Kisah Inspiratif Islami Perjuangan Kaum Ibu Menghafal Al Quran

No comment 361 views

al-qamar-17-dalam-dekapan-mukjizat-al-quran.jpg

KISAH INSPIRATIF ISLAMI PERJUANGAN KAUM IBU MENGHAFAL AL QURAN. Sahabat Quran yang senantiasa merindukan surga, beberapa waktu lalu penerbit Sygma Creative Media Corp. (group Syaamil Quran), telah meluncurkan sebuah buku yang berjudul “Dalam Dekapan Mukjizat Al Quran” (DDMA).

Buku yang merupakan kumpulan kisah-kisah nyata inspiratif islami dari kaum ibu, yang telah mendapatkan hidayah Allah SWT, berupa keinginan kuat untuk mempelajari dan menghafalkan Al Quran. Walaupun kesibukan dan kegiatan mereka sehari-hari begitu padat oleh berbagai aktifitas sebagai seorang ibu, istri, bahkan profesional yang mengharuskan mereka sering berada diluar rumah.

Lika-liku kisah perjuangan mereka dalam meraih mahkota hafizah, sangat layak untuk disebar luaskan, dan dijadikan sumber motivasi bagi banyak orang, khususnya umat islam yang senantiasa mengharapkan rahmat dan karunia Allah SWT, tidak terkecuali sahabat-sahabat para pembaca situs pondok islami.

Untuk itulah, sebagai bagian dari amar makruf, menyebarkan kebaikan, pada artikel kali ini penulis mencoba menyajikan cuplikan salah satu kisah inspiratif islami yang ada pada buku “Dalam Dekapan Mukjizat Al Quran“, sebagai gambaran dan motivasi bagi sahabat quran, pembaca situs pondok islami ini.

Selamat menikmati santapan motivasi dari kisah inspiratif islami berikut ini.

*****************

AL QURAN SEBAGAI PENOLONG

“Sembuh dari autoimun adalah hal yang sepertinya mustahil. Namun, jika Allah sudah berkehendak, apa pun bisa terjadi. Allah Maha Menyembuhkan, aku sangat yakin itu. Indah sekali cara Allah memberikan hikmah dan hidayah kepadaku melalui Al Quran ini.”

Fase Awal Belajar

“Bismillahirrahmanirrahim. Alif laam miim…”

kubaca ayat pertama surat Al-Baqarah. Sebelum aku membaca ayat selanjutnya, buru-buru langsung aku setorkan satu ayat tersebut kepada Abi.

“Masya Allah tabarakallah, alhamdulillah, Lana. Lanjutkan ya.”

Aku mengangguk senang.

Itulah saat pertamaku mulai menghafalkan Al Quran di depan orang tuaku. Doa orang tua yang dipanjatkan setiap selesai aku membacakan hafalan Al Quran sangat berarti bagiku. Aku yakin itulah doa sekaligus motivasi yang diberikan Abi agar aku bergiat untuk melanjutkan langkah awal dan sederhana itu. Satu ayat telah kumulai.

Apresiasi dan motivasi yang diberikan Abi tersebut sangat membekas di benakku hingga kini, seperti mengendap sempurna dalam alam bawah sadarku. Begitulah fase awal perjalananku dalam menghafalkan Al Quran.

Aku selalu tersenyum jika mengingat perjalananku menghafal Al Quran. Pada masa-masa itu, aku dan orang tuaku tinggal di rumah sederhana di daeran Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Di rumah sederhana itulah, Abi dan Ummi menanamkan kecintaan menghafal Al Quran kepada Kami, anak-anak mereka. Itu menjadi bekal yang berharga bagiku pada kemudian hari.

Beberapa tahun yang lalu, saat akan memasuki jenjang pendidikan menengah atas, tepatnya di Madrasah Aliyah Husnul Khotimah, aku dihadapkan pada sebuah persyaratan. Siswa-siswi di madrasah ini harus memiliki hafalan Al Quran minimal lima juz.

Meski terbiasa dekat dengan Al Quran sejak kecil, persyaratan itu tetap saja membuatku resah. Menurutku, bukan hal yang mudah untuk bisa menghafal sempurna sebanyak itu. Apalagi, selain menghafal ayat-ayat Al Quran, aku juga harus belajar mata pelajaran umum lainnya.

