remaja. Penolakan berangkat sekolah hari itu, dikarenakan alasan kelelahan yang dikemukakannya, benar-benar tidak bisa diterima oleh sang Ayah. Ia yang merasa selama ini senantiasa berjuang tanpa kenal lelah untuk memberikan pendidikan terbaik bagi masa depan anak-anaknya kelak, tidak bisa menerima alasan yang disampaikan tersebut. Kegiatan ektra kurikuler sekolah di akhir minggu dan kegiatan pribadi si sulung dengan rekan-rekan alumni SMPnya, nyatanya menguras stamina hingga tidak cukup tergantikan saat istirahat malam hari, tidak dapat diterima oleh nalar sang Ayah. Tanpa bisa dibendung lagi, keluarlah kata-kata keras disertai dengan amarah meluap, sehingga membuat pagi hari yang biasanya penuh dengan keceriaan dan tawa berubah menjadi suram dan dipenuhi kabut amarah.

    nafsu-amarah

    Pertengkaran pagi itu diakhiri dengan isak tangis si sulung dan amarah yang belum dituntaskan dalam dada sang Ayah, dan terpaksa harus terpotong oleh desakan waktu untuk segera pergi menunaikan kewajiban, menjemput rezeki pagi itu. Tidak dapat dipungkiri, sepanjang perjalanan seluruh pikiran dan emosi yang masih tertahan meninggalkan berbagai kecamuk dalam pikiran dan dada sang Ayah.

    Beruntung pagi itu lalu lintas jalan masih sepi, hingga sampai tempat kerja masih dalam suasana lowong dan belum banyak rekan kerja yang tiba lebih dulu. Kesempatan untuk melihat dan mengecek kiriman berita dan informasi dari berbagai perangkat komunikasi yang ada. Tanpa sadar tertarik untuk melihat salah satu kiriman informasi dari perangkat Whatsapp, yang dikirimkan oleh pengirim yang tidak dikenal.

    Ternyata kiriman tersebut berisikan catatan yang begitu mengena dengan kejadian yang dialaminya pagi itu. Berikut isi kiriman dari Whatsapp yang diterima pagi itu :

    ~Ketika Buah Hati Terluka~

    Suatu hari si sulung terdiam ketika kami bercengkrama, saya bingung dan bertanya: “ada apa?” dia menjawab: ” aku sedih waktu bunda ngomong kencang pas aku nanya, karena waktu itu bunda lagi sibuk masak” sorot matanya sedih, saya tahu anak lelaki saya menyimpan luka, luka karena kebodohan kami sebagai orang tua, keegoisan kami menuntut terlalu banyak dari makluk mungil yang cerdas ini. Obrolan sekitar dua tahun yang lalu itu langsung memutarbalikkan semua sistem dalam pendampingannya, saya sadar kami sebagai orang tua menyimpan pe-er emosi pada si sulung, Allahku hatinya terluka…😭

    Ketidaktahuan kita dalam mendampingi buah hati seringkali menimbulkan luka di hati mereka: sedih, kecewa, marah, kesal. Meskipun tak ada niatan di hati kita untuk menimbulkan luka di hatinya. Namun anak-anak kita meskipun mereka sudah dilengkapi Allah dengan sistem rasa, tapi mereka adalah pemula, yang butuh kita untuk menguatkan rasanya.

    Pertanyaannya: apakah anak-anak kita tidak boleh kecewa, sedih, marah, sehingga kita cenderung mengikuti apa maunya?

    Yang tidak boleh adalah menyakitinya, mengabaikannya, menuntutnya menjadi seperti kemauan ayah bunda bukan kehendak penciptaanya, dan itu semua dilakukan tanpa penjelasan yang bisa membantunya mengelola rasa.

    Kecewa, sedih, kesal, marah, jijik, sedih, senang adalah fitrah yang tidak bisa dihilangkan, dengan itulah kita disebut insan yang kaya rasa, dari rasa itulah timbul motivasi diri, semangat, harapan, toleransi, empati dan simpati. Rasa inilah yang menghidupkan dunia dengan segala warnanya.

    Bagaimana jika terlanjur terluka?

    Obat yang paling baik untuk meredakan kemarahan dan kekecewaan adalah:
    1. Hati yang ikhlas dari kita untuk menerima ananda apa adanya,
    2. Meminta maaf dengan kesungguhan hati,
    3. Menyayangi tanpa syarat harus blablabla,
    4. Semoga energi positif itu sampai dan menyentuh hatinya.

    Satu-satunya cara untuk mendekat ke hatinya adalah menjadi orang yang menerimanya tanpa penilaian, pelabelan, tuntutan, tuduhan, tekanan.

    Tapi, komunikasikan ke hatinya betapa bahagianya kita memilikinya, betapa beruntungnya kita dititipkan malaikat mungil yang sangat diharapkan, dan betapa tidak berilmunya kita hingga memperlakukannya dengan keliru, kisahkan sejuta harapan yang wajar untuknya, mintalah do’a padanya semoga do’anya akan menguatkan kita untuk mampu mendampinginya, dan dampingi buah hati kita untuk mampu menguatkan hati dan memberanikan dirinya.

    Wallahu’alam bisshowab

    Tanpa sadar, genangan air mata membayang di pelupuk mata. Hati yang begitu panas, penuh amarah sepanjang pagi dan perjalanan tadi, seketika menjadi dingin, sedingin embun di pagi yang sejuk itu. Yang muncul adalah sebongkah rasa penyesalan, setitik gundah rasa bersalah atas perlakuannya yang begitu keras pada si sulung tadi. Ucapan Istighfar dan lantunan do’a “Rabbi Habli minash shalihiin” terucap lirih mengiringi kesadaran yang menyeruak muncul seusai membaca kiriman tersebut.

