Resonansi Mata Rantai Kebaikan

No comment 747 views
mata-rantai-kebaikan

Gambar hanya ilustrasi

Seorang pria muda terlihat sedang mengendarai mobil tuanya pada suatu malam yang gelap dan pekat akibat awan yang dipenuhi butiran air hujan. Ditengah perjalanan ia melihat seorang wanita tua, termangu di sisi trotoar jalan, disamping mobil Mercedesnya, sambil tidak henti melambai-lambaikan tanganya untuk meminta pertolongan pengendara mobil yang lewat. Sang pria muda melihat bahwa wanita tua itu membutuhkan bantuan. Kemudian dia mengambil inisiatif untuk menghentikan mobil tuanya dekat dengan Mercedes wanita itu dan keluar.

Sambil tersenyum, pria itu mendekati si wanita tua tersebut yang terlihat sangat cemas karena tak ada seorangpun yang berhenti untuk membantunya selama berjam-jam. Melihat pria tersebut turun tidak urung iapun sedikit merasa tidak aman, karena penampilan pria tersebut yang terlihat sangat miskin dan kumuh.

Sang pria pun menyadari betapa takutnya wanita tua itu melihat kedatangannya. Jadi dia pun mencoba menenangkan dan berkata, “Saya di sini untuk membantu Ibu, jangan takut. Nama saya Ramdan, Bu…”. “Perkenankan Saya melihat kondisi mobil ibu dan peralatan mobil ibu untuk mengganti ban mobil yang kelihatannya bocor”.

Ban mobil Mercedes itu kempes hingga Ramdan harus merangkak di bawah mobil dan mengganti ban yang bocor tersebut. Saat mengganti ban, tanpa sengaja tangannya terluka dan bajunya kotor terkena oli serta debu jalan hingga membuat penampilannya semakin kusut dan kumuh.

Ketika ban mobil telah selesai diganti, wanita tua tersebut bertanya berapa banyak dia harus membayar atas bantuan pria itu. Ramdan tersenyum kemudian berkata, “Tidak usah Ibu, saya ikhlas membantu Ibu, saya tidak mengharapkan uang atas bantuan yang saya berikan ini”.

Wanita tua itu pun tetap memaksa dan berkata,”Jangan sungkan Nak, ambillah ini, bukan apa-apa, anggap saja sebagai tanda terimakasih. Tanpa bantuan nak Ramdan, ibu pasti tidak akan bisa meneruskan perjalanan malam ini.”

“Sekali lagi saya mohon maaf Ibu, saya bukan menolak rezeki, hanya saja saya tidak pernah meminta bayaran atas bantuan yang saya lakukan pada orang lain, terlebih pada orang tua seperti ibu. Tetapi jika Ibu tetap memaksa, ibu bisa membalas apa yang saya lakukan malam ini dengan memberikan pertolongan pada siapapun yang ibu temui nanti, dan orang itu sedang membutuhkan bantuan. Segera beri orang itu bantuan yang dibutuhkannya, dan pikirkanlah Ramdan. Anggaplah apa yang ibu lakukan pada orang itu sebagai balasan kepada saya malam ini”.

Sang wanita tua itupun akhirnya melanjutkan perjalanan dengan mobil Mercedesnya sambil terus memikirkan akan peristiwa tadi, dan kebaikan yang dilakukan anak muda bernama Ramdan tersebut. Ternyata penampilan luar tidaklah menjadi patokan akan kebaikan seseorang. Jarang sekali di jaman sekarang ini ditemukan anak muda dengan sifat kebaikan seperti pemuda tadi.

Tanpa sadar wanita tua itu merasakan bunyi pada perutnya yang ternyata sudah meminta haknya. Terlalu lama di perjalanan dan menunggu di pinggir jalan tadi, menyebabkan rasa lapar menyerang tanpa bisa di tahan lagi. Untung kemudian dia melihat sebuah warung makan sederhana di pinggir jalan. Warung makan yang tidak terlalu bagus dan tampak suram sebenarnya. Tetapi karena rasa lapar yang sudah tidak bisa kompromi lagi, maka dihentikannyalah laju mobil mewahnya di depan warung makan tersebut.

Seorang pelayan yang ramah menyambutnya saat memasuki rumah makan itu. Terlihat pelayan tersebut sangat kelelahan dan sedang hamil besar. Sambil melayaninya, pelayan ramah itu sesekali menyeka rambutnya yang basah oleh keringat dengan handuk kecil yang menempel pada pundaknya. Pelayan itu memiliki senyum yang sangat ramah dan manis. Tanpa sungkan wanita tua itupun bertanya kepada sang pelayan, “Kandungan mbak sudah kelihatan besar, sudah jalan berapa bulan ? “.

“Oh iya Bu, sudah delapan bulan, sebentar lagi kelihatanya”, jawab sang pelayan tersebut dengan ramah. “Mengapa tidak ambil cuti ?”, jawab wanita tua itu spontan.

“Gak Bu, saya sengaja tidak ambil cuti, biar bisa tetap digaji untuk membantu suami saya mencari biaya tambahan untuk proses kelahiran nanti”, jawabnya.

“Oh begitu, tetapi harus hati-hati, jangan terlalu capek, nanti malah berbahaya untuk janin dalam kandunganmu”, jawab wanita tua itu pelan. “Iya Ibu, terimakasih atas perhatiannya”. “Silahkan disantap makanannya, nanti keburu dingin”, jawab pelayan ramah itu sambil bergegas permisi untuk kembali ke belakang.