Ada keraguan di hatiku. Aku takut tidak akan lulus karena ternyata seluruh santri sebelum lulus harus memiliki hafalan Al Quran minimal lima juz. Itu tidak mudah pikirku. Aku terlempar ke masa kali pertama belajar membaca Al Quran, dan menghafalnya. Abi begitu sempurna menanamkan keyakinan padaku.

Rintangan Menghadang, Tepat Saat Memulai

Harapan yang disematkan Abi kepadaku sebelum memutuskan masuk pesantren  ternyata tidak seindah yang kubayangkan. Semangat yang kuatpun tidak banyak membantu ketika kondisi kesehatanku mulai memburuk.

Hal itu sangat berpengaruh pada aktivitasku sebagai santri, juga sebagai penghafal AL Quran. Sungguh, rintangan itu datang tepat saat aku mulai menguatkan langkahku untuk menghafalkan Al Quran.

Selama menjadi siswa di Madrasah Aliyah Husnul Khotimah, berbagai macam sakit kurasakan. Aku pernah mengalami vertigo sehingga aktivitasku sangat terganggu. Kemampuan penglihatanku pun tiba-tiba berkurang. Mataku sudah minus 3 silinder 1,7. Gigi gerahamku pun ikut bermasalah dan berakibat pada proses pencernaan dalam tubuhku. Aku menderita sakit maag dan usus buntu.

Kondisi ini membuat fokusku bukan lagi pada hafalan Al Quran atau bidang akademis, melainkan pada kesehatanku. Apalagi, aku juga mengemban amanah sebagai ketua organisasi santri pada masa itu.

Ikhtiar untuk sehat terus kulakukan bersama orang tuaku. Pemeriksaan demi pemeriksaan di laboratorium kujalani. Ummi selalu mendampingiku menjalani proses itu. Berbagai obat-obatan harus kukonsumsi demi kesembuhanku. Syaangnya, meski obat-obatan itu membuatku lebih baik, di sisi lain justru mengganggu keseimbangan organ tubuhku yang lain.

“Putri ibu didiagnosis mengidap autoimun. Tepatnya Immune Trombocytopenia Purpura atau lebih sering disebut dengan ITP,” kata dokter yang merawatku.

Terus terang, aku tidak bisa mengingat lagi betapa seringnya aku mengalami pendarahan melalui hidung atau lebam-lebam di permukaan kulitku. Jika kondisi itu muncul, sekujur tubuhku terasa sakiiit….luar biasa. Aku bahkan sering tidak sadarkan diri karenanya.

Sungguh, aku merasa tidak kuat merasakan sakitnya. Namun, aku terus meyakinkan diri bahwa ini adalah cobaan  dari-Nya. Insya Allah, cobaan ini justru akan menjadi jalan kemudahan nantinya, terutama untuk masa depanku di dunia dan akhirat kelak.

Aku terhenyak. Demikian juga Ummi.

“Penyakit apa itu, Dokter ?” tanya Ummi yang juga mewakili keingintahuanku.

Aku memasang pendengaran, menanti penjelasan dokter.

“Jadi begini. ITP ini sebuah penyakit atau kondisi akibat berlebihnya respons imun tubuh sehingga mengakibatkan kadar trombosit turun drastis.”

Dokter kemudian menjelaskan berbagai gejala atau keadaan yang akan dan selalu dialami penderita penyakit ini. Semua sama dengan yagn aku alami.

Terus terang, aku tidak bisa mengingat lagi betapa seringnya aku mengalami pendarahan melalui hidung atau lebam-lebam di permukaan kulitku. Jika kondisi itu muncul, sekujur tubuhku terasa sakiiit….luar biasa. Aku bahkan sering tidak sadarkan diri karenanya.

Sungguh, aku merasa tidak kuat merasakan sakitnya. Namun, aku terus meyakinkan diri bahwa ini adalah cobaan  dari-Nya. Insya Allah, cobaan ini justru akan menjadi jalan kemudahan nantinya, terutama untuk masa depanku di dunia dan akhirat kelak.

Bukankah Allah tidak akan memberikan ujian melebihi batas kemampuan hamba-Nya ? Jika saat ini aku selalu sakit, artinya Allah Mahatahu juga aku mampu menjalani semua itu.

“Sabar … Sebentar lagi, Insya Allah semua akan membaik,” selalu begitu hibur orang tuaku.

