POLA PIKIR WIRAUSAHAWAN AGAR TERUS BERTUMBUH

POLA PIKIR WIRAUSAHAWAN AGAR TERUS BERTUMBUH. Sahabat pembaca Pondok Islami yang dimuliakan Allah SWT, setelah kita memahami tahapan pertama untuk memulai suatu usaha/bisnis, seperti yang sudah dijabarkan dalam artikel sebelumnya yang berjudul belajar bisnis untuk pemula, maka tahap berikutnya adalah memahami bagaimana strategi bisnis yang sudah kita mulai itu, bisa terus bertumbuh.

Salah satu hal yang diinginkan setiap pengusaha adalah bisnisnya terus bertumbuh dari waktu ke waktu. Pada dasarnya setiap manusia, ingin semakin baik. Justru, jika tidak ingin bisnisnya tumbuh, malah aneh.

Setiap pengusaha punya cara pandang dan strategi bisnis yang berbeda-beda. Ada yang mengukur dari segi omzet, dimana jika Omzetnya meningkat, maka artinya bisnis bertumbuh. Ada yang dari sisi penghasilan, ada yang dari segi keilmuan, ada yang dari jumlah pelanggan, dan lain-lain.

Terserah apa definisi bisnis bertumbuh versi Anda, akan tetapi kita akan bahas konsep dan strategi bisnis bertumbuh yang bisa diterima semua orang. Jadi, bertumbuh disini maksudnya adalah lebih baik dari sebelumnya.

Lantas bagaimana cara atau strategi bisnis yang bisa membuat bisnis terus bertumbuh?

Banyak caranya, seperti dari sisi teknis misalnya, dengan memperbanyak revenue streamnya (jalur pendapatan/penghasilan). Perluas pemasaran dan distribusinya, memperkuat brandingnya, dan sebagainya.

Tapi untuk artikel kali ini lebih membahas pada pola pikir pengusaha atau wirausahawannya. Jadi kita akan membahas dari sisi cara berfikirnya.

Rezeki Itu Berbanding Lurus Dengan Kepantasan

Jika ingin memiliki penghasilan yang besar, maka bangunlah kepantasannya. Jika seseorang pantas diberi rezeki yang besar, maka atas ijin Yang Maha Kuasa, rezeki itu akan menghampirinya.

Inilah pola pikir mendasar yang harus dipahami oleh setiap pengusaha, khususnya pengusaha pemula yang baru terjun menggeluti dunia wirausaha.

Bayangkan diri kita ini seperti sebuah wadah, dan rezeki itu seperti air. Untuk bisa menampung air yang banyak, maka perlu wadah yang juga besar.

Karena pada dasarnya rezeki itu tidak ada batasnya, maka sebenarnya tugas kita hanyalah menjemputnya saja, melalui kepantasan kita. Bangunlah kepantasan pada diri kita, maka Insya Allah rezeki akan menghampiri dengan sendirinya.

Jika sahabat pembaca setia pondok islami pernah membaca buku Rahasia Magnet Rezeki, Diary Magnet Rezeki dari Ustadz Nasrullah, ataupun buku Hijrah Rezeki, Setiap Hari Selalu Ada Rezeki Baru Untukmu, dari Ustadz Arafat, maka sahabat pasti sudah paham dengan konsep rezeki dan kepantasan ini.

Jika seseorang pantasnya 10 Juta/bulan, maka itu yang akan didapatkannya. Jika seseorang pantasnya 100 juta/bulan, maka itu yang akan didapatkannya.

Nah, saat ini berapakah penghasilan bulanan Anda ? Maka sebesar itulah angka kepantasan untuk Anda saat ini. Rezeki Yang Maha Kuasa itu lebih luas dari samudra. Kita tidak akan bisa menikmati rezeki yang besar, jika kapasitas ataupun kepantasan kita saat ini masih kecil.

Hal ini juga berlaku dalam bisnis, Bisnis hanya akan bertumbuh, ketika pengusahanya juga bertumbuh. Jadi, jangan menyibukkan diri cari jalan pintas ini dan itu, tapi sibuklah untuk terus memperbaiki kapasitas diri.