Sambil menyantap makanan yang telah disediakan dengan lahap, wanita tua itu terus bertanya-tanya dalam hati bagaimana seseorang, yang terlihat sederhana dan begitu lelahnya, bisa sangat baik dan ramah kepada orang asing. Seketika ia teringat kepada Ramdan, pria muda yang beberapa waktu lalu membantunya. Ingat kebaikan dan bantuannya yang tanpa pamrih tersebut. Begitu pula pesan yang disampaikan pemuda itu, saat menolak dengan halus, uang yang akan akan diberikannya.

Seusai makan dan meletakkan sejumlah uang diatas meja, wanita tua itu pun berlalu meninggalkan rumah makan. Selang beberapa menit kemudian, pelayan wanita tadi, kembali ke meja tempat wanita tua duduk, dan menyadari bahwa wanita tua itu sudah pergi dan meninggalkan secarik kertas catatan dan uang di atas serbet. “Mbak sepertinya terlihat sangat lelah sekali karena kehamilan mbak. Malam ini seorang pemuda baik hati, membantu saya ketika saya sedang kesulitan di jalan. Saat ini giliran saya membantu mbak. Tidak usah mencari saya untuk berterimakasih, jika mbak benar-benar ingin membayar apa yang saya berikan pada mbak, jangan biarkan rantai kasih ini berakhir pada mbak saja”.

Sambil termenung membaca catatan itu, dirapihkannya meja tempat wanita tua tadi makan. Betapa kaget dan gembiranya pelayan wanita ramah itu ketika menemukan berlembar-lembar uang seratus ribuan, yang diselipkan dibawah serbet oleh wanita tua tadi, dengan total mencapai 5 juta rupiah.

Dengan wajah berseri-seri, malam itu sang pelayan wanita bergegas pulang lebih awal. Dia sedang berpikir tentang wanita tua dan uang 5 juta rupiah yang diselipkan wanita tua itu dibawah serbet. Bagaimana wanita tua itu bisa tahu, betapa dia dan suaminya sangat membutuhkannya, terutama sekarang, ketika bayi mereka akan segera lahir. Dia tahu bahwa suaminya sangat khawatir tentang hal itu, jadi dia saat ini merasa sangat senang untuk memberitahu kabar baik ini.

Sesaat setelah sampai di rumah, wanita itu mendengar suara suaminya mengetuk pintu rumah serta mengucapkan salam. Iapun segera membalas salam dan menyambut sang suami. Tampak lusuh dan kumuh penampilan suaminya malam ini. Sepertinya kabar kurang baik akan didengarnya.

“Maafkan wahai istriku, malam ini aku belum bisa mendapatkan tambahan uang untuk biaya persalinan bayi kita”, ucap sang suami perlahan sambil memeluk istrinya. “Mungkin besok aku akan coba kembali, siapa tau ada rezeki”, ujarnya lirih.

Dengan tersenyum sang wanita pelayan mencium sang suami dan berbisik “Jangan kuatir suamiku, Insya Allah sekarang semuanya akan baik-baik saja. Allah mendengarkan doa-doa kita Mas. Aku sangat mencintaimu, Mas Ramdan”.

RESONANSI MATA RANTAI KEBAIKAN

Sahabat Quran yang dicintai Allah, kisah di atas hanyalah secuplik kisah yang penulis ambil dari berbagai sumber di internet yang  kemudian penulis tulis ulang sesuai dengan pemahaman penulis akan makna dan hikmah serta pelajaran di balik kisah tersebut.

Sungguh Allah SWT Maha Rahman dan Rahim, Maha bijaksana, Maha Adil, Dia Maha Tahu kelemahan dan kekurangan kita, Dia Maha Tahu bagaimana nantinya kita.

Allah SWT Maha Kaya dan tidak pernah pelit kepada hamba-Nya. Bahkan hanya sekedar niat saja sudah dicatat sebagai satu amal kebaikan, apalagi bila kita melakukan niat baik tersebut.

Subhanallaah, setiap kebaikan akan dicatat menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kebaikan, bahkan masih dilipatgandakan lagi dan masih banyak lagi tambahan dan efek berkelanjutan buat hidup kita di dunia dan bekal di akhirat nanti.

Sebagaimana firman-Nya :

“Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya… (An Nisaa : 85)

Begitu pula Nabi Muhammad SAW menyampaikan sabdanya tentang kebaikan ini. Dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda sebagaimana diriwayatkan dari Allah ‘azza wa jalla:

“Sesungguhnya Allah mencatat semua kebaikan dan keburukan”.

Sebagaimana dalam ilmu fisika, resonansi memiliki arti bergetarnya sebuah benda akibat adanya getaran yang ditimbulkan oleh benda lain. Maka begitu pula dengan kebaikan, hendaknya kita senantiasa berusaha untuk selalu menjadi manusia yang bisa memberikan resonansi kepada orang lain.

Dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Barang siapa yang mengajak ke jalan hidayah (kebaikan), maka baginya dari pahala seperti pahala (sebanyak pahala) pengikutnya, dengan tidak mengurangi sedikit pun dari pahala mereka. Dan barang siapa yang mengajak ke jalan sesat (keburukan), maka menanggung dosa sebanyak dosa-dosa pengikutnya, dengan tidak mengurangi dari dosa-dosa mereka sedikit pun.”(HR. Ahmad)

Mari kita istiqamahkan untuk selalu berbuat baik kepada sesama kita. Agar tercipta resonansi mata rantai kebaikan, seperti secuplik kisah di atas. Tanpa pamrih, semata hanya mengharapkan ridha Allah SWT. Insya Allah hidup kita akan dipenuhi dengan keberkahan dan keselamatan dunia dan akhirat.

Aamiin Ya Rabbal Alamiin ….

author
Author: 

    Leave a reply "Resonansi Mata Rantai Kebaikan"