Hatiku bergetar mendengar penuturan Abi. Semangat itu perlahan muncul. Apa yang disampaikan Abi memang benar adanya. Aku kuat. Aku pasti kuat.

Saat itu, aku tengah membaca surat ke-26. Saat membaca surat Asy Syu’ara ayat 80, aku merasa ayat itu merupakan petunjuk bagiku.

“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.”

Berkali-kali aku  membaca ayat ini, memahami maknanya hingga aku menangis dalam keharuan. Aku yakin bisa sembuh atas kehendak-Nya semata. Aku harus mempertahankan semangat beribadah ketika Allah masih memberiku kehidupan.

Sejak itu, aku berusah auntuk lebih besabar. Menjalani hari-hari belajar di pesantren sambil berjuang agar selalu sehat.

Tibalah ujian akhir. Tiba waktunya menyetorkan hafalan minimal lima juz. Namun, ternyata … hasil ujian mengharuskanku menjalani remedial tiga juz.

Ya Allah, bagaimana mungkin dalam waktu tiga hari aku bisa mengejar ketertinggalan itu? Tiga hari ! Hanya tiga hari waktu yang diberikan padaku.

Keraguan dan rasa pesimistis sempat menguasai diriku. Tapi … aku tak punya pilihan lain. Aku memang harus melewati semua itu. Aku pasrah. Aku akan berusaha menghafal tiga juz itu sekuat tenagaku. Selebihnya, kuserahkan kepada Allah.

Sedikit waktu yang tersisa itu kupakai untuk membaca Al Quran dan memperlancar hafalanku. Berulang-ulang, berulang-ulang. Aktivitas lain kusingkirkan. Aku ingin berfokus pada hafalanku saja. Aku pun semakin banyak memohon ampunan dan kemudahan kepada Allah. Laa haula wa laa quwwata illah billaah.

Alhamdulillah. Aku bisa menghafalkan tiga juz itu dengan lancar, bahkan lulus dengan predikat istimewa.

Sejak itulah, aku menyadari bahwa menghafal Al Quran adalah proses tarbawi, sebuah pendidikan jiwa. Aku langsung teringat ayat 17 dalam surah Al Qamar,

“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al Quran untuk peringatan maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran ?”

Badai Belum Berlalu

Lulus dari Madrasah Aliyah, aku berharap memasuki jenjang pendidikan tinggi. Namun …, jalanku terhalang. Aku tidak diterima sebagai mahasiswa di seluruh kampus yang aku minati. Serangkaian tes yang kujalani tidak satu pun yang menjadikan aku sebagai mahasiswa di kampus-kampus itu.

Kecewa ? Tentu saja. Bisa berkuliah di sana adalah impianku. Tapi sekarang, impianku itu buyar. Kondisi ekonomi keluarga pun tak memberiku pilihan. Aku hanya bisa berharap kepada Allah agar memberikan jalan keluar terbaik bagiku.

Dalam keterpurukan itu, orang tua mengajakku berkunjung ke sebuah lembaga Al Quran. Di sana, aku bertemu dengan komunitas penghafal Al Quran. Kutemukan ketenangan di sana. Namun, di hatiku terselip rasa minder karena aku hanya memiliki hafalan beberapa juz. Itu pun tidak begitu kuat dan masih tercerai berai.

Bismillahi tawakkaltu ‘alallah. Aku memantapkan hati untuk mulai beraktivitas di sana. Usiaku 24 tahun kala menjalani hari-hari bersama Al Quran di sana. Aku juga menjadi pengurus harian untuk membantu tata kelola lembaga tempatku menghafal Al Quran.

Dalam proses menghafal pun, aku tidak bisa hanya berdiam diri di pondok. Aku harus sering keluar untuk menjalankan berbagai amanah serta berinteraksi dengan masyarakat untuk mensyiarkan Al Quran.

Keajaiban Itu Nyata

Kesibukan di pondok ternyata berdampak positif bagiku. Penyakit yang selama ini kuderita mulai jarang kambuh. Pendarahan dan lebam-lebam itu tidak lagi sering menerpaku. Tanpa terasa, setahun berada di pesantren tahfiz itu, aku bisa selesai menghafal 30 juz Al Quran. Alhamdulillah, Allahu Akbar. Aku seperti mendapat keajaiban yang tidak terbayangkan.