    Berkelebat dalam bayangan sikap dan tabiat si sulung selama ini. Kerja kerasnya dalam belajar, sikap penuh pengertiannya pada keterbatasan orang tuanya, sikapnya yang tidak pernah menuntut fasilitas berlebihan yang belum mampu dipenuhi orangtuanya. Semangatnya mengejar prestasi untuk bisa ikut dalam pertukaran pelajar gratis ke salah satu negara di Eropa, sebagai bentuk penghargaan siswa berprestasi di sekolahnya, dengan fasilitas seadanya yang disediakan orang tuanya di rumah. Serta berbagai sikap pengertian dan kesholehannya yang selama ini ditunjukkanya sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai anak tertua.

    parenting-islami

    Memang tidak dipungkiri terkadang masih ada juga sikap manja, ketidakpedulian terhadap lingkungan dan berbagai sikap yang tidak berkenan di hati sang Ayah. Akan tetapi “Kiriman” dalam perangkat Whatsapp pagi itu seolah-olah menjadi “teguran” sekaligus peringatan dari sang Maha Pencipta bagi kelakuan sang Ayah pagi itu, dalam menyikapi “kenakalan” dari si sulung sang buah hati, sekaligus amanah titipan-Nya yang sangat istimewa itu.

    Menjadi orang tua merupakan proses belajar yang tidak akan pernah selesai, selama hayat di kandung badan. Mendidik anak pada hakekatnya merupakan proses mendidik diri orang tua untuk menjadi manusia yang lebih baik terutama dalam hal kesabaran. Itulah sebabnya Allah SWT telah mengingatkan para orang tua akan amanah yang telah dititipkannya pada kita :

    (27) Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.
    (28) Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. ( QS.8 Al Anfal : 27-28 )

    “Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( QS.64 Ath-Taghobun : 14 )

    Begitu pula Baginda Rasulullah Muhammad SAW, pernah mengingatkan kita tentang pendidikan anak, sebagaimana sabdanya,

    “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah, maka kedua orang tuanyalah yang membuat dia (memiliki karakter) yahudi, atau (memiliki karakter) nasrani atau (memiliki karakter) majusi.” ( HR. Muslim )

    Sungguh celaka orang tua yang tidak pernah mau belajar tentang bagaimana sebaiknya mendidik dan membesarkan titipan-Nya sekaligus amanah-Nya itu. Jangan sampai mereka terlanjur tumbuh dan berkembang dalam didikan yang salah, semata karena orang tua yang kurang ilmu mendidik anak berdasarkan tuntunan Allah dan rasulnya (parenting islami). Lebih celaka lagi apabaila kesalahan itu terjadi semata karena keegoisan orang tua yang selalu merasa benar, padahal tidak ada manusia yang selalu benar. Sejatinya hanya Allah SWT – lah yang paling benar.

    Nabi Muhammad SAW, pernah bersabda bahwa Beliau mengkhawatirkan umat dibelakangnya yang akan seperti busa di lautan; banyak namun tidak berpendirian. Hal semacam inilah yang harus kita pertimbangkan saat merencanakan pendidikan dasar bagi anak-anak kita. Misalnya bagaimana agar ia menjadi anak yang kuat imannya, santun kepada sesama, serta kuat pula ilmunya. Ilmu akan membuat ia mampu bertahan serta senantiasa memiliki jalan ikhtiar untuk keluar dari permasalahan yang ia hadapi.

    Kejadian pagi ini merupakan pelajaran penting dan sangat berharga bagi sang Ayah, dan tentunya bagi semua Ayah didunia ini. Nah, marilah para orang tua, kita koreksi kembali apakah telah benar langkah yang kita ambil dalam mendidik anak kita di rumah. Jika masih ada yang kurang, mari kita lengkapi, mari kita belajar lagi tanpa mengenal henti, khususnya tentang bagaimana mendidik anak sesuai tuntunan islam atau lebih dikenal dengan ilmu parenting islami. Jika ada yang keluar jalur, mari kita benahi, jangan pernah malu untuk senantiasa berubah menjadi orang tua yang lebih baik.

    Jika telah benar dan sesuai perintah Allah, mari kita berdoa agar Allah senantiasa menjaga keistiqomahan, lisan dan hati kita dari hal-hal yang tidak Allah kehendaki. Dan janganlah pernah berhenti dan bosan untuk selalu meminta kepada Allah, agar anak-anak kita kelak menjadi anak-anak yang senantiasa berpegang teguh pada ajaran-Nya dan sunnah-sunnah Rasul-Nya.

    Semoga semua amanah ini akan menjadi investasi akhirat kita, para orang tua, yang suatu saat nanti pasti akan kehabisan waktu untuk bisa menambah perbendaharaan amal shalih saat harus menghadap-Nya kelak.

    Aamiin Ya Rabbal Alaamiin…

    (catatan seorang Ayah, yang ingin segera memeluk dan menyampaikan permintaan maaf dan rasa sayangnya pada si sulung).

    Silahkan dibagikan kepada orang-orang yang anda cintai, agar mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya…

    “Siapa yang mengajak kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun dan siapa yang mengajak kesesatan, maka baginya dosa seperti dosa yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim no. 2674)

    Baca juga artikel tentang cara menghafal alquran melalui mushaf alquran tikrar.