Jangan berfikir bisnis yang baru dibangun, kemudian besoknya langsung bisa memberikan penghasilan miliaran, mustahil, semua butuh proses.

Pertanyaan berikutnya adalah kepantasan seperti apa yang perlu dimiliki agar bisa mendapatkan/menjemput rezeki yang besar juga ?

KOMUNIKASI YANG BAIK

Karakter yang harus dimiliki seorang pengusaha saat berinteraksi dengan orang lain. Ada hukum tabur tuai, “We reaped what we sowed”, Kita akan menuai apa yang kita tabur.

Jika dalam proses berbisnis kita menyakiti hati orang lain, maka kedepannya kita akan bertemu dengan suatu hal yang akan menyakiti kita. Sebaliknya, jika kita mencoba memuliakan siapapun, kita akan dipertemukan dengan mereka yang akan memuliakan kita.

Ingat, bagaimana kita memperlakukan orang lain, maka kita akan diperlakukan seperti itu juga, termasuk dalam bisnis. Bisnis bukan hanya sekedar sarana mencari uang semata. Disana ada hubungan dengan orang lain, dan sekitar.

Seorang Consultant Marketing Internasional bernama Simon Sinek berkata
“If you don’t understand people, you don’t understand business”. Mari sejenak kita resapi makna dari kalimat diatas.

Kata Mr. Simon, jika engkau tidak mengerti manusia, engkau tidak akan mengerti bisnis. Suka atau tidak, dalam bisnis kita berhubungan dengan manusia.

Lalu siapa sajakah manusia yang terlibat dengan bisnis kita ?

Pertama, Pembeli

Pembeli adalah mereka yang percaya menukarkan uang mereka dengan manfaat yang kita tawarkan. Setelah membeli, penuhi amanah. Jangan setelah dapat uangnya lalu kabur.

Pembeli kita bukan karung uang, mereka manusia. Tidak bisa kita peras seenak kita memperlakukan jidat atau dengkul kita.

Untuk latihan, coba belajar memanusiakan prospek. Siapa itu prospek? Prospek adalah orang yang datang ke bisnis kita. Bersikap ramahlah kepada mereka walaupun mereka tidak membeli.

Ramah, itu kewajiban. Beli atau tidak bukan kewajiban. Jangan sampai kita melalaikan kewajiban, hanya karena mengejar uang. Secanggih apapun cara jualan kita, akan ada beberapa orang yang memang tidak jadi transaksi, dan jumlahnya bukan satu orang.

Itu sudah hukum dalam bisnis. Tidak jadi transaksi itu haknya mereka. Tugas kita muliakan sesama. Beli atau tidak, usahakan kehadiran kita memberikan manfaat.

Masih ingat kan? Mereka yang terbiasa memuliakan sesama, rezekinya akan bagus. Belajarlah untuk memanusiakan pembeli. Ke prospek yang gak jadi beli saja kita harus ramah, apalagi ke pembeli.

Melayani seenaknya, packing seadanya, gak mau dikomplain, gak terima kritik. Ya mau gimana lagi, memperhatikan pembeli, itu sudah paket dalam transaksi. 😁

Diperhatikan, itu sebenarnya bagian dari rezeki. Pembeli yang perhatian dengan kejelekan kita, bisa kita jadikan data untuk memperbaiki bisnis kedepannya. Pembeli yang perhatian dengan kelebihan kita, bisa kita jadikan standar kualitas pelayanan. Semuanya punya sisi positif kan? 😊

Kedua, Team Kita

Berikutnya adalah manusiakan team Anda. Team, adalah tempat dimana kita bertukar pikiran. Mereka adalah yang membantu kita mencapai target-target kita, mereka menanggung lelahnya sama-sama.

Team kita bukan robot yang bisa senaknya disuruh ini itu, mereka manusia. Punya keterbatasan, dan kita harus coba pahami itu.

Kepada team, kita gak bisa seenaknya, karena mereka juga punya kehidupan, mereka butuh diperhatikan. Mereka punya kebutuhan, mereka juga manusia.