Aku merasa kemampuan itu merupakan limpahan rezeki dari Allah atas segala ujian yang kualami sebelumnya. Allah telah memudahkan setiap ikhtiar yang kulakukan. Penyakit yang selama ini kuderita pun tak pernah datang lagi. Aku dinyatakan sembuh.

Sembuh dari autoimun adalah hal yang sepertinya mustahil. Namun, jika Allah sudah berkehendak, apapun bisa terjadi. Allah Maha Menyembuhkan, aku sangat yakin itu.

Indah sekali cara Allah memberikan hikmah dan hidayah kepadaku melalui Al Quran ini. Sejak itu, aku berkomitmen tidak akan lagi melalaikan Al Quran sesibuk apapun aku. Kesibukan tidak akan membuatku menyerah karena aku sangat meyakini kebenaran kalimat ini, “Bukan amanah yang dikurangi, tetapi pengorbanan yang harus ditambah.”

Keajaiban demi keajaiban silih berganti menghampiri hidupku. Salah satunya adalah dosen dan mahasiswa dari kampus yang kuimpikan dulu, saat ini justru belajar Al Quran bersamaku. Mereka sering mengajakku ikut serta dalam beberapa acara Al Quran. Aku merasa inilah berkah Al Quran yang nyata. Aku ingat sebuah hadist,

“Dikatakan kepada ahli Al Quran (ketika di surga kelak), ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah, sebagaimana engkau di dunia menartilnya. Karena kedudukanmu (di surga) sesuai akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari sahabat Abdullah bin Amr. r.a; disahihkan Syekh Al Albani).

Indahnya Hidup Bersama Al Quran

Tepat saat berusia 24 tahun, aku dipinang seorang laki-laki yang insya Allah menjadi jodoh dunia-akhiratku. Pada mulanya, kami mengarungi bahtera rumah tangga dengan tertatih. Namun, selalu ada kemudahan yang Allah sajikan di balik ikhtiar dan kesungguhan yang kami lakukan.

Tibalah aku pada kondisi yang bisa kuambil pelajaran penting dari-Nya, yaitu kehamilan anak pertamaku. Allah menguji kesungguhanku sebagai seorang ibu yang juga harus menjaga hafalan Al Quran. Aku haru sbertahan demi janin dalam kandunganku.

Dokter memutuskan melakukan tindakan operasi karena keadaanku tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Keputusan diambil karena kehamilan pertamaku ini berisiko tinggi. Namun, aku meyakinkan diri bahwa Allah pasti akan menjaga hamba-Nya yang senantiasa “menjaga-Nya” melalui Al Quran. Atas kuasa-Nya, operasi tidak jadi dilakukan. Akupun bisa melewati masa kritis saat melahirkan anak pertamaku itu.

*****************

testimoni dalam dekapan mukjizat al qur'an

Begitulah sebagian cuplikan dari kisah inspiratif islami ibu Lana Salikah Azhariyyah. Seorang hafiz quran sekaligus Ibu rumah tangga, dan juga aktivis syiar qurani, serta pengurus Pesantren Pondok Quran Boarding School, Cilengkrang, Kabupaten Bandung.

Bagi sahabat dan pembaca yang ingin mengikuti kisah inspiratif ini secara lengkap, beserta 14 kisah-kisah inspiratif lainnya dari para ibu pejuang penghafal quran, dapat membacanya pada buku “Dalam Dekapan Mukjizat Al Quran” yang telah kami bahas pula pada artikel sebelumnya : Buku Inspiratif Dalam Dekapan Mukjizat Al Quran.

Insya Allah buku tersebut akan dapat memotivasi kita untuk mempelajari dan menghafalkan Al Quran. Bagaimanapun kondisi kita saat ini, apapun profesi dan aktivitas yang sedang kita jalani saat ini, betapa pun terbatasnya waktu kita saat ini, maka Al Quran haruslah sebagai bagian utama dari aktivitas harian kita. Insya Allah membaca buku ini, akan membangkitkan motivasi kita untuk berproses mencintai Al Quran. Aamiin.

Untuk pemesanan silahkan hubungi kontak berikut ini : 087821830344.

Semoga bermanfaat.

author
Author: 

    Leave a reply "Kisah Inspiratif Islami Perjuangan Kaum Ibu Menghafal Al Quran"

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.