Memimpin team, adalah seni menampar dan membelai di waktu yang tepat. Tegas jika memang tegas dibutuhkan, dan juga perlu bersikap lembut.

Jangan serius setiap waktu, bisa tegang nanti teamnya, hehehe. Kepada team, tunaikanlah hak mereka. Misal dari segi materi, berikanlah presentase hasil yang layak. Dan baiknya presentase itu di jelaskan di awal bahkan didiskusikan bersama, jika itu team internal.

Ketiga, Mitra/Team External

Bagaimana jika team eksternal? Seperti team penjualan ? Sama saja, team eksternal juga punya hak-hak untuk kita penuhi. Selain materi, binalah mereka.
Jadi bagian dari sejarah pertumbuhan mereka. Team eksternal bukan orang lain, mereka juga bagian keluarga dari bisnis Anda.

Pembeli produk / jasa kita adalah manusia, team kita manusia, mitra kita manusia. Nah, jika kita tidak paham bagaimana memperlakukan manusia dengan baik, maka otomatis kita tidak bisa memperlakukan bisnis kita juga dengan baik.

Pada dasarnya saat kita berbisnis, kita tidak terlepas dari komunikasi dengan orang lain. Dan karakter kita saat berinteraksi, akan mempengaruhi pertumbuhan bisnis kita. Bangun kepantasan karakternya, muliakanlah semua aspek dalam bisnis kita.

Yang perlu di lakukan adalah manusiakan seluruh elemen bisnis. Maksudnya perlakukan semua hal yang berhubungan dengan bisnis kita seperti manusia.

ILMU YANG MUMPUNI

Maksudnya adalah pemahaman pengusahanya, tentang bagaimana cara menjalankan usahanya. Dimulai dari pemahaman tentang bagaimana cara menjual produk dari bisnisnya.

Cara menjual puluhan produk, tentu berbeda dengan caranya jual ribuan produk. Ilmu dapat belasan juta, beda dengan ilmu dapat ratusan juta. Teknik membina tim yang jumlahnya puluhan, beda dengan teknik membina tim yang jumlahnya ratusan.

Karena itulah, satu syarat mutlak agar bisnis berkembang adalah TERUS BELAJAR. Kita hanya akan melakukan sesuai pemahaman kita, jika kita tidak paham caranya, maka kita tidak pernah dapat apa yang kita inginkan.

Dengan belajar, itu akan mengurangi kesalahan kita saat menjalankan bisnis.
Saat kita belajar dari pengalaman orang lain, saat itu wawasan kita akan berkembang. Bagaimana bisnis bisa besar kalau pengusahanya tidak tau caranya?

Karena itulah, banyak-banyak belajar sesuai kebutuhan bisnis Anda. Anda bermasalah di penjualan, belajar ilmu penjualan. Bermasalah di managemen keuangan, belajar ilmunya. Bermasalah di pengembangan bisnis, cari caranya.

Bisnis hanya bertumbuh sebesar kepasitas pengusahanya. Jika Anda terus belajar, atas ijin Yang Maha Kuasa, maka pertumbuhan bisnis Anda tidak mudah dihentikan.

Jadi jika bisnis Anda mau terus bertumbuh, maka pantaskanlah diri Anda dengan 2 hal, yaitu perbaiki karakternya dan tambah ilmunya. Insya Allah lambat laun Anda akan bisa merasakan hasilnya.

Nah, demikianlah artikel kedua kita tentang hal-hal terkait dengan membangun bisnis untuk pemula. Materi kedua yang membahas tentang Pola Pikir Wirausahawan Agar Terus Bertumbuh ini, merupakan materi mendasar yang harus benar-benar diperhatikan jika sahabat ingin terjun menjadi seorang pengusaha / wirausahawan yang terus bertumbuh dengan bisnisnya.

Sampai jumpa di materi berikutnya, tentang bagaimana cara mengatur keuangan bisnis. Yang pasti, mengatur dan mengelola keuangan itu, lebih sulit dibandingkan dengan cara mendapatkan uangnya, he he he.

Wallaahu’alam bishawab.

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
Download 50 Template Powerpoint Tema Dakwah - GRATIS !>> Klik DISINI <<
